Nona Muda Incaran CEO

Nona Muda Incaran CEO
Bumil rewel


__ADS_3

Memasuki minggu ke 22 kehamilan tampak perut nyonya muda Adhitama semakin membesar, tuan muda Adhitama belakangan ini berkerja dari rumah sedangkan untuk urusan kantor sudah ada Eron yang dipercaya.


Kalvaro sesekali memeriksa keadaan kantor bisa tiga sampai empat hari sekali kunjungan, ia memilih bekerja dari rumah agar lebih mudah memantau istrinya yang tengah hamil.


Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu dari depan ruang kerja Kalvaro, dan tidak lama pintu sedikit terbuka ada wanita cantik yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Lagi sibuk ?" Tanya wanita tersebut sambil tersenyum ceria.


"Tidak, masuklah." Ujar Kalvaro sambil tersenyum menyambut istri tersayang.


Wanita tersebut yang tidak lain adalah Keren segera bergegas masuk dan menghampiri suaminya, ia memilih untuk duduk di atas pangkuan sang suami.


"Berat tidak ?" Tanya Keren sambil menatap Kalvaro.


"Tentu saja tidak, ada apa ? hmm." Jawab Kalvaro sambil menatap penuh was - was pada istrinya yang terlihat sedikit aneh.


Flashback 2 hari lalu.


"Hiks hikss." Suara orang menangis benar - benar menggangu gendang telingan tuan muda Adhitama, perlahan ia mulai membuka matanya dan menatap tajam mencari tahu dari mana asal suara tersebut.


Ketemu, pelaku yang sedang menangis adalah istrinya sendiri, duduk di samping meja riang dan mengringkuk, alis Kalvaro mengerut kenapa dengan istrinya, itulah yang ia pikirkan.


Perlahan ia turun dan menghampiri wanita hamil tersebut.


"Sayang, kamu kenapa menangis hmm ?" Tanya Kalvaro sambil mengusap kepala Keren secara perlahan.


Ibu hamil tersebut hanya mengintip sedikit, kemudian ia melanjutkan tangisannya membuat Kalvaro melebarkan mata, apa ia salah ? tapi ia bahkan bertanya dengan lembut.


"Kenapa hmm ?" Tanya Kalvaro sekali lagi.


"Aku aku hikss." Hanya sepenggal kata ia kembali menangis membuat Kalvaro bingung bercampur cemas.


"Katakan yang jelas, aku pasti akan memenuhi semua yang kau inginkan, tapi berhenti menangis okay." Ujar Kalvaro sambil tersenyum menenangkan.


"Aku ingin naik motor, tapi disini tidak ada motor hikss." Tangis Keren tambah pecah setelah ia berhasil mengungkapkan isi hatinya.


"Motor, hmm sepertinya itu berbahaya untuk ibu hamil, yang lain saja yah." Jawab Kalvaro dengan nada membujuk, ia tidak akan mengambil resiko dengan mengijinkan istrinya naik kendaraan roda dua saat tengah mengandung.


"Tidak mau hikss, aku mau naik motor." Ujar Keren lagi sambil sesenggukan.

__ADS_1


"Huft, baiklah." Jawab Kalvaro mengalah.


"Kita akan naik motor ?" Tanya Keren sambil tersenyum.


"Hmm." Jawab Kalvaro seadanya.


"Yeah." Senang Keren dan langsung memeluk Kalvaro.


1 menit.


2 menit.


3 menit.


5 menit.


"Hei kenapa memeluk terus ?" Tanya Kalvaro yang tidak mendapat jawaban.


"Sayang." Panggil Kalvaro lembut.


Kalvaro cemas sehingga ia langsung menarik tubuh istrinya, dan yah nyonya muda itu tertidur setelah lelah menangis.


Setelahnya ia langsung saja membopong tubuh buntel sang istri yang sedang hamil, ia meletakan secara perlahan di tempat tidur dan segera beranjak dari saja.


"Hallo Eron." Sapa Kalvaro setelah panggilan terhubung.


"..." Jawab Eron.


"Tolong siapkan saya motor keluaran terbaru, saya ingin mengajak istri saya berkeliling kompleks. Berapa harganya tidak jadi masalah asal aman untuk ibu hamil." Ujar Kalvaro mengutarakan keinginannya.


"..." Jawab Eron lagi.


"Tidak ada penolakan, dan lagi semua sudah harus selesai sebelum makan siang." Ujar Kalvaro sebelum mematikan telepon secara sepihak.


Di apartemen kelas menengah ke atas, tampak assisten Eron yang sedang menggerutu, suka tidak suka ia harus bergegas cepat.


"Astaga." Batin Eron menahan kesabarannya.


Setelah itu ia menyiapkan apa yang diminta oleh bos besarnya, ia masih sayang dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Beres, sekarang tinggal di antar ke rumah bos." Ucap Eron tampak lega.


Di rumah setelah tertidur, akhirnya ibu hamil terbangun dari tidurnya ia menatap sekeliling dan tidak menemukan sang suami.


"Dimana suamiku ?" Tanya Keren sambil mengedarkan tatapannya.


"Ahh, mungkin saja ia sudah turun deluan." Ujar Keren sambil beranjak dari tempat tidur.


Keren langsung saja turun ke lantai dua menggunakan lift pribadi, ia diam sambil memainkan ponselnya seperti memeriksa sesuatu.


"Bi, liat suami saya tidak ?" Tanya Keren kepada salah satu pelayan yang ia lihat.


"Tuan berada di kolam pribadi nona, apa perlu saya antarkan ?" Tawar pelayan tersebut dengan ramah.


"Tidak apa, aku bisa sendiri. Terima kasih." Jawab Keren sambil beranjak pergi.


Beberapa waktu kemudian sudah menunjukan pukul 15.59, Kalvaro sudah membilas badannya sesudah berenang dan ibu hamil selesai makan siang ia kembali tidur tanpa mengungkit permintaannya pagi tadi, hal tersebut cukup membuat tuan muda Adhitama menyerit bingung.


"Hei, bangun." Ujar Kalvaro lembut.


"Hmmm." Jawab bumil ia tampak terusik karena ulah suaminya.


"Kau ingin jalan - jalan tidak ?" Tanya Kalvaro sambil terkekeh kecil melihat istrinya yang selalu menggemaskan.


"Ingin, ayo gendong aku." Jawab Keren dengan suara serak bangun tidur.


"Tidak, kau harus berjalan jangan tidur terus." Jawab Kalvaro tegas, menurut dokter istrinya terlalu malas dan kadang berolah raga hal tersebut tidak di anjurkan untuk ibu hamil.


"Tidak mau." Jawab Keren ketus, ia lelah jika harus berjalan jauh maka ia menolak titah suaminya.


"Kau tidak boleh bermalas - malasan terus, hal tersebut tidak baik untuk lahiran nanti." Ujar Kalvaro lembut, jika ia membalas dengan tidak ramah maka habislah pasti akan terjadi perdebatan panjang.


"Baiklah." Akhirnya ibu hamil mengalah setelah diberi pengertian dengan baik - baik, membuat suami tercinta menghela nafas lega tentunya.



Bonus foto bumil malas - malasan, jangan lupa kasih bonus balik yah hehehe.


Begitu turun dan sampai di depan rumah, Keren tampak berbinar astaga ia hampir saja melupakan untuk.

__ADS_1


__ADS_2