
Noushafarin melihat penampilannya sekali lagi, ada rasa tak percaya terselip diantara kebahagiaannya. Tak percaya karena hari ini ia akan resmi menjadi Nyonya Sadewa Wasesa.
Setelah lamaran yang menjadi kejutan bagi Nou di acara pernikahan Darian, keluarga Wasesa memutuskan untuk menggelar pernikahan dua minggu setelah lamaran.
Terburu-buru? Mungkin bagi Nou, namun tidak bagi keluarganya. Pasalnya mereka sudah mempersiapkan semuanya bersamaan dengan persiapan pernikahan Darian.
Sejak Keluarga Wasesa datang dan menceritakan peristiwa yang terjadi di ruangan Sadewa, Nenek Faireh pun berubah pikiran. Ia tak lagi mengharuskan Sadewa dan Noushafarin menunggu Tatiana. Itulah sebabnya lamaran dilakukan saat resepsi pernikahan Darian. Dan acara pernikahan Sadewa dan Nou dilangsungkan dua minggu kemudian.
Noushafarin menarik napas dalam-dalam saat ia berjalan sambil menyeret gaun putih yang bertabur batu permata itu keluar dari kamar. Gadis itu tampak cantik dan menawan bak puteri negeri dongeng.
Decak kagum keluarganya tak henti-hentinya ia dengar. Pun saat ia dan Sadewa telah berdiri di pelaminan untuk mendapat ucapan selamat dari undangan yang tak lain adalah kerabat dekat mereka.
"Mas, lihat tamu yang datang. Jangan lihat aku terus." lirih Nou sambil tetap menampilkan senyum menatap undangan.
Sadewa hanya tersenyum tipis. "Salah ya lihat istri sendiri?"
"Nanti saja kalau mau sepuas-puasnya."
"Nanti saja? Kapan sayang?" goda Sadewa. "Di kamar?"
Nou terkejut, ia tak bermaksud menyinggung hal itu.
"Emm, ya pokoknya nanti saja." ucap Nou diwarnai rasa gugup.
Sadewa terkekeh pelan. "Kamu grogi ya."
Nou memilih diam, ia tak mendapatkan kalimat yang tepat untuk menyanggah ucapan suaminya. Tepat saat itu juga Nakula bersama Tatiana menghampiri keduanya.
"Kenapa kalian menolak untuk mengadakan pernikahan terlebih dahulu?" tanya Noushafarin usai Tatiana mengurai pelukan mereka.
Nakula tersenyum dan merangkul Tatiana dengan mesra. "Kami kan baru balikan Nou. Sebenarnya aku juga mau langsung meminang Tatiana. Tapi entahlah, kakak sepupumu ini."
Tatiana segera mencubit pinggang Nakula setelah mendengar ucapan pria itu.
"Sudahlah, yang penting kau tidak perlu menunggu lagi kan." Tatiana mengerlingkan matanya pada Nou. Dan hal itu membuat Sang Mempelai tersipu malu.
......................
2 Tahun Kemudian...
__ADS_1
Seorang wanita berseragam babysitter tergesa-gesa menuju sebuah bus besar seperti bus pariwisata yang terparkir area pemukiman padat penduduk.
"Maaf, permisi." ucapnya saat memasuki bus dan terlihat beberapa orang berdiri menghalangi jalannya.
Wanita tersebut bergegas memasuki sebuah bilik yang bertuliskan tempat pemeriksaan.
"Nyonya, maaf, tapi Tuan Muda Arjuna menangis dan tidak bisa dibujuk. Sepertinya dia ingin ASI langsung dari anda Nyonya."
Noushafarin yang hendak membalut luka anak kecil di hadapannya segera menghentikan aktifitasnya.
"Dokter, biar saya saja yang membalut lukanya." ucap seorang perawat yang menemani Nou.
"Baiklah. Terima kasih ya." Nou memberikan kain kasa pada perawat tersebut. "Kamu dirawat sama Kakak ini ya." ujarnya sambil membelai kepala anak kecil yang terlihat lusuh di depannya.
"Iya Dokter."
Noushafarin segera berdiri dan menuju wastafel yang berada tak jauh darinya. Ia membasuh tangan, mensterilkan dan menanggalkan baju pengaman yang ia gunakan. Kemudian wanita itu meninggalkan bus yang sudah dimodifikasi menjadi klinik tersebut. Ia menuju sebuah mini van yang terparkir tak jauh dari bus.
Di dalam minivan tersebut terlihat bayi laki-laki berusia 10 bulan sedang duduk menangis dan membuat seorang pria berbaju hitam di hadapannya kerepotan.
"Nyonya, maaf. Saya tidak bisa menenangkan Tuan Muda." ucap pria itu.
Bayi itu mengerjap-ngerjap dan menghentikan tangisnya. "Mamamamammm." ocehnya sambil merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.
"Iya sayang, ini Mama." Nou meraih putranya dan mendekap dengan penuh kelembutan. "Rindu Mama ya, hmmm?"
Nou merenggangkan dekapannya kemudian mencolek pipi chubby putranya. "Obatnya datang." imbuhnya sambil membuka kancing baju area dada.
Mini van tersebut sudah dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan Noushafarin dan putranya, Arjuna.
Meski Bunda Farena dan Mama Kandi meminta Arjuna untuk tidak dibawa saat Nou melakukan pekerjaannya, namun Nou bersikeras ingin membawa putranya. Ia ingin tetap melihat perkembangan Arjuna disela-sela kegiatannya memberi pengobatan pada anak-anak yang tidak mampu.
Noushafarin mewujudkan mimpinya, yaitu memiliki klinik yang bisa berpindah untuk memberikan layanan kesehatan secara gratis pada anak-anak di area kumuh dan padat penduduk.
Dan Nou bersyukur, sebab suaminya, Sadewa, memberikan dukungan penuh pada kegiatan Noushafarin. Bukan hanya Sadewa, tapi seluruh keluarga Armani dan Wasesa. Bahkan saat ada waktu luang, Tatiana dan Miranti turun tangan membantu Nou melayani masyarakat.
Beberapa menit kemudian Arjuna tertidur. Dengan perlahan Nou meletakkan putranya pada boks bayi. Setelah itu ia merapikan baju dan keluar dari mobil.
"Mas." Nou tersenyum sumringah melihat Sadewa sedang berbincang dengan Arya di luar.
__ADS_1
"Hai sayang." Sadewa mengecup dahi Nou dengan lembut. "Aku mampir ingin melihat Arjuna, tapi sepertinya aku terlambat ya."
Nou mengangguk. "Baru saja tidur."
"Apa kegiatanmu masih lama?"
"Tidak, sebentar lagi selesai."
"Kalau begitu aku akan pulang dengan kalian." ucap Sadewa yakin.
"Pekerjaan Mas sudah selesai?"
"Iya sayang."
"Kalau begitu aku kerja dulu. Jaga Arjuna baik-baik ya." pinta Nou sambil mengerling.
Sadewa tertawa kecil melihat tingkah Nou. "Iya iya."
Noushafarin bergegas menuju bus dan kembali pada aktifitasnya. Perasaan bahagia membuat ia terus tersenyum selama memeriksa pasien yang datang.
Tanpa terasa satu jam sudah berlalu, dan Nou pun sudah menyelesaikan tugasnya. Ia merapikan peralatan dan membersihkan tangan sebelum keluar dari bus.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku duluan ya." pamit Nou pada beberapa tenaga medis yang menemani. "Dimas, hati-hati nyetirnya." imbuh Nou pada seorang nakes yang merangkap sebagai supir bus.
"Iya dokter."
Noushafarin turun dan melihat Sadewa tengah bercanda dengan Arjuna di dekat mobil mereka. Tawa renyah Arjuna menghempaskan rasa lelah pada tubuh Nou.
Wanita itu memegang dadanya, merasa bersyukur dengan semua yang ia miliki saat ini. Pekerjaan impian, suami yang tampan serta bertanggung jawab, serta seorang putra yang sehat.
"Terima kasih Tuhan." lirih Nou sembari melangkah mendekati keluarga kecilnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Hai Good Reader
Jangan lupa mampir ke novel baru saya ya.
__ADS_1