Noushafarin

Noushafarin
Bab 68


__ADS_3

Nakula tiba di rumah dengan senyum yang terus menghiasi wajah tampannya. Jono yang sedang memeriksa garasi dibuat terkejut dengan Tuan Mudanya yang terus saja tersenyum lebar dari turun mobil, menyerahkan kunci sampai masuk ke dalam rumah.


"Itu pipinya apa nggak capek ya?" gumam Jono setelah Nakula tak terlihat lagi.


Sedangkan Nakula, ia bahkan bersenandung kecil saat menaiki tangga. Sadewa yang sedang duduk di ruang tengah lantai atas segera meletakkan buku yang ia baca begitu melihat perangai saudara kembarnya yang tak biasa.


"Hai." sapa Nakula dan segera duduk di salah satu sofa di samping saudara kembarnya.


"Hai." jawab Sadewa dengan canggung.


Nakula tak mengatakan apapun lagi, ia terlihat membayangkan sesuatu yang selalu membuatnya tersenyum.


"Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga." celetuk Sadewa.


Nakula menatap Sadewa dengan wajah berbinar-binar.


"Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat seperti spongebob dengan mata berbinar." Sadewa mencibir.


Nakula terkekeh mendengar cibiran Sadewa. "Akhirnya aku bisa menceritakan semua pada Tatiana." kata Nakula pada akhirnya.


Sadewa menegakkan tubuhnya, kalimat Nakula sungguh menggugah selera. "Benarkah? Bagaimana bisa? Pantas saja kau bertingkah seperti tadi. Ceritakan padaku."


Nakula tersenyum melihat Sadewa yang sangat antusias ingin mendengar kisahnya malam ini. Ia berdehem sejenak kemudian membuka botol dan meneguk air mineral yang ada di meja. Ia sengaja ingin membuat Sadewa semakin gelisah.


"Nakula!" geram Sadewa.


"Hahaha." triknya berhasil. "Baiklah, baiklah." Nakula kembali ke mode serius.


"Tadi aku menyelamatkan seorang wanita kemudian mengantarnya pulang. Ternyata wanita itu adalah Nyonya Bianca Armani, Mamanya Tatiana."


"Benarkah? Sayang sekali, tadi kami tidak sempat bertemu saat aku mengantar Noushafarin pulang." Sadewa terlihat menyesal. "Lalu?"


"Dia mengajakku makan kue bersama mereka. Dan bisa kau bayangkan, betapa kesalnya Tatiana saat itu. Kemudian aku memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya di depan Nyonya Bianca."


"Kamu nekat sekali." ada rasa terkejut sekaligus bangga dari nada bicara Sadewa. "Apakah tidak ada piring terbang?"


Nakula menggeleng. "Untungnya tidak ada. Padahal aku sudah menyiapkan mental jika tiba-tiba banyak peralatan dapur kehilangan gaya gravitasi."


"Kamu beruntung."


"Sangat beruntung." Nakula tersenyum tipis. "Setelah tahu alasan Tatiana tidak menyukai kedatanganku, beliau malah memberi aku kesempatan untuk bicara berdua dengan putrinya."


"Aku tidak salah memilih kekasih." gumam Sadewa.


"Apa hubungannya denganmu?" Nakula mengernyitkan dahi.


"Tentu saja ada. Bukankah dulu Darian tidak menghujani diriku dengan pukulan saat kita datang menjelaskan kesalahpahaman antara aku dan Nou? Dan malam ini, kau pun bisa selamat. Keluar dari rumah mereka dalam keadaan hidup tanpa ada lecet sedikit pun. Keluarga mereka bukan tipe tabung gas melon yang mudah meledak."


Nakula mengangguk-anggukkan kepala sambil memegang dagunya. "Benar, setelah diingat-ingat, tak ada yang menggunakan kekerasan saat kita datang dan mengakui kesalahan kita."


"Mungkin mereka memang sangat marah, tapi pengendalian diri mereka saat bagus. Karena tak ada orang tua atau keluarga yang tak marah jika anak gadisnya disakiti." imbuh Sadewa.

__ADS_1


"Ada. Keluarga toxic." celetuk Nakula.


"Mmm iya juga sih. Kembali pada kalian. Lalu apa yang terjadi?"


"Tatiana bisa menerima penjelasanku. Kemudian aku meminta untuk bisa menjadi temannya. Namun karena masih marah, ia bilang hanya sebagai orang yang sekedar kenal."


"Itu bisa dimaklumi."


Nakula mengangguk. "Tatiana bilang biar dia belajar menghilangkan emosinya dulu. Aku pun tidak memaksa. Yang penting dia sudah mendengar kebenarannya, itu sudah cukup melegakanku."


"Syukurlah kalau begitu."


Dering ponsel Nakula menghentikan percakapan mereka.


"Tora." gumam Nakula saat melihat siapa yang meneleponnya. "Aku akan bicara dengannya."


"Ya, dan sepertinya aku akan istirahat." kemudian Sadewa beranjak masuk ke kamarnya, meninggalkan Nakula yang menerima panggilan telepon Dokter Tora.


......................


Keesokan harinya....


Sadewa sedang disibukkan dengan pekerjaannya saat Arya mengetuk dan masuk ke ruangannya.


"Selamat pagi Tuan."


"Selamat pagi pak Arya, silahkan duduk." jawab Sadewa setelah melihat sekilas siapa yang datang.


"Tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sadewa tanpa basa basi.


"Hari ini saya melihat Nona Farida datang bersama Tuan Bowo."


Sadewa mengernyit dan berpikir sejenak. "O ya ya. Semalam Papa memang bilang, Om Bowo akan datang hari ini karena ada urusan. Tapi aku tak menyangka jika Farida pun ikut. Jadi, apa ada yang aneh?"


"Iya Tuan. Setelah melihat saya, dia terlihat terkejut dan takut. Kemudian Nona itu bergegas kembali masuk ke dalam mobil."


Sadewa menatap wajah Arya dengan serius. "Itu sangat aneh." ia menyetujui pendapat awal Arya. "Apa anda bisa mendengar apa yang ia ucapkan pada Papanya?"


"Tidak Tuan, jarak saya berdiri memang tidak terlalu jauh. Namun mereka berbicara dengan suara pelan. Jadi saya tidak bisa mendengarnya."


"Jika memang dia datang untuk keperluan bisnis bersama orang tuanya, dia tidak perlu bersikap seperti itu saat melihat saya." kata Arya lagi.


"Apa yang anda katakan padanya saat terakhir kali bertemu?"


"Saya bilang padanya, jika ia tetap meneruskan niat jahatnya, dia akan berhadapan dengan saya."


Sadewa terdiam, pemuda itu sedang mencerna setiap ucapan Arya.


"Sepertinya dia memang tidak akan berhenti." gumam Sadewa.


"Maafkan kelancangan saya Tuan. Tapi menurut pendapat saya, Nona Farida terobsesi untuk mendapatkan anda."

__ADS_1


"Obsesi ya."


"Benar Tuan. Dia mengatakan pada saya jika ia sudah menyukai anda sejak pertama kali bertemu. Namun dari ucapan dan tindakannya, bisa dilihat, yang ia rasakan bukan cinta melainkan obsesi."


Sadewa tenggelam dalam pikirannya untuk beberapa saat. Dan Arya hanya duduk diam menunggu perintah selanjutnya.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Ini sangat berarti bagiku. Jika kedepannya anda mendengar sesuatu mengenai Farida lagi, tolong segera kabari."


"Iya Tuan. Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan."


Tak lama setelah Arya keluar, ponsel Sadewa berbunyi. Wajahnya terlihat sumringah setelah melihat nama yang melakukan panggilan video.


"Selamat siang Mas." wajah cantik Noushafarin terlihat di layar ponsel Sadewa.


"Selamat siang sayang."


"Mas sibuk?"


"Iya, sampai kepala mau pecah rasanya. Tapi setelah melihat wajahmu, sepertinya semua akan baik-baik saja."


Noushafarin tertawa renyah. "Mas bisa saja."


Sadewa terpukau melihat dan mendengar tawa itu.


"Nou."


"Iya Mas."


"Kamu percaya kan sama Mas?"


"Tentu saja. Ada apa sih Mas?"


Sadewa menggeleng pelan. "Apapun yang terjadi, tolong tetap percaya padaku. Di hati ini hanya ada Noushafarin, tidak ada tempat untuk gadis lain."


Noushafarin tersenyum lembut. "Begitu pun denganku."


"Astaga." Sadewa menyugar rambutnya dengan kasar. "Aku perlu kantong ajaib Doraemon sekarang juga."


"Untuk apa?"


"Untuk mengambil pintu kemana saja. Karena rasanya Mas ingin memelukmu sekarang juga." ujar Sadewa yang terlihat gemas.


"Mas tahu?"


"Apa sayang?"


"Aku juga ingin sekali dipeluk Mas saat ini." Noushafarin menggigit bibir bawahnya menahan malu saat mengucapkan itu.


"Ya ampun Nou." Sadewa semakin terlihat frustasi. Mungkin jika Noushafarin benar ada di depannya saat ini, gadis itu tidak akan lolos dari terkamannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2