Nona Muda Incaran CEO

Nona Muda Incaran CEO
Kencan lagi ? | Tuan muda Daniel dan gadis sederhana.


__ADS_3

Selena tengah sibuk di apartementnya, tadi sore ia di ijinkan untuk kembali lebih cepat agar dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin.


"Sial, baru hari pertama aku bekerja dengannya sudah dibuat repot, astaga tuan Aeron apa tidak ada yang lebih baik sedikit sebagai penggantimu." Ujar Selena berkeluh kesah.



"Selesai." Ujar Selena di hadapan cermin.


Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu, Selena segera bergegas untuk membuka pintu karena tidak ingin membuat orang lain menunggu.


"Selamat malam nona." Sapa Jesen.


"Jesen, hai." Jawab Selena ramah.


"Apa kau sudah siap ?" Tanya Jesen sopan, ia diminta oleh tuan muda Felix untuk menjemput rekan kerjanya yaitu nona Selena.


"Yah, apa kita akan pergi sekarang ?" Tanya Selena sambil menatap Jesen dengan intens.


"Yah, tuan muda sudah menunggu di mobil, ayo jangan buat es itu menunggu terlalu lama jika tidak ingin mendapat masalah baru." Ujar Jesen sambil mempersilakan Selena berjalan lebih dahulu.


"Baiklah, mari." Jawab Selena sambil berjalan lebih dahulu.


Selena dan Jesen berada dalam satu lift yang sama, hanya saja jarak keduanya terlalu jauh.


"Selena apa pendapatmu mengenai tuan muda Felix ?" Tanya Jesen tiba - tiba, ia hanya ingin mengetahui pandangan Selena terhadap tuan muda mereka.


"Pria aneh, aku pernah bertemu dengannya satu kali di rumah sakit, sepertinya waktu itu bertepatan saat ia mengunjungi tuan muda Aeron." Ujar Selena.


"Hmmm, baiklah." Jawab Jesen seolah mengerti apa yang membuat rekannya terseret dalam arus tuan mereka.


"Lalu, apa pendapatmu tentangnya ?" Tanya balik Selena.


"Ia pria dewasa yang sudah matang, tampan dan memiliki kharisma yang kuat, aura dinginnya membuat ia menjadi sosok pemimpin yang begitu kuat, tatapan tajamnya begitu menakutkan, ada bagian istimewa dalam dirinya, dia sempurna untuk kau jadikan suami." Jawab Jesen sekenanya.


"Tidak akan, aku tidak mau mempunyai suami aneh sepertinya." Tolak Selena mentah - mentah.


"Garis takdir Tuhan tidak ada yang tahu nona Selena." Ujar Jesen sekenanya.


"Deg, benar apa kata tuan Jesen, garis takdir Tuhan tidak ada yang tahu, aku bahkan sudah berdoa agar tidak bertemu dengannya lagi, tapi dengan kuasa Tuhan ia mampu mempertemukan kami bahkan sekarang ia berstatus sebagai atasanku." Ucap Selena dalam hati, ia mulai memikirkan kata - kata Jesen mengenai Garis Takdir Tuhan tidak ada yang tahu.


Di dalam mobil, Felix tampak mengeraskan rahang ia sepertinya tidak puas dengan penampilan Selena, Selena hanya menelan ludah dia berpikir kali ini kesalahan apa lagi.


"Selamat malam nona Selena." Sapa Felix terdengar dingin dan datar, membuat Selena susah payah mengendalikan diri.

__ADS_1


"Selamat malam tuan, maaf bila menunggu lama." Ujar Selena lembut dan sopan, meski dalam hati ia merasa terpaksa.


"Hmm, jangan di ulangi." Ujar Felix santai.


"Oh no, apa maksud tuan Felix akan ada kencan selanjutnya, habislah kau Selena." Batin Selena dengan bola mata yang tampak membesar karena kaget.


"Aku akan menunjukan bagaimana itu pria aneh, kau akan segera jatuh kedalam pelukanku nona Selena." Batin Felix, entah permainan apa yang sedang ia rencanakan untuk gadis cantik di hadapannya.


"Mendekatlah." Titah Felix kepada Selena, Selena yang tidak ingin menambah masalah lebih memilih untuk menurut saja.


"Baik tuan." Jawab Selena dengan sopan.


"Ini terlalu dekat, apa tidak sekalian kau duduk di pangkuanku ?" Tanya Felix dengan suara sexynya.


"Shit, dasar pria aneh, dia yang memintaku untuk mendekat tapi ah sudahlah." Batin Selena mulai lelah menghadapi Felix yang bermulut lemas.


"Maaf tuan jika saya terlalu lancang." Ujar Selena sambil menggeser menjauh.


"Siapa yang memintamu untuk berpindah tempat ?" Tanya Felix dengan suara dingin dan mengintimidasi.


"Maaf tuan." Jawab Selena dan kembali ke tempat duduk sebelumnya.


Tanpa sadar Felix menyunggingkan senyum melihat Selena yang begitu patuh pada dirinya, ia paham jika dalam hati gadis tersebut sudah merutuki dirinya dengan berbagai macam kata kasar, tapi ia seolah tidak perduli akan hal tersebut.


"Huft, lelahnya." Ujar Daniel sambil merebahkan diri di atas sofa.


"Kenapa baru pulang ?" Tanya Derrel yang baru kembali.


"Tugasku banyak, hanya ditinggal sebentar semua sudah menumpuk, belum lagi dengan pekerjaan kantor." Jawab Daniel dengan sedikit lemas.


"Jangan terlalu lelah, kau harus mengurus kondisi tubuhmi sendiri, mommy dan daddy sedang melakukan kunjungan bisnis ke Malaysia, jadi jangan terlalu lelah." Ucap Derrel memberikan nasehat untuk adiknya.


"Terima kasih, kau begitu perhatian sejak kecil meski mommy dan daddy sibuk kau dan kak Felix selalu berperan dengan baik untukku, kak Aeron dan Keren." Ujar Daniel dengan begitu tulus.


"Kalian adalah adik - adikku, aku akan selalu melindungi kalian selama aku bisa." Tanggap Derrel, ia sejak kecil bersama Felix harus menggantikan peran kedua orang tua mereka yang sibuk.


"Aku pernah gagal melindungi Felix dan Keren, tapi aku berjanji tidak akan pernah gagal melindungi kau dan Aeron." Ujar Derrel sebelum meninggalkan Daniel yang diam mematung.


"Apa kau masih mengingat itu kak, kau tidak pernah gagal, kau adalah kakak terbaik yang kita miliki, jangan pernah mengingatnya Keren dan Felix pasti akan sedih." Ucap Daniel dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh Derrel.


Derrel hanya tersenyum kecut, luka itu begitu membekas untuk semua orang, serapat apapun itu di tutup tetap memiliki bekas sendiri.


"Drertt, drettt." Suara handphone mengahlikan tatapan Daniel.

__ADS_1


"Hallo." Jawab Daniel dengan ramah.


".." Ucap seseorang dari seberang telepon.


"Baiklah." Ujar Daniel sebelum mematikan telepon.


"Gadis itu lagi, apa mereka tidak malu mengejar - ejar pria, setidaknya mereka harus seperti kakak ipar yang tidak agresif agar aku tertarik." Ujar Daniel tampak begitu pusing.


Sudah satu minggu semejak ia menjadi pembicara di salah satu kampus Indonesia, ia sekarang memiliki beberapa penggemar yang mana domina adalah perempuan.


Daniel sudah mulai fokus dengan masadepannya, ada seorang gadis yang menarik perhatiannya, gadis cantik dengan gaya yang sederhana, ia adalah gadis yang tidak sengaja ia temui di caffe shop.


Flashback 2 hari lalu.


Daniel memasuki salah satu caffe shop yang terlihat ramai, ia duduk dan memesan makanan sebanyak yang ia mau untuk di makan, dan ia juga memesan beberapa kotak makanan untuk dibagikan.


"Saya pesan 12 kotak makanan yah untuk di bungkus." Ujar Daniel ramah.


"Baik tunggu sebentar." Ujar pelayan tersebut.


20 menit kemudian bertepatan dengan selesai Daniel makanan, pelayan tersebut membawa makanan yang dipesan.


"Totalnya berapa mba ?" Tanya Daniel.


"Rp. 675,800,00." Jawab pelayan dengan ramah.


"Sebentar." Jawab Daniel sambil mengambil dompetnya.


"Loh dompet saya mana ?" Tanya Daniel tampak kebingungan.


"Maaf mas, apa ada masalah ?" Tanya pelayan tersebut.


"Maaf saya kehilangan dompet saya, apa saya bisa membawa makanannya dan membayar besok ?" Tanya Daniel tampak merasa sedikit malu.


"Duh mas, kalau gak bisa bayar ga usah gaya - gayaan pesan yang banyak." Ujar pelayan tersebut tampak tidak suka.


"Tidak apa, biar saya yang membayarnya." Tiba - tiba seorang gadis cantik datang dan menolongnya.


"Terima kasih, saya akan mengganti 10 kali lipat." Ujar Daniel merasa tertolong.


"Tidak perlu, saya ikhlas menolong anda." Jawab gadis itu sebelum meninggalkan caffe shop.


Flashback of.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan kalian agar menjadi pemenang pada tanggal 23 nanti, terima kasih.


__ADS_2