
"Hallo, paman jhon, apa sudah ketemu ?" Tanya Daniel melalui panggilan telepon.
"Selamat pagi tuan muda, anak buah saya sedang bergerak mencari gadis yang anda maksud, kemungkinan satu sampai dua hari kedepan untuk hasilnya." Jawab paman John dari seberang telepon.
"Begitukah, apa tidak bisa untuk lebih cepat lagi yah paman ?" Tanya Daniel lagi, pasalnya ini sudah 2 hari sejak kejadian tersebut.
"Maafkan saya tuan muda, tapi saya akan memaksimalkan anak buah untuk mencari gadis yang anda inginkan." Jawab paman John lagi.
"Baiklah paman, terima kasih dan ingat kau sudah tua jadi harus memperhatikan kesehatan jangan terus bekerja." Ujar Daniel sebelum mematikan telepon.
Di ujung telepon, paman John hanya geleng - geleng kepala dengan tingkah tuan muda Daniel, ia tahu bahwa saat ini tuan muda Daniel sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Hallo, cari gadis itu sampai ketemu dan selidiki latar belakangnya." Ujar paman Daniel pada bawahannya.
"Baik." Terdengar saut sebelum telepon genggam terputus.
Paris.
"Hallo, Jesen tolong segera jemput Selena dan ingat jangan terlambat." Ujar Felix pada asistennya.
"Baik tuan." Jawab Jesen dari seberang, dan panggilan terputus begitu saja.
Selena saat ini tengah merias dirinya di hadapan cermin, meski tidak suka ia harus melakukannya dengan alasan profesional kinerja, ia tidak ingin membuat bosnya kecewa dengan berpenampilan buruk.
"Huft, sabarlah hanya dua pekan berkerja bersama tuan muda itu, tidak akan lama." Batin Selena meraung - raung, ia hanya tidak siap bertemu dengan bos barunya setelah kejadian semalam.
Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu, Selena segera bergegas melihat siapa yang datang begitu mendapati jika itu Jesen rekan kerjanya, ia segera membuka pintu.
"Selamat pagi tuan Jesen, silakan masuk." Ujar Selena ramah dan juga sopan, yah meski hatinya bertanya - tanya kenapa assisten bosnya ada di depan apartementnya.
"Selamat pagi nona Selena, tidak perlu saya hanya menjemput anda jika sudah selesai mari berangkat." Ujar Jesen to the point.
__ADS_1
"Maaf merepotkanmu." Jawab Selena tidak enak hati.
"Dasar bos aneh, bahkan sekarang ia merepotkan Jesen untuk sekedar menjemputku." Batin Selena kesal.
"Kau tidak boleh merutuki bos kita Selena." Tegur Jesen penuh penekanan, seolah ia tahu apa yang dipikirkan oleh Selena.
"Huft, dia terlalu aneh." Ujar Selena terus terang, sebelum meninggalkan Jesen, ia perlu mengambil tasnya.
"Mari berangkat." Ujar Selena sambil berjalan lebih dulu.
"Yah mari." Jawab Jesen mengikuti langkah kaki Selena.
Sampai di depan lobby Selena dan Jesen langsung saja memasuki mobil menuju perusahaan, Selena dan Jesen sesekali terlibat percakapan ringan.
Tiba di lobby perusahaan Selena dan Jesen berjalan dengan jarak 3 langkah kaki mereka tidak ingin menimbulkan berita miring.
"Selamat pagi tuan muda Felix." Sapa Jesen dan Selena begitu tiba di lantai paling atas.
"Selamat pagi, kembali ke ruangan kalian masing - masing, tapi sebelumnya Selena silakan bacakan jadwal saya besok." Ujar Felix dengan suara datar tanpa ekspresi.
"Apa ada lagi ?" Tanya Felix.
"Tidak tuan." Jawab Selena.
"Baiklah, silakan kalian keluar." Ujar Felix dengan nada memerintah.
"Permisi tuan muda." Ujar keduanya sebelum benar - benar meninggalkan ruangan Felix.
Hari ini adalah hari kedua tuan muda Felix menggantikan posisi tuan Aeron untuk sementara waktu, Felix tidak kesulitan dalam menangani perusahaan milik adiknya.
Hanya saja ada beberapa kejanggalan data perusahaan yang memaksa ia untuk menyetok kesabaran lebih banyak lagi, ia akan mengajak serta adiknya untuk jamuan makan siang besok bersama para pemegang saham dan jajaran - jajaran penting lainnya.
__ADS_1
"Siapapun tidak aku ijinkan untuk bermain - main dengan keluargaku, sialan membiarkan Aeron sendiri disini bukanlah pilihan yang baik." Batin Felix mulai geram.
Keesokan harinya.
Hari ini Felix tampak lebih dingin dari biasanya, Aeron juga turut ikut ke perusahaan atas paksaan kakaknya.
"Kau tahu, kau banyak memelihara pencuri di dalam perusahaanmu sendiri." Ucap Felix terdengar dingin sekaligus menyindir.
"Hmm, apa maksudmu kak, langsung saja pada intinya." Jawab Aeron yang tidak ingin bertele - tele.
"Siang nanti aku akan menunjukan langsung kepadamu, kau harus berhati - hati orang yang ingin menjatuhkanmu ada dimana - mana, lengah sedikit kau bisa dihabisi." Tekan Felix.
"Baiklah." Entahlah Aeron bahkan tidak memiliki keberanian lebih terhadap kakaknya.
Jamuan makan siang.
"Selena, Jesen masuk keruangan saya sekarang." Ujar Felix melalui sambungan darurat.
"Selamat sian tuan besar Aeron dan tuan muda Felix." Sapa Jesen dan Selena, sopan dan ramah itulah keduanya.
"Masuklah Jesen, Selena. Bagaimana apa menyenangkan bekerja dengan kakakku, dan yah Selena bagaimana rasanya berkencan dengan bos barumu ?" Tanya Aeron terlihat dingin tapi tatapan matanya menggambarkan sesuatu yang bahkan tidak bisa di artikan oleh Selena, Jesen.
"Bekerja dengan tuan muda Felix adalah suatu kesempatan yang tidak bisa terulang dua kali, tentu kami senang dan bahagia, bukan begitu selena ?" Jawab Jesen.
"Iya seperti itu, mengenai kencan maksud saya itu hanyalah jamuan makan malam tuan." Jawab Selena gugup.
"Aku tidak merasa keberatan jika kau menjadi kakak iparku." Ujar Aeron tanpa beban, sesekali memperhatikan kakaknya yang diam tanpa ada ekspresi.
Selana diam tidak menjawab.
"Cukup, aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendengar ocehan kalian, Selena kau memiliki urusan baru denganku setelah ini, jadi mari berangkat." Ujar Felix sambil berjalan keluar ruangan. Aeron, Jesen dan Selena bergegas mengikuti langkah kaki Felix ketimbang mendapat sindiran pedas lagi.
__ADS_1
Selama jamuan makan siang berjalan mereka dibuat tidak tenang, banyak pelaku kejahatan yang langsung diringkus oleh pihak kepolisian sementara yang lain dapat bernafas lega.
Inilah perbedaan antara Felix dan Aeron, Felix tidak akan memberi cela dan langsung meringkus musuh serta menghancurkan sampai keakar - akarnya berbeda dengan Aeron yang lebih santai bahkan cenderung tidak perduli tapi bergerak dalam diam.