
Hubungan antara Naomi dan Daniel semakin dekat, bahkan Daniel terus menerus menempel kepada Naomi. Naomi yang awalnya merasa risih perlahan tapi pasti sudah bisa menerima kehadiran Daniel, bahkan bisa dikatakan jika Naomi sudah mulai terbiasa dengan adanya Daniel.
"Bagaimana jika kita pergi menonton film ?" Tanya Daniel mulai bosan berada di caffe.
"Menonton ?, tapi menonton apa ?" Tanya Naomi bingung.
"Apa saja, ayo." Tarik Daniel lembut.
"Kau ini, dasar pemaksa." Ketus Naomi.
"Yah terserah apa katamu saja." Jawab Daniel tidak perduli.
Akhirnya Daniel, Naomi menuju kesalah satu mall yang ada di Ibu kota, untuk sekedar menonton saja.
"Coba lihat yang paling dekat jamnya ada film apa." Ujar Daniel yang tampak fokus menyetir.
"X, tapi horror aku tidak suka." Jawab Naomi sambil bergedik ngeri.
"Kenapa, kau takut ?" Ejek Daniel, ia ingin memprovokasi Naomi terlebih dahulu dan menurutnya akan menyenangkan.
"Siapa bilang aku takut, hanya tidak ingin saja." Tidak ingin kalah Naomi menjawab dengan sedikir angkuh.
"Baguslah jika tidak takut, jadi kita bisa menonton X." Timpal Daniel tampa dosa.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang tidak mau." Ketus Naomi.
"Kalau tidak mau, ku anggap kau takut, okay." Jawab Daniel dengan kekeh.
"Hiya, baiklah kita akan menonton X, kau pikir aku takut." Kesal karena terus di provokasi akhirnya Naomi menyanggupi meski dalam hatinya ia merutuki Daniel.
"Lumayan, aku bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan." Batin Daniel dengan niat terselubung.
Sesampainya di mall, Daniel segera memarkirkan mobilnya di lobby hotel, ia dan Naomi berjalan berdampingan memasuki mall.
Sedikit mencuri perhatian pengunjung lain kalah melihat Daniel merangkul mesra pinggang kecil Naomi, tampan dan juga cantik itulah yang dilihat oleh orang - orang.
"Lihatlah itu bukannya putra bungsu keluarga Nugraha, sepertinya gadis itu kekasihnya." Ujar seorang pengunjung mall.
Daniel yang mendengarkan omongan baik orang - orang mengaminkan dalam hati. Sementara Naomi tersenyum malu - malu mendengar bisikan orang - orang.
"Pipimu memerah, apa kau demam ?" Goda Daniel dengan sengaja.
"Diamlah, aku dalam keadaan sehat sekarang." Tangkas Naomi, ahh kenapa Daniel harus melihat rona merah di pipinya sih.
Kita tinggalkan Daniel dan Naomi yang sedang keasmaraan, saat ini di negara lain tampak sepasang suami istri yang masih dimabukan dengan aura - aura cinta.
"Ayo jalan - jalan, kenapa kita hanya diam dikamar." Ujar Selena dengan ketus kepada Felix.
__ADS_1
"Istirahatlah." Ujar Felix dengan senyum manisnya, senyum seribu muslihat pikir Selena.
"Tidak, aku sudah tidak membutuhkan Istirahat sekarang aku ingin jalan - jalan." Ketus Selena dengan mata melotot, membuat wanita tersebut semakin cantik saja.
"Kau mengodaku, hmm ?" Tanya Felix dengan kedua alis yang dinaik turunkan.
"Hiya, dasar mesum. Siapa yang menggodamu ha!" Sebal Selena, bisa - bisanya ia dituduh sedang menggoda pak suami.
"Kau tidak perlu marah apa lagi malu, aku kan suamimu jadi yah sah - sah saja." Ujar Felix terdengar menyebalkan.
"Kau sudah gila yah, aku mengajakmu untuk jalan - jalan bukan sedang menggodamu." Teriak Selena mulai emosi.
"Semuanya tidak ada yang gratis, sesudah jalan - jalan nanti kau harus membayarku." Felix menaikkan alisnya meminta persetujuan sang istri.
"Tentu - tentu saja." Jawab Selena tampa memikirkan resiko kedepan.
Akhirnya Selena dan Felix berkeliling pusat souvenir di negara tersebut, Selena merasa begitu bahagia terlihat jelas dari rona wajahnya dan yah ia mengambil banyak barang - barang lucu untuk oleh - oleh.
"Hei, kau mau memakai casing handphone couple tidak ?" Tanya Selena kepada suaminya.
"Yah, boleh saja asalkan tidak norak." Jawab Felix, mau mau tapi malu sih.
Sebagian cuplikan 2 pasangan baru.
__ADS_1