
Noushafarin dan Sadewa baru menyelesaikan makan siang mereka di restoran tak jauh dari rumah sakit. Keduanya tak ingin ambil resiko jika terjadi keadaan darurat.
"Setelah menikah, kamu masih mau bekerja?" tanya Sadewa sebelum menyedot jus buah naga yang ia pesan.
"Itu yang masih menjadi pertimbanganku Mas. Semalam aku sudah berdiskusi dengan Ayah Bunda. Kesimpulannya, aku selesaikan dulu proses adaptasi ini dan mendapatkan surat ijin."
"Kau tahu kan Mas mampu menghidupi keluarga kita nanti."
"Kalau soal itu tidak perlu diingatkan Mas." Noushafarin menipiskan bibirnya. "Tapi masalahnya aku menyukai apa yang aku kerjakan."
"Jadi?"
"Jadi aku ingin tetap bekerja." Nou memainkan sedotan di gelas jusnya. "Tapi, kalau pekerjaanku membuat keluargaku terbengkalai...." Nou menarik napas sejenak.
"Dengan senang hati aku akan meninggalkannya. Rumah tanggaku lebih penting, karena aku tahu pemuda yang kucintai tidak akan menelantarkanku." imbuhnya dengan wajah merona.
Sadewa merasa kepalanya membesar, ucapan terakhir Nou sukses membuat bulu kuduknya meremang. Ia meraih tangan kekasihnya kemudian mengecupnya.
"Tak akan kubiarkan pendampingku menderita." ujarnya sambil menatap dalam-dalam.
"Aku percaya itu." Nou tersenyum dan menarik tangannya. "Malu dilihat orang."
"Sengaja." Sadewa berseloroh sambil menyandarkan punggungnya. "Biar cowok-cowok di pojokan sana yang ngelirik kamu terus tahu kalau kamu milik Mas."
Noushafarin tertawa kecil tanpa ada keinginan melihat ke tempat yang disebut Sadewa.
"Sadewa Wasesa kan?" seorang wanita berpakaian seksi tiba-tiba datang menghampiri.
"Iya benar." jawab Sadewa datar.
"Kamu lupa aku ya." wanita tadi segera duduk di hadapan Sadewa. Terlihat jelas ia menggoda Sadewa dengan sengaja sedikit membungkuk agar belahan dadanya semakin terlihat jelas.
Sadewa hanya mengernyit tanpa ada niat bertanya ataupun berpikir tentang siapa orang yang mengganggu makan siangnya. Sedangkan Noushafarin, matanya memindai perempuan yang tidak menganggap keberadaannya saat ini.
"Aku Riri, teman kuliah kamu dulu."
"Oooo."
"Kok hanya OOOO saja sih." Riri mengerucutkan bibir dan mengubah nada bicaranya semanja mungkin. Kemudian ia melirik Noushafarin dan memandang sinis pada gadis itu.
"Sadewa, aku tuh kangen banget sama kamu. Nanti malam ikut acara reuni yuk. Ya bukan reuni angkatan sih, hanya beberapa orang saja yang sering bertukar kabar."
"Terima kasih tapi maaf, aku tidak bisa."
"Kamu sibuk ya?" nada kecewa sangat terdengar dari Riri.
"Tidak."
"Lalu?"
"Hanya tidak ingin."
"Sombong banget sih."
__ADS_1
"Memang aku sombong." Sadewa menanggapinya santai.
"Pasti karena cewek ini ya. Ya udah, kamu ajak saja dia."
"Tidak, pasti dia juga tidak mau. Iya kan sayang?"
Noushafarin mengangguk dan tersenyum pada Sadewa.
"Sayang? Ini pacar kamu?" Riri terlihat tidak suka.
"Ya, ini calon istriku."
"Selera kamu kok merosot sih Wa?"
"Apa maksudmu?"
"Dia tidak seperti cewek-cewek yang ada di sekitar kamu dulu."
"Yang mendekati aku kan mereka, bukan aku. Sudah jelas aku tidak berselera padamu dan teman-temanmu itu." Sadewa menatap dingin pada Riri. "Aku suka dengan gadis yang seperti ini. Sederhana, tetap cantik dengan make up tipis maupun tanpa make up." Sadewa menarik tangan Noushafarin dan mengecup punggung tangan gadis itu sekali lagi.
"Duh, nggak banget deh Wa." Riri mencibir. "Ya udah deh kalau memang nggak mau. Lagian cewek kampungan memang nggak pantes gabung sama kita."
"Iya dong, aku mana pantas bergabung sama perempuan murahan yang mengumbar tubuhnya dan dengan sengaja menunjukkannya di depan kekasih orang." sahut Noushafarin.
"Kamu!!" Riri terkejut tak menyangka gadis itu akan menyerang balik.
"Mas, jam istirahatku sudah hampir habis."
"Si***n!!! Sadewa memang selalu sulit ditaklukkan." umpatnya. Kemudian ia mengamati Noushafarin dari belakang dan tersenyum sinis. "Sudahlah, memang seleranya kelas rendahan. Percuma ganteng dan kaya kalau sukanya sama perempuan kampungan."
"Makeup tipis konon. Bilang aja nggak punya duit untuk beli makeup." gerutunya lagi.
Di dalam mobil Sadewa terus mencuri pandang pada Noushafarin.
"Kalau kamu ngelirik aku terus, bisa-bisa kita nabrak kendaraan lain Mas." tegur Nou.
"Kamu marah?"
"Tidak, untuk apa. Mas membela aku kan tadi. Jadi untuk apa aku marah."
"Terus kenapa diam saja?"
"Aku sedang mengingat-ingat. Dimana aku pernah bertemu Riri."
"Kalian pernah bertemu?" Sadewa mengernyitkan dahi.
"Humm. Wajahnya tidak asing, tapi aku lupa dimana pernah melihatnya."
"Sudahlah, dia bikan orang penting yang harus kamu ingat." Sadewa mengusap kepala kekasihnya.
Tak lama kemudian mobil mereka tiba di Rumah Sakit. Sadewa segera turun untuk membukakan pintu bagi Nou.
"Pulangnya sama Mas lagi ya sayang."
__ADS_1
"Iya Mas, terima kasih ya."
Sadewa mengangguk, sekali lagi mengusap kepala Noushafarin kemudian masuk ke mobil. Entah kenapa ia sangat suka mengusap puncak kepala gadisnya. Dan Noushafarin pun terlihat begitu menikmati perlakuan manis kekasihnya.
"Cieee. itu pacar Dokter Nou ya." celetuk seorang perawat begitu Nou memasuki ruangan jaga khusus anak yang berada di lantai dua. Ternyata mereka mengintip dari jendela.
Noushafarin hanya tertawa kecil dan meletakkan tas kemudian mengenakan jas putih dan membasuh tangannya.
"Dokter, dijawab dong. Biar kalau ada yang tanya untuk PDKT, kita bisa jawab. Dokter sudah punya kekasih." imbuh perawat lainnya.
Noushafarin tertawa kecil melihat wajah penasaran rekan-rekannya. "Iya, yang antar tadi kekasih saya."
"Wwaahhhhhh!!!" seru mereka bersamaan.
"Pssstttt!!!" Nou meletakkan telunjuk di ujung bibirnya membuat kedua perawat refleks menutup mulut dan tertawa kecil.
Tok...Tok...Tok...
"Permisi Dokter." seorang perawat masuk setelah mengetuk. "Pasien anak di ruang VIP Bugenvil demamnya semakin tinggi dan mulai mengigau."
Nou segera mengambil peralatan diikuti dua orang perawat di ruangannya dan segera menuju tempat yang disebut. Tak lupa mereka membawa troli klinik yang berisi obat-obatan dan alat medis lainnya.
"Kok nggak ada keluarga yang jaga?" Nou terkejut saat memasuki ruangan tersebut, tak terlihat satu pun keluarga pasien disana.
"Mama anak ini minta saya menjaganya. Katanya ada urusan penting." jawab perawat yang tadi membawa berita.
Noushafarin tak menanggapi lagi, ia segera mengambil termometer untuk mengukur suhu pasien kemudian memeriksa beberapa bagian tubuhnya. Beberapa kali terdengar ocehan tak jelas dari bocah laki-laki itu.
Dengan instruksi Nou, perawat dengan cekatan menyiapkan beberapa ampul obat dan menyedot cairan tersebut untuk disuntikkan ke tubuh pasien melalui selang infus.
Noushafarin tetap disana, ia terlihat beberapa kali mengecek jam yang ada di tangan kanannya sambil memeriksa tubuh pasien. Tak ada yang bersuara, mereka menanti perubahan pasien dalam diam.
1 jam kemudian...
Noushafarin dan perawat keluar dari ruang VIP. Wajah mereka terlihat lega, artinya pasien di dalam sudah dapat diatasi. Seorang wanita berjalan dengan santainya ke arah mereka.
"Anda darimana saja Nyonya? Putra anda..." Perawat itu menghentikan ucapannya saat Noushafarin mengangkat tangannya.
"K-kau...." Riri terkejut melihat gadis yang dihinanya tadi mengenakan jas putih dan diikuti beberapa perawat.
"Tolong tinggalkan kami berdua." ucap Nou pada perawat yang mengikutinya.
"Hhh! Ternyata kau seorang dokter." Riri masih tetap mengibarkan bendera perang.
Dengan sekali gerakan Nou mendorong dan menghimpit tubuh Riri di dinding, membuat wajah wanita itu terlihat ketakutan
"Jika tidak bisa mengurus anak, jangan buat anak!!!" Nou merendahkan suara namun terdengar sangat menakutkan. Ia melepas tangannya dan menjauhkan tubuh dari tubuh Riri.
"Saat kau sibuk menggoda kekasihku, anakmu mulai memasuki fase kritis. Kau benar-benar keterlaluan!!!" setelah mengatakannya Nou pergi meninggalkan Riri begitu saja.
Terdengar langkah setengah berlari, tanpa Noushafarin membalikkan tubuh pun ia tahu pasti Riri bergegas masuk ke dalam ruang perawatan putranya.
......................
__ADS_1