NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Tempat Baru


__ADS_3

Di bandara kota XXX....


Noah tiba bersama seorang karyawan yang diangkat menjadi sekretarisnya itu. Keduanya berjalan menyusuri terminal kedatangan dengan langkah santai. Noah merasa bersyukur bahwa tak ada satu orangpun yang sepertinya mengenali dirinya.


Terbukti tak ada satu orangpun yang mendekat. Biasanya jika di kota besar, Noah tak bisa leluasa berjalan kemanapun. Posisinya yang merupakan pewaris utama Grup Xander menjadikannya pusat perhatian lebih dari seorang aktor. Kemana pun ia pergi, ada saja orang yang akan mengambil gambarnya.


"Tuan Muda...."


"Ssstt jangan panggil aku seperti itu disini. Kau boleh memanggilku Noah." Ucap Noah.


"Ta-tapi Tuan..."


"Jimmy, apa kau mau gaji mu ku potong." Ancam Noah sambil terus berjalan.


"Tidak Tuan. Eh maksudku Noah..." Balas Jimmy.


"Bagus." Ucap Noah seraya terus berjalan.


Meski Noah sudah berusaha berpakaian biasa agar terlihat seperti orang biasa, tetap saja banyak orang yang memperhatikannya meski tak mendekat.


Pesona Noah begitu terpancar dengan hanya memakai kemeja navy lengan pendek, dipadukan dengan dengan celana pendek warna cream, mengenakan sepatu sneaker dan kacamata hitam.


Kebanyakan yang melihatnya adalah kaum wanita. Membuat Jimmy yang juga teman sejak mulai bekerja di perusahaan grup Xander delapan tahun yang lalu, menggodanya.


"Lihat, banyak gadis-gadis yang memandang mu. Apa kau tak tertarik." Goda Jimmy.


"Tidak sama sekali." Balas Noah dingin.


"Lihat disana, gadis itu cantik sekali. Sepertinya dia melambai padamu." Ucap Jimmy lagi. "Kau harus mengajaknya berkencan." Sambung Jimmy.


"Aku hitung sampai tiga. Kalau kau tak berhenti mengoceh, aku akan menjahit mulutmu sekarang juga." Ancam Noah lagi.


"Serius kau tidak mau? Gadis itu cantik dan seksi loh. Kau ha....."


"Tiga." Ucap Noah menyela ucapan Jimmy.


Jimmy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku akan diam." Ucap Jimmy.


"Keputusan yang bijak." Balas Noah.


Tiba-tiba....


Bruk...!!!


"Aduuuhhh.... Sakit sekali."


Noah bertabrakan dengan seorang gadis yang berlarian melewatinya.


"Maafkan aku." Ucap gadis itu. "Tapi, apakah kau bisa membantuku bangun." Pintanya lagi.


Noah sama sekali tak melihat gadis itu. Ia hanya melihat ke arah lain.


"Jimmy tolong urus dia. Bawa dia ke rumah sakit dan berikan ganti rugi." Ucap Noah santai.


"Baik." Balas Jimmy.


"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa." Balas gadis itu.


'Pria ini memang tampan apalagi dilihat dari jarak yang sedekat ini.' pikir gadis berambut pirang itu.


"Hai aku Clara."

__ADS_1


Noah tak menggubrisnya, ia masih berdiri diam memperhatikan Clara.


'Kenapa wajah gadis ini terlihat familiar?'


Clara memang mewarisi kecantikan yang dimiliki ibunya, Clarissa. Namun, yang membuatnya berbeda adalah Clara terlihat lebih kebule-bulean. Meski usianya baru dua puluh tahun, Clara termasuk gadis yang cukup tinggi.


"Hei. Mau berkenalan tidak. Aku juga baru datang ke kota ini. Mau kerja di perusahaan Wood inc." Ucap Clara lagi.


"Hei, aku Jimmy. Kebetulan kami berdua juga mau bekerja disana. Dia Noah." Ucap Jimmy meraih tangan Clara yang di sodorkannya sejak tadi.


"Hai Jimmy. Hai Noah." Sapa Clara menampilkan senyumnya.


"Wah cantiknya." Ucap Jimmy pelan.


"Sudah selesai." Ucap Noah pada Jimmy. "Kalau sudah, ayo kita pergi." Sambung Noah seraya berjalan meninggalkan Jimmy dan Clara yang masih berdiri berhadapan.


"Eh, tunggu aku." Teriak Jimmy. "Oh ya, sampai jumpa lagi Clara." Ucap Jimmy pada Clara lalu berlari menyusul Noah.


Clara memandang punggung Noah dari kejauhan.


"Tunggu saja. Sebentar lagi, kau akan bertekuk lutut padaku Noah." Ucap Clara.


********


Tiba di villa.....


"Kau ini kenapa sih? Ada gadis cantik malah diabaikan begitu." Protes Jimmy.


"Kalau kau suka kejar saja. Kenapa harus memprotes aku." Balas Noah.


Noah berjalan masuk ke dalam villa yang sudah disediakan oleh Erlan untuknya. Villa modern dengan cat berwarna putih dan bernuansa sejuk dengan berbagai tanaman hias dan rambat di depan rumah sejak pertama kali Noah menginjakkan kaki di depan villa nya.


Di ruang tengah terdapat piano yang juga berwarna putih. Ada juga ruangan khusus yang berisi berbagai peralatan musik. Seperti, gitar, bass, hingga set drum.


Berjalan naik ke lantai atas rumah, Noah di suguhi pemandangan yang indah. Kota tempat tinggal Noah sekarang memang masih sangat asri. Noah memilih tinggal jauh dari pusat kota dan berada di ketinggian, hingga ia bisa melihat seluruh pemandangan kota dari balkon kamarnya.


"Waaaaahhhh..... Keren banget." Ucap Jimmy.


'Papa memang paling hebat.' ucap Noah dalam hati.


"Segera siapkan data keuangan Wood Inc, besok aku akan mulai masuk bekerja." Ucap Noah pada Jimmy.


"Ya ampun, baru saja sampai villa. Bukannya istirahat malah disuruh langsung kerja." Keluh Jimmy.


"Kau boleh berhenti jika mau. Ada banyak orang diluar sana yang menginginkan pekerjaanmu." Ucapan Noah langsung membungkam mulut Jimmy.


"Baik aku kerjakan. Aku hanya bercanda tadi."


*************


Pagi hari....


Noah keluar dari dalam kamar dengan mengenakan kemeja panjang warna putih dan celana panjang hitam juga.


"Kenapa penampilanmu seperti ini? Mana jas mu?" Tanya Jimmy.


"Sudahlah, jalan saja. Aku ingin berpenampilan seperti ini saja." Balas Noah.


Keduanya lalu masuk ke dalam mobil. Jimmy duduk dibalik kursi kemudi, sedangkan Noah duduk di kursi belakang.


"Noah, sebenarnya aku ini sekretaris mu atau sopir mu? Kenapa aku harus menyetir juga?"


"Sekali lagi aku mendengar mu mengeluh sepagi ini, aku akan mengusir mu keluar tanpa memberikanmu sepeserpun." Jawab Noah.

__ADS_1


"Kau itu. Kenapa selalu galak."


"Jangan banyak bicara. Jalan." Bentak Noah.


"Iya iya... Aku jalan." Balas Jimmy.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, keduanya tiba di depan gedung Wood Inc. Perusahaan yang merupakan anak dari Grup Xander, bergerak di bidang penjualan makanan cepat saji. Namun, sudah berbasis internasional. Meski berada di sebuah kota kecil namun perusahaan yang didirikan Noah ini berkembang begitu pesat. Hingga dapat mengekspor barang mereka ke luar negeri.


Noah berjalan masuk ke dalam perusahaan yang berlantai dua puluh itu. Tidak besar memang. Namun, omset yang dihasilkan mencapai triliyun pertahun.


Karyawan tampak sibuk bekerja. Mereka sepertinya tak mengenal Noah sama sekali.


"Ini bagus." Ucap Noah.


"Hai Noah, Jimmy." Teriak seorang gadis yang tak lain adalah Clara.


"Hei Clara. Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Jimmy.


"Kemarin aku kan sudah pernah bilang, kalau aku akan kerja disini juga." Jawab Clara. "Oh ya, aku bekerja di bidang penjualan. Kalian berdua dimana?"


"Noah ini...." Jimmy menghentikan ucapannya setelah melihat tatapan mengancam Noah. "Maksudku kami berdua di bidang produksi." Lanjut Jimmy.


"Ayo jalan." Ucap Noah.


"Sampai jumpa Clara." Ucap Jimmy seraya melambaikan tangan pada Jimmy.


'Dasar kau Noah. Aku akan ikuti permainanmu.' ucap Clara dalam hati.


Noah dan Jimmy tiba di bagian produksi. Baru saja melewati ruangan manager produksi, tiba-tiba Noah di tarik seorang gadis ke dalam ruangannya.


"Kau pasti orang baru yang akan masuk hari ini kan. Sebagai sekretaris kau terlambat, lain kali jangan diulang lagi. Sekarang kerjakan semua laporan ini. Aku memerlukannya hari ini juga." Ucap seorang gadis dengan rambut yang di kuncir tinggi dan menggunakan kacamata.


Noah melirik ke papan nama yang tertera di atas meja. 'Sherly Amelia' - Manager Produksi.


"Hei, apa yang kau lihat. Segera kerjakan." Titah Sherly.


Noah memperhatikan penampilan Sherly dengan teliti.


'Sebenarnya wanita ini cantik. Hanya saja, kacamata itu merusak pemandangan.' ucap Noah dalam hati.


Kedua matanya beradu pandang.


Deg!


Jantung Noah berdegup dengan sangat kencang. Membuatnya dengan cepat memegang dadanya.


'Apa ini?' pikir Noah.


"Hei, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sherly. "Dan kau siapa? Kenapa berdiri saja disitu? Segera bantu dia, mungkin pria ini belum sarapan. Wajahnya terlihat pucat. Istirahatlah sebentar, tapi ingat. Laporan itu harus kau selesaikan hari ini juga." Lanjut Sherly seraya keluar dari ruangannya.


Jimmy yang sedari tadi berdiri mematung didepan pintu tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha berani-beraninya wanita itu memerintah mu. Apa aku perlu memecatnya." Ucap Jimmy.


"Tidak perlu. Cari tahu siapa orang yang akan menjadi sekretarisnya. Lalu pecat saja, atau kau bisa mengalihkannya bekerja di bagian yang lain." Ucap Noah.


"Hei, ada apa denganmu? Apa kau bersungguh-sungguh ingin menjadi sekretaris wanita itu? Atau jangan-jangan kau menyukainya?" Ucap Jimmy.


"Omong kosong." Ucap Noah mendorong kepala Jimmy. "Aku hanya ingin melihat pekerjaan semua karyawan ku dengan menjadi karyawan biasa. Mereka tidak perlu mengetahui siapa aku."


"Alasan...." Ucap Jimmy.


"Diam. Sekarang kerjakan ini. Harus selesai dalam waktu satu jam." Ucap Noah menyerahkan laporan yang begitu tebal pada Jimmy.

__ADS_1


"Ya Tuhan, lagi-lagi pekerjaanku bertambah. Kau harus menggaji ku sepuluh kali lipat." Protes Jimmy.


Bersambung....


__ADS_2