
Sebuah brankar telah menunggu kedatangan mereka, Dokter Tora dan beberapa perawat tampak bersiaga di kedua sisi benda tersebut. Begitu mobil berhenti, dengan sigap mereka menolong dan membawa Nyonya Kandi ke dalam ruang UGD.
Noushafarin berlari menyusul masuk ke dalam gedung, matanya dengan liar melihat ke segala penjuru. Ini akhir pekan, biasanya dia ikut berjaga di UGD.
Matanya menangkap sesosok tubuh berbalut baju berwarna biru tua dilengkapi jas putih yang panjang. Nou segera berlari menuju gadis itu dan menyeretnya ke tempat yang sepi dan tidak terjangkau CCTV.
"Sakit, siapa ka...Nou! Noushafarin! beneran ini kamu?!"
^^^[Bab sebelumnya]^^^
"Iya Kak, ini aku." Nou menyunggingkan senyum canggung. "Aku janji akan cerita tapi sebelumnya tolong Nyonya Srikandi Wasesa. Pasien yang sedang ditangani Dokter Tora."
"Kenapa dengan dia?"
"Aku curiga dia diracuni, sepertinya arsenik. Dilihat dari gejalanya, dosis pemberian racun itu hanya sedikit demi sedikit, tapi konsisten. Jika aku yang mengatakannya mereka akan curiga dan pelakunya akan menempatkanku pada target pertama menggantikan Nyonya Wasesa."
"Noushafarin Armani! Sebenarnya apa yang kau lakukan setelah kabur dari rumah? Kenapa bisa terli..."
"Sudah kubilang aku akan cerita, tapi nanti. Kumohon bujuk Dokter Tora untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh."
"Tapi kau kan tahu aku ini Dokter Anastesi, bukan penyakit dalam. Bagaimana ak..."
"Lakukan apa saja. Aku yakin kakak punya banyak ide. Kumohon Kak Tatiana, bantu aku." Nou menggoyang-goyang lengan Dokter Tatiana.
"Baiklah, baiklah. Berhenti merengek, akan kupikirkan caranya. Sementara ini biarkan Tora menyadarkannya terlebih dahulu."
"Danke Kakak sepupu yang cantik, kau memang bisa diandalkan."
"Kau berhutang penjelasan padaku, Young Lady."
"Yes Ma'am!"
Tatiana menggeleng-gelengkan kepala dan bergerak cepat mencari seseorang, sedangkan Noushafarin sudah kembali ke sisi Mang Ari.
"Dari mana Rin? Mamang sampai bingung nyari'in kamu."
"Oh, itu...hehe, maaf ya Mang. Tadi ketemu teman lama."
"Oo, kirain kamu diculik kucing garong."
"Masa iya sebesar ini diculik kucing garong, aku kan bukan ikan asin Mang."
"Kucing garong kan nggak demen sama ikan asin neng. Demennya sama neng geulis kayak kamu."
"Mang Ari bisa saja."
Mang Ari lantas menunduk dan berbisik. "Buktinya Tuan Muda Sadewa aja naksir."
Sontak Noushafarin membeliakkan matanya dan menyikut lengan Mang Ari. "Jangan asal Mang, aku masih butuh kerja." balas Nou sambil berbisik pula.
"Kalian bisik-bisik apa?"
Wih, panjang umur. Baru disebut namanya sudah muncul.
"Ini Tuan, bahas kucing garong."
Nou memukul dahinya pelan kemudian menunduk. Ya elah Mang, jujur banget sih.
Sadewa mengernyit sambil menatap Nou, namun tak ingin melanjutkan pertanyaannya.
Beberapa menit kemudian, Tuan Pandu dan Dokter Tora keluar dari tempat pemeriksaan yang dibatasi oleh tirai. Pemuda itu segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Bagaimana Pa?"
"Tora meminta dilakukan pemeriksaan menyeluruh."
Syukurlah, Kak Tatiana tidak perlu repot-repot membujuk Dokter Tora.
__ADS_1
"Kenapa Pa?" Sadewa tak mengerti.
"Biar pengobatannya tepat sasaran." ujar Tuan Pandu dengan raut wajah yang tampak sedih. "Arin, tolong pulang dan kemasi baju istriku, Sadewa akan mengantarmu."
"Baik Tuan." Nou mengangguk setuju.
"Dewa pergi dulu ya Pa. Mang Ari, tolong temani Papa."
"Iya Tuan."
Noushafarin berjalan lebih dulu, otaknya masih berfungsi dengan baik untuk tidak berjalan sejajar dengan Si radio rusak.
"Kenapa jalannya cepat sekali?" Sadewa menarik tangan gadis itu saat mereka sudah keluar dari UGD.
"Supaya cepat kembali kemari Tuan." jawab Nou tanpa menghentikan langkahnya. Ia bahkan menarik tangannya yang dipegang Sadewa.
"Kau mengkhawatirkan Mama?" Sadewa tersenyum.
"Tentu saja, Nyonya sangat baik. Tidak seperti seseorang." sindirnya. Semenjak Tuan Pandu menyatakan keberpihakannya, Nou memutuskan untuk berani melawan Sadewa.
"Cihhh, mentang-mentang dibela Papa, kau jadi berani melawanku, hmm?"
"Tentu saja." tandas Nou sambil melirik dan tersenyum sinis.
Sadewa semakin gemas dengan tingkahnya. Pemuda itu mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambut Nou. Ia tergelak dan bergegas menuju mobil saat melihat kemarahan di wajah Nou.
"Apa-apaan sih orang itu?!" Nou menggerutu sambil merapikan rambutnya kemudian menyusul Sadewa ke mobil.
Sementara itu, di rumah sakit...
"Dokter Tatiana, apa anda melihat keberadaan Dokter Haikal?"
"Oh. Dokter Tora in...."
"Ada apa?" seorang pria berkacamata keluar dari dalam ruangan yang berada di belakang Tatiana.
Sekilas Dokter Haikal melirik Dokter Tatiana kemudian mengangguk menyanggupi permintaan Dokter Tora.
"Baiklah, akan kulakukan."
"Terima kasih Dokter, aku akan menghubungi perawat untuk menyiapkan segala sesuatunya. Permisi." pemuda itu tersenyum sambil berpamitan ada Haikal dan Tatiana.
"Sepertinya Dokter Tora sepemikiran denganmu? Tapi bagaimana anda tahu lebih dulu, Dokter?" Haikal mengernyit menatap Tatiana.
"Itu rahasia." Tatiana tersenyum penuh rahasia. "Terima kasih Dokter Haikal."
"Sama-sama."
......................
"Kau bahagia?" Nakula menatap Anjani dengan penuh sayang.
"Tentu saja. Terima kasih untuk waktunya." wanita itu memeluk Nakula dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Drrttt...Drrttt....Drrttt....
"Sayang, ada telepon." Anjani mengingatkan.
"Ok." Nakula mengecup kepala Anjani sebelum menjawab teleponnya. "Halo."
"......."
"Ada apa Wa?"
"......."
Raut wajah Nakula terlihat tegang. "Di-dimana?"
__ADS_1
"......."
"Kami akan kesana. Terima kasih Wa."
Nakula memasukkan handphone ke dalam sakunya dengan lesu.
"Ada apa?"
"Maaf, piknik kita sampai disini dulu. Mama dilarikan ke Rumah Sakit."
"Ap-apa? Ba-bagaimana.... A-ayo, cepat kita kesana." Anjani sangat panik, ia bahkan menarik-narik tangan Nakula.
"Berjanjilah satu hal."
"Apa?"
"Lakukanlah."
"Baik, aku janji."
"Jangan bertanya apapun sepanjang perjalanan dan tetaplah tenang. Kau tahu aku mudah gugup, kita tidak boleh melakukan kesalahan yang mengakibatkan ke..."
"Aku tahu!" Anjani menatap dengan yakin. "Kita akan selamat sampai ditujuan."
Keduanya bergegas meninggalkan tempat itu menuju Rumah Sakit yang disebut Sadewa.
......................
"Kenapa diam disitu?"
"Sebaiknya anda saja yang menyiapkan baju Nyonya, Tuan."
"Papa menyuruhmu."
"Tapi Tuan..."
"Aku akan menemani. Ayo." Sadewa meraih tangan Noushafarin dan menarik gadis itu masuk ke dalam kamar orang tuanya dan terus menuju ke Walk in closet.
"Pakai tas ini saja." Sadewa mengeluarkan sebuah tas pakaian kemudian membuka semua pintu yang ada. "Aku juga tidak hapal dengan penempatan baju Mama. Kita cari bersama."
"Baik Tuan."
Tak ada percakapan atau perdebatan diantara mereka. Keduanya hanya fokus menyiapkan segala keperluan Srikandi selama di rumah sakit.
"Tuan, sebaiknya saya tetap di rumah." Noushafarin mengungkapkan keinginannya.
"Kenapa?"
"Saya harus menyiapkan hidangan makan malam, Tuan."
"Gampang, kita akan membelinya."
"Tapi..."
"Tolong, aku akan cemas dan gugup jika tidak ada yang menemani sepanjang jalan. Kondisi Mama membuatku gugup, dan bersamamu aku merasa tenang."
"Saya..."
"Arin, aku tidak bercanda atau mengerjaimu. Kondisi Nakula pun sama. Oleh sebab itu aku semakin gugup memikirkan keselamatannya di jalan."
Noushafarin terdiam, ia menyadari tidak semua orang bisa tetap fokus menyetir jika sedang gugup. Mempertimbangkan hal itu, akhirnya ia mengangguk menyetujui permintaan Sadewa.
"Terima kasih." Sadewa mengusap kepala Noushafarin dengan lembut membuat gadis itu sontak mendongak.
"Tu-tuan Pandu sudah menunggu." Noushafarin kembali menunduk karena tak kuasa membalas tatapan mata Sadewa yang terasa sangat dalam.
Sadewa tersenyum melihat kepergian Noushafarin. Sepertinya aku sudah menjilat ludahku sendiri. Akhhh...memalukan.
__ADS_1
...****************...