
Keesokan harinya tampak dikediaman keluarga Nugraha Wijaya para kerabat sudah mulai berkurang dan kembali ke kediaman mereka masing - masing.
"Sayang, lihat Daniel tidak ?" Tanya nyonya Keyren begitu berpaspasan dengan putrinya.
"Sepertinya sedang menemani Adel bermain ditaman mom." Jawab Keren.
"Baiklah, terima kasih." Jawab mommy Keyren dan kembali berlalu pergi.
"Daniel, Daniel." Suara nyonya Keyren begitu menggema didalam istanya, ia menatap kearah luar dimana ada sebuah taman bunga dan akhirnya bisa menemukan putra keempatnya.
"Daniel." Panggil nyonya Keyren.
"Yah mom, kenapa teriak - teriak." Jawab Daniel sambil tersenyum, tidak lupa matanya yang tetap mengawasi pergerakan kopanakannya.
"Bisa temenin mommy ke mall sebentar tidak yah, ada yang harus mommy beli." Pintah nyonya Keyren.
"Tentu, apapun untuk wanita cantik ini." Sambil terkekeh Daniel menyanggupi permintaan sang ibu.
"Mau kemana mom ?" Tanya Keyren yang baru sampai dari dapur.
"Ingin pergi membeli sesuatu, mommy pinjam Daniel sebentar yah sayang." Ujar nyonya Keyren dengan lembut.
"Baik mom berhati - hatilah, Daniel ayo kemarikan putriku." Pintah Keren kepada adiknya.
"Bye, Uncle harus menemani grandma nanti kita akan lanjut bermain." Ujar Daniel kepada keponakannya.
"Bye de." Pamit Daniel kepada Keren.
__ADS_1
Keren langsung mengahlikan perhatian putri bungsunya, ia khawatir jika Adel akan merengek begitu menyadari jika ditinggal pergi oleh pamannya.
Sementara itu dihari kedua orangtuanya berada dirumah, tampak Naomi lebih semangat dari biasanya, ia bahkan sudah menyiapkan sarapan untuk ibu dan ayahnya.
"Bu, dimana ayah ?" Tanya Naomi kepada ibunya.
"Sedang mandi, sebentar juga selesai." Jawab bu Elen.
"Baiklah, ayo duduk sambil nunggu ayah selesai." Ajak Naomi pada ibunya.
"Bu, gimana kalau hari ini kita pergi jalan - jalan, kan sudah lama kita tidak bebelanja bersama." Usul Naomi pada ibunya.
"Kita tanya ayah dulu yah nak, kan Ayah belum ada." Ujar bu Elen, tentu sebagai istri yang baik ia harus mendengarkan persetujuan dan meminta ijin terlebih dahulu pada suami.
"Kenapa membicarakan ayah, sepertinya ratu dan tuan putri menginginkan sesuatu." Timpal seseorang yang baru saja tiba dimeja makan.
"Baiklah." Jawab ayah Andre.
Setelahnya mereka tampak fokus dengan makanan yang sudah tersedia di atas meja, sesekali terlihat bercanda satu sama lain.
"Akhirnya selesai juga." Senang Naomi, ia berencana untuk mengajak kedua orangtuanya ke salah satu mall besar yang letaknya ditengah ibu kota.
"Baiklah, ayah mau tidur dulu." Ucap ayah Andre mencandai putrinya.
"Eh, kok tidur sihh." Sungut Naomi pada ayahnya.
"Lalu, katakan saja permintaanmu tuan putri." Ujar tuan Andre merasa lucu dengan putrinya.
__ADS_1
"Aku ingin pergi ke mall, seperti gadis - gadis diluar sana mereka selalu ditemani oleh orangtua mereka." Rengek Naomi.
"Baiklah, apapun untuk tuan putri." Dengan semangat ayah Andre mengikuti kemauan putrinya.
"Sepertinya aku hampir gagal untuk menjadi seorang ayah yang baik, tapi tidak masalah aku akan menghabiskan banyak waktu dengan putri kesayanganku ini." Lirih tuan Andre dalam hati.
Setelahnya mereka segera berberes, Naomi juga tidak lupa membersihkan meja makan setelah kedua orangtuanya masuk kedalam kamar.
"Yes, akhirnya." Senang Naomi, karena kedua orangtuanya yang selalu sibuk membuat ia tidak pernah ditemani ke mall.
Lain hal dengan Naomi yang tampak bahagia, Daniel saat ini sedang duduk dimobil ia menemani mommynya kesalah satu toko bunga entah ada keperluan apa nyonya Keyren didalam butik itu.
"Astaga, mommy kenapa begitu lama yah, aku bahkan sudah menunggu 45 menit disini." Rengek Daniel tampak kesal.
Okay mari kita kembali ke Naomi.
Naomi dan kedua orangtuanya sedang dalam perjalanan, tanpa didampingi oleh orang - orang kedua orangtuanya.
"Mom, nanti kita belanja yah." Ujar Naomi bersemangat.
"Tentu, kita sepertinya perlu memeras kantong ayah." Jawab nyonya Elen tampak senang.
"Hei, hei kalian berdua berencana didepan ayah loh, ayah bisa saja merajuk." Tegur tuan Andre kepada istri dan putrinya.
"Kalau begitu ayah tidak diinjinkan tidur bersama bunda." Tidak ingin kalah Naomi segera menyaut.
"Eh, mana bisa seperti itu." Elak tuan Andre berusaha tidak panik, ia tidak ingin semakin dikerjain oleh putrinya yang iseng.
__ADS_1
"Hahaha, kalian ini kenapa senang sekali bertebat." Tawa nyonya Elen tampak begitu puas.