Noushafarin

Noushafarin
Bab 32


__ADS_3

Nakula dan Sadewa berpandangan menatap isi chat Siska dengan seseorang yang ia beri nama Nona Besar. Isi chat itu hanya berupa angka-angka. Karena sumber daya yang mumpuni di kepolisian, mereka mengungkap angka-angka itu berhubungan dengan sebuah buku yang disimpan rapi oleh Siska.


"Tunggu sebentar." Nakula menerima telepon yang menginterupsi pengamatan mereka.


"Ya, halo."


"...."


"Jadi bagaimana hasilnya?"


"...."


"Ka-kau yakin?"


"...."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak."


Tangan Nakula mengepal menahan amarah, rahangnya mengatup, dan matanya memerah.


"Ada apa Naku?"


"Sum...."


"Tuan, kami berhasil melacak nomor yang diberi nama Nona Besar. Ini alamatnya." seorang polisi menghampiri. "Sudah ada tim tambahan yang bergerak ke lokasi. Anda ingin ikut, Tuan?"


"Tentu!" mata Nakula berkilat-kilat. "Aku akan memberitahumu begitu kita sampai di jalan." ujarnya pada Sadewa yang menatap dengan heran. Terlebih lagi Nakula meminta Papa Pandu untuk tetap tinggal dengan alasan demi keamanan.


Sementara itu, di kediaman Tuan Wasesa. Semua berjalan normal, tak ada satu pun pekerja yang berani bercerita tentang penangkapan Siska.


Bahkan Nyonya Kandi, Anjani, Mbak Inah dan Noushafarin sedang menyiapkan menu makan siang seperti biasanya. Nyonya Kandi hanya mengawasi dan mengerjakan pekerjaan ringan, karena kadang kepalanya masih berdenyut.


"Jika masih sakit, sebaiknya Nyonya istirahat saja di kamar. Biar saya dan Arin yang menyelesaikan memasaknya." Mbak Inah yang sedari tadi memperhatikan Nyonya Kandi, akhirnya memberanikan diri berbicara.


"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja."


Karena Nyonya Kandi bersikeras untuk tetap tinggal, Noushafarin memberikan segelas air putih hangat pada majikannya itu. Anjani tersenyum sesekali melihat interaksi Nou dan mertuanya sambil memotong-motong sayuran.


"Mungkin masih ada sisa arsenik di dalam darah Mama. Jadi kondisi Mama belum pulih 100%." dengan santainya Anjani berujar. Membuat Inah dan Noushafarin menghentikan aktifitas mereka.


"Arsenik apa Jani? Mama saja tidak tahu penyebab sakit ini."


Anjani berhenti sejenak, namun kemudian ia lanjut memotong wortel.


"Bagaimana Nyonya bisa tahu hasilnya? Sedangkan kami yang berjaga di Rumah Sakit tidak diberi tahu. Bahkan Tuan Sadewa berkata tidak memberitahukan hasilnya kepada Nyonya." Noushafarin membantu Nyonya Kandi berdiri. Lebih tepatnya memaksa majikannya berdiri.


Mbak Inah yang tak mengerti apa-apa terdiam di tempatnya berdiri, di antara Nyonya Kandi dan Anjani.


"Tentu saja suamiku, Nakula yang memberitahukannya kepadaku."


"Benarkah? Karena setahu saya bukan itu yang Tuan Sadewa katakan." Nyonya Kandi mulai berjalan menuju ruang tengah, namun karena kepalanya mendadak terasa berat, ia tak bisa berjalan cepat.


"Kau terlalu ikut campur!!!" Anjani menggeram, wajah dan suaranya terdengar sangat menakutkan.


"Akhhh!!!" gadis itu menjerit kesakitan. Tangan kiri Noushafarin terluka karena menangkis pisau yang dilempar Anjani.

__ADS_1


Melihat itu Inah segera berlari keluar pintu dan menjerit meminta tolong. Sedang Nou, sambil menahan sakit ia berusaha melindungi Nyonya Kandi yang berusaha mencapai ruang tengah.


Seperti orang kesetanan, Anjani mengambil botol kaca yang besar berisi minyak wijen di dekatnya dan melemparkannya ke Inah. Hingga botol itu mengenainya tepat di kepala bagian belakang. Wanita itu jatuh tersungkur ke depan dan kepalanya membentur ubin dengan sangat keras.


Anjani melihat kesempatan bagus karena Nou terluka dan mertuanya yang berjalan terseok-seok. Secepat kilat ia segera mencabut pisau lain dan melesat menuju Nyonya Kandi. Anjani sadar, waktu yang dimilikinya sangat terbatas hingga bantuan datang.


"Matilah kau!!!" ia mengayunkan pisau secara membabi buta.


Nou kembali menahan serangan Anjani yang mengincar Nyonya Kandi. Namun tenaga Anjani lebih besar, wanita itu menyeringai kemudian menendang perut Nou sekuat tenaga.


Nou terjatuh, Anjani cepat-cepat menggerakkan kaki mendekati Nyonya Kandi. Namun ia salah, Nou lebih cepat beraksi. Ia segera memeluk kaki kiri Anjani. Melihat itu Anjani sedikit menunduk dan mengarahkan mata pisau ke perut Noushafarin yang sebelah kanan.


Anjani mengayunkan pisau di tangannya dengan sekuat tenaga.


"Akhhhh!!!" wanita itu menjatuhkan pisau di tangan kanannya, rasa sakit serta panas menyengat menjalar melalui dagingnya pada bagian pundak kiri yang tertembus timah panas.


"Haaggggg!!!" diwaktu bersamaan Noushafarin pun memekik menahan sakit, pisau yang terjatuh dari tangan Anjani melukai tangan kanannya. Sebab pisau itu jatuh dengan posisi bagian tajam yang mengarah ke bawah.


Sambil menahan sakit, Anjani menendang kepala Nou dengan sekuat tenaga menggunakan kaki kanannya yang bebas. Begitu ingin menendang untuk kedua kalinya, beberapa pekerja rumah menerjangnya dan menahan wanita itu di dinding.


Anjani menjerit histeris, ia meronta sambil mencaci maki orang-orang yang menahannya. Dengan sekuat tenaga ia meronta, kakinya menendang ke segala arah hingga akhirnya datang lagi orang asing memabantu meringkus istri Nakula itu.


Di lantai, Nou merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya dan kedua tangan yang sakit. Pandangan matanya menjadi kabur, samar-samar ia mendengar Nyonya Kandi menjerit histeris dan menyebut-nyebut namanya. Kemudian semuanya menjadi gelap, Nou jatuh pingsan akibat tendangan Anjani di kepalanya.


......................


Noushafarin perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Dan kemudian menutup kembali jika dirasa matanya belum mampu menyesuaikan dengan penerangan dalam ruangan itu.


Saat kesadarannya telah pulih sepenuhnya, ia mengedarkan pandangannya. Rumah sakit? Rumah sakit mana ya?


Saat ia bertanya-tanya dalam hatinya, kain yang menutupi ruangannya terbuka. Sadewa datang dengan wajah penuh kecemasan.


Nou tersenyum samar mendengar ocehan Sadewa. "Tanyanya satu-satu dong Mas."


"Maaf sayang, Mas khawatir sama keadaan kamu."


"Ini dimana?"


"Rumah Sakit Bhayangkara. Begitu kami tiba, kamu sudah jatuh pingsan. Beruntung ada ambulance yang ikut."


"Nyonya?"


"Mama aman, beliau dan Inah juga sudah mendapat perawatan."


"Ini jam berapa?"


"Sudah jam sepuluh malam. Lapar ya."


Noushafarin mengangguk malu-malu.


"Aku suapin." Sadewa mengambil makanan yang telah disiapkannya.


"Aku bisa sendiri Mas."


"Tangan kamu dua-duanya luka Rin. Please, biarkan Mas merawat kamu ya."

__ADS_1


Nou terdiam, ia lantas memperhatikan kedua perban di tangannya. "Apakah lukanya dalam?"


"Untungnya tidak. Dan jangan khawatir, aku akan mencarikanmu obat agar bekas lukanya cepat hilang."


Nou kembali tersenyum samar. "Terima kasih."


"Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah menyelamatkan Mama." Sadewa mengulurkan tangannya kemudian mengusap kepala Noushafarin. "Ayo makan, habis itu kita pindah ke ruang perawatan."


Tanpa diketahui oleh Noushafarin dan Sadewa, Darian datang. Belum sempat menuju tempat Noushafarin, Tuan Pandu menghentikannya.


Nakula mengernyit saat Papa membawa Darian ke tempat yang sepi. Ia lantas mengikuti, apalagi tak ada perintah mundur dari Papa setelah mengetahui Nakula mengikuti mereka berdua.


"Maafkan kami."


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Menantu saya, ternyata dia adalah dalang dibalik percobaan pembunuhan istri saya dan membocorkan berkas penawaran perusahaan kami."


"Lalu?"


"Dia terluka karena berusaha melindungi Srikandi."


"Apakah parah?"


Tuan Pandu menggeleng pelan. "Saya tidak bisa mengatakan tidak parah, karena kenyataannya ia tetap memerlukan perawatan medis. Namun tidak begitu buruk."


Darian memiringkan kepalanya dengan kerutan di dahi.


"Intinya dia baik-baik saja. Maaf atas bahasa saya yang kacau balau."


"Maaf juga kalau pertanyaan-pertanyaan saya tidak sopan, Om."


"Kamu pemuda yang baik." Pandu menepuk lengan Darian.


"Apakah saya bisa menjenguknya?"


"Bisakah besok saja?" Tuan Pandu menjawab pertanyaan Darian dengan sebuah pertanyaan.


Darian menarik napas dalam-dalam. "Baiklah kalau begitu."


Dengan berat hati ia pun pergi dari sana.


"Si....."


"Darian adalah kakak kandung Arin." Papa Pandu segera menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan Nakula. "Ah bukan, bukan Arin. Yang lebih tepat adalah Noushafarin."


"Arin adalah panggilan dari Noushafarin?" Nakula mengernyit, nama itu terdengar asing baginya.


Papa Pandu tersenyum, ia mengerti ketidak tahuan putranya. "Ya, Noushafarin. Noushafarin Armani."


Wajah Nakula menegang, matanya membulat sempurna. "Apa-apakah Arin adalah Nona Besar keluarga Armani?"


Papa Pandu mengangguk kemudian pergi untuk memeriksa kondisi Mama Kandi.


"Hari ini banyak sekali kejutan yang kuterima." lirih Nakula.

__ADS_1


...****************...


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2