
"Noushafarin."
Noushafarin berbalik sebelum membuka pintu apartemennya.
"Suzane." Nou tersenyum melihat rekan sesama Dokternya itu datang menghampiri. "Ada apa?"
"Maaf mendadak. Malam ini ada acara penting yang harus kuhadiri untuk menemani kekasihku. Bisakah aku menyewa salah satu tas LV?"
"Tentu. Mari masuk." Nou membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk ke dalam.
Setelah meletakkan semua barang bawaannya, Nou mengajak Suzane memasuki sebuah ruangan yang merupakan walk in closet. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa lemari yang berisi berbagai macam tas dari brand ternama dunia.
Dan ada dua buah lemari yang khusus menyimpan tas edisi terbatas.
"Silahkan duduk." Nou mempersilahkan Suzane duduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
"Terima kasih." Suzane berbinar menatap ratusan tas yang memenuhi ruangan tersebut.
"Aku yakin waktumu tak banyak. Jadi pilihlah tas mana yang sangat mendukung penampilanmu malam ini."
Suzane mengangguk patuh dan berjalan menuju sebuah lemari berisi tas dari brand LV. Ia menunjuk sebuah tas kecil berwarna putih dengan aksen gold. Sederhana namun terlihat sangat mewah.
Noushafarin segera mengeluarkan tas dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam paper bag yang sudah ia siapkan. Setelah itu memberikannya pada Suzane.
"Untuk tas ini tarifnya €5500 per malam, bisa juga €1200 per jam."
"Aku akan bayar per malam, karena tidak yakin akan pulang jam berapa."
"Baiklah." Nou tersenyum manis. "EDC atau scan barcode?"
"EDC." jawab Suzane sambil mengeluarkan kartu kredit dari dalam tasnya.
Nou mengambil mesin EDC dan menggesek kartu yang diberikan Suzane untuk membayar sewa.
"Terima kasih Nou, kau penyelamatku."
"Sama-sama, senang berbisnis denganmu."
Nou mengantar Suzane sampai di depan pintu, disaat yang sama Georgia yang baru datang juga akan masuk.
"Oh hai. Baru pulang?" sapa Suzane.
"Ya, sudah akan pergi?"
"Hmm, ya. Ada acara penting malam ini."
"Jangan sampai teler." Georgia mengingatkan.
"Akan aku usahakan." jawab Suzane disambut kekehan geli ketiga gadis itu.
"Bisnisnu sangat lancar." Georgia berujar setelah Suzane pergi dan Nou menutup pintu apartemen mereka.
"Ya begitulah." Nou tak dapat menyembunyikan raut wajah kebahagiaannya.
Selama bertahun-tahun Noushafarin memiliki usaha penyewaan tas branded. Rekan-rekannya sangat antusias karena mereka bisa menggunakan tas mahal tanpa harus membeli.
Ini adalah usaha yang membuat Nou yakin untuk melarikan diri saat dijodohkan dengan Salton. Dengan bisnis penyewaan tas mewah ini, ia tak takut bila suatu saat keluarganya menarik segala fasilitas pemberian mereka, jika suatu hari ada permintaan yang tak dituruti oleh Nou. Perjodohan itu contohnya.
Nou mengumpulkan tas yang dibelikan keluarganya atau hadiah dari keluarga pasien kalangan atas yang ia selamatkan. Awalnya ia protes jika bunda atau nenek membelikan tas, sebab Nou jarang mengikuti pesta. Namun keluarganya tak menghiraukan perkataan Nou.
__ADS_1
Karena sayang jika tak digunakan, akhirnya ia mulai menyewakan tas-tas tersebut. Tak menyangka, usahanya itu ternyata mendapat sambutan hangat dari rekan seprofesinya atau bahkan selebriti. Sebab dengan kekayaan yang dimiliki Nyonya Faireh Armani, ia mampu membeli tas limited edition yang hanya ada 2 atau 3 di dunia dan diberikan pada Nou.
Georgia geleng-geleng kepala melihat ekspresi Nou.
"Bertahun-tahun magang, bonusmu juga sangat lumayan. Belum lagi hadiah uang dari keluarga pasien kalangan tertentu. Ditambah dengan usaha penyewaan ini. Jika dirupiahkan, mungkin depositomu sudah mencapai ratusan milyar." gumam Georgia membuat Nou hanya tertawa kecil.
"Uang sebanyak itu mau untuk apa? Sedangkan keluargamu juga selalu mengirimi uang setiap bulannya." imbuh Georgia.
Nou menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. "Ada cita-cita yang harus kuwujudkan."
"Kupikir cita-citamu menjadi Dokter Spesialis Anak?"
"Ya, itu salah satunya."
"Memangnya ada berapa cita-citamu?"
"Banyak, mungkin."
Jawaban Nou membuatnya mendapat hadiah lemparan bantal sofa dari Georgia.
Noushafarin memang terlahir dari keluarga kaya raya. Namun hal itu tak lantas menjadikan dirinya sebagai Nona Besar yang konsumtif. Sejak remaja ia sudah memikirkan cara untuk bisa menghasilkan uang sendiri sambil menjalani pendidikannya. Walau saat itu ia sendiri tak tahu usaha apa yang akan ia jalani mengingat sebagian besar waktunya habis untuk belajar.
Tak disangka, hanya dengan menggunakan hadiah sebagai bentuk kasih sayang keluarganya, ia bisa mendapat modal sekaligus jalan untuk memiliki usaha sendiri.
Awalnya ia khawatir keluarganya akan marah. Namun akan lebih disayangkan jika tas-tas itu hanya menjadi pajangan tanpa pernah digunakan. Akhirnya Nou memilih untuk meneruskan usaha tanpa memberitahu keluarganya.
Baginya, akan ada kepuasan tersendiri saat bisa mewujudkan sesuatu menggunakan hasil jerih payahnya sendiri. Oleh sebab itu, setiap bonus yang ia dapat, tidak pernah ia pergunakan melainkan ia tabung.
Selain untuk berjaga-jaga jika semua fasilitas ditarik keluarga Armani, ada impian lain yang ingin ia wujudkan dan itu memerlukan modal yang tidak sedikit.
"Akhir pekan besok, apa ada janji dengan seseorang?"
"Ya ampun Nou, tak bisakah kau bersenang-senang sebentar?"
"Akan ada waktunya untuk yang satu itu. Dan sekarang adalah waktu untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya."
"Dasar manusia spons." cibir Georgia.
Nou terkekeh. "Begitu selesai fellow dan lain-lain, aku akan berkeliling eropa. Mau ikut?"
"Serius?" Georgia terlihat antusias. "Berapa lama?"
"Entahlah, mungkin 6 bulan. Mungkin 1 tahun."
"Selama itu?"
"Aku sudah belajar dan bekerja dengan sangat keras selama bertahun-tahun. Jadi sudah sepantasnya saat berhasil meraih impian, aku pergi bersenang-senang memanjakan tubuh dan jiwaku ini."
"Ayahmu menyetujui?"
Nou mengangguk penuh semangat. "Mereka yang lebih dulu memberi ide libur panjang ini."
"Ahh, aku jadi iri. Aku ingin ikut, tapi tidak mungkin jika selama itu."
"Begini saja, jika ada waktu senggang, rencanakan liburan. Aku akan menyusulmu, atau mungkin kau yang datang kepadaku."
"Ide bagus." pekik Georgia, kedua gadis itu tertawa renyah. Hanya dengan membayangkannya saja mereka sudah sangat bahagia. Apalagi jika benar-benar terlaksana.
......................
__ADS_1
Nyonya Fitri tak main-main dengan ucapannya. Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Nakula dan Sadewa, ia mendatangi keluarga Wasesa.
"Mari silahkan." Nyonya Kandi mempersilahkan Nyonya Fitri duduk. "Ada perlu apa ya?"
"Ah, saya hanya ingin berkunjung." jawab Fitri dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. "Anak-anak sedang ke kantor ya."
"Iya benar."
"Farida juga sedang ke kantor Papanya. Katanya dia ingin belajar, supaya jika menikah nanti bisa membantu pekerjaan suaminya kelak." Nyonya Fitri bertutur dengan oenuh semangat. "Pemikiran yang bagus kan. Jarang lho anak muda berpikiran seperti itu."
Meski bingung dengan kalimat Nyonya Fitri, Nyonya Srikandi menyunggingkan senyum tipis mendengar penuturan itu.
"O iya, saya dengar Sadewa sudah punya kekasih ya."
"Iya benar."
"Aduh, Nyonya Srikandi, hati-hati lho. Sekarang ini banyak gadis yang mengincar pemuda kaya raya. Berpura-pura cinta, padahal hanya mau hartanya."
Salah satu alis Nyonya Srikandi terangkat. "Benarkah?"
"Iya, benar." Nyonya Fitri mengangguk yakin dan mulai membuka kipasnya. "Wajah pas-pasan, dan cantik hanya karena make up, sudah begitu niat hati jelek. Aduhhh, pokoknya Nyonya harus hati-hati deh biar tidak menyesal."
"Terima kasih Nyonya Fitri sudah mengingatkan saya."
"Sudah seharusnya, kita kan teman."
"Lalu apa hubungannya dengan Sadewa, putra saya?"
"Ya itu, kekasih nak Sadewa pasti hanya mau harta keluarga ini saja. Dan saya yakin, wajahnya pasti tidak lebih cantik dari wajah Farida putri saya." jawab Nyonya Fitri dengan yakin.
"Farida itu sudah cantik, bodynya bagus, pandai memasak, cerdas, pokoknya calon menantu idaman."
Penuturan Nyonya Fitri membuat Srikandi membayangkan Noushafarin. Gadis pekerja keras, rajin, ulet, pandai memasak dan yang pasti sangat cantik meski tanpa make up.
Tanpa mengetahui latar belakang keluarga Noushafarin saat itu, Nyonya Srikandi sudah menyukainya. Karena bagi wanita itu, apapun latar belakangnya, berlian tetaplah berlian. Jika putranya sungguh-sungguh mencintai, maka Nyonya Srikandi akan meminang gadis itu untuk putranya tanpa memandang status.
"Dari mana Nyonya Fitri bisa mendapat pemikiran seperti itu?"
"Nyonya, saya hanya mengikuti firasat saya. Dan firasat saya tidak pernah salah. Dia pasti menggoda Sadewa untuk mendapatkan harta dan menaikkan status sosial keluarganya."
"Apakah status sosial keluarga Armani turun?"
"Maksud Nyonya?"
"Tadi Nyonya Fitri berkata kekasih anak saya hanya ingin harta untuk menaikkan status sosial keluarganya. Jadi saya bertanya apakah status sosial keluarga Armani turun level?"
"Keluarga Armani pemilik jaringan Rumah Sakit swasta yang cabangnya diseluruh Indonesia itu, maksud Nyonya?"
Nyonya Srikandi mengangguk. "Jangan lupakan perusahaan mereka yang memproduksi obat-obatan dan alat medis juga."
"Apa hubungannya dengan kekasih Sadewa?"
"Setahu saya, kekasih Sadewa saat ini adalah Noushafarin Armani. Nona besar keluarga Armani yang saat ini sedang menempuh pendidikan dalam bidang kedokteran di Jerman." Nyonya Srikandi menekan kata demi kata yang ia ucapkan.
"Jadi apakah status sosial keluarga Armani sedang turun hingga putri keluarga tersebut menggoda putra saya untuk menaikkan level sosial mereka?" Nyonya Srikandi mengulang pertanyaannya.
Wajah Nyonya Fitri memucat, ia tak menyangka jika gadis yang tengah ia jelek-jelekkan adalah Nona besar keluarga terpandang.
Astaga, saingan Farida ternyata gadis dari keluarga Armani. Berakhir sudah impianku untuk memiliki menantu yang kaya raya.
__ADS_1
...****************...