
Kesokan harinya sesuai dengan rencana, Karen akan mengunjungi Panti beserta dengan Joon dan juga beberapa pengawal lainnya.
Dan untuk keempat kakaknya, mereka sudah berangkat terlebih dahulu karena ada kepentingan urgent sehingga tidak bisa untuk menemani sang adik menuju ke panti.
" John, apa semua sudah siap? " Tanya Keren kepadanya.
"Semua sudah beres nona." Dengan sopan John menjawab.
"Baiklah, minta mereka yang akan ikut untuk segera bersiap-siap 15 menit lagi kita berangkat." Ucap Keren sambil tersenyum.
"Baik nona, laksanakan." Jawab John mematuhi perintah yang diucapkan oleh sang nona muda.
Setelah itu Keren langsung saja kembali ke
dalam rumah, ia ingin bersiap terlebih dahulu dan juga mengambil barang-barangnya.
Keren tampak memilih menggunakan tshirt putih dengan cardigan berwarna cokelat muda dan dilengkapi celana jens hitam.
Dengan rambut terurai Keren menuruni tangga dan senyum menis menghiasi wajah cantiknya.
Para pelayan yang pada saat itu bertugas yang menunjukan sedikit senyuman melihat tingkah sang nona, rumah terasa kembali hidup dengan kembalinya Keren setelah menempu pendidikan di luar negeri.
"Maaf nona, di depan ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." Ucap John sopan.
"Siapa John, apa kau mengenalnya ?" Tanya Keren, pasalnya ia tidak ada janji temu dengan orang hari ini.
"Tuan muda Adhitama." Jawab John lagi.
"Dia, persilakan ia masuk." Jawab Keren karena tidak mungkin juga ia membiarkan Kalvaro di depan.
"Baik." Setelahnya John meminta salah satu pelayan untuk mempersilahkan tuan muda Adhitama masuk.
Tampak tuan muda Adhitama memasuki ruang tamu , ia terlihat lebih tampan dari biasanya atau bisa dikatakan tampak lebih muda dari biasanya.
"Selamat pagi, tuan Adhitama." Sambut Keren dengan ramah, meskipun saat ini ia bertanya-tanya apa maksud dan juga tujuan kedatangan Kalvaro, ada kepentingan apa pikirnya.
__ADS_1
"Selamat nona Nugraha, tidak perlu memanggil dengan embel - embel tuan, lagi pula saya bukan tuanmu." Jawab Kalvaro sambil terkekeh kecil, rasanya tidak nyaman saja jika gadis yang ia sukai memanggil ia tuan.
"Baiklah Kalvaro, kau juga tidak perlu repot-repot untuk memanggil aku menggunakan embel-embel nona, bagaimana ?" Jawab Keren sambil memberi penawaran.
" Tentu saja, aku setuju." Jawab Kalvaro.
"Ehmm, mohon maaf sebelumnya jika pertanyaanku sedikit menyinggung, ada keperluan apa sehingga anda berkunjung kesini ?" Tanya Keren yang tampak tidak ingin membuang waktu karena harus berangkat menuju panti.
"Sebenarnya maaf tidak mengabari terlebih dahulu, aku kesini mau ngajakin kamu makan jika memiliki waktu senggang." Jawab Kalvaro, tapi sekali jika ia merasa sangat gugup buktinya ia sedikit terbata-bata saat menjawab pertanyaan Keren.
"Sayang sekali, hari ini tampaknya aku tidak bisa menerima tawaran baikmu, mungkin aku bisa menawarkan untuk ikut bersama, sebentar lagi aku dan lainnya mau menuju suatu tempat, jika ingin ikut bisa saja." Tolak Keren secara halus, ia tahu keluarganya adalah keluarga berpengaruh tapi untuk keluarga Adhitama sama halnya.
"Hmmm, apa tidak merepotkan jika aku mengikutimu ?" Tanya Kalvaro ragu - ragu.
"Tentu tidak." Jawab Keren sambil tersenyum kecil.
" Ya ampun, cantik sekali." Batin Kalvaro merasa terpana dengan kecantikan Keren.
"Baiklah, aku setuju." Jawab Kalvaro.
"Tidak apa." Jawab Kalvaro sambil tersenyum kecil.
"Tampan, tapi sayang sering bersifat aneh." Batin Keren memuji ketampanan Kalvaro.
Begitu mobil tiba ditempat tujuan tampak Keren begitu bersemangat sedangkan kalvaro bingung karena ketika ia menanyakan kemana akan pergi ia tidak mendapat jawaban dari Keren.
"Panti sosial NW." Baca Kalvaro pada plang nama.
"Kalvaro, ayoo kenapa kau diam saja." Tegur Keren pada rekannya.
"Ah iya maaf." Jawab Kalvaro, sejak tadi ia terdiam sambil berpikir.
" Tempat siapa ini ?" Tanya Kalvaro ketika ia sudah menjajarkan langkahnya dengan Keren.
"Milik mendiang buyutku." Jawab Keren sambil tersenyum kecil.
"Apa Kamu sering ke sini ?" tanya Kalvaro sambil menatap sekilas pada Keren.
__ADS_1
"Sebelum kuliah di luar aku sering kesini, setelah 3 tahun stengah akhirnya aku bisa kembali berkunjung ke sini." Jawab Keren sambil tersenyum kecil.
"Ohh." Jawab Kalvaro.
Lama berjalan akhirnya mereka tiba di aula, aula yang ukurannya sangat besar bisa menampung hingga 1500 orang di dalamnya, terdapat lebih dari 20 Ac dan 10 kipas sebagai penambahnya.
"Kakak Keren." Panggil anak - anak kecil yang menyadari tamu istimewa mereka.
"Hallo semua, selamat pagi." Jawab Keren sambil tersenyum menatap anak - anak kecil di hadapannya.
"Baikk." Jawab mereka semua bersemangat.
3 tahun lamanya, mereka menunggu kedatangan tamu istimewa mereka yang sedang bertamu di negara orang.
"Tuan, mari ikut saya." Ajak John kepada Kalvaro yang tampak sedikit kaget melihat betapa banyaknya anak - anak di panti sosial tersebut.
"Baik." Jawab Kalvaro setuju, ia lalu di arahkan untuk duduk.
"Yah ampun baby, kamu membuat aku semakin jadi jatuh hati." Batin Kalvaro kagum dengan sosok Keren, ternyata banyak sekali kejutan dalam diri Keren.
Tampak raut bahagia Keren yang saat ini masih menyapa parah anak - anak panti, bahkan ia terus berceloteh di atas panggung.
"Ehm." Dheman John membuyarkan lamunan Kalvaro.
"Maaf jika anda merasa tersinggung, tapi dari tatapanmu terlihat jelas jika kau terlalu mengagumi nona kami, Keren sejak kecil aku yang mendapat tugas menjaganya banyak sekali yang begitu menyayanginya, jika berpikir untuk mendapatkannya persiapkan dirimu dengan baik, bahkan mental dan juga tubuhmu, timah panas seorang pelayan bahkan tidak segan untuk menembus kulitmu jika kau tidak bisa menjaganya di saat ia bersama dengan dirimu." Peringatan John terdengar sangat menjanggal, tapi ia menyadari jika yang dikatakan oleh John bukanlah omong kosong.
"Aku menyukai nona muda kalian sejak pertama kali aku bertemu dengannya, dan juga aku bisa menjamin jika rasa tertarik ini bukan obsesi tapi cinta." Jawab Kalvaro.
"Aku pasti akan menjaga dan menyayanginya, ia ratuku dan hanya akan menjadi ratu di istanaku." Lanjut Kalvaro.
John hanya diam saja, John hampir sama dengan keempat tuan muda jika sesuatu yang menyangkut dengan nona mudanya.
Nona kecil yang sejak dulu ia jaga sekarang tumbuh menjadi sosok yang gadis dewasa yang cantik dan dermawan membuat banyak pasang mata menyukainya.
John tidak segan - segan terhadap orang yang berani menyentuh nona mudanya, satu tamparan dibalas satu tamparan, satu cacian dibalas jutaan cacian, satu goresan luka dibalas dengan satu penggalan kepala, ia tidak pernah pandang bulu tangannya yang berat akan siap melayang kapan saja untuk menghabisi lawannya.
John sudah menikah tapi belum dipercayakan oleh Tuhan untuk menjaga seorang anak, hingga istrinya meninggal dan ia memutuskan untuk tidak menikah lagi.
__ADS_1