NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Terbongkar


__ADS_3

"Papa kenapa diam saja, cepat minta pertanggung jawaban atas kehamilan puteri kita. Apa Papa tidak malu mendengar gunjingan orang tentang keluarga kita? Apa Papa tidak kasihan dengan Clarissa?" Ucap Bu Maya memegang tangan Pak Indra.


Pak Indra terdiam, ia ragu untuk mengatakan apapun karena dalam lubuk hatinya, ia percaya bahwa Erlan tidak bersalah.


"Pertanggung jawaban yang bagaimana yang anda inginkan Bu Maya? Sedangkan putera ku sama sekali tidak pernah menyentuh puteri mu itu." Akhirnya Tuan Besar Adam ikut berbicara.


"Anda orang terhormat Tuan Besar Adam. Tapi anda dibutakan oleh kasih sayang anda terhadap Erlan. Sampai-sampai semua kejahatan yang dilakukan Erlan tidak anda anggap sama sekali." Balas Bu Maya.


Tuan Besar Adam tertawa. Suara tawanya menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Para wartawan yang fokus mengambil gambar terdiam. Suara tawa Tuan Besar Adam seperti membuat orang-orang disekelilingnya menciut.


"Tawa yang menyeramkan." Bisik salah seorang wartawan.


Clarissa dan Bu Maya saling tatap. Keduanya menjadi semakin bingung. Tiba-tiba Clarissa kembali menangis.


"Kalau semua ini memang salahku. Maka, biarkanlah aku hidup seperti ini. Tidak apa-apa jika Erlan tidak mau mengakui anak ini sekarang. Tapi aku akan tetap melahirkannya. Dan suatu saat nanti aku akan meminta pengakuan Erlan atas anak ini." Isak Clarissa.


Bella berdiri dan berjalan mendekat ke arah Clarissa kemudian menamparnya dengan keras dihadapan semua orang.


Plak! Plak!


Kedua pipi Clarissa memerah, hal itu membuat Bu Maya Emosi dan hendak membalas menampar Bella. Namun, dengan sigap Bella menangkis tangan Bu Maya dan malah balik menampar Bu Maya.


"Bella...." Pak Indra berdiri dan memegang tangan Bella yang hendak menampar Bu Maya lagi.


"Maafkan aku Pa. Aku hanya muak bersandiwara dihadapan istri dan anak ****** Papa ini. Sekarang aku mau Papa duduk dan dengarkan baik-baik apa yang sudah kedua wanita ini lakukan pada keluargaku." Ucap Bella.


Pak Indra diam, dan kembali duduk dengan menarik Bu Maya agar ikut duduk dengannya. Kini, Bella berdiri berhadapan dengan Clarissa yang memegang kedua pipinya.


"Sudah cukup Clarissa. Hari ini aku tidak akan memaafkan semua kesalahan yang kau perbuat. Dulu aku masih bisa memaafkan kesalahanmu dan Mama mu itu. Tapi sekarang tidak lagi." Bella berucap dengan serius.


"Go go istriku sayang." Teriak Erlan dari tempat duduknya menyemangati Bella. "Aku mencintaimu." Sorak Erlan lagi.


'Ya Tuhan, kenapa aku harus memiliki Tuan Muda yang tingkahnya begitu memalukan.' pikir Pak Bimo menepuk jidatnya.


Sementara Tuan Besar Adam hanya menggeleng-geleng.


"Hei Bella, kau itu...."


"Diam kau. Aku tidak bicara padamu." Teriak Bella pada Bu Maya.


Bu Maya sontak kaget melihat sikap Bella. Begitu juga dengan Pak Indra. Ia tak pernah melihat puterinya begitu marah bahkan sampai tidak menghargai orang tuanya sendiri. Tapi lagi-lagi, Pak Indra memilih untuk diam. Ia hanya ingin mengetahui yang sebenarnya.


"Untukmu Clarissa. Berani-beraninya kamu menjebak suamiku dan tiba-tiba mengaku hamil dari suamiku sementara dia sendiri bukanlah lelaki yang tidur denganmu melainkan Vino." Ucap Bella.

__ADS_1


Pak Indra dan Bu Maya terlihat kaget, begitu juga dengan Clarissa sendiri.


'Dari mana dia tahu?' pikir Clarissa.


Para wartawan yang hadir di ruangan tetap saja berbisik-bisik meski mereka sebenarnya sudah mengetahui semuanya karena video yang diunggah Vino.


"Apa maksud kamu? Jangan melempar kesalahan suami kamu sama Vino." Ucap Clarissa berusaha berkelit.


Plak!


Lagi-lagi Bella menampar Clarissa, membuat Bu Maya semakin berang. Namun, Pak Indra menahan Bu Maya agar tak berdiri.


"Kenapa Bu Maya? Apa anda mau marah? Silahkan saja." Ejek Bella. "Aku yakin kamu sendiri sudah mengetahui bahwa anak yang dikandung Clarissa bukan anak Erlan. Tapi, karena kamu terlalu menyayangi puteri mu ini. Mata mu menjadi buta, buta akan semua kesalahan yang teah diperbuatnya."


"Bella bicara yang sopan dengan Mama." Teriak Clarissa.


Plak!


Sekali lagi tamparan mengenai wajah Clarissa yang sudah memerah.


"Hajar terus sayaaangku...." Teriak Erlan.


"Kamu itu bisa diam tidak. Ini bukan ajang tinju bebas." Protes Tuan Besar Adam.


'Sebenarnya aku sedang berada di situasi apa saat ini?' tanya Pak Bimo dalam hati.


"Katakan padaku Clarissa. Sudah berapa banyak pria yang tidur denganmu?" Tanya Bella.


"Bicara apa kau Bella!" Teriak Bu Maya.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku? Ah, aku yakin kau sendiri tidak mengetahui kelakuan menjijikkan puterimu ini. Aku sendiri yakin, Bu Maya sudah tahu sendiri. Puterimu ini tidak ubahnya wanita panggilan yang tidur dengan banyak pria. Dia sudah tidur dengan Vino dan malah menyewa kamar hotel atas nama suamiku. Tapi apa kau tahu, Vino sendiri tidak mau mengakui anak yang ada dalam kandungannya ini karena ada begitu banyak pria yang sudah tidur dengan puteri kesayanganmu ini."


Ucapan Bella seolah-olah telah meruntuhkan tembok kepercayaan Pak Indra terhadap Clarissa dan Bu Maya.


"Aku yakin kalian belum melihat video yang dibuat Vino." Ucap Bella lalu menatap Pak Bimo.


Seolah mengerti, Pak Bimo langsung memutar video yang diunggah Vino dan memperlihatkannya pada Pak Indra.


Wajah Pak Indra memerah mendengar semua ungkapan Vino. Kali ini Pak Indra merasa dibohongi oleh anak dan isterinya sendiri.


"Kalian berdua kejam. Dulu kalian pisahkan aku dengan Bella. Dan sekarang, kalian berusaha menghancurkan keluarganya dengan fitnah yang sekejam ini. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua." Ucap Pak Indra.


Bu Maya sudah tak bisa berkelit lagi, ia berusaha menenangkan Pak Indra.

__ADS_1


"Maafin Mama Pa, Mama gak tahu kalau Clarissa bisa berkelakuan seperti ini."


"Apa kau bilang? Kau ingin aku percaya semua ucapan mu? Cukup Maya. Seratus persen aku sangat yakin kau selalu mendukung apapun kesalahan puterimu ini. Untuk itu, dihadapan semua orang, hari ini juga kau ku ceraikan. Keluar kau dari rumahku dan bawa juga puterimu ini. Aku tidak mau melihat wajah kalian lagi." Ucap Pak Indra.


"Pa, Mama mohon Pa, jangan seperti ini Pa. Kasihani Mama Pa, Clarissa juga sedang mengandung. Kami tidak tahu harus kemana Pa." Ucap Bu Maya memelas.


Sementara Clarissa, ia hanya berdiri mematung, tak tahu harus berbuat apalagi. Semuanya sudah terbongkar sebelum ia bisa menikah dengan Erlan.


'Sekarang aku harus bagaimana?' tanya Clarissa dalam hati.


Bu Maya beralih ke arah Bella, ia berlutut dihadapan Bella.


"Bella tolong kasihani Mama dan Clarissa. Mama tidak punya siapa-siapa lagi. Apa kamu tidak kasihan pada adikmu yang tengah hamil?" Isak Bu Maya.


"Oh Bu Maya. Dimana harga dirimu yang selalu kau banggakan. Untuk apa kau harus sampai bersimpuh di kakiku. Bangunlah, jangan seperti ini. Aku jadi kasihan padamu." Ucap Bella.


Dengan cepat Bu Maya bangun dan berusaha memegang tangan Bella.


"Jangan salah paham Bu Maya. Aku hanya memintamu untuk bangun, aku bukannya mau memaafkan kesalahanmu." Ucap Bella.


"Lalu apa yang akan kau lakukan ha?" Kali ini Clarissa yang berucap.


"Kau masih saja berlagak sombong Clarissa. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena kau tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Aku hanya akan mengusir mu keluar dari keluargaku. Kau tidak boleh tinggal lagi di rumah ini. Pergilah dari rumah ini dan bawa semua pakaian kotor mu dan jangan harap kau bisa membawa yang lainnya." Ucap Bella.


Bella berjalan mendekat ke arah Pak Indra dan memegang tangannya.


"Ku harap Papa tidak keberatan."


"Tentu saja tidak. Maya bukan lagi isteriku. Dia tidak berhak atas apapun yang ada di rumah ini." Ucap Pak Indra. "Lagi pula dulu, dia juga pernah membuatku melakukan hal ini kepadamu. Jadi sekarang, biarkan keduanya menjalani hidup seperti yang pernah kau rasakan dulu."


"Wah, wah, wah. Isteri dan Papa mertuaku memang paling hebat." Teriak Erlan lagi.


"Sekarang keluarlah, dan ku sarankan pada kalian berdua. Pergilah yang jauh dari sini, dan bila perlu kenakan topeng karena semua orang akan mengenali wajah kalian dan akan menertawakan kalian." Ucap Bella.


Dua orang pengawal menarik tangan Clarissa dan juga Bu Maya. Dua orang lainnya turun dari lantai atas membawa dua koper berisi pakaian keduanya.


"Awas kau Bella, aku akan membalas mu." Teriak Clarissa.


"Silahkan. Aku akan menunggu." Balas Bella santai.


"Benar-benar pertunjukkan yang hebat." Ucap para wartawan yang meliput langsung kejadian yang tengah terjadi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2