
Maxx mengikuti mobil tuan mudanya dengan mengendarai mobil lain, lebih tepatnya mobil yang menabrak bagian belakang mobil tuannya. Sedangkan gadis ceroboh yang sebelumnya mengendarai mobil tersebut sudah berpindah ke mobil tuan mudanya sendiri.
"Tuan kenapa anda tampan sekali ?" Tanya gadis itu dengan mengerjap - erjapkan mata.
"Diam!" Bentak Kalvaro, ia malas mendengar celotehan gadis ceroboh disebelahnya.
"Kalau aku tidak mengingat memiliki adik perempuan, aku pasti sudah meninggalkan gadis ceroboh ini." Batin Kalvaro kesal, sebenarnya ia tidak berniat menolong gadis asing ini tapi pikirannya kembali mengingat adik perempuan membuat ia tidak tega.
"Tampan tapi terlalu galak pasti kau belum laku kan." Cicit gadis itu sebelum memejamkan mata.
"Brengsek !" Umpat Derrel dalam hati, ia bukan tidak laku hanya belum menemukan orang yang tepat untuk diajak ke pelaminan saja.
Tidak lama setelah berkendara akhirnya mereka tiba di mension tempat peristirahatan, mension ini hanya ditempati ketika keluarga Nugraha Wijaya datang berkunjung ke Belanda.
"Maxx, bawa dia ke kamar tamu." Ucap Derrel, ia meninggalkan tangan kanannya begitu saja.
"Baik tuan." Jawab Maxx meski Derrel sudah melangkahkan kaki lebih dahulu.
Maxx dengan segera membopong tubuh gadis asing yang secara tidak sengaja terlibat masalah dengan tuan mudanya.
__ADS_1
Di mension hanya ada 10 orang penjaga dan 5 orang yang bertanggung jawab atas kebersihan mension, sedangkan urusan makanan mereka memilih makan sendiri di restaurant.
Begitu tiba didalam, Derrel langsung saja menaiki tangga menuju kelantai 2 dimana letak kamarnya berada, ia perlu membersihkan diri sebelum jam makan malam tiba.
Sesudah berbersih, tampak handphone pintar miliknya berbunyi, mengetahui siapa yang menelepon ia segera mengangkatnya.
"Hallo de." Sapa Derrel lembut.
"Kakak, kapan kembali ?" Jawab seorang wanita terdengar begitu manja, yah itu Keren.
"Sebentar lagi, apa ada yang perlu dibantu ?" Ujar Derrel pada adiknya.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan kakakmu ini Keren, cukup menjaga diri dan kebahagiaan kalian sudah cukup untuk kakak." Hibur Derrel pada adiknya, ia paham jika adik perempuannya saat ini tengah merasa bersalah.
"Huft, baiklah dan itu Daniel bertanya kau ingin sesuatu tidak, dia belum sempat menghubungimu secara langsung jadi dia menitip salam sekaligus perminta maafan." Lanjut Keren.
"Katakan padanya aku ingin keponakan lucu saja, tidak ada yang lain." Jawab Derrel enteng.
"Kau meminta hadiah yang sama terus menerus kak, apa tidak bosan yah. Lagi pula keponakanmu sudah empat sekarang." Rajuk Keren kepada kakaknya.
__ADS_1
"Yah sudah, kakak minta kalian berbahagia saja." Ucap Derrel lebih enteng lagi.
"Sudahlah, apa kata kakak saja." Sebal Keren.
"Sudah - sudah, kakak mau makan dulu, kau jangan lupa menjaga kesehatan Keren, titip salam buat yang lain." Ucap Derrel lagi.
"Baiklah, sampai jumpa." Jawab Keren sebelum mematikan telepon.
Tok tok tok...
"Masuk." Ucap Derrel.
"Selamat malam tuan, sebentar lagi jam makan malam tiba." Terdengar suara seseorang dari depan pintu.
"Hmm, aku akan menyusul kebawah." Jawab Derrel menandakan Maxx harus segera keluar dari dalam kamarnya.
"Baik tuan, permisi." Ucap Maxx pamit undur diri.
Mampir juga yukk ke karya Author yang terbaru, mohon dukungannya yah guys.
__ADS_1