
Noushafarin merasa jantungnya akan meledak kapan saja jika hanya berduaan dengan Sadewa. Pemuda itu benar-benar membuatnya habis kesabaran. Kalau tak ingat tiket Indonesia Jerman, mungkin ia memilih untuk pulang kembali kerumahnya. Apalagi Mimi tak mempermasalahkan ganti rugi yang akan ia bayar kepada keluarga Tuan Wasesa.
Ia berkali-kali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sabar Nou...Sabar Nou...Sabar Nou
"Kau kesal padaku?" tiba-tiba Sadewa ikut duduk di bawah pohon yang rindang tak jauh dari mobil.
Tuan dan Nyonya, cepat kembali dong, rintih Nou dalam hati.
"Tidak Mas."
Dia sedang kesal.
Senyum kepuasan terlihat jelas di wajah Sadewa. "Lalu, kenapa kau membuang wajah ke arah lain saat menjawabku?"
"Saya hanya sedang menanti kedatangan Tuan dan Nyonya. Bukankah mereka akan muncul dari arah sana?"
"Penipu."
"Terserah Mas saja."
"Kok terserah aku?"
"Kan semua yang saya bilang, dianggap tidak jujur sama Mas. Jadi ya terserah Mas saja."
"Jadi maksud kamu, aku yang sering nggak jujur karena nuduh kamu. Gitu?"
Duh Gustiiiiiiiiiiiiiii... Boleh aku gigit nggak sih manusia yang satu ini??!Geregetaaaannnnnnnn!!!
"Entahlah Mas, terserah." nada bicara Nou melemah, tenaganya terkuras untuk menahan emosi.
Hening, tak ada sanggahan apapun dari Sadewa. Nou yang sedang menunduk diam-diam tersenyum, damai rasanya kalau radio rusak itu tidak bersuara.
"Arin."
Ternyata kedamaian tidak berlangsung lama. "Apalagi sih Mas?" intonasi suara Nou tetap rendah, ia masih lelah. Bahkan wajahnya terlihat lesu saat menatap Sadewa.
"Kenapa diam?"
"Memangnya saya harus bicara apa?"
"Apa saja."
"Nanti dibilang penipu lagi."
"Kamu sih sering tidak jujur."
"Kapan saya sering tidak jujur? Bukannya setiap jawaban saya memang tidak bisa Mas terima?"
"Jadi begitu saja kamu sudah nyerah dibilang penipu?"
"Ya terus saya harus gimana?"
"Ngomong apa kek gitu."
Sama saja Bambaaaanngg, kamu nggak bakal terima alasan.
"Percuma."
"Kok percuma."
__ADS_1
"Ya karena....Ahh! sudahlah." Nou memilih berdiri. Lama-lama aku bisa mati karena otak tiba-tiba berhenti berfungsi. Ini orang cocok dijadikan alat pendeteksi orang yang suka pura-pura sabar.
"Kamu mengumpat dalam hati?"
"Tidak Mas."
"Yang jujur."
Noushafarin menoleh dengan tatapan geram yang tak ditutup-tutupi. "Boleh nggak saya cekik leher anda, Tuan Muda Sadewa?"
"Galak bener. Jangan galak-galak, nanti nggak ada yang mau sama kamu."
Gggrrrrr!!! Di sebelah mana kameranya? Aku mau ngangkat tangan aja, nyerah dah pokoknya. Bisa-bisa nanti dia, aku cekik beneran.
Sadewa berusaha menahan tawa saat melihat ekspresi gadis di hadapannya. Hidung Noushafarin kembang kempis karena emosi yang membuncah, membuat napasnya memburu. Wajah memerah dengan kedua tangan terkepal di samping tubuh.
"Ar..."
"Diem nggak? Aku jejalin sendal nih. Mau kamu Mas?!" Noushafarin sampai ditahap emosi membuatnya lupa dengan siapa ia berbicara.
"Kamu tega banget sama Mas."
"Ya Masnya sendiri kayak gitu!"
"Emang Mas gimana, hmmm?"
"Rese bin...."
"Ganteng."
"Iddiihhhhh, pede amat."
"Emang Masmu ini ganteng kan."
Sadewa merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya saat Noushafarin mulai memakai bahasa tidak formal padanya. Bahkan gadis itu tidak membantah saat Sadewa memanggil dirinya sendiri 'Mas' dan 'Masmu'.
Ehhh! Masmu??? Aku bilang 'Masmu' ke Arin? Dia sadar nggak ya? Kok nggak ada bantahan.
"Arin, Sadewa, kok ada disitu?"
Akhirnya datang juga. Pekik hati Nou yang bahagia melihat kedatangan Tuan Pandu dan Nyonya Kandi. Ia bergegas membantu Tuan Pandu menata belanjaan.
"Disini adem Ma." Sadewa tersenyum tipis. "Sudah selesai? Apa yang dicari sudah dapat semua?" Sadewa mengikuti jejak Noushafarin, membantu merapikan barang.
"Iya, sudah." Sebelum Nyonya Kandi masuk ke dalam mobil, ia memperhatikan wajah Noushafarin dengan seksama.
"Arin, kamu duduk dengan saya di belakang." Tuan Pandu yang hendak masuk menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Sang Istri. Ia mengamati wajah gadis itu sesaat, kemudian berjalan menuju pintu samping kemudi.
"Baik Nyonya."
Sadewa mengerang dalam hatinya, ia tak menyukai ide Sang Mama.
"Kamu kenapa Rin? Mukanya kok merah gitu?" Nyonya Kandi mulai bertanya saat mobil bergerak meninggalkan tempat parkir.
"Ti-tidak apa-apa Nyonya."
"Kamu apain anak gadis orang Wa?"
"Nggak diapa-apain kok Ma."
__ADS_1
"Jujur."
"Bercanda dikit aja Ma."
"Kamu itu ya." Nyonya Kandi menahan diri untuk tidak menjewer telinga Sadewa karena putranya itu sedang menyetir.
"Maafkan kelakuan Sadewa ya Arin. Tenang saja, saya yang akan balaskan dendam kamu."
"Apaan sih Pa?!" heran dan takut bercampur jadi satu saat Sadewa mendengar perkataan Papanya.
"Ti-tidak perlu Tuan Besar."
"Biar saja Rin. Biar Sadewa kapok isengin kamu lagi." Nyonya Kandi mendukung rencana Tuan Pandu.
"Papa sama Mama tega."
"Lebih tega mana sama kamu?" Nyonya Kandi menowel pundak Sadewa dari arah belakang. "Lihat itu muka Arin merah seperti kepiting rebus, matanya juga berkaca-kaca. Pasti dia lagi nahan emosi."
"Masa sih Ma?" Sadewa melirik melalui spion. "Tetap im ekhmm biasa saja kok mukanya."
"Ah sudahlah, kamu siap-siap saja dapat hukuman dari Papa." tukas Nyonya Kandi.
Sementara itu, Noushafarin hanya mampu menghela napasnya diam-diam. Situasi ini membuatnya canggung, rasanya seperti menantu yang dibela mertua. Aihhhh! Pikiran apa ini???
Perjalanan pulang kali ini tak seramai saat berangkat. Faktor lelah berjalan mengelilingi pasar menjadi penyebab utama. Terlihat sesekali Sadewa melirik dari spion untuk melihat Noushafarin. Sedang gadis itu tak sedikit pun mengalihkan wajahnya dari jendela.
Apa tadi aku terlalu berlebihan menggodanya? Salah sendiri punya wajah menggemaskan. Sadewa tersenyum tipis saat kembali menatap jalanan di depan. Ia tak menyadari Papa Pandu sedang memperhatikan gerak geriknya, termasuk ketika ia curi-curi pandang melalui spion.
Setibanya di rumah, Noushafarin segera menata belanjaan di tempatnya masing-masing. Nyonya Kandi pun ikut membantunya karena banyak yang harus dibongkar dan ditata pada tempat penyimpanan.
Baru menata beberapa sayuran dan buah, Noushafarin dikejutkan dengan bunyi sesuatu yang jatuh di belakangnya.
"Nyonya!!!" pekik Nou sambil berlari menghampiri Nyonya Kandi. "Tuan! Tuan! Siapa saja! Tolong! Tolong Nyonya Kandi pingsan!"
Nou berteriak sekuat tenaga agar ada yang datang membantu. Tak lama Mang Ari datang dengan tergopoh-gopoh diikuti Siska. Dan dari arah depan Tuan Pandu dan Sadewa berlari dengan wajah diliputi kecemasan.
"Ayo, pindahkan ke ruang tengah." titah Tuan Pandu.
Mereka bahu membahu membawa Nyonya Kandi ke ruang tengah dan membaringkannya di karpet.
"Kamu bisa menolong lagi Rin?" Tuan Pandu menatap Noushafarin.
"Sebaiknya kita segera bawa ke rumah sakit saja, Tuan." jawab Nou setelah mengamati kulit Nyonya Kandi. Ada bercak kemerahan bahkan di beberapa bagian warna kulit tampak berubah kehitaman.
"Aku siapkan mobil." Sadewa segera melesat kembali ke halaman depan.
"Siska, bereskan dapur lanjutkan pekerjaan Arin. Mang Ari dan Arin ikut saya ke rumah sakit."
"Baik Tuan."
Sadewa segera melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Tora bekerja setelah sebelumnya menghubungi pemuda itu. Sejujurnya ia merasa ketakutan, namun jika ia tak bisa mengendalikan diri, maka mereka tak akan sampai di rumah sakit dengan selamat.
Setelah 30 menit mereka sampai di rumah sakit yang memang tak terlalu jauh dari kediaman keluarga Wasesa. Nou merasa was-was, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Yang terjadi biar terjadilah, gumam gadis itu dalam hatinya.
Sebuah brankar telah menunggu kedatangan mereka, Dokter Tora dan beberapa perawat tampak bersiaga di kedua sisi benda tersebut. Begitu mobil berhenti, dengan sigap mereka menolong dan membawa Nyonya Kandi ke dalam ruang UGD.
Noushafarin berlari menyusul masuk ke dalam gedung, matanya dengan liar melihat ke segala penjuru. Ini akhir pekan, biasanya dia ikut berjaga di UGD.
Matanya menangkap sesosok tubuh berbalut baju berwarna biru tua dilengkapi jas putih yang panjang. Nou segera berlari menuju gadis itu dan menyeretnya ke tempat yang sepi dan tidak terjangkau CCTV.
__ADS_1
"Sakit, siapa ka...Nou! Noushafarin! beneran ini kamu?!"
...****************...