NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Bertemu


__ADS_3

Clarissa tengah bersiap-siap memakai pakaian terbaiknya. Ia diberitahu oleh Bu Maya bahwa keluarga Alexander akan datang berkunjung ke rumahnya membahas tentang masalah yang tengah terjadi.


Clarissa sejak pagi belum sempat melihat ponselnya, begitu juga dengan Bu Maya. Keduanya benar-benar sibuk menyusun rencana untuk menghadapi keluarga Alexander.


"Pokoknya, bagaimanapun caranya nanti. Mama harus menekan Erlan untuk mau nikahin aku." Ucap Bella seraya menyisir rambutnya.


"Tentu saja. Mama akan lakuin apapun untuk hal itu. Bila perlu nanti Mama akan marah-marah dengan si tua bangka Adam itu." Ucap Bu Maya.


"Bagus Ma. Pokoknya akting Mama harus natural."


"Sudah pasti." Balas Bu Maya.


**********


Di ruang keluarga sudah duduk Erlan, Bella, Tuan Besar Adam, Pak Bimo dan Pak Indra. Mereka duduk melingkar menunggu Clarissa yang belum kunjung turun dari lantai atas.


Pak Indra yang juga belum melihat video yang diunggah Vino terlihat berusaha bersikap tenang. Ia ingin semua masalah ini terselesaikan dengan baik. Tentu saja ia ebih mempercayai Bella dan Erlan. Namun, karena bukti yang dimiliki Clarissa serta permintaan dari Bu Maya yang meminta Pak Indra bersikap adil pada Clarissa.


"Pa, bagaimanapun Clarissa juga anak Papa. Dia juga korban dari Erlan. Dulu Bella hamil karena Erlan, sekarang Clarissa juga begitu. Jadi Papa harus memikirkan nasib Clarissa juga. Terlepas dari Bella itu istri dari Erlan, tapi dia juga harus memikirkan nasib bayi yang di kandung Clarissa. Jadi Papa harus bujuk Erlan atau Bella untuk menyetujui pernikahan Erlan dan Clarissa."


Ucapan Bu Maya terngiang-ngiang di telinga Pak Indra. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Apalagi jika tuduhan yang dilayangkan Clarissa pada Erlan nantinya terbukti benar.


Pak Erlan menjadi dilema. Di satu sisi Erlan merupakan suami dari puteri yang disayanginya. Tapi, disisi lain Erlan juga mendapat tuduhan menghamili Clarissa.


'Jika semuanya terbukti benar, apa yang harus aku lakukan?' pikir Pak Indra.


Selain Pak Indra, beberapa orang lainnya yang duduk di ruangan itu menunjukkan raut wajah yang marah, terutama Bella. Ia tak sabar untuk membuat perhitungan dengan Clarissa.


Semua mata tertuju pada Clarissa yang berjalan turun dengan wajah sayu dan digandeng Bu Maya disampingnya.


"Cih, dasar rubah licik." Ucap Erlan kesal.


Bella menggenggam erat tangan Erlan.


"Tenanglah, sepertinya dia belum melihat video yang diunggah Vino. Lihat saja, sikapnya begitu tenang." Ucap Bella. "Mari kita lihat seperti apa aktingnya." Lanjut Bella tersenyum.


"Kau benar." Balas Erlan tersenyum.


Clarissa yang melihat Bella dan Erlan berbalas senyum merasa sangat kesal. Ponselnya yang berbunyi tak ia hiraukan.

__ADS_1


"Kamu kenapa terlihat kesal begitu? Jaga sikap kamu, nanti ketahuan sama mereka. Sekarang angkat itu ponsel kamu dari tadi bunyi terus." Ucap Bu Maya sambil mencubit lengan Clarissa.


Clarissa melihat nama sahabatnya, Nana, di layar ponselnya.


"Halo Clarissa, kamu udah lihat berita belum. Aku lihat......"


Clarissa sama sekali tak menghiraukan ucapan Nana. Ia justru fokus menatap wajah Bella penuh kebencian.


'Senyum aja terus kamu Bell. Sebentar lagi senyummu itu akan jadi tangis berkepanjangan. Suamimu akan menjadi milikmu. Setelah aku menikah dengan Erlan, kau akan didepak jauh dari hidupnya. Tunggu saja.' ucap Clarissa dalam hati.


Clarissa terus saja berjalan perlahan sambil memegang ponsel di telinganya. Namun, ia sama sekali tak mendengar ucapan orang diseberang telepon.


"Halo.... Haloo... Claris.... Haloooo.... Clarissa.... Kamu dengar aku tidak?" Tanya Nana dari seberang telepon.


"Iya, halo Na. Apa tadi?" Tanya Clarissa.


"Aduh, itu ada video...."


"Video apa?" Tanya Clarissa.


"Video...."


"Jangan teleponan lagi. Disini kita ada urusan penting. Cepat jalan."


Bu Maya menarik tangan Clarissa agar berjalan lebih cepat. Ia mulai merubah raut wajahnya menjadi emosi.


"Kalau kalian kemari bukan untuk tanggung jawab terhadap kehamilan Clarissa, lebih baik kalian angkat kaki dari rumah ini." Teriak Bu Maya saat ia dan Clarissa sudah berdiri di dekat orang-orang.


Tuan Besar Adam dan Pak Bimo menampakkan ekspresi yang mengejutkan. Keduanya memandang ke arah Erlan. Dengan santai Erlan tersenyum dan mengerlingkan matanya.


Pak Indra berdiri dan memegang tangan Bu Maya.


"Duduk dulu, mari bicarakan dengan baik. Kita dengarkan penjelasan mereka dulu." Ucap Pak Indra.


'Sepertinya Papa juga belum melihat video Vino.' pikir Bella.


Clarissa dengan raut wajahnya yang sendu, memilih duduk menunduk dengan memilin ujung pakaian yang ia gunakan.


"Cih, dasar." Pak Bimo tak dapat menahan dirinya, ia hendak mengumpat. Namun, tatapan matanya yang mengarah ke arah Bella yang memberinya isyarat membuat Pak Bimo tak jadi melanjutkan umpatannya.

__ADS_1


Pak Indra menggandeng Bu Maya dan membuatnya duduk di samping Clarissa.


"Clarissa, aku mau mendengar dari mulut kamu sendiri. Apa kamu yakin anak yang ada dalam kandungan mu itu anak Erlan?" Ucap Bella tenang.


Erlan menggenggam tangan Bella dengan erat. Ia sengaja memancing Clarissa agar semakin sakit hati.


"Katakan saja yang sejujurnya." Tambah Erlan.


'Permainan apalagi yang ingin dilakukan dua anak ini.' pikir Tuan Besar Adam.


Clarissa mulai mengeluarkan air matanya dan terisak. Ia seolah-olah tak mampu berbicara.


"Hei Bella. Kamu mau dengar apalagi, sudah jelas suami bejat kamu itu yang menghamili Clarissa." Balas Bu Maya tiba-tiba.


Erlan menjadi emosi, ia hampir saja berdiri. Namun, Bella menahannya dengan cepat.


"Tolong jaga ucapan Mama. Suamiku ini bukan lelaki yang seperti itu. Bisa jadi Clarissa lah yang perempuan ******."


Pak Indra membelalakkan matanya. Ia tak pernah menduga bahwa putrinya yang lembut bisa berkata sekasar itu.


"Bella, anakku. Kau seharusnya tidak...."


"Pa, kali ini aku minta Papa duduk diam dan mendengarkan saja semuanya. Sebentar lagi Papa akan mengetahui semuanya kok." Ucap Bella menyela ucapan Pak Indra.


"Mengetahui apa? Kalau pada kenyataannya suami kamu itu memang lelaki bejat, mesum dan nafsuan. Demi membela suamimu, kau bahkan tega menuduh adik kamu sendiri ******. Aku heran padamu, apa hatimu sudah dibutakan oleh statusmu yang sudah menjadi Nyonya Alexander." Balas Bu Maya.


Bella tiba-tiba tertawa kecil, membuat Bu Maya semakin emosi.


"Apa kau lupa, dulu suamimu Tuan Muda Erlan Alexander yang terhormat itu juga yang sudah memperkosa mu dan membuatmu mengandung dan melahirkan seorang diri. Dan sekarang dia malah berulah lagi dengan menggoda Clarissa adikmu dan berulang kali menidurinya hingga hamil?" Ucap Bu Maya penuh emosi.


"Cukup Ma." Teriak Clarissa histeris. "Jangan ada pertengkaran atau mengungkit kesalahan Erlan di masa lalu. Kita fokus dengan yang terjadi saat ini. Aku dan Erlan memang sudah melakukan kesalahan dengan bermain api dibelakang Kak Bella. Dan, aku minta maaf akan kesalahan itu. Yang aku inginkan sekarang hanyalah tanggung jawab untuk anak yang aku kandung ini." Lanjut Clarissa dengan terisak.


"Maafkan kelancangan saya Nona Clarissa. Sejak tadi saya sudah menahan diri saya untuk tidak bicara. Tapi saya sudah tidak tahan lagi untuk membongkar semua kebusukan Nona." Ucap Pak Bimo seraya menepuk tangannya satu kali dengan keras.


Tiba-tiba beberapa orang berpakaian wartawan masuk ke dalam ruang keluarga dengan membawa kamera.


"Apa-apaan ini?" Teriak Bu Maya.


"Duduklah. Kita akan membahas semuanya didepan wartawan." Balas Erlan santai.

__ADS_1


Bu Maya dan Clarissa saling tatap, raut wajah mereka menampakkan kekhawatiran.


__ADS_2