
"Bunda!" Noushafarin memekik girang dan langsung memeluk Bunda Farena erat-erat.
"Anak Bunda." Farena menghujani Noushafarin dengan kecupan di kepala dan wajah gadis itu kemudian kembali memeluknya.
"Ekhhmmm!" Darian berdehem. "Pelukannya di dalam saja."
Kedua wanita kesayangan Darian itu mengurai pelukan mereka sambil tertawa kecil.
"Lupa." Nou masuk lebih dulu agar Darian dan anak buahnya bisa membawa koper-koper mereka ke dalam.
Tanpa Darian duga, tiba-tiba Nou memeluknya dari samping. Membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan dan hampir ambruk.
"Aduh Nou!"
"Hehehe, maaf Kak." Nou tak melepaskan pelukannya. "Aku senang Kakak ada disini."
"Aku akan menjagamu, jangan khawatir." Darian mengusap kepala adiknya dengan penuh sayang.
Nou terdiam, dia segera mengurai pelukannya. "Maaf membuat semuanya jadi sibuk."
"Hei, jangan berkata begitu." Darian mengusap kepala Nou. "Aku akan memastikan kau menjalani beberapa bulan ini dengan penuh ketenangan. Fokus saja pada pasien dan pendidikanmu."
"Apakah Nou sudah dimasukkan ke dalam program perlindungan saksi?"
"Sudah Bun, tapi aku akan menambah perlindungannya." Darian menjawab sambil berjalan menuju sofa.
"Aku serahkan semua ada Kakak. Aku tak ingin hanya namaku saja yang pulang ke tanah air."
"Hussss." Bunda mengibas tangannya di depan wajah Nou, membuat gadis itu terkekeh.
......................
Noushafarin sedang membaca sebuah buku saat Bunda datang membawa segelas cokelat hangat untuknya.
"Terima kasih Bun." ucap Nou seraya menutup bukunya.
"Iya." Bunda menatap Nou dengan penuh kelembutan. "Ada yang Bunda mau tanya sejak lama. Tapi nggak pernah daat waktu yang pas."
"Tentang apa Bun?"
"Tentang kamu yang tiba-tiba minta dijemput. Bunda rasa bukan karena penyerangan yang kamu alami di keluarga Wasesa kan." Bunda terlihat berhati-hati saat bertanya.
Nou menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Bunda, jangan marah ya sama Nou."
Bunda Farena mengernyit mendengar kalimat yang diucapkan putrinya. Ia mulai berdebar, pikirannya sibuk menerka-nerka kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Hingga tanpa sadar ia berpindah duduk di samping Nou dan meraih tangan putrinya.
"Ada apa sayang?"
"Mmmm...Nou punya kekasih di rumah itu." jawab Nou sambil menunduk.
"Ka-kamu punya kekasih? Kamu punya pacar?" reaksi Bunda yang berbinar-binar jauh diluar dugaan Nou. Gadis itu mendongak dengan mulut terbuka, tak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
"Siapa namanya? Dia tampan ya. Apa yang membuat Nou suka sama dia?"
"Bu-bunda..." Nou jadi kebingungan, ia sudah tak tahu bagaimana mau melanjutkan cerita.
"Aduh Nou, maaf. Bunda terlalu bersemangat." akhirnya Bunda bisa tenang setelah melihat reaksi Noushafarin.
__ADS_1
"Iya Bun."
"Ok, Bunda sudah tenang sekarang. Cepetan lanjutin ceritanya."
Nou berdehem sejenak. "Namanya Sadewa Wasesa, Putra Tuan Pandu Wasesa dan Nyonya Srikandi."
Bunda Farena menahan napas karena terkejut. Namun ia memilih diam agar Nou bisa menceritakan semua kejadian dari awal mereka bertemu hingga akhirnya Nou meminta Darian untuk menjemput.
"Begitu ceritanya Bun."
Bunda Farena masih tetap diam, ia tak langsung menanggapi cerita Noushafarin.
"Jadi, Nou tidak mendengar penjelasan dari Sadewa dulu dan langsung minta Kakak jemput ya." ucap Bunda setelah diam beberapa saat.
"Iya Bun."
"Apa selama Nou disini, Sadewa pernah menghubungi?"
"Pernah, dia menyampaikan pesan lewat Kakak."
"Bagaimana perasaan Nou setelah mendengar pesannya?"
"Awalnya Nou merasa biasa saja sih Bun, Nou masih kecewa. Jadi Nou tidak mau memikirkan pesan yang dia sampaikan."
"Tapi.....?"
"Tapi akhir-akhir ini Nou menyerah. Walau sibuk, saat istirahat Nou masih mikirin dia. Nou....." gadis itu merona. "Kangen." imbuhnya dengan suara lirih.
Bunda Farena tersenyum lembut. "Kamu yakin dia cuma mainin kamu? Kalau dia cuma iseng, Bunda rasa nggak mungkin dia sampai bela-belain titip pesan ke Kakakmu."
"Sebenarnya, Nou mulai ragu sih Bun."
"Terus...?"
"Kamu yakin dia masih mau nungguin kamu? Yang sama-sama tiap hari aja masih bisa selingkuh. Apalagi kalian yang tidak pernah ketemu dan berkomunikasi." Bunda mengangkat sebelah alisnya.
"Saat kamu datang, bisa jadi dia sudah punya pengganti kamu. Jadi untuk apa dia capek-capek menjelaskan."
Kalimat-kalimat Bunda membuat Nou menipiskan bibirnya. Dia tidak suka dengan pemikiran Sadewa memiliki kekasih baru.
"Lagian kamu juga, kalau lagi emosi tuh jangan mengambil tindakan." Bunda mendorong pelan bahu Noushafarin. "Keputusan yang diambil saat sedang emosi bisa buat kamu menyesal seumur hidup."
"Bunda nakut-nakutin Nou."
"Bukan menakuti, tapi mengingatkan. Bahkan kamu tidak memberi dia kesempatan untuk menjelaskan."
Nou terdiam, ia menatap Bundanya dengan lesu. "Nou harus gimana Bun?"
"Kirim pesan ke dia, tanggapi pesan yang dia sampaikan lewat Darian."
"Kalau yang aku dengar itu benar, bagaimana Bun?"
"Terima saja dengan lapang dada."
Nou membeliakkan matanya. "Semudah itu Bun?"
"Kenapa harus susah? Bukannya kamu juga sudah menjauh dari dia kan. Tinggal nerusin aja jalan yang kamu pilih."
"Tapi Bun..."
__ADS_1
"Nanti juga kamu bisa ketemu pemuda yang tulus sama kamu. Cowok nggak cuma satu Nou."
"Tapi yang Nou cinta cuma dia."
"Cinta kok ditinggalin."
"Ihhh, Bunda..."
"Dasar Dokter labil."
"Bun..."
"Kalau cinta tuh harusnya ngasih kesempatan buat dia menjelaskan."
"Namanya juga orang lagi marah."
"Ini nih, kebiasaan jelek. Bisa terbawa sampai menikah."
"Kok gitu sih Bun."
"Bunda hanya menyampaikan kenyataan."
Noushafarin terdiam, ia membenarkan ucapan Bunda dalam hatinya. Semua orang layak diberi kesempatan untuk menjelaskan alasannya mengambil sebuah tindakan.
Bahkan diawal mereka menjalin hubungan, Sadewa sudah berkata akan memberi Nou kesempatan menjelaskan jika ada suatu hal yang gadis itu sembunyikan. Dan sekarang, ia malah pergi jauh dari pemuda itu tanpa memberi kesempatan sama sekali.
Nou menggigit bibirnya, ia menyadari kebodohan yang sudah ia buat. Ia menyesal sudah mengambil keputusan dengan emosi yang menguasai pikirannya.
"Bun, apa aku harus minta maaf ya."
"Iya, harus itu."
"Tapi aku.."
"Gengsi?!"
"Hehehe.." Nou jadi salah tingkah dengan tebakan Bunda. "Iya Bun."
"Noushafarin Armani, dengerin Bunda baik-baik." Bunda menatap mata putrinya dalam-dalam. "Jangan gengsi untuk minta maaf kalau kita salah. Kalau ingin hidup damai dengan banyak orang, buang gengsi jauh-jauh. Jangan menyulut pertikaian yang tidak perlu hanya karena gengsi. Meminta maaf tidak akan membuat kamu menjadi orang terburuk sedunia."
Nou mengangguk dengan senyuman yang mengembang. "Iya Bun, aku ngerti."
"Dan Bunda juga minta maaf, kita berdua tidak pernah berbincang seperti ini membahas soal asmara. Kamu jadi tidak punya bekal yang baik saat memulai hubungan dengan lawan jenis."
"Bunda." wajah Nou sontak memerah.
"Kenapa harus malu sayang? Justru kalau tidak pernah dibahas, kamu bisa salah langkah. Atau bahkan menjadi pasangan yang menyebalkan." Bunda serius dengan ucapannya.
"Bunda nggak mau putri Bunda ke depannya menjadi pasangan dan menantu yang tidak tahu diri. Percuma sekolah tinggi-tinggi tapi tabiatnya tidak baik."
"Kok bawa-bawa jadi menantu segala sih Bun."
"Lho, kamu pacaran kan untuk menikah. Kecuali kamu nggak mau menikah, cuma mau senang-senang, mending nggak usah pacaran. Buang-buang waktu saja."
"Iya deh iya Bun."
"Bunda nggak mau kekasih kamu nanti menyesal sudah salah pilih gadis untuk dinikahi dan membawa dampak buruk bagi keluarga mertua."
"Ehm, Bun. Kayaknya terlalu jauh kalau nasehatnya sudah ke area menikah. Dia area pacaran aja dulu Bun."
__ADS_1
"Nggak ada istilah terlalu jauh atau terlalu dini untuk menanamkan hal baik." sergah Bunda Farena dengan tegas.
Oh ya ampun. Nou hanya bisa mengeluh dalam hati.