Noushafarin

Noushafarin
Bab 12


__ADS_3

Udara pagi lebih dingin dari biasanya, namun Noushafarin tetap melakukan tugasnya tanpa mengeluh. Tuan Pandu yang hendak berolahraga di taman depan berhenti sejenak menatap gadis itu. Merasa ada yang memperhatikan Noushafarin segera berbalik.


"Se-selamat pagi Tuan." sapanya sambil membungkuk.


Tuan Pandu tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Mau sampai kapan?"


Noushafarin mendongak, ia menatap majikannya sejenak kemudian kembali menunduk. Maksudnya apa ya?


"Saya siap mendengarkan, kapan pun kamu mau bercerita." kemudian ia berlalu membiarkan Noushafarin memikirkan kalimat yang ia lontarkan.


Apa Nyonya mengadu pada Tuan soal Tuan Sadewa sableng itu? Hhhhh, semoga saja tidak.


"Kau digaji untuk bekerja, bukan melamun." suara radio rusak di pagi hari, Sadewa Wasesa.


"Selamat pagi Tuan Muda." setelah mengucapkan salam, Noushafarin segera melanjutkan pekerjaannya.


"Kau mengacuhkanku, Arin?!"


Dengan berat hati gadis itu menghentikan pekerjaannya untuk sementara dan berbalik. "Maaf Tuan, saya dibayar untuk bekerja." jawabnya masih dengan menunduk.


"Kau i..." Sadewa tak melanjutkan ocehannya karena Arin sudah kembali bekerja. Terdengar dengusan kesal dan hentakan langkah kaki di belakangnya. Gadis itu hanya menipiskan bibir mengingat tingkah Sadewa.


Ingin rasanya meminta Mimi untuk mengganti majikan, pindah ke keluarga lain. Namun gaji ART di kediaman ini lumayan besar, jadi cukup baginya bisa membeli tiket kembali ke Jerman. Bayangkan lingkungan LMU Nou. Biar makin sabar menghadapi Sadewa sableng itu.


Noushafarin kembali ke dapur setelah tugas awalnya selesai. Seperti biasa, Anjani sedang menyeduh teh untuk mama mertuanya. Gadis itu menyapa Anjani sekedar berbasa basi, kemudin ke belakang mengisi perutnya.


Tuan Pandu menerapkan sarapan pagi lebih awal untuk semua pekerja sebelum mereka melakukan tugas masing-masing. Karena beliau tidak ingin ada yang sakit hanya karena kelelahan dan kurang makan.


"Arin, nanti ada orang yang mau bersihin lampu kristal. Jadi habis makan kamu tutup sofa pakai kain ya. Trus selesai mereka kerja, kamu bersihin lagi ruangan yang ada lampu kristalnya." Mbok Yem menjelaskan tugas Arin setelah sarapan.


"Iya mbok. Cuma lantai 1 saja kan ya."


"Iya, kalau lantai 2 kan sudah ada yang urus."


"Rin, kamu makan yang banyak. Kelihatan agak kurusan." kata Mang Ari dan disambut senyum tipis Arin.


"Mang Ari perhatian banget sama Arin. Sama aku cuek terus." Inah yang baru bergabung melayangkan protes.


"Kalau kamu harusnya diet." ucap Mang Ari disertai tawa, Mbak Inah mencebik kesal.


"Eh Arin, kamu belum baikan juga sama Tuan Sadewa?" Mbak Inah menatap Arin dengan intens.


"Baikan? Kami nggak marahan kok Mbak." jawab Arin seadanya.


"Kamu itu Nah, pertanyaanmu kok nyeleneh gitu." Mbok Yem menyenggol lengan Inah yang duduk di sampingnya.


"Ya, suasananya tegang terus sih Mbok." jawab Inah sebelum menyuap makanan ke mulutnya.


"Bukannya memang wajar ya Mbak, kan majikan sama pembantu." Arin terlihat santai saat menjawab.


"Wajar sih, tapi cara Tuan Sadewa menatap kamu itu lho. Kelihatan lain."


"Kok Mbak Inah bisa tahu. Aku aja nggak lihat karena nunduk." Arin menautkan kedua alisnya.


"Iya Nah, kamu ngintipin mereka ya." Mang Ari menggoda.


"Ah itu..."


"Nggak sopan Nah, jangan ikut campur urusan majikan." Mbak Yem menyela.


"Urusin masa depan kita aja Nah." Mang Ari tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Inah.


"Masa depan kita berdua remang-remang kayak lampu yang udah mau rusak Mang." Inah mencebik di sambut tawa yang lainnya.


"Emang kamu nggak naksir Tuan Muda Sadewa ya Rin?" tanya Siska tiba-tiba.


Arin tergelak mendengar pertanyaan itu. "Ya enggaklah Teh Siska. Teteh ada-ada aja."


"Padahal Tuan Sadewa itu ganteng banget lho Rin." mata Siska berbinar saat mengatakannya.

__ADS_1


Arin mengulum senyum. "Udah biasa lihat yang ganteng Teh. Yang lebih ganteng dari Tuan juga banyak, jadi ya...gitu deh."


"Terpesona sedikiiiiiiiit aja Rin. Masa enggak juga?" Siska mendekatkan ujung ibu jari dengan ujung telunjuk membentuk celah sempit.


Arin menggeleng sambil tersenyum. "Teh Siska kenapa kok nanya begitu?"


"Iya Sis, kamu kenapa?" tanya Inah.


"Penasaran aja, karena setiap cewek ART baru pasti kesengsem sama Tuan Muda Nakula Sadewa." jawab Siska sambil meneruskan makan.


"Berarti kali ini berbeda dong." Arin terkekeh pelan.


"Kamu yakin nggak bakal terpesona, suatu saat nanti?" Mang Ari jadi ikut bertanya.


Semua pandangan menatap Arin, gadis itu terdiam agak lama memikirkan jawabannya.


"Dorrrr!!!" Pak Maman menggebrak meja sambil menirukan suara tembakan.


"Eh ayam ayam ayam ayam ayam!" seru Teh Siska sambil mengangkat kedua tangannya.


"Hahaha, ayamnya kenapa Sis?" Inah cekikikan memegangi perutnya.


"Teh Siska ternyata latah ya." ujar Arin disela-sela tawanya.


"Pak Maman ihh." Siska melotot ke arah Satpam itu


"Habisnya, Neng Arin kelamaan mikir. Trus tiba-tiba semua hening begitu." jawab Pak Maman tanpa raut wajah bersalah sedikit pun.


"Iya Rin. lama banget mikirnya." Mang Ari menimpali.


"Ehm." Arin berdehem untuk menghentikan rasa gelinya akibat melihat Siska yang latah. "Arin nggak berani bilang nggak bakal atau nggak mungkin Mang. Tapi kalau boleh, jangan sampai deh Mang."


"Kok jangan sampai?" dahi Mbak Inah berkerut.


"Iya, kan repot kalau tertarik sama cowok yang sukanya nuduh sembarangan tanpa bukti. Nggak enak punya pasangan kayak gitu."


"Lahh, kan kalau kita tertarik pasti ngarep jadi pasangan kan." Arin menatap serius ke arah Siska.


"Iya juga ya." Siska nyengir kuda. "Berarti kalau Tuan Sadewa berhenti nuduh kamu sembarangan, kamu bakal tertarik dong sama dia."


"Ya, enggak gitu juga Teh." gadis itu bingung bagaimana mau menjelaskan.


"Wahh, aku bakal punya saingan berat dong." lirih Siska. "Arin cantik, kulit mulus terawat, bibir sensual, body kecil imut-im...."


"Stop Teh!" pekik Arin. "Geli dengernya." Arin menggosok-gosok telinganya.


Gelak tawa kembali terdengar. Pekerja lain yang sedari tadi hanya menjadi pendengar ikut terbahak-bahak.


"Sudah, sudah. Buruan, masih banyak kerjaan." Mbok Yem yang lebih dulu menguasai diri langsung mengingatkan rekan-rekannya.


***


"Kamu dari mana Wa?" Mama Kandi yang baru tiba di dapur mengernyit melihat kemunculan putranya dari arah dapur khusus pekerja kediaman mereka.


"Eh, itu, mencari Pak Maman." jawab Sadewa setelah mengatasi keterkejutannya bertemu Mama Kandi.


"Sudah ketemu?"


"Belum, Pak Maman masih makan. Nanti aja." Sadewa mengecup pipi Mama kemudian berjalan menuju kamarnya.


Jadi kamu nggak menutup kemungkinan bakal terpesona sama aku ya. Hmmm, ngerjain kamu dengan cara kasar sudah membosankan, kamu ternyata bisa cepat menguasai diri. Kalau begitu, kita pakai cara lainnya. Nggak sabar pengen lihat ekspresi lain kamu selain jengkel. Pasti semakin imut.


"Imut?!" Sadewa memukul kepalanya.


"Siapa yang imut?" tanya Papa Pandu yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya.


"Papa!" Sadewa menjengit. "Ngagetin aja."


Papa Pandu mengernyit. "Masa kamu nggak lihat Papa turun dari lantai 2?"

__ADS_1


"Eh?" Sadewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pandu geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. "Bersiap-siaplah dan menangkan tender hari ini."


"Siap bos!" Sadewa memberi hormat dan bergegas naik ke lantai 2.


***


Sebelum menuju tempat pelelangan pekerjaan, Sadewa dan Nakula berhenti di sebuah kafe. Mereka senang membahas pekerjaan di luar kantor. Karena tempat yang nyaman akan membuat mereka lebih produktif. Setelah memesan kopi dan makanan ringan, mereka mulai membahas kontrak yang akan mereka ajukan saat lelang proyek.


"Aku tak menyangka akan bertemu kalian disini." tiba-tiba Tora sudah berdiri di dekat mereka.


"Hei Dokter, duduklah." Nakula tersenyum senang melihat kedatangan Dokter Tora.


"Sedang apa? Tak ada pasien?" Sadewa heran melihat Tora ada di kafe.


"Hari ini aku sedang libur. Dan tadi bertemu seorang rekan Dokter." jelas Tora.


"Bertemu rekan Dokter? Di kafe?"


"Memangnya nggak boleh?"


"Ya, enggak sih." Sadewa tersenyum tipis. "Cuma aneh saja. Bukannya bisa ketemu di tempat kerja jika ingin membahas sesuatu."


"Kami membahas masalah pribadi, dan kalau mau ngobrol di tempat kerja bisa-bisa pasien kami meninggal karena ditinggal ngobrol." Tora tersenyum kikuk. "Temanku itu minta tolong bantu cari sepupunya yang kabur dari rumah."


"Kenapa tidak lapor polisi saja?" tanya Nakula sambil membereskan berkas mereka.


"Kalau lapor takut jadi berita tidak sedap. Soalnya gadis itu kabur karena menolak dijodohkan." Gora tersenyum geli.


"Kenapa harus kabur?" tanya Nakula lagi.


"Dia masih ingin menyelesaikan spesialisnya di Jerman, jadi dia menolak keras perjodohan ini." Gira mengernyit sesaat setelah menjawab. "Kenapa kau seperti penasaran sekali?"


Nakula hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum tipis. Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan datang membawa pesanan.


"Oh iya, nanti malam aku akan datang ke rumah kalian." ucap Tora sambil tersenyum penuh arti.


"Untuk apa?" Sadewa tak nyaman dengan senyuman itu.


"Aku ingin bertemu ART baru kalian itu." jawabnya sambil menaik turunkan alis.


"Tak bisa, dia incaranku!" ucap Sadewa tegas.


"Apa?" Tora dan Nakula sampai mencondongkan tubuh ke arah Sadewa.


Pemuda itu hanya tersenyum penuh arti.


"Kau benar-benar akan mengerjainya hanya karena dia tak tertarik padamu?" Tora geleng-geleng kepala.


"Jika kau sangat gusar dengan sikapnya, itu artinya kau sangat menyukainya." Nakula tersenyum sinis. "Sampai-sampai melampiaskan kekesalan padanya."


"Benarkah sampai seperti itu?" Tora menatap Nakula dan Sadewa bergantian.


"Iya benar. Dia frustasi karena dimata Arin, Sadewa hanya pemuda biasa." Nakula memojokkan saudaranya.


"Tidak!" Sadewa menyanggah.


"Kembaranmu benar-benar gila." ucap Tora pada Nakula.


"Tidak, dia bukan kembaranku." karena kesal dengan tingkah Sadewa, Nakula menolak kenyataan itu.


Tora terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya. Sadewa mengusap wajahnya dengan kasar. Meski mulutnya menolak, tapi hatinya membenarkan ucapan Nakula. Ia gusar karena ia tertarik pada Arin, sedangkan gadis itu malah mengabaikannya.


Baru kali ini ada gadis yang tak menatapku dengan pandangan memuja. Hhhhh.....


Bersiaplah Arin, aku tak akan membuatmu tenang. Sama seperti kau sudah membuatku tak tenang akhir-akhir ini.


***

__ADS_1


__ADS_2