
"Khem... Khem...." Pak Bimo berdehem pelan.
Pak Bimo tak sengaja melihat adegan mesra yang tengah dilakukan Erlan dan Bella saat dirinya datang ke kolam renang.
Bella langsung melepaskan pelukan tangannya di leher Erlan.
"Maafkan atas kelancangan saya Tuan Muda. Saya tidak bermaksud mengganggu Tuan Muda dan Nona Bella. Hanya saja Tuan Besar meminta saya untuk memanggil Tuan Muda dan Nona Bella untuk menuju ruang tamu karena Pak Indra sudah datang." Ujar Pak Bimo.
'Papa!' seru Bella dalam hati.
"Kau pergilah dulu Pak Bimo. Sebentar lagi aku dan Bella akan kesana." Ucap Erlan.
Pak Bimo mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan Erlan dan Bella kembali berdua.
"Kau kenapa Cinderella?" Tanya Erlan.
Pandangan Bella lurus kedepan, ia mencoba mengatur nafasnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Erlan lagi.
"Aku tidak apa-apa." Balas Bella dengan tersenyum. "Hanya saja, aku masih merasa takut untuk bertemu Papa."
"Apa yang kau takutkan?"
"Entahlah. Aku hanya masih ingat kemarahan Papa tujuh tahun yang lalu. Papa bahkan sampai mengusirku."
Erlan langsung membekap Bella dalam pelukannya. Pelukan itu lambat laun sangat disukai Bella. Pelukan yang terasa begitu hangat dan menenangkan, membuat Bella dapat merasa aman dan nyaman.
"Tenang saja, semuanya sudah baik-baik saja. Aku yakin Papa mu akan menyadari kesalahannya dimasa lalu. Sekarang aku ada bersamamu, siapapun yang berusaha menyakitimu akan berhadapan langsung denganku. Meski itu adalah calon mertuaku."
"Terima kasih Erlan." Ucap Bella.
"Kau memanggilku apa?" Tanya Erlan tak percaya.
"Erlan? Kenapa?" Tanya Bella heran. "Bukannya itu memang namamu?"
"Aku suka mendengar suaramu memanggil namaku."
Erlan hendak mencium Bella lagi, namun dengan cepat Bella menaruh jarinya di bibir Erlan.
"Nanti saja. Sekarang kita harus temui Papa ku dulu."
"Baiklah." Balas Erlan kemudian membantu Bella bangun dari posisi duduk mereka.
__ADS_1
Di ruang tamu, ternyata Noah dan Pak Indra sudah terlihat begitu akrab.
Pak Indra memang datang dengan membawakan Noah hadiah berupa sebuah Xylopon.
"Opa tidak tahu harus membawakan hadiah apa untukmu. Opa berpikir bocah genius sepertimu tidak akan menyukai mainan berupa robot atau mobil-mobilan. Jadi Opa memberikanmu hadiah seperti ini." Ucap Pak Indra sambil memangku Noah duduk dipangkuan nya.
"Ini hadiah yang hebat Opa." Balas Noah.
Pak Indra yang tengah bercengkrama dengan Noah tiba-tiba mematung saat menyadari bahwa Bella tengah menatap dirinya bersama Noah.
Bella berdiri bersama Erlan yang memegang pundaknya. Dari mata Pak Indra, Bella bisa merasakan kerinduan yang begitu mendalam dari seorang Papa pada puterinya.
"Bella..." Lirih suara Pak Indra menyebut nama Bella.
"Papa..." Balas Bella.
Noah berlarian ke arah Bella dan Erlan.
"Mah, Pah, lihat ini deh. Ini hadiah yang diberikan Opa pada Noah. Noah suka, suaranya nyaring." Ucap Noah dibalas senyuman kedua orang tuanya.
"Noah kita kesana yuk. Ajarin Papa main ini." Ajak Erlan sambil menunjuk sebuah ruangan pada Erlan.
"Ayo Pah."
Erlan lalu menepuk pundak Bella.
Tuan Adam dan Pak Bimo yang berada di ruangan itupun meninggalkan ruang tamu.
"Pak Indra, sepertinya kalian butuh waktu untuk berbicara berdua. Kami akan meninggalkan kalian berdua disini." Ucap Tuan Adam.
Pak Bimo lalu mendorong kursi roda Tuan Adam untuk masuk ke kamarnya.
Setelah semua orang meninggalkan Bella berdua dengan Pak Indra, suasana ruang tamu jadi berbeda. Kesunyian meliputi kedua orang yang berbeda usia itu.
Bella masih saja berdiri, belum ada tanda-tanda dia akan segera duduk.
"Bella, kemarilah. Duduk disamping Papa."
Dengan perlahan Bella merebahkan tubuhnya untuk dudum disamping sang Papa yang selama ini ia rindukan.
Keduanya kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Bella merasa aneh karena melihat punggung Pak Indra yang tengah membungkuk terlihat naik turun dan terdengar isakan kecil dari bibir Pak Indra.
'Apa Papa menangis?' pikir Bella.
__ADS_1
"Pa..." Panggil Bella seraya memegang punggung Pak Indra.
Pak Indra langsung memeluk Bella penuh kasih sayang.
"Maafin Papa sayang. Papa salah, karena sudah mengusir kamu. Papa khilaf nak. Dulu, Papa tidak mau mendengarkan penjelasan kamu. Semua kesalahan Papa. Papa memang tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu." Isak Pak Indra.
Bella membalas pelukan Pak Indra, pelukan yang selama tujuh tahun ini selalu ia rindukan.
"Aku rindu Papa." Balas Bella ikut terisak.
"Papa juga sangat merindukanmu sayang."
Setelah beberapa saat berpelukan, keduanya lalu duduk berhadapan saling berpegangan tangan.
"Tuan Adam sudah menjelaskan semuanya pada Papa. Noah adalah cucu dari keluarga Alexander. Kemungkinan apa yang Papa lihat pada foto tujuh tahun lalu adalah sebuah kesalahan."
"Tetap saja, aku memang bersalah Pa. Meski pria yang ada di dalam foto itu tidak melakukan apapun padaku. Tapi aku ternyata melakukan kesalahan dengan Erlan."
"Sudah, sekarang tak perlu di bahas lagi. Yang terpenting sekarang kalian akan menikah. Perjodohan yang Papa atur untukmu dahulu ternyata terlaksana sekarang. Hanya saja satu hal yang mengganjal di hati Papa. Kenapa bisa Maya dan Clarissa mengatakan kebohongan tentang dirimu."
"Aku juga tidak tahu Pa. Sudahlah, seperti yang Papa biang tadi. Mari kita lupakan semuanya dan memulai hidup baru kita." Ucap Bella penuh keyakinan.
"Tentu saja sayang."
Malam ini merupakan malam yang paling indah untuk Bella sejak tujuh tahun belakangan. Akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Papa nya, dan sebentar lagi dirinya akan menjadi Nyonya Erlan Alexander. Menjadi istri dari laki-laki yang memang sudah dijodohkan dengannya. Menjadi pasangan hidup dari laki-laki yang selama ini memang sangat mencintainya.
Pak Indra memutuskan untuk bermalam di kediaman Alexander. Ia ingin bermain bersama dengan Noah. Noah yang memang pintar dalam berbicara menjadi teman mengobrol yang menyenangkan bagi kedua Opa nya.
"Noah kan punya dua Opa nih. Seperti yang sering Noah lihat, anak-anak itu akan ikut nama orang tua mereka. Nama Mama kan Isabella Aurelia Dinata karena nama Opa Indra itu Indra Dinata. Nah sedangkan Papa namanya Erlan Alexander karena Opa Adam namanya Adam Alexander. Apa sekarang Noah sudah bisa memakai nama belakang Papa di belakang nama Noah jadi Noah Azriel Alexander atau yang lebih baik Noah Alexander saja. Kedengarannya hebat." Ucap Noah.
Semua orang yang berada di ruang keluarga menatap Noah dengan serius.
"Kenapa? Apa ada yang salah? Atau Noah tidak boleh menggunakan nama Alexander?" Tanya Noah.
Semua orang tertawa, sementara Erlan langsung berjalan mendekati Noah yang duduk disamping Vino.
"Tentu saja nama Noah akan berubah menjadi Noah Alexander, karena Noah akan menjadi pewaris keluarga ini. Tapi untukmu, kalau kau belum bisa bersikap lebih dewasa kau akan aku keluarkan dari keluarga Alexander." Ancam Erlan pada Vino sambil menyentil keningnya.
"Bisa tidak untuk berhenti menyentil keningku." Protes Vino.
'Ada apa? Kenapa Papa tiba-tiba marah dengan Om Vino?' pikir Noah.
Erlan lalu mengambil kulit jeruk yang berada diatas kepala Noah. Lalu menaruhnya dimulut Vino.
__ADS_1
'Wah, Om Vino ternyata menjahiliku. Tunggu saja pembalasanku Om.' gumam Noah dalam hati.
Bersambung....