
Udin mematung di hadapan Sadewa yang sedang menenggak air mineral dingin langsung dari dalam botolnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan dari luar.
"Tolong bukakan pintunya." pinta Sadewa pada Sang OB.
Udin tak menjawab, ia langsung menuju pintu dan mempersilahkan orang di baliknya untuk masuk.
"Kau sibuk?" Nakula datang membawa sebuah dokumen.
"Tidak, duduklah dulu."
Nakula duduk di sofa dan mengamati Sadewa yang membuka dompet serta mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Udin, kemari."
"Baik Tuan." Udin mendekat tanpa berani menatap.
"Ini pengganti gajimu yang telah dipotong, dan ini untuk membeli ember baru."
Udin menerima uang dengan wajah bingung. "Tuan, uangnya kebanyakan."
Sadewa tersenyum tipis. "Ambillah, hitung-hitung sebagai permohonan maaf sudah membuatmu terkena omelan Koordinatormu."
"Tapi Tu..."
"Ambil!" Sadewa memaksa.
"Iy-iya Tuan. Saya permisi Tuan."
"Hmmm." Sadewa hanya menjawab singkat dan menoleh sekilas pada OB tersebut.
"Permisi Tuan Nakula." tak lupa Udin berpamitan pada kembaran Sadewa yang menatap interaksi mereka dengan alis bertaut. Nakula mengangguk sebagai ganti jawaban.
"Ada apa?" tanyanya begitu Udin menghilang di balik pintu. "Ember apa?"
"Dua kali aku merusak ember yang ia gunakan untuk bersih-bersih." kata Sadewa dengan entengnya sambil membuka berkas yang dibawa Nakula.
Kerutan samar terlihat di dahi Nakula. "Aku tak mengerti."
Sadewa menghela napas dan kemudian menutup map yang sudah ia buka. Pemuda itu mulai menceritakan kejadian antara ia, Arin dan embernya Udin. Dari kejadian pertama hingga insiden kejar-kejaran tadi.
"Hahahahhaha, jadi karena Arin." Nakula tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Bahkan buliran bening sampai keluar dari sudut matanya.
Sadewa mencebik, namun ia diam saja membiarkan Nakula tertawa dan tak mencoba menghentikan pria itu. Ia memilih membaca berkas yang dibawa Nakula.
"Kau juga yang salah. Mengapa selalu melampiaskan kekesalanmu pada Arin?" sorot mata Nakula berubah serius. "Apa karena dia satu-satunya gadis yang tidak terpesona padamu?"
Sadewa tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Nakula.
"Jadi benar karena itu?" Nakula mencondongkan tubuhnya dan lekat-lekat menatap Sadewa, tak percaya bahwa pertanyaan asal-asalannya ternyata benar.
"Kurasa kau harus berkonsultasi dengan seorang psikolog. Karena narsismu itu sudah kelewatan."
"Kau pikir aku gila?" Sadewa melotot.
"Iya." jawab Nakula tegas. "Kalau narsis sudah kelewatan kan sudah termasuk gangguan kejiwaan."
"Aku masih waras."
"Tidak ada orang waras yang dendam pada orang yang tidak mengaguminya."
"Tapi jelas-jelas dia mengagumiku, dia hanya berbohong."
"Hahahh, kau benar-benar gila. Mana ada orang kagum yang bersikap biasa saja dihadapan orang yang dikaguminya." Nakula tersenyum mengejek. "Hanya karena satu orang gadis tidak terpesona padamu kau jadi marah. Padahal jika dibandingkan dengan yang terpesona padamu, hasilnya jauh dari kata seimbang."
__ADS_1
"Aku tidak peduli mereka mau terpesona padaku atau tidak."
"Lantas mengapa kau peduli Arin terpesona padamu atau tidak?"
"Karena......" Sadewa terdiam, ia memiringkan kepalanya tanda berpikir, berusaha mencari jawaban.
"Aku pun tak tahu." jawabnya pada akhirnya dengan suara melemah.
Nakula menepuk dahinya. "Aku akan membuat janji temu dengan psikolog. Pokoknya kau harus pergi konsultasi."
"Memaksa sekali."
"Karena aku tak mau punya kembaran gila."
"Kalau begitu kau ikut aku saja menjadi gila."
"Hah! Tidak akan. Aku tak ingin membuat Anjani bersedih."
"Berbicara soal Anjani, mulut istrimu itu mirip ember bocor." ujar Sadewa ketus.
"Apa maksudmu?" Nakula mulai kesal.
"Dia mengadu pada Mama, aku memarahi Arin."
"Hah! Baguslah. Aku harus membeli hadiah dalam perjalanan pulang nanti."
"Apa?! Kau memberi hadiah pada orang yang membuat aku kena marah?"
"Memang kau pantas mendapatkan omelan itu."
"Kembaran tak bermoral!" dengus Sadewa kesal. "Keluar dari ruanganku!"
"Aku akan keluar, tapi satu jam lagi ada rapat dengan Papa. Aku pastikan kau kena omel lagi."
"Tidak."
"Lalu apa maksud ucapanmu?"
"Kau menyuruhku keluar. Sedangkan aku perlu analisamu atas berkas itu." Nakula menunjuk berkas yang tadi ia bawa menggunakan dagunya. "Dengan begitu aku bisa menyiapkan bahan rapat dengan benar."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!" Sadewa melempar Nakula menggunakan bantal sofa.
"Bukankah kau yang memilih curhat? Kau tak menghentikanku bertanya. Jadi siapa yang salah?" Nakula melempar bantal itu kembali pada Sadewa.
"Tentu saja kau yang salah."
"Enak saja. Kau kan.."
"NAKULA!!! SADEWA!!!" kedua pria itu menjengit lalu berbalik menatap pintu.
"Papa!" seru keduanya bersamaan.
"Apa-apaan kalian ini?!" hardik Papa kesal. "Malu sama umur, sudah 28 tahun masih suka bertengkar seperti balita."
"Naku.."
"Sad.."
"CUKUP!!!" papa memijat pelipisnya, tiba-tiba ia pusing melihat tingkah putra kembarnya. "Siapkan keperluan rapat, kalau masih berdebat lagi, malam ini tidur di luar."
"Di luar kamar Pa?" Nakula memberanikan diri bertanya.
"Enak saja." Papa Pandu makin ketus. "DI LUAR RUMAH!" setiap kata diucapkan dengan penuh penekanan.
__ADS_1
***
"Maafkan perlakuan kasar Sadewa padamu Arin." ucap Nyonya Kandi saat keduanya sudah berada di rumah dan berbincang di meja dapur.
"Iya Nyonya."
"Kau menjawab begitu karena takut dipecat ya."
"Eh, it-itu.."
Nyonya Kandi tersenyum melihat Arin yang mendadak gugup. Tangan wanita itu terulur mengangkat dagu Arin membuat gadis itu menatap wajah majikannya.
"Saya tidak pernah mengajarkan putra-putra kami memandang rendah pada orang lain hanya karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Jadi jangan takut jika ia menindasmu lagi, laporkan dan saya akan memberinya pelajaran."
Arin mengangguk sambil tersenyum kikuk, mana mungkin aku mengadu.
"Baiklah kalau begitu, saya ke kamar dulu." Nyonya Kandi mengakhiri percakapan itu karena melihat Arin tak begitu merespon soal tindakan kasar Sadewa. Dalam hatinya Nyonya Kandi menyayangkan sikap gadis itu yang tak menanggapi tawaran perlindungan yang ia ucapkan dengan gamblang.
Ketika hampir mencapai kamarnya, Nyonya Kandi dikejutkan dengan Anjani yang keluar dari ruang kerja. Tak biasanya menantunya itu memasuki ruangan yang hanya berisi berbagai macam berkas, dokumen penting dan buku-buku, jika tak ada suaminya di dalam sana.
"Eh, Mama. Sudah pulang?"
"Sudah dari tadi. Kau juga baru pulang?"
"Iya Ma."
"Lalu apa yang kau lakukan di dalam sana?"
"Ada buku yang ingin kubaca Ma." jawab Anjani dengan raut wajah seperti menyembunyikan sesuatu.
Sebenarnya Nyonya Kandi melihat itu, namun ia memilih mengabaikan ekspresi menantunya dan tetap berpikiran positif. Mungkin Anjani mulai tertarik pada bisnis.
"Apakah ruangan itu bersih?" tanya Nyonya Kandi yang memang sangat jarang memasuki ruangan dimaksud.
"Tentu Ma, setiap hari Inah membersihkannya."
"Baguslah kalau begitu, Mama mau istirahat dulu."
"Iya Ma." Anjani tersenyum dan baru beranjak dari tempatnya berdiri setelah mertuanya menutup pintu kamar.
Menantu keluarga Wasesa itu buru-buru naik menuju kamarnya dan mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan di balik bajunya.
***
Arin sedang membersihkan kamar saat ia menemukan sebungkus bubuk putih yang dikemas dalam plastik kecil bening berzip.
"Mbak Inah, ini apa?" ia menunjukkan temuannya pada Inah dan sukses membuat wanita itu melebarkan netranya. Namun sedetik kemudian ia berhasil menguasai dirinya dan raut wajahnya terlihat biasa saja.
"Oh, itu bubuk pemutih wajah." jawabnya sambil mendekati Arin.
"Ini milik Mbak Inah?"
Inah mengangguk dan tersenyum malu-malu. "Mbak juga pengen punya kulit mulus kayak kamu Rin."
Arin menyerahkan bungkusan itu dan lanjut membersihkan kamar mereka. Inah pun segera pergi setelah menerima benda miliknya itu.
Saat Inah keluar, Arin sejenak menatap punggung seniornya itu. Ia sudah bertahun-tahun belajar membaca perubahan ekspresi seseorang. Jadi perubahan sedetik raut wajah Inah tadi juga tertangkap oleh indra penglihatannya. Arin diam karena merasa tak memiliki hak untuk bertanya lebih jauh.
***
Jangan Lupa Vote, Like, dan Komen
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Happy Reading