Noushafarin

Noushafarin
Bab 42


__ADS_3

"Wa." Srikandi yang melihat Sadewa sudah berada di anak tangga berjalan cepat menghampiri putranya.


Mereka baru saja masuk ke dalam rumah setelah berdiri di teras untuk mengantar kepulangan Keluarga Bowo.


"Ada apa Ma?"


"Jangan beri celah." wajah Srikandi terlihat tegas dan tak ingin dibantah.


Sadewa tersenyum dan kembali turun. Ia menghampiri Mamanya dan menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Aku tahu Ma."


"Aku tak bisa membayangkan jika wajah perempuan itu yang akan berpapasan denganku setiap hari di depan kamar." Nakula bergidik ngeri.


"Kalian ini." Pandu tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala.


"Pokoknya Papa jangan sekali-sekali membahas soal Nakula dan Sadewa saat berbicara dengan Bowo." Srikandi memberi peringatan.


"Iya, Papa tahu batasan Papa. Mama tenang saja." Pandu merangkul pundak istrinya dan membawa wanita itu menuju kamar. "Tidak ada istilah jodoh menjodohkan."


Di belahan bumi lain yang memiliki perbedaan waktu 6 jam. Noushafarin sedang merawat seorang anak yang baru melewati masa kritisnya. Ia memantau peralatan yang menempel di tubuh bocah perempuan itu.


Saat keluar dari ruangan, seorang ibu muda didampingi suami menghampirinya dengan wajah berlinang air mata.


[Menggunakan bahasa Jerman]


"Bagaimana keadaan malaikat kecilku, Dokter?"


"Tenangkan diri anda Nyonya." Noushafarin tersenyum lembut. "Dia gadis yang kuat, masa kritisnya sudah berlalu."


"Kau dengar kata Dokter, masa kritisnya sudah berlalu." Sang suami mengusap lengan istrinya untuk menguatkan. "Jadi berhentilah menangis."


"Suami anda benar, Nyonya." Nou menimpali. "Jika Rosie kecil bangun dan melihat kesedihan anda, maka ia akan merasa sangat bersalah. Dan itu tidak baik bagi kondisinya."


"Iya, iya." jawab Nyonya itu sambil menyeka air matanya. "Aku akan berhenti menangis. Terima kasih Dokter."


"Terima kasih banyak, Dokter." ucap sepasang suami istri itu dengan penuh ketulusan.


"Sama-sama, saya permisi dulu."


Noushafarin meninggalkan keluarga pasien menuju ruang jaga. Disana sudah ada beberapa Dokter yang sedang duduk beristirahat sejenak.


"Kopi." Dokter Reinhard, Spesialis Bedah, menyodorkan segelas kopi di gelas kertas pada Nou.


"Danke." Nou segera menyeruput minuman berwarna hitam itu.


Reinhard tersenyum penuh arti kemudian duduk di samping Nou.


"Kapan kau akan menerima ajakan makan malamku?" ucapnya tanpa berbasa basi, karena ia tahu waktu santai mereka sangat singkat.


"Maaf mengecewakanmu." Nou menatap Reinhard sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Ahh, kau ini." Dokter tampan itu menghela napas.


"Aku bisa menggantikannya." seorang Dokter cantik berambut pirang tiba-tiba bergabung dengan mereka berdua.

__ADS_1


Disaat yang sama seorang perawat terengah-engah di depan pintu. "Dokter Nou, code blue!"


Begitu mendengar seruan perawat tersebut, Noushafarin segera meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan apa-apa. Reinhard hanya bisa menatap sendu kepergian Noushafarin.


"Aku tak akan pernah menolakmu, kau tahu itu." wanita cantik tadi masih menatap Reinhard dengan penuh harap.


"Ya, termasuk pria lain." Reinhard menatap sinis.


"Tak bisa kah kau melupakan itu?"


"Melupakan saat kau mendesah dan bergerak dengan liar di atas tubuh Trevor?!" mata Reinhard memicing. "Aku tak akan pernah melupakan itu, Daphne."


Reinhard berdiri dan meninggalkan Dokter Daphne begitu saja. Sementara beberapa Dokter disana berbisik-bisik membicarakannya, menatap dengan pandangan meremehkan kemudian mereka pun pergi.


Daphne menatap kepergian Reinhard dengan mata berkaca-kaca. Ia sadar, kesalahannya sendiri yang membuat pria itu membencinya. Pria yang dulu menatapnya dengan penuh puja, kini bahkan menganggapnya tak ada.


Dan bukan rahasia lagi kalau Reinhard kini mendekati Noushafarin, gadis yang baru saja menjadi Dokter Fellow itu. Sayangnya bukan hanya Reinhard saja, melainkan ada beberapa Dokter muda lain yang juga mengincar gadis itu.


Namun tak ada satu pun yang berhasil memikat hati gadis itu. Apalagi semenjak kepulangannya dari Indonesia, Noushafarin menjadi semakin dingin dan gila kerja.


Nou berdiri di rooftop Rumah Sakit. Ia menikmati pemandangan langit sore kota Münich yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Pikirannya kembali melayang memikirkan pemuda yang tak pernah bisa ia lupakan.


Tujuan Nou menyibukkan diri adalah situasi seperti ini. Saat ia sendiri, ia akan selalu ingat kepada Sadewa. Sebesar apapun kekecewaannya kepada pemuda itu. Nou sadar, mungkin saat itu ia juga terlalu cuek.


Karena yang ada dipikirannya hanya bekerja untuk mendapatkan uang. Tidak terlintas dalam benaknya tujuan yang lain. Ia sadar, ia juga yang mendorong Sadewa untuk berbuat demikian.


Nou menggelengkan kepala pelan. "Sudahlah, toh nanti juga aku akan pulang. Kalau jodoh, bisa ketemu lagi, baru diselesaikan." gumamnya pada dirinya sendiri.


"Tapi aku rindu. Hahhhhh...gimana dong?" Nou memukul kepalanya pelan. "Mau hubungi duluan tapi......ogah ah, enak saja."


......................


Satu minggu kemudian


Miranti sedang mencoba beberapa gaun yang akan ia gunakan untuk menghadiri sebuah acara.


"Gimana kak?" Miranti meminta pendapat Tatiana untuk gaun berwarna merah yang ia kenakan.


"Hmmmm. Kurang gimana gitu." Tatiana memberikan pendapatnya. Miranti mengangguk dan mencoba gaun yang lain. Karena Tatiana sudah mendapatkan gaun yang pas buatnya, jadilah ia menunggu Miranti sampai gadis itu mendapat gaun yang tepat.


"Kalau yang ini gimana kak?" Miranti keluar sambil menunduk memperhatikan bagian bawah gaun berwarna hijau tua yang sangat indah membalut tubuhnya.


"Cantik."


Miranti sontak mendongak dan mendapati Darian sedang memandanginya dengan penuh kekaguman.


"Eh." Miranti mendadak gugup.


"Benar kata Darian, kamu cantik Mimi." Tatiana menambahkan. Miranti tersenyum menatap Tatiana, ia segera berbalik untuk mengganti baju.


Beberapa menit kemudian ia keluar dan mendapati Darian hanya sendirian duduk di sofa.


"Kak, mana Kak Tatiana?" Miranti menghampiri.


Darian mengalihkan matanya dari gawai yang sedang ia mainkan. "Ada panggilan darurat." Darian berdiri.

__ADS_1


"Sudah selesai?"


"Iya Kak, sudah." Miranti berjalan menuju kasir untuk membayar. Namun pegawai itu menolak kartu yang disodorkan Miranti.


"Sudah dibayar, Nona." jawabnya ramah.


Miranti menoleh menatap Darian. "Kakak yang bayar ya."


"Bukan ,Tatiana."


Saat Miranti kembali menghadap ke depan, Darian mengerling pada pegawai yang menatapnya dengan heran. Pegawai itu tersenyum paham dengan situasi.


"Ayo." Darian menggenggam tangan Miranti. "Kata Tatiana aku harus mengantarmu pulang karena kau tidak membawa mobil."


"Eh, i-iya Kak." Miranti menatap tangannya yang digenggam Darian. Jantungnya semakin bertalu, entah bagaimana dengan rona wajahnya saat ini.


Darian membukakan pintu untuknya, kemudian setengah berlari mengitari mobil. Perlakuan manis Darian semakin membuat Miranti tak karuan.


"Mimi, kita makan ya."


"Kakak belum makan ya."


Darian mengangguk sambil melajukan mobilnya. Ia tak bertanya kepada gadis itu ingin makan apa. Karena selera mereka berdua sama, jadi ia segera menuju restoran pilihannya.


Sekalipun Noushafarin lebih sering berada di Jerman, namun Miranti sering ada di dalam pusaran keluarga Armani. Sebab Tatiana juga menganggap Miranti sebagai adiknya seperti Nou.


Kedekatan itu membuat Darian juga menjadi tahu tentang makanan yang disukai oleh gadis di sisinya.


"Salad?"


Miranti mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Tambahkan almond yang dipanggang." kata Darian pada pelayan yang mencatat pesanan mereka.


"Terima kasih Kak." Miranti tersenyum tulus pada Darian.


"Salad saja cukup?" Darian mengernyit.


"Iya, tadi aku sudah makan."


"Aku kira kau sedang diet."


"Diet? Aku?" Miranti tergelak. "Cita-citaku itu gemuk kak, untuk apa aku diet."


Darian suka melihat Miranti tertawa lepas seperti itu.


"Jangan tertawa terlalu lebar. Nanti ada lalat yang masuk."


"Ishhh...apaan sih Kak." Miranti merengut.


"Mimi."


"Iya Kak."


"Kita menikah yuk."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2