
"Ibu."
"Ya Farena, ada apa?" Nenek Faireh meletakkan cangkir tehnya di meja.
"Aku takut Ibu." ujar Farena sambil menduduki tempat yang berhadapan dengan mertuanya.
"Takut kenapa?" Nenek mengernyit.
"Aku takut Tatiana nekat kabur karena tertekan." Farena mengungkapkan apa yang ada di pikirannya hingga membuatnya sulit tidur semalam.
Nenek Faireh tersenyum lembut. "Aku sudah memikirkannya Farena. Itu hanya gertakan saja."
"Hanya gertakan?" raut wajah Farena terlihat penuh tanya. "Jadi semalam bukan hal serius?"
"Iya, agar Tatiana mau memikirkan kehidupan pribadinya. Jika seperti ini kan dia akan berpikir, ada Noushafarin yang jadi korban."
"Artinya, Noushafarin dan Sadewa bisa menikah setelah Darian menikah?"
"Ya, kira-kira seperti itu. Dan kalau misalnya Nou juga merasa tertekan dan akhirnya bisa membantu agar Tatiana mau mencari calon suami, itu lebih bagus lagi." Nenek Faireh jadi tersenyum geli membayangkan kemungkinan itu.
"Apa Kakak Bianca tahu tentang rencana Ibu?"
"Sebelum dia datang ke Indonesia, aku sudah memberitahukan kepadanya."
Farena terlihat lega. "Kekhawatiranku sia-sia."
"Tidak sia-sia nak. Itu akan jadi alarm juga untuk Ibu. Terima kasih sudah mengingatkan." Nenek Faireh tersenyum tulus. "Untuk saudara kembar Sadewa itu, Nenek sungguh tidak keberatan. Meski dia pernah menyakiti Tatiana tanpa sengaja."
"Apalagi dia berani datang dan meminta maaf secara langsung." Farena menimpali.
"Benar." Nenek membenarkan ucapan Farena. "Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf secara langsung itu baik."
"Apa yang dibicarakan sepagi ini? Sepertinya seru." Bianca bergabung dengan Ibu dan adik iparnya.
"Kami membahas putrimu." jawab Nenek.
Bianca tersenyum kecut. "Semalam dia marah padaku dan memilih tidur bersama Noushafarin." ia mengambil tempat di sisi Farena.
"Benarkah? Dia benar-benar kesal rupanya." Farena tertawa kecil.
"Biarkan saja. Aku sudah mengalah selama ini, tidak pernah membahas soal pasangan hidup sama sekali." ujar Bianca. "Aku takut akan meninggal tanpa memiliki cucu."
"Jangan bicara seperti itu." Farena menepuk lengan Kakak iparnya.
"Apakah mereka semua sudah berangkat ke tempat kerja masing-masing?" tanya Faireh pada putrinya.
"Sudah Ibu, kecuali Tatiana. Tadi kata Nou, Tatiana masih enggan meninggalkan tempat tidur." jawab Bianca.
Faireh mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, siapa yang mengantar Nou?"
"Tadi dia berangkat bersama Darian." jawab Farena.
"Begitu rupanya." Faireh mendongak untuk melihat langit. "Mari kita memetik sayuran dan buah strawbery." ajaknya kemudian sambil berdiri.
......................
__ADS_1
"Jadi, Kak Tatiana masih kesal?" tanya Miranti sambil meneguk minumannya.
"Begitulah." jawab Noushafarin di sela-sela aktifitas mengunyahnya.
"Sayang, aa." Darian hendak menyuapi Miranti dengan potongan daging yang ada di garpunya.
"Isshhh....pamer." celetuk Noushafarin.
"Salahmu sendiri, kenapa tidak memanggil Sadewa untuk makan siang bersama kita." ujar Darian sambil sibuk memotong steak di piringnya.
"Memangnya kenapa kamu tidak memanggilnya Nou?" Miranti tampak penasaran.
"Tadi sudah, tapi katanya dia sibuk Mi." jawab Nou tak dapat menyembunyikan rasa kecewa. Sejujurnya, Noushafarin pun ingin makan siang bersama Sadewa. Bisa double date jika kekasihnya bisa datang. Sepertinya seru kalau double date, pikir Nou.
"Tapi sekarang sudah tidak."
Suara seorang pemuda yang membuat kepala Nou berputar dengan cepat.
"Mas!" pekiknya, ia terlihat senang.
"Untung kepalanya tidak lepas. Cepat sekali mutarnya." cibir Darian, sedang Miranti, ia hanya terkekeh geli melihat reaksi Noushafarin saat mendengar suara Sadewa.
"Selamat siang, maaf terlambat." ia lantas duduk di samping Nou.
"Mau pesan apa?" Nou bersemangat.
"Jus saja, tadi sudah makan bekal yang dikirim Mama."
Noushafarin mengangguk kemudian mengangkat tangan memanggil pelayan.
"Dia tidak ikut, masih ada beberapa hal yang harus dia tangani. Lagi pula, dia tidak ingin menjadi obat nyamuk." jawab Sadewa sambil tertawa kecil. "O iya, selamat atas pertunangan kalian berdua."
"Terima kasih." Darian dan Miranti menyambut uluran tangan Sadewa.
"Mama menunggu undangannya." imbuh Sadewa kepada Miranti.
"Itu pasti."
"Kenal dekat ya." Darian tertarik.
"Beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah keluarga Wasesa, berasal dariku." jawab Miranti.
"Termasuk Noushafarin." Sadewa menatap gadis di sampingnya. "Iya kan, Arin?" godanya lagi sambil mengerlingkan mata.
"Hmmm." Nou menipiskan bibirnya dan melirik tidak suka.
"Kalau tidak jadi ART di rumahku, mana mungkin kita bisa bertemu." Sadewa masih saja ingin bernostalgia.
"Iya, apa yang dikatakan Tuan Muda memang benar." Nou mencebik.
"Aku tak menyangka, adikku bekerja sebagai pembantu." Darian menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa tidak jadi penjaga toko saja?"
"Jadi penjaga toko juga pakai ijazah Kak. Kalau jadi pembantu kan tidak ada yang bertanya kamu lulusan apa? Yang ditanya kamu bisa masak atau tidak. Pokoknya tidak ribet." jawab Nou.
"Masuk akal." celetuk Darian.
__ADS_1
"Sadewa." seorang gadis cantik yang sedang lewat tiba-tiba berhenti dan menyapa.
Sadewa memandangnya sekilas. "Oh, kau Della."
Gadis bernama Della itu melihat Nou, Miranti dan Darian.
"Halo, aku....."
"Ini Della, mantan kekasihku." potong Sadewa cepat.
Della tersenyum kecut. "Sebenarnya aku mau bilang kalua aku juga temanmu."
"Aku tidak berteman dengan mantan." sahut Sadewa.
"Mas." Nou merasa Sadewa sedikit berlebihan.
Della mengangkat alis mendengar Nou memanggil Sadewa, terdengar manis.
"Kekasih baru rupanya." Della menatap Noushafarin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku Della."
"Noushafarin." Nou menyambut uluran tangan Della.
"Kenapa dulu kamu nggak bisa makan siang seperti ini denganku?" Della menatap tajam pada Sadewa.
"Sudah tidak pantas membahas hal yang lampau." jawab Sadewa.
Della tersenyum sinis. "Sadewa bukanlah orang yang perhatian, kamu harus tahu itu Noushafarin." kalimat Della seperti menakut-nakuti. "Bersiap-siaplah merasa kesepian."
"Kamu memprovokasi gadis lain setelah dicampakkan? Wah, hebat sekali." Miranti merasa gerah hingga merasa harus ikut bicara. "Padahal belum tentu Sadewa memperlakukan Nou sama seperti saat dia memperlakukanmu."
"Sepertinya tidak begitu." Della memandang sinis pada Noushafarin.
"Kalau aku tidak perhatian kepadanya, apa urusanmu? Apa pengaruhnya bagimu?" Sadewa menatap tajam pada mantan kekasihnya itu. "Lagi pula Nou memiliki aktifitasnya sendiri, bukan pengangguran sepertimu yang tidak memiliki kesibukan."
"Kamu membandingkan aku?"
"Kau yang lebih dulu memulainya, Della. Lebih baik sekarang kau pergi."
Della tersenyum sinis. "Tak ingin terlihat cacat di depan kekasih?"
"Berhenti memojokkan adik iparku atau aku minta pihak keamanan untuk menyeretmu keluar dari tempat ini." ujar Darian.
"Restoran ini milik suamiku. Silahkan saja kalau berani." Della menantang dengan congkaknya.
"Jadi kau istri Salton Triantono? Kau yang menjadi selingkuhan Salton saat ia sudah dijodohkan dengan Noushafarin?" Darian duduk bersandar sambil melipat tangan di dadanya.
"Ap-apa maksudmu?" Della pias. "Berhenti mengungkit masa lalu." ia bahkan melihat ke segala arah, takut ada yang mendengar ucapan Darian.
"Aku hanya melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan pada adik iparku." ujar Darian dingin.
"Si-siapa kalian sebenarnya?"
"Hanya pelanggan biasa yang merasa terganggu dengan tingkah arogan dari Nyonya pemilik restoran." Noushafarin mengatakannya dengan pelan dan penuh penekanan. "Sekarang pergilah dari sini, Nyonya Della Triantono. Anda mengganggu makan siang kami."
Della tak lagi bersuara, ia pergi dari sana dengan raut wajah menahan malu. Niat ingin menghancurkan reputasi Sadewa malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
__ADS_1
......................