
Alicia tiba disalah satu gedung yang tidak terlalu tinggi tetapi begitu besar, Alicia segera menelepon Maxx.
"Hallo Maxx, aku ada dilobby utama, kau dimana ?" Tanya Alicia begitu sambungan terhubung.
"Turunlah, dan berikan kuncimu kepada satpam aku menunggumu didekat satpam berdiri." Jawab Maxx.
"Baiklah." Jawab Alicia memilih menurut.
Alicia segera mematikan telepon sepihak dan mengambil tasnya, setelah itu ia meninggalkan mobil dan menghampiri Maxx terlebih dahulu begitu mendapati sosok tersebut.
"Hai Maxx." Sapa Alicia ramah.
"Hi, Alicia ayo masuk." Jawab Maxx dan berjalan lebih dahulu.
"Pak, tolong parkirkan mobil nona Alicia, beliau adalah tamu tuan muda." Ucap Maxx dengan sopan tapi tetap tegas.
"Baik tuan." Jawab satpam tersebut.
Setelahnya Maxx dan Alicia berjalan menuju lift ekslusif yang disediakan khusus untuk orang penting dalam perusahaan.
Alicia menjadi pusat perhatian setiap orang yang sibuk berlalu lalang, selain kecantikannya yang menyita perhatian banyak orang, keberadaan Maxx sebagai assisten sekaligus orang kepercayaan tuan Derrel juga menjadi perhatian khusus.
"Maxx, ini tempat kalian berkerja ?" Tanya Alicia.
"Yah." Jawab Maxx singkat.
"Maxx dimana tuan mudamu, bukankah seharusnya kau terus bersamanya ?" Tanya Alicia.
"Beliau sudah diatas." Jawab Maxx.
"Baiklah." Ucap Alicia.
__ADS_1
Flashback Of.
Selama dalam perjalanan menuju kantor Derrel terus memikirkan saran dari Maxx, apa benar harus meminta bantuan pada gadis asing itu.
"Bagaimana kalau gadis itu tidak mau." Batin Derrel berkecamuk.
"Tapikan dia berhutang padaku, mau tidak mau dia harus mengatakan iya." Lanjut Derrel lagi.
Setelah sampai dikantor dan meeting selama 30 menit lamanya, Derrel meminta Maxx untuk mengikutinya.
"Maxx, hubungi gadis itu dan minta ia kemari." Titah Derrel dengan dingin tentunya.
"Maksudnya tuan, gadis mana yang tuan inginkan." Jawab Maxx belaga tidak tahu.
"Alicia." Singkat Derrel membuat senyum kecil terlihat diwajah tampan Maxx.
"Baiklah tuan, saya pamit sebentar dan saya akan segera menghubungi nona Alicia." Jawab Maxx patuh.
"Yah, pergilah." Jawab Derrel.
"Baik tuan." Jawab Maxx sebelum benar - benar menghilang dibalik pintu.
Flashback of.
Alicia terlihat begitu tenang begitu pula dengan Maxx, sebenarnya Alicia dalam hati masih menerka - nerka apa yang ingin disampaikan oleh Maxx.
Ting.
Begitu tiba di lantai paling atas Maxx langsung saja mengarahkan Alicia menuju ruangan CEO, langkah kaki Alicia terhenti dan sedikit menyipit.
"Dia CEO disini ?" Tanya Alicia dengan tatapan menuntut pada Maxx.
__ADS_1
"Yah nona, tuan Derrel adalah CEO disini, sebaiknya segera masuk tidak baik membuatnya menunggu terlalu lama." Jelas Maxx dengan sedikit acaman kecil.
"Dia yang membutuhkanku bukan, jadi tidak perlu khawatir dia marah." Ketus Alicia pada Maxx.
Maxx tidak menanggapi lagi ia memilih mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah mendapatkan ijin Maxx langsung mendorong pintu perlahan dan mempersilakan Alicia masuk.
"Masuklah Alicia." Ucap Maxx yang mengandung printah.
Mata Alicia terkunci pada seorang pria tampan yang sedang menatap intens padanya, Alicia tersenyum kecil sebelum menyapa.
"Selamat siang tuan muda Derrel." Sapa Alicia membuyarkan lamunan Derrel.
"Silakan duduk nona Alicia." Jawab Derrel dengan suara yang terdengar dingin namun tetap berwibawa.
"Langsung saja, saya tidak memiliki banyak waktu hari ini." Ucap Alicia dengan tegas tidak lupa tatapannya terlihat begitu serius.
"Tatapannya seolah sedang menggodaku, shit." Batin Derrel dengan pikiran konyolnya.
"Saya ingin mengajukan permintaan." Mendengar yang dikatakan Alicia, Derrel langsung berterus terang.
"Baiklah, katakan saja apa yang dapat saya bantu." Jawab Alicia dengan alis dinaikan keatas.
"Empat hari lagi adikku akan mengadakan pesta pernikahan di Indonesia, aku ingin kau menemaniku di pesta itu." Tuntut Derrel dengan dinginnya.
"Keberatan, aku tidak bisa." Jawab Alicia ketus.
"Kau harus bisa." Jawab Derrel tidak ingin kalah.
"Aku harus kembali ke Inggris, ayahku memaksaku untuk kembali hari ini juga jadi bagaimana bisa aku menemanimu ke Indonesia." Jelas Alicia.
"Tidak menjadi masalah, aku akan menemanimu ke Inggris dan meminta ijin untuk itu, jadi sudah tidak ada alasan lain bukan." Putus Derrel begitu saja.
__ADS_1
"Kau tidak bisa seenaknya." Sinis Alicia.
"Aku tidak perduli, kau berhutang padaku nona Alicia, jadi tidak baik untuk mencoba menghindar." Jawab Derrel tidak kalah sinis.