
Bella tak jadi meminum jus yang diberikan Clarissa. Dia meletakkan kembali jus itu ke atas meja. Wajah Clarissa seketika berubah merona kala melihat Erlan tengah menatapnya dengan tajam.
'Apa aku terlihat begitu cantik hari ini, sampai-sampai Erlan menatapku dengan begitu fokus.' pikir Clarissa.
"Papa..." Noah berlarian ke arah Erlan lalu memeluknya.
"Baru beberapa jam berpisah Noah sudah rindu ya sama Papa?" Tanya Erlan berjongkok dihadapan Noah.
"Iya Pa, bahkan Mama sepertinya juga sangat merindukan Papa." Jawab Noah.
"Benarkah begitu sayang?" Erlan berjalan mendekati Bella yang duduk disamping Clarissa.
Bella tersenyum manis seraya mengalungkan tangannya dileher Erlan.
"Tentu saja sayang, aku sangaaat merindukanmu." Ucap Bella manja, dengan sengaja memanas-manasi Clarissa.
'Dasar pelakor.' teriak Clarissa dalam hati.
Erlan membelai lembut rambut Bella kemudian berbisik.
"Kau mulai nakal, andai kau sudah resmi menjadi istriku. Habis kau malam ini.'
Pipi Bella merona malu, dan baru menyadari bahwa mereka berdua tengah beradegan mesra dihadapan Papa Bella sendiri.
"Emmm maaf Pa." Ucap Bella.
"Kenapa harus minta maaf." Balas Pak Indra santai.
"Wajar saja Mama minta maaf sama Opa. Karena Mama dan Papa itu sudah menganggap kita semua ini nyamuk. Mama dan Papa sudah terlena dalam dunia mereka berdua. Seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua." Ucap Noah yang membuat mata Bella membulat sempurna.
'Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa memahami dan mengucapkan bahasa yang seperti itu?' pikir Bella.
Wajah Bella terlihat sangat tak percaya, sementara Erlan dan Pak Indra tertawa mendengar ucapan Noah. Dua orang lainnya, Bu Maya dan Clarissa terlihat tak suka.
Erlan menyadari raut wajah tak suka dari Bu Maya dan Clarissa.
"Oh ya, aku punya kejutan khusus untuk Mama mertua dan calon adik ipar ku yang cantik ini." Ucap Erlan mencolek dagu Clarissa.
'Wah mimpi apa aku semalam Erlan mengatakan aku cantik bahkan menyentuh daguku. Apa ini artinya Erlan akan menyukai aku lalu menikahi aku dan melepaskan Bella.'
Wajah Clarissa merona merah, membayangkan apa yang diharapkannya menjadi kenyataan.
__ADS_1
Namun yang terjadi, raut wajahnya berubah kala melihat beberapa orang polisi berpakaian preman masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini? Siapa kalian semua?" Tanya Bu Maya.
Salah seorang polisi yang berpangkat lebih tinggi dibandingkan yang lainnya membawa sebuah surat dan menunjukkannya pada Pak Indra.
"Kami datang kemari membawa surat penangkapan atas Bu Maya dan Clarissa atas tindakan penculikan dan pencemaran nama baik yang mereka lalukan terhadap saudari Isabella."
"Apa kesalahan kami?" Teriak Clarissa.
Pak Indra dan Bella terdiam mematung, sementara Erlan yang berdiri seraya menggenggam tangan Noah.
"Lebih baik kita semua duduk dulu. Mungkin semuanya bisa dijelaskan baik-baik." Ucap Bu Maya.
Semua orang lalu duduk melingkar, tersisa dua orang anggota polisi yang berdiri.
"Tolong jelaskan apa yang sudah dilakukan istri dan anak saya." Ucap Pak Indra.
"Begini Pak Indra, berdasarkan laporan dari Tuan Erlan, dan beberapa bukti yang sudah lengkap. Bu Maya dan Clarissa terbukti melakukan kejahatan terhadap Saudari Bella tujuh tahun yang lalu."
'Laporan Erlan?' gumam Bella dalam hati.
"Kejahatan apa?" Tanya Pak Indra lagi.
Pak Indra memandang Bu Maya dan Clarissa dengan wajah yang penuh emosi.
"Sebenarnya kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi karena Tuan Erlan meminta kasus ini untuk dipidanakan sehingga kami akan melakukan tindakan penangkapan terhadap Bu Maya dan Saudari Clarissa. Jadi untuk penjelasan lebih lanjut silahkan ikut kami ke kantor."
"Tidak, kalian semua bohong. Kalian semua oasti sudah disuap oleh orang kaya ini." Teriak Bu Maya menunjuk Erlan. "Mana buktinya kami melakukan kejahatan itu? Kalian semua jangan asal menuduh." Sambungnya.
"Hah sudah ketahuan belangnya masih saja berkilah. Atau kalian berdua perlu aku ingatkan sendiri." Ucap Erlan.
"Silahkan, aku juga ingin tahu mana bukti yang kamu punya. Atau jangan-jangan kamu memang membayar semua orang ini." Teriak Bu Maya.
Pak Indra dan Bella menggeleng, sementara Noah yang duduk dipangkuan Erlan terlihat sibuk memainkan ponsel tanpa menghiraukan apa yang tengah terjadi disekelilingnya.
Erlan mengeluarkan ponselnya lalu terlihat menghubungk seseorang.
"Bawa dia masuk." Ucap Erlan.
Tak lama dua orang laki-laki berpakaian gelap menggandeng seorang pria gondrong dengan jambang yang lebat. Meski penampilannya berbeda, wajah pria itu tak akan pernah dilupakan Bella.
__ADS_1
Jantung Bella berdegup dengan sangat kencang, keringatnya mulai mengucur deras. Erlan yang menyadari perubahan wajah Bella dengan cepat menggenggam tangan Bella lalu menciumnya.
"Tenanglah sayang, semua itu hanya masa lalu. Dan ingatlah satu hal, sia tidak melakukan apapun padamu, karena ada aku yang menyelamatkanmu." Bisik Erlan lembut.
'Ro-ni...' ucap Clarissa dalam hati.
"Siapa dia? Apa hubungannya dengan semua ini?" Teriak Bu Maya.
"Apa anda lupa siapa saya Nyonya? Saya orang yang diminta Clarissa untuk meniduri Bella." Ucap Roni.
Bu Maya terdiam, ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
'Bagaimana mungkin dia bisa ada disini? Bukankah dia sudah pindah keluar kota?' pikir Bu Maya.
Plakk!!
"Dari raut wajahmu semuanya sudah menunjukkan bahwa kau dan Clarissa memang bersalah." Ucap Pak Indra setelah menampar istrinya.
Bu Maya terdiam, selama ini Pak Indra tak pernah main tangan terhadapnya maupun Clarissa. Tapi hari ini dimana kepulangan Bella ke rumah, dirinya dan Clarissa malah ditampar karena Bella.
"Aku tidak pernah menyangka kau akan melakukan ini semua. Apa kesalahan yang sudah ku perbuat pada kalian berdua. Aku memperlakukanmu dengan baik, mencintaimu dengan tulus. Dan kau Clarissa, apa kurangnya Papa terhadapmu? Kasih sayang yang Papa berikan pada Bella sama halnya Papa berikan padamu juga." Ucap Pak Indra.
Bu Maya dengan cepat menarik Clarissa untuk ikut bersimpuh di kaki Pak Indra.
"Maafkan Mama Pa, Mama khilaf. Tolong jangan penjarakan kami Papa." Isak Bu Maya.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Bella."
Saat hendak menghadap Bella, dengan cepat Noah berdiri dihadapan mereka.
"Semuanya tolong dengarkan Noah." Ucap Noah serius.
Semua orang memandang Noah serius.
"Karena ini masalah internal keluarga, Noah mohon untuk Bapak-bapak Polisi ini pergi saja. Biarkan kami menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan. Noah yakin Papa akan setuju dan mencabut semua perkaranya, ya kan Pa?" Tanya Noah pada Erlan.
Semua orang terdiam, sementara Erlan mengangguk dan mengatakan 'iya'.
Setelah berbicara dengan para Polisi, Erlan pun menyetujui bahwa masalah mereka akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
Bersambung....
__ADS_1
Ingat jangan lupa like, komen, vote atau kasih hadiah ya... 😁😘