Noushafarin

Noushafarin
Bab 26


__ADS_3

"Ada apa?" Sadewa menemui Nakula di taman rumah sakit. Malam ini Noushafarin diminta menjaga Nyonya Kandi, jadi Sadewa kembali untuk membawa baju gadis itu yang sudah dibereskan oleh Mbak Inah yang ternyata telah kembali tadi sore.


"Anjani yang selalu membuatkan teh untuk Mama." Nakula menatap ke depan namun sorot matanya terlihat kosong.


Sadewa terkejut, ia sampai kehilangan kata-kata. Selama beberapa menit kedua putra Pandu itu berdiam diri, tak ada satu pun yang berbicara.


Kenapa semua harus berkaitan dengan Anjani? Waktu itu berkas penawaran, sekarang arsenik. Nakula menarik rambutnya dengan kasar.


"Hhhhh... aku bisa gila Wa."


Sadewa menepuk punggung Nakula yang duduk sambil menekuk tubuh ke depan dan menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Bertahanlah, kami membutuhkanmu, Naku. Mama membutuhkanmu."


"Aku tahu."


"Tapi tolong, sama seperti saat kau curiga karena berkas itu. Kali ini pun sama, jangan percaya sebelum ada bukti. Jangan sampai hubungan kalian rusak karena hal yang belum pasti."


Nakula diam, ia mencerna setiap perkataan saudara kembarnya itu. Kemudian mengulas senyum tipis. Sadewa selalu bisa membantu untuk mengurangi beban pikirannya.


"Terima kasih Wa."


"Itulah gunanya saudara." Sadewa terkekeh pelan. "O, iya, apakah temanmu itu sudah mulai bergerak?"


"Sudah, semua akan diselidiki kecuali Arin."


"Kenapa?"


"Kau kan dengar sendiri penuturan Dokter Haikal. Mama sudah mulai terpapar sejak beberapa bulan lalu. Sedangkan Arin baru hitungan hari bekerja di rumah."


"Syukurlah kalian tidak mencurigainya." dari nada bicara terdengar sekali jika pemuda itu merasa lega.


Nakula menoleh cepat menatap Sadewa, kerutan samar terbentuk di dahinya.


"Kau mengkhawatirkannya?"


Sadewa tersenyum kecut. "Tertawakanlah aku sepuas hatimu. Aku rasa aku sudah menjilat ludahku sendiri."


"Hahh!!! Bagaimana rasanya ludah yang sudah dibuang? Enak?" Nakula tersenyum mengejek.


"Ya, dan rasanya manis."


"Dasar labil." Nakula mendorong kepala Sadewa dengan telunjuknya.


"Hhhhhh... aku akan pulang. Anjani akan curiga jika aku tak pulang." Nakula mendongak sambil memejamkan mata, berharap mendapat tambahan kekuatan dari langit.


"Aku yang akan menyetir. Tapi sebelum pulang, sebaiknya kita lihat Mama dulu." Sadewa segera berdiri.


"Mama atau Arin?"


"Dua-duanya."


"Lalu, bagaimana dengan mobilmu?"


"Biarkan saja, besok bisa diambil kalau kita datang lagi."

__ADS_1


"Hmmm... Okelah." Nakula mengikuti langkah Sadewa masuk menuju ruang perawatan Nyonya Kandi.


Di dalam ruangan tampak Noushafarin dengan telaten membantu Nyonya Kandi kembali berbaring setelah keluar kamar mandi. Gadis itu sedang memutar Roller Clamp dan mengamati tetesan sambil mencermati jam saat Nakula dan Sadewa masuk.


"Kau mengerti tentang medis?" Nyonya Kandi mengamati gerakan Noushafarin yang terlihat luwes.


"Tadi saya bertanya pada perawat, Nyonya." jawab Nou sambil menunduk, ia tak sepenuhnya berbohong.


"Ma, bagaimana kondisi Mama?"


"Anak-anak Mama sudah datang." Nyonya Kandi tersenyum melihat kedatangan putra-putranya. Noushafarin segera berpindah tempat, duduk di sofa yang tak jauh dari sana. "Mama sudah merasa lebih baik."


"Syukurlah." Nakula memegang tangan Mamanya dan mengecupnya.


"Malam ini Mama berdua saja dengan Arin. Tidak apa-apa kan Ma?" Sadewa yang berada di sisi lain merapikan selimut Mama Kandi.


"Iya, dia sangat terampil dan telaten mengurus Mama. Rasanya seperti memiliki Dokter pribadi." ucapnya sambil melirik Noushafarin.


Gadis itu mendengar ucapan Nyonya Kandi, ia melirik sekilas kemudian menunduk dengan tangan bertaut. Tangan ini tidak bisa diam, bisa-bisa aku membongkar identitasku sendiri.


"Aku....." ucapan Sadewa terhenti saat mendengar suara ketukan di pintu.


Noushafarin berdiri dan membuka sedikit pintunya. Namun setelah melihat siapa yang datang ia segera membuka pintu lebar-lebar.


"Permisi, kami mengantar extra bed untuk keluarga pasien yang akan menjaga." seorang perawat pria memberitahukan tujuan kedatangan ia dan seorang rekannya lagi.


"Terima kasih banyak." Sadewa mendekati Si Perawat dan membantu kedua perawat itu untuk mengatur kasur yang akan digunakan Noushafarin untuk tidur.


Saat akan keluar, seorang perawat mendekati Noushafarin dan berbisik. "Dokter Tatiana berharap anda bisa tidur nyenyak malam ini."


"Oo." Noushafarin tersenyum. "Terima kasih banyak."


"Apa yang tadi dia katakan?" wajah Sadewa terlihat masam.


"Hanya bilang semoga tidur saya nyenyak." ucap Nou tanpa memberitahu keseluruhan pesan Tatiana.


"Perhatian banget." kali ini Sadewa sudah berdiri tepat di depan Noushafarin.


"Biasa saja, Tuan." Nou menunduk, tatapan Sadewa membuatnya tidak nyaman.


"Kamu biasa diperhatikan cowok-cowok, begitu?"


"Bukan begitu maksud saya."


"Lalu apa? Kamu sering tebar pesona begini?"


Mulai lagi, marah-marah nggak jelas. "Tidak Tuan." jawab Nou lirih.


Tapi tidak mungkin berdebat di depan Nyonya Kandi. Berpikir Nou, berpikir....


"Kamu...."


"Mas, sudah dong." Nou mengubah jurusnya untuk menghentikan aksi marah-marah tak jelas Sadewa. "Apa-apaan sih Mas?" ujarnya sedikit berbisik.


Dan keputusan Nou sangat tepat. Emosi Sadewa mereda, ia melunak tidak berapi-api seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Ya habis.... Dia perhatian begitu sama kamu, Rin."


"Itu kan hanya standar pelayanan saja Mas. Supaya memberi kesan pelayanan yang ramah. Itu saja."


"Tapi..."


"Mas. Yakin mau berdebat disini? Saya sih tidak keberatan."


Sadewa mendesah kesal. "Mentang-mentang dibela Mama." gerutunya.


"Ada apa?" tiba-tiba Nakula muncul di belakang Sadewa.


"Dia tebar pesona sama perawat." Sadewa pergi dengan santainya usai berucap demikian.


Noushafarin hanya mengangkat kedua alisnya mendengar jawaban Sadewa.


"Kalian bertengkar ya." kali ini giliran Nou yang ditanya oleh Nakula.


"Tidak Tuan."


"Hmmmmm... Kau harus sabar menghadapinya, dia suka menuduh sembarangan untuk meluapkan emosinya." Nakula menepuk pundak Nou. "Tapi aku yakin kau mampu mengatasi saudaraku itu."


Ini apa-apaan sih???! Ingin rasanya Noushafarin mengatakan itu. Namun lidahnya terasa kelu, akhirnya hanya senyum bingung yang ia tampilkan.


"Titip Mama ya Rin." ucapnya lagi.


"Iya Tuan."


Nakula keluar lebih dulu karena Sadewa masih berpamitan pada Mama Kandi. Dan saat melewati Noushafarin, pemuda itu berhenti sejenak untuk mengingatkan.


"Jangan tebar pesona, kalau perlu pakai masker."


Walau tak sepenuhnya mengerti arti ucapan Sadewa, Nou tetap mengangguk dan mengiyakan perkataan Tuan Muda.


"Arin, kemarilah." Nyonya Kandi memanggil dengan suara yang masih lemah.


"Iya Nyonya."


"Tolong bantu saya mengatur brankar ini, saya ingin tidur."


"Baik Nyonya."


Noushafarin segera mengatur ketinggian bagian kepala agar sesuai dengan keinginan Nyonya Kandi. Tak lupa merapikan selimut dan memeriksa cairan infus.


"Terima kasih banyak ya Rin."


"Sama-sama Nyonya, selamat beristirahat."


Setelah melihat Nyonya Kandi menutup mata, Nou beranjak dan duduk di sofa. Ia merenggangkan otot-ototnya sebelum memejamkan mata.


Sama seperti saat ia mendapat jadwal jaga. Gadis itu akan tidur sejenak sambil duduk. Hanya sekedar untuk mengistirahatkan matanya. Kebiasaan yang sudah sering dilakoninya selama 9 tahun.


Noushafarin tersenyum kecut memikirkan kembali perjuangannya selama ini.


Aku memang seorang perempuan dan pasti akan menikah. Tapi aku juga ingin menggapai cita-citaku lebih dulu. Bagaimana aku bisa mengajari anak-anakku kelak tentang menggapai cita-cita, jika aku sendiri tidak pernah memperjuangkan cita-citaku.

__ADS_1


...****************...


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2