
Noushafarin mulai bosan, ia tidak terbiasa dengan acara seperti ini. Rasanya ia ingin segera pulang dan berbaring, namun itu sangatlah tidak mungkin dilakukan. Apalagi sebagai Tuan Rumah, ia tidak bisa seenaknya meninggalkan tamu yang merupakan rekan kerja orang tuanya. Bisa-bisa nama keluarganya pun ikut tercoreng.
Sadewa mengamati wajah kekasihnya yang terlihat jenuh dengan suasana pesta dan mengulum senyum.
"Bagian kolam renang hotel ini juga termasuk tempat pesta. Kamu mau kesana?" tawar Sadewa, ia merasa iba pada Noushafarin yang memaksakan senyum terus mengembang di bibirnya saat ada tamu yang menyapa.
"Benarkah?" Nou terlihat berminat. "Tentu saja aku mau." ia mengangguk cepat. "Kak, aku sama Sadewa ke area kolam renang ya." tak lupa ia meminta ijin pada Darian.
"Ya, pergilah." jawab Darian.
Gadis itu meletakkan gelas di tangannya dan menyambut uluran Sadewa. Keduanya lantas bergandengan tangan keluar dari ballroom.
Ternyata Darian juga menghias dan menyediakan makanan di area kolam renang. Bahkan tempat itu sudah ramai dengan beberapa tamu serta pasangan mereka.
"Hhhhhh." gadis itu menghirup napas dan menghembuskannya dengan penuh kelegaan saat mereka sudah tiba di area outdoor dari pesta di ballroom.
Sadewa tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya. Sudah pasti gadis itu mati-matian menahan suntuk sedari tadi.
"Terima kasih ya Mas, kamu mengerti sekali apa yang aku rasakan." Noushafarin menatap Sadewa dengan penuh puja.
"Sama-sama sayang, dan tentu saja aku mengerti." Sadewa menuntun Noushafarin untuk duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari kolam renang. "Wajahmu sudah menggambarkan seberapa besar tingkat bosanmu."
"Begitu ya." Noushafarin terkekeh.
Selama ini, ia memang tidak pernah datang menghadiri sebuah pesta lebih dari satu jam.
"Jangan ngelihatin terus Mas." Noushafarin menutup kedua mata Sadewa dengan telapak tangannya.
Sadewa memegang tangan Noushafarin, kemudian mendekatkan punggung tangan itu ke bibirnya. Sadewa menatap Noushafarin dalam dan penuh cinta, sambil ia mengecup tangan gadis dihadapannya itu dengan penuh perasaan.
Tatapan Sadewa yang berbeda dari biasanya menimbulkan gelenyar aneh dalam tubuh Nou. Jantungnya berdesir, perasaannya menghangat.
Sadewa mengulurkan salah satu tangannya dan menangkup pipi Noushafarin. Ia membelai pipi gadis itu dengan perlahan dan penuh kelembutan. Kemudian Sadewa mengarahkan kelima jarinya mengusap pelan wajah gadis itu dari dahi hingga dagu.
"M-Mas." Nou merasakan jantungnya berdetak sangat kencang.
"Noushafarin, belahan jiwaku, yang dibentuk dari salah satu rusukku." Sadewa merengkuh Nou dan memeluknya dengan sangat erat. "Aku sangat mencintaimu." bisiknya lirih.
"Aku pun sama, aku sangat mencintaimu, Mas." ujar Noushafarin dalam dekapan Sadewa.
Keduanya memejamkan mata, menikmati perasaan hangat yang mengalir dalam tubuh mereka. Menikmati suara detak jantung yang bertalu hingga terdengar karena posisi yang intim.
Sadewa menarik napas kemudian mengurai pelukan mereka. Ia mengangkat dagu Nou agar tatapan mata gadis itu hanya tertuju padanya.
"Apapun yang terjadi, tetap percaya sama Masmu ini." ucap Sadewa sambil menatap dalam-dalam.
Noushafarin mengangguk samar. "Begitu juga denganmu Mas. Apapun yang terjadi, tetap percaya padaku."
Noushafarin tersenyum manis, dan senyuman itu menular pada Sadewa.
Pemuda itu melepas tangannya dari dagu Nou, kemudian menempelkan dahi dan ujung hidung mereka. Dan dengan sengaja Sadewa menggerakkan wajahnya ke kanan dan ke kiri hingga cuping hidung keduanya bergesekan. Keduanya lantas tertawa dan kembali berpelukan.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang menyaksikan kemesraan keduanya dengan amarah yang menggelegak. Kedua tangan Farida mengepal di sisi tubuhnya. Melihat Sadewa tersenyum, tertawa dan menatap penuh cinta pada Nou, membangkitkan rasa iri yang luar biasa dalam hatinya.
Ia pun ingin ditatap penuh cinta oleh Sadewa. Ia pun ingin merasakan kehangatan pelukan dan belaian lembut dari tangan pemuda itu.
"Aku akan mendapatkanmu Mas Sadewa. Berbagai cara akan aku tempuh untuk mengikat hubungan kita." Farida tersenyum penuh kelicikan, kemudian ia bergegas pergi meninggalkan tempat pengintaiannya sebelum ada yang memergoki.
......................
Noushafarin selesai berganti baju saat ponselnya berdering. Ia mengangkat benda pipih itu dan tersenyum manis. Sadewa tengah meneleponnya dengan panggilan video.
"Selamat pagi Mas." sapa Nou riang.
"Selamat pagi sayang." Sadewa pun tampak tengah bersiap. "Hari ini tidak ke rumah sakit?"
Nou menggeleng pelan. "Tidak Mas. Aku mendapat jadwal jaga malam. Jadi nanti sore baru pergi."
Sadewa mengangguk-angguk sambil menyimpul dasi di lehernya.
"Makan siang sama-sama ya, mau kan?" pinta Sadewa.
"Mmmmm, bagaimana ya?" Nou mengetuk-ngetuk pelipis dengan telunjuknya.
Sadewa menghentikan tangannya dan menatap ke arah Nou dengan wajah pura-pura sedih.
"Nggak bisa nih ceritanya." pemuda itu nampak lesu.
Melihat gerak gerik Sadewa, Noushafarin tertawa renyah.
Sadewa mendesah pelan. "Kamu tuh ya."
Noushafarin menutup mulutnya dan tawanya pun mereda.
"Nanti siang aku bawa bekal trus kita makan di kantor. Gimana?" tanya gadis itu setelah berhasil menguasai diri.
"Bisa juga. Tapi kamu suap ya."
"Apa sih yang nggak buat Mas." Nou mengerling, sengaja menggoda Sadewa.
Sadewa terperangah. "Pagi-pagi sudah mulai genit ya."
"Genitnya kan cuma sama Mas saja."
Melihat itu Sadewa merasa frustasi, ia menyugar rambutnya yang sudah rapi. "Kalau saja kamu disini. Sudah Mas cium sampai kamu kehabisan oksigen." ucap Sadewa dengan wajah terlihat menahan gemas.
Noushafarin terkikik. "Untung saja cuma video call."
"Beraninya lewat video call. Coba kalau pas ketemu." tantang Sadewa.
Noushafarin menggoyang kesepuluh jarinya. "Enggak deh, nggak berani."
"Ya udah, Mas mau sarapan dulu trus berangkat kantor."
__ADS_1
"Iya Mas."
"Love you."
"Love you more." Noushafarin kembali mengerling hingga membuat Sadewa kelabakan.
"Ka...." belum sempat Nou mendengar apa yang dikatakan kekasihnya. Gadis itu sudah memutus sambungan telepon sambil tertawa geli.
Ia meninggalkan ponsel dan keluar kamar untuk menyantap makan pagi bersama keluarganya.
"Hai putri tidur." sapa Darian saat keduanya sama-sama tiba di meja makan.
"Aku sudah bangun dan mandi." Nou menipiskan bibir. "Enak saja dibilang putri tidur."
"Sudah, ayo duduk." Nenek Faireh melerai kedua cucunya.
"Kamu tidak dinas pagi ini?" tanya Bardia pada putrinya yang terlihat berpakaian santai.
"Tidak Ayah. Hari ini aku mendapat giliran jaga malam. Entah kenapa tidak diwajibkan datang pagi ini."
"Mungkin mendapat perlakuan istimewa." Darian menerka. "Atau mungkin anak direktur menyukaimu."
Noushafarin menatap kakaknya dengan tajam. "Makan saja rotimu Kak. Jangan membuat kegaduhan. Sudah mau menikah masih saja menyebalkan."
"Bawaan dari lahir." celetuk Darian sambil meneruskan makan. Noushafarin memilih diam tak ingin menanggapi kakaknya lagi.
"Bunda, aku mau buat menu makan siang untuk Mas Sadewa. Boleh kan?"
"Boleh saja, mau makan siang sama dia di kantornya ya."
"Iya Bun."
Darian yang mendengar itu menghentikan makannya dan tampak memikirkan sesuatu. Kemudian ia mengambil ponsel dari saku jasnya.
"Ponsel dilarang di meja makan." tukas Nou.
"Ini darurat." ucap Darian yang sedang mengetik dengan cepat.
"Pasti mau minta Miranti buatkan makan siang juga." tiba-tiba Nenek ingin ikut menggoda Darian.
"Ahhh, benar juga kata Nenek. Dasar!!! Tidak kreatif." cibir Nou.
"Biar, yang penting bahagia." Darian tak mau kalah.
Sontak Nou melebarkan netranya, Darian pun mengambil ancang-ancang untuk kembali melawan.
"Ekhmmm!!!"
Deheman Bardia menghentikan aksi keduanya seketika itu juga.
......................
__ADS_1