
"Hei kalian berdua!!!" Noushafarin menekan suaranya, kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya. "Keluar sekarang juga!!!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah pintu.
Kedua pemuda itu menatap Noushafarin dengan tatapan tak percaya.
"Kau mengusirku, Nou?"
"Kenapa Mas diusir sayang?"
"Kalian berisik, nanti dokter tak bisa fokus memeriksa pasien."
"Dokter?" keduanya mengernyit dan menoleh mencari dokter yang dimaksud Noushafarin.
Dan tampaklah oleh keduanya, seorang pria paruh baya berkacamata dengan dua orang perawat sedang berdiri di ambang pintu sambil mengulum senyum.
"Oh, Dokter Bayu. Mari silahkan masuk." Darian mengubah gestur tubuhnya saat melihat Dokter senior itu datang.
"Permisi Tuan, Nona. Saya harus memeriksa pasien." Dokter Bayu memasuki ruangan. "Maafkan kelancangan saya Tuan Muda, tapi anda berdua bisa melanjutkan suit untuk memperebutkan Pak Arya di luar ruangan." imbuhnya dengan tatapan jenaka. Kalimatnya bahkan mengundang tawa tertahan dari kedua perawat yang ikut di belakang Sang Dokter.
"Ehmm!" Darian berdehem karena salah tingkah. "Silahkan Dokter melanjutkan, saya permisi." pamitnya kemudian melangkah pergi diikuti oleh Sadewa dan Miranti. Sedangkan Noushafarin memilih untuk tetap tinggal.
"Anda tidak ikut, Nona?" tanya Dokter Bayu pada Noushafarin. "Aku takut mereka berdua akan saling mencakar."
Noushafarin tertawa kecil. "Saya yakin Miranti bisa mengatasinya. Boleh saya ikut menemani Dokter?"
"Dengan senang hati. Jarang-jarang ada Dokter Residen dari Jerman."
"Ah, dokter bisa saja." Noushafarin tersipu.
Dokter Bayu adalah dokter senior yang mengenal dengan baik keluarga Armani. Tak jarang Noushafarin berbagi cerita dengan Dokter Bayu saat ia pulang ke Indonesia. Gadis itu bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Kediaman Dokter Bayu untuk berdikskusi.
Noushafarin membersihkan tangan, memakai masker dan pelindung tubuh yang berada di sudut ruangan. Kemudian memasuki ruang Zoya dirawat bersama Dokter Bayu dan kedua perawat tadi.
Di luar, orang tua Zoya menatap dengan wajah yang tegang. Kedua tangan Melati bertautan sambil menggigit bibirnya, ia merasa gugup. Dalam hatinya ia terus berdoa. Sedang Arya merangkul tubuh istrinya dari samping kiri.
"Ini pasti berkat doa-doamu. Anak kita mendapat perawatan yang baik dan aku mendapat dua tawaran pekerjaan sekaligus." gumam Arya. "Aku beruntung memilikimu di dalam kelamnya hidupku. Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita berdua."
Melati tersenyum dan menatap suaminya. "Tuhan itu baik. Baru niat untuk berubah saja langsung diberi berkat tawaran pekerjaan. Apalagi kalau bertahan dengan keputusan baik yang Mas ambil dan hidup mendekat kepadaNya."
"Ya, kamu benar sayang." Arya mengecup punca kepala istrinya.
Tak lama kemudian, Dokter keluar dari ruang khusus tempat Zoya berbaring. Ia tersenyum ramah kepada kedua pasutri yang menanti kedatangannya dengan wajah tegang.
"Zoya dalam keadaan baik. Dan kalau perubahan kondisinya semakin baik saat diperiksa, dalam dua hari kita akan memindahkan Zoya ke ruang perawatan biasa dan melepas beberapa peralatan yang dipasang di tubuhnya."
Helaan napas lega terdengar jelas dari kedua orang tua Zoya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Dokter." mata Pak Arya terlihat berkaca-kaca.
"Kalau begitu, kami permisi dulu." ucap Dokter sambil menepuk lengan pria bertato itu.
"Iya Dokter, silahkan."
"Aku juga harus menyusul saudaraku." Noushafarin pun berpamitan.
"Terima kasih banyak, Nona." Melati memegang lengan Noushafarin.
"Iya ibu, sama." ucap Nou sambil menepuk lembut tangan Melati. "Dan sudah ada keputusan, Pak Arya bisa menemui Kakakku saat jam kantor. Atau katakan saja kepadaku saat aku berkunjung lagi."
Pak Arya tampak berpikir sesaat sebelum menjawab. "Baik Nona."
Noushafarin menganggukkan kepala kemudian menyusul Kakaknya. Ternyata ketiga orang tadi pergi tak jauh dari ruang perawatan Zoya.
"Apakah ada insiden besar?" tanyanya sambil menghempaskan diri di sofa samping Sadewa.
"Sejauh ini belum ada insiden berdarah, hanya perang dingin." jawab Miranti yang duduk di samping Darian.
"Baguslah, aku pikir akan memanggil petugas dari IGD begitu bertemu kalian."
"Bagaimana perkembangan Zoya?" Miranti sudah penasaran sejak melihat Nou datang.
"Apakah dia bisa sembuh total Nou?"
"Kemungkinan besar, bisa. Asalkan dia tidak pernah putus mengonsumsi obat yang diberikan. Aku akan memastikan pengobatannya berkelanjutan."
"Dalam hal ini, kau adalah ahlinya." Miranti memuji sahabatnya.
"Apakah kalian berdua tidak mencapai kata sepakat?" Noushafarin bergantian menatap Darian dan Sadewa.
"Serahkan saja pada Pak Arya. Siapa yang dia pilih." jawab Darian.
"Menurutku itu cukup adil." Miranti menyetujui ide Darian. "Panjang umur, orangnya datang." lanjutnya begitu melihat kedatangan Pak Arya.
"Bagaimana Pak? Sudah menentukan pilihan?" Sadewa segera berdiri begitu Arya tiba.
"Sudah Tuan." jawab pria itu tegas. "Saya memilih bekerja pada Keluarga Tuan Wasesa. Maaf Tuan Darian."
"Katakan alasan kenapa anda menolak saya?" Darian jelas tidak suka dengan keputusan Pak Arya.
"Saya ingin melindungi Tuan Sadewa. Karena sebelum bertemu dengan Tuan dan Nona, target saya adalah Nona Noushafarin Armani." jawaban Arya sukses membuat Darian, Noushafarin dan Miranti berdiri. Arya sepertinya sudah siap dengan kemungkinan terburuk saat ia mengaku.
"Apa maksud anda?!" suara dan raut wajah Darian berubah. Bahkan Sadewa bergerak mengubah posisi hingga Noushafarin berada di belakangnya.
__ADS_1
"Nona Farida menghubungi saya. Dia meminta saya untuk mencelakai seorang gadis dengan bayaran ratusan juta. Saya menerima pekerjaan itu untuk biaya pengobatan Zoya. Kami bertemu dan di pertemuan kedua dia menunjukkan foto Nona Noushafarin beserta uang muka. Hari itu juga saya menerima kabar Zoya dibawa ke Rumah Sakit."
"Lalu, saat bertemu adikku pertama kali, mengapa anda membiarkannya? Padahal anda memiliki kesempatan."
Arya tersenyum kecut. "Tuan Darian, sudah lama saya ingin berhenti dari pekerjaan kotor ini. Namun Zoya adalah segalanya bagi kami, saya rela melakukan apa saja agar dia hidup lebih lama bersama kami. Tidak ada orang tua yang mau menguburkan anaknya."
"Saat melihat Nona Noushafarin, saya terkejut. Namun saya harus memastikan lebih dulu. Dan dari cleaning service yang membantu kami di apartemen saya mendapat kepastian informasi."
"Malam itu juga saya menemui Nona Farida dan mengembalikan uang yang sudah dia berikan. Dan saya memastikan jika dia tetap melanjutkan rencana jahatnya, dia akan berhadapan dengan saya."
"Walau saya adalah penjahat, tapi saya tahu diri Tuan. Saya tidak akan menyakiti orang yang dengan tulus membantu keluarga saya. Tanpa ada pikiran buruk Tuan dan Nona membantu kami. Bahkan setelah melihat penampilan saya, Tuan dan Nona tidak berubah pikiran." Arya menarik napas dengan berat.
"Anda tidak salah pilih pasangan, Tuan Sadewa." Arya menatap Sadewa dan Noushafarin secara bergantian.
"Aku tahu." jawab Sadewa sambil menoleh melihat Nou yang berada di belakangnya.
"Jika target Farida adalah Noushafarin, mengapa anda memilih bekerja pada Sadewa?" tampaknya Darian masih tidak terima dengan keputusan Arya.
"Karena saya menjaga kemungkinan Nona Farida akan mengubah rencananya. Alih-alih mencelakai Nona Noushafarin, ia akan menyewa orang lain mencelakai Tuan Sadewa."
"Alasan yang masuk akal." Darian melunak. "Tapi aku tetap tidak bisa terima. Anda seharusnya memilih saya."
Miranti menepuk dahinya. "Mengalah saja, demi kebahagiaan Noushafarin." bujuknya.
"Betul itu, betul." Sadewa mendukung.
Darian segera menatap tajam pada Sadewa. Namun setelah ia melihat Noushafarin yang masih berada di belakang Sadewa, Darian menghembuskan napas dengan kasar.
"Baiklah, baiklah." jawabnya kemudian menghempaskan diri ke sofa.
"Mulai Hari Senin anda sudah bisa bekerja. Saya akan menunggu anda di kantor." ucap Sadewa sambil mengeluarkan kartu nama berisi alamat kantor mereka dan menyerahkan pada Pak Arya.
"Anda bisa bekerja dengan tenang, Zoya akan baik-baik saja. Dan akan ada perawat yang terus memantau Zoya, jadi istri anda bisa beristirahat dengan baik." Noushafarin menambahkan.
"Terima kasih Tuan Muda, terima kasih Nona." ucap Pak Arya sambil menjabat tangan keduanya. Tak lupa ia pun bersalaman dengan Darian dan Miranti.
"Jika gaji anda di bawah 8 juta, segera katakan kepada saya." ucap Darian saat Pak Arya bersalaman dengannya.
"Ya ampun Kak. Tidak bisa berhenti juga?" Darian menatap kakaknya tak percaya.
Darian mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk rumah sakit."
"Sungguh, tak bisa dipercaya." cibir Nou.
......................
__ADS_1