
Sadewa menikmati waktunya bersama Noushafarin. Ia memuaskan mata dan hatinya memandangi wajah Nou saat gadis itu tengah membaca sebuah buku di ruang perpustakaan yang berada di apartemennya, sedangkan ia sendiri membaca-baca majalah bisnis yang tak banyak jumlahnya. Waktunya tidak banyak, ia harus segera kembali karena banyak pekerjaan yang ia tinggalkan. Tawaran Darian dua jam sebelum jet pribadi keluarga Armani lepas landas tidak dilewatkan begitu saja oleh Sadewa.
"Mas baca buku, atau membaca pikiranku?" Noushafarin bertanya tanpa mengangkat wajahnya dari buku.
Sadewa tersenyum lembut. "Majalah ini menarik, tapi wajahmu sulit untuk dilewatkan."
Nou menipiskan bibirnya sambil menutup buku dan melepas kacamatanya. Ia berdiri untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena berada dalam posisi yang sama selama beberapa waktu.
Nou melangkah menuju jendela yang berada tak jauh dari Sadewa duduk dan menyibak tirainya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap langit.
"Tutup saja, lagipula Darian juga sudah melarang untuk membuka tirai kan. Tadi kita sudah diberi kesempatan menghirup udara segar di rooftop." Sadewa mengingatkan.
"Sebentar saja kok." ujar Noushafarin. "Aku ingin mataku menikmati hal lain dulu selain tulisan."
"Apa menatap wajahku saja tidak cukup?"
Noushafarin tertawa kecil mendengar pertanyaan Sadewa.
"Pemandangan yang indah." gumam gadis itu sambil menatap langit petang yang mulai menampakkan semburat jingga nan indah.
"Kemarilah." Sadewa bergumam sambil menggapai tangan kiri Nou dan berusaha menarik gadis itu agar duduk di pangkuannya. Tak ada penolakan, Noushafarin mulai bergerak menghampiri kekasihnya.
"Aaakkhhhhhhhh!!!!!!" jeritan Nou mengagetkan Sadewa, ia tak menyangka dengan reaksi Nou.
Gadis itu memang terjatuh ke pangkuannya, namun dengan tangan memegang perut kanannya yang mulai mengeluarkan darah. Suara kaca yang pecah tertutupi oleh jeritan Nou sehingga Sadewa tidak menyadarinya.
"Merunduk!!!" seru Darian yang tiba-tiba muncul, bersamaan dengan sebuah peluru yang kembali masuk dan menerjang vas yang berada tepat di samping kepala Sadewa.
Dari samping Darian menutup tirai menggunakan tongkat golf yang ada disana dan dengan tergesa-gesa Sadewa membopong Noushafarin.
"Nou!!!" Bunda histeris melihat keadaan Noushafarin. "Ada apa ini?" entah pada siapa Bunda bertanya.
"Sepertinya penembak runduk." jawab Sadewa.
Darian melesat keluar bergabung dengan keamanan swasta yang ia sewa. Sadewa hanya bisa menekan luka pada perut Nou menggunakan kain yang dibawakan Bunda Farena. Rahangnya mengeras menggambarkan perasaannya yang berkecamuk tak menentu. Disisinya terdengar suara Nyonya Farena yang tak berhenti menangis.
Tak lama kemudian Darian dan beberapa orang datang membawa tandu. Perlahan mereka memindahkan Nou dan segera melarikan gadis itu ke rumah sakit tempatnya bekerja. Karena fasilitas itu yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.
"Dokter Nou!!!" seru petugas medis begitu mengenali pasien yang baru memasuki ruang emergency tersebut.
Berita menyebar dengan cepat, rekan sejawat Nou berdatangan. Reinhard dan Georgia membantu Dokter piket memeriksa keadaan Noushafarin.
__ADS_1
"Siapkan ruang operasi kecil nomor 3, aku sendiri yang akan membersihkan dan menutup lukanya." ucap Dokter Reinhard kemudian meninggalkan tempat tersebut.
"Bukankah bisa ditangani oleh dokter piket?" ucap Georgia mengingatkan sambil menepuk pundak Reinhard.
"Tapi ak..."
"Aku tahu kau khawatir, tapi ingat tempatmu." Georgia bersikeras.
"Aku tidak apa-apa." ucap Noushafarin dengan sangat pelan namun bisa terdengar oleh mereka semua.
Reinhard mengalah, ia keluar dengan wajah masam.
"Bagaimana kondisinya?" Darian mencegah Reinhard yang baru keluar dari bilik pemeriksaan.
"Peluru tidak masuk mengenai perut, hanya di bagian luar. Dokter piket bisa menanganinya." Georgia menjelaskan. "Dia mengalami syok, namun tidak parah."
"Terima kasih Georg." Darian merasa bisa sedikit bernapas lega. Georgia tersenyum dan berjalan menarik Reinhard untuk pergi bersamanya.
Sadewa merasa seluruh dunianya menjadi gelap. Ia berpegang pada dinding untuk mencari tumpuan. Kekasih hatinya, yang baru beberapa jam ia temui setelah sekian lama, kini terbaring dengan kondisi lemah.
Noushafarinku gadis yang kuat, ia pasti bisa melalui ini.
"Dia baik-baik saja, peluru itu tidak akan mengambil Noushafarin dari kita." Darian menenangkan Sadewa.
"Andai aku bisa lebih tegas melarangnya membuka tirai."
"Jangan salahkan dirimu, andai kau tak menariknya, mungkin kita akan kehilangan dia untuk selamanya. Angkat kepalamu, kau pahlawan kami." ucap Darian sambil menepuk pundak Sadewa dan mencoba membesarkan hati calon adik iparnya itu.
"Aku bawakan kopi." Georgia datang membawa dua gelas kertas berisi kopi. Sadewa mengernyit menatap gadis yang baru ia lihat.
"Terima kasih Georg." Darian mengambil sedangkan Sadewa menolak dengan gelengan pelan.
"Tidak, terima kasih." Georgia hanya mengangkat bahu dan berjalan menuju Bunda Farena.
"Dia Georgia, sahabat Nou." ucap Darian sambil menyeruput kopinya setelah melihat wajah penuh tanya Sadewa. "Tolong jaga bunda." imbuh Darian sambil menepuk pundak Sadewa kemudian pergi dari sana.
"Kau mau kemana?" cegah Sadewa.
"Apartemen, aku harus menemukan sesuatu sebelum petugas keamanan datang dan mengamankan lokasi."
......................
__ADS_1
Meski lukanya tidak cukup serius, namun ternyata Noushafarin mengalami syok akibat tembakan tersebut hingga Dokter memutuskan untuk merawat Noushafarin secara intensif. Keluarga Armani datang segera setelah menerima kabar dari Farena, bahkan Nenek Faireh pun tak ingin ditinggalkan.
"Bagaimana?" Bardia Armani langsung bertanya setelah Darian datang. Mereka tengah duduk di depan ruang tempat Nou dirawat.
"Penembak jitu tersebut berasal dari angkatan bersenjata Jerman yang membelot." ucap Darian sambil berbisik. "Posisinya saat itu lebih jauh dari penembak jitu yang aku tempatkan disekitar gedung apartemen Nou.
"Orang pilihan." gumam Bardia.
"Namun, ia tak lagi dianggap sebagai warga negara." lanjut Darian.
"Ada hubungan dengan kesaksian adikmu?"
"Pria tersebut mantan kekasih wanita pembunuh pasien Nou dan masih memiliki perasaan pada wanita itu. Aku sudah memeriksa data siapa saja pengunjung wanita tersebut di penjara. Rupanya masih ada beberapa orang dari pihak keluarganya yang membantu."
Bardia tersenyum tipis. "Perintahkan Scorpio untuk mencari dan mengeksekusi. Negara ini tidak melindunginya, jadi seharusnya tidak ada masalah besar yang akan terjadi. Dan untuk keluarga wanita ular itu, biarkan mantan suaminya yang melakukan pembersihan."
Bardia menepuk pundak putranya sebelum ia bergabung bersama istri dan ibunya. Sedang Darian, ia sempat terkejut saat mendengar ayahnya akan menggunakan jasa mafia yang sudah lama menjadi sahabat Tuan Bardia Armani itu. Namun pemuda itu tidak melakukan protes, ia mengerjakan tepat seperti yang diperintahkan.
"Ayo ikut denganku." ucap Darian saat berhenti di sisi Sadewa.
"Mau kemana?"
"Memberi pelajaran pada pelaku."
Sadewa terlihat ragu, ia ingin terus berada di dekat Nou. Darian melihat itu, ia tersenyum tipis.
"Dia baik-baik saja, adikku wanita yang tangguh." Darian mengerti kekhawatiran Sadewa "Ayolah, ini saatnya kau lebih mengenal sepak terjang keluarga kami, adik ipar."
Darian menekan pengucapan dua kata terakhir untuk mengusik Sadewa. Dan ternyata caranya sangat ampuh. Sadewa mengangguk dan mengikuti kemana Darian pergi.
Bardia melihat kepergian kedua pemuda tadi. "Darian mengajak Sadewa." gumamnya.
"Mungkin Darian ingin Sadewa tahu lebih banyak tentang keluarga kita." ucap Nyonya Faireh mengikuti arah pandang putranya. "Biarkan saja, toh dia akan menjadi bagian dari kita."
"Ibu sudah setuju?" Bardia tampak terkejut.
"Dengan siapapun aku akan setuju asal itu pilihan Noushafarin." jawab Nyonya Faireh tegas.
Bardia mengangkat alis sedangkan Farena hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia merasa lega, Noushafarin diberi kesempatan menentukan masa depannya sendiri.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1