
...Please jangan sampai lupa untuk dukungan kalian yah, dukungan kalian adalah semangatnya author buat nulis, Like, Komen, Hadiah dan juga Vote....
"Nana, kau dari mana saja ?" Tanya Daniel, yah saat ini tuan muda keempat berada di salah satu restaurant ternama.
"Tidak dari mana - mana, ada hal penting apa sehingga memaksaku untuk datang kemari ?" Tanya Naomi to the point.
"Sebenarnya tidak ada alasan penting, aku hanya merindukan wajah cantikmu itu." Jawab Daniel mengombal.
"Kau ini bicara apa." Sarkas Naomi berusaha menutupi kegugupannya.
"Kenapa, kau malu ?" Tanya Daniel senang.
"Tidak." Ketus Naomi.
"Hei, kau tidak cocok memasang tampang seperti itu." Ujar Daniel sambil berusaha menyembunyikan tawanya, gadis dihadapannya benar - benar membuat ia senang.
"Biarkan saja." Kesal Naomi, yah tadinya Naomi sedang menghadiri acara keluarga tapi Daniel mendesaknya untuk segera datang ke restaurant tempat mereka berada saat ini.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan dulu sekarang ?" Tanya Daniel, ia tidak mau Naomi merasa kesal kepadanya.
"Kau yang teraktir ?" Tanya Naomi sambil menaikan sebela alisnya.
"Tentu saja, aku inikan banyak duitnya." Jawab Daniel petakilan.
"Cih, dasar sombong." Ledek Naomi.
"Meskipun aku sombong, tapi ketampananku kau sukakan ?" Tanya Daniel dengan pdnya.
__ADS_1
"Mimpi, aku tidak pernah mengatakan itu." Kesal Naomi karena terus menerus digoda.
"Baiklah, kau mau pesan apa ?" Tanya Daniel.
"Ehmm, aku ingin ini, ini dan juga ini." Jawab Naomi sambil menunjuk buku menu.
"Apa kau yakin sebanyak itu ?" Tanya Daniel dengan tampang bodonya.
"Kenapa, tidak bisa membayarnya yah ?" Tanya Naomi curiga, Naomi sebenarnya bukanlah orang yang kekurangan uang hanya melihat tampang bloon Daniel membuat ia ingin menggoda Daniel.
"Kata siapa aku tidak bisa membayarnya, pesan sebanyak yang kau mau." Jawab Daniel kesal.
"Dasar baperan." Ledek Naomi lagi dengan sengaja.
"Kau sudah tahu aku baperan, jadi sebaiknya sekarang kita menikah saja." Timpal Daniel dengan entengnya, sekarang ia yang mengangkat sebela alisnya melihat seperti apa respon Naomi.
"Hiyaa, tidak perlu berteriak dan juga tidak ada yang salah dengan menikah bukan." Sebel Daniel.
"Kau menikah saja dengan kucing." Tidak kalah kesal Naomi menjawab.
Sepanjang makan malam mereka habiskan dengan perdebatan - perdebatan absurd, Daniel dan juga Naomi kapan author nikahin yah ada yang bisa kasih saran ? ..
Setelah selesai makan malam dan mengantar Naomi pulang kerumah, Daniel segera memutar mobil menuju kediaman utama.
Begitu sampai dan turun mobil yang ia gunakan sepanjang hari segera dipindahkan oleh penjaga yang ada, begitu masuk Daniel sudah ditunggu oleh Derrel, Felix dan juga Selena yang belum bisa tidur.
"Dari mana ?" Tanya Derrel.
__ADS_1
"Hai, kalian belum tidur ?" Tanya Daniel dengan senyum mengembang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Daniel." Sekali lagi suara Derrel terdengar.
"Berkencan, sepertinya kalian sudah tahu." Jawab Daniel pasrah.
"Bawa gadismu kemari secepatnya Daniel, kita harus mengenal gadis itu terlebih dahulu." Ucap Derrel.
"Baik kak, aku akan segera mungkin mengenalkan calon kekasih sekaligus istriku." Jawab Daniel semangat.
"Hmm, sekarang apa kau sudah makan ?" Tanya Derrel mulai melembut.
"Iya, tadi aku makan malam bersama Naomi dan handphoneku kehabisan baterai sehingga tidak sempat mengabari." Jelas Daniel merasa tidak enak, yah yakin kedua kakaknya merasa khawatir karena ia tidak bisa dihubungi.
"Ohiya, cakapar kenapa belum tidur ?" Tanya Daniel kepada selena.
Bukan menjawab pertanyaan Daniel, Selena mala menatap bingung "Cakapar." sejak kapan namanya berubah begitu pula yang lain memikirkan "Cakapar"
"Hei, namanya Selena apa kau lupa ?" Ketus Felix pada adiknya.
"Astaga, kalian ini yang aku maksud itu adalah calon kakak ipar." Sebal Daniel.
"Oh astaga." Jawab Selena mengerti.
"Aku masih belum bisa tidur, tadi juga sempat berbicang - bincang dengan kak Daniel seputar perkerjaan." Jawab Selena, ia menjelaskan mengapa belum tidur.
"Oh baiklah, kalau seperti itu aku mau ke kamar dulu badanku lengket semua." Ucap Daniel berpamitan.
__ADS_1