Noushafarin

Noushafarin
Bab 25


__ADS_3

Menjelang malam, hasil pemeriksaan Nyonya Kandi sudah keluar. Dokter Haikal menunggu Dokter Tora dan Dokter Tatiana di ruangannya.


"Masuk!" serunya saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.


"Selamat malam Dokter."


"Masuklah Dokter Tatiana."


"Dokter mencari saya?"


"Iya, ini hasil pemeriksaan Nyonya Srikandi." kata Dokter Haikal sembari memberikan sebuah berkas.


"Kenapa Dokter memberikan berkas ini kepada saya?"


"Bukan kepadamu. Tapi kepada orang yang memintamu melakukan pemeriksaan, Sang Dokter rahasia."


Tatiana tersenyum kikuk. "Dokter sudah tahu?"


"Aku tidak tahu, hanya menduga. Yang memintamu pasti orang yang paham tentang situasi ini."


"Ya, dia pernah berada di bawah bimbingan seorang Dokter hebat yang mendalami penyakit akibat keracunan bahan kimia."


Dokter Haikal mengangguk. "Tolong rahasiakan ini. Walaupun dirimu keponakan pemilik rumah sakit, tetap saja tidak bisa membocorkan rahasia pasien begitu saja."


"Saya percaya dia akan membaca dan segera membuangnya. Sekali lagi terima kasih Dokter." Tatiana tersenyum. "Saya akan mengosongkan jadwal akhir pekan minggu depan."


"Tentu, jangan lupa janjimu."


Tatiana keluar dari ruangan Dokter Haikal dengan tergesa-gesa. Saat ia berbelok arah menuju ke koridor lain, dari arah belakang Tora bersama Pandu dan anak kembarnya melangkah menuju ruangan Dokter Haikal.


"Masuk!" seru Dokter Haikal pada Si Pengetuk Pintu. Syukurlah, Tatiana sudah pergi. Gumamnya sambil diam-diam menghembuskan napas lega karena Tora tak bertemu Tatiana.


"Selamat malam Dokter."


"Selamat malam, mari silahkan duduk." Haikal mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa panjang depan meja kerjanya. Ia duduk setelah dilihatnya tamu-tamu itu duduk dengan nyaman.


"Baiklah, Tuan Pandu. Saya tidak akan berbasa basi lagi. Ini adalah hasil pemeriksaan Nyonya Srikandi." ujarnya seraya memberikan berkas hasil pemeriksaan. "Hasilnya terdapat racun arsenik dalam darah Nyonya yang sudah mempengaruhi kerja lambung, hati dan ginjal."


Tuan Pandu, Nakula dan Sadewa terperangah, sungguh sebuah berita yang menyakitkan.


"Ar-arsenik dokter?" Tuan Pandu tak percaya.


"Ya, racun arsenik." wajah Dokter Haikal tetap datar saat menjelaskan. Baginya, setiap tamu yang ada didepannya berpotensi sebagai pelaku pemberi racun. "Ini bukan arsenik yang memang terkandung dalam beberapa jenis bahan makanan, ini adalah jenis racun buatan."


"Dilihat dari kerusakan organ, pemberian racun ini sedikit demi sedikit tapi konsisten setiap hari dalam jangka waktu tertentu. Mungkin sekitar 8 sampai 12 bulan."


"Maksud anda, Mama saya sengaja diracuni. Begitu Dokter?" suara Sadewa terdengar bergetar.


"Dengan berat hati, saya mengatakan. Ya, Nyonya Srikandi diracuni." Dokter Haikal memperbaiki kacamatanya. "Tujuannya agar Nyonya mengalami sakit dan mungkin saja pelaku ingin Nyonya meninggal tapi seperti kematian yang wajar. Meninggal karena sakit."


"Bagaimana mungkin." pundak Tuan Pandu merosot, ia lunglai di tempat duduknya.


"Kemungkinan besar lewat makanan dan minuman." Dokter Haikal berujar sambil meneliti wajah orang-orang di depannya.


"Walau di rumah kami mempekerjakan ART, tapi Mama selalu turun tangan jika menyangkut makanan." Sadewa menerawang, pikirannya kalut. Ada pembunuh di dalam rumah mereka dan semua bisa menjadi tersangka.


"Dokter, tolong rahasiakan ini. Kalau pelaku mengetahui Mama sudah diperiksa, ia akan waspada atau bahkan menyerang anggota keluarga lain secara brutal. Biarkan kami mengurus pembunuh itu." Nakula terlihat menahan amarahnya.


"Naku, pergilah temui detektif swasta sahabatmu itu, untuk menyelidiki semua orang di dalam rumah. Periksa latar belakang mereka." perintah Pandu.


"Baik Pa." Nakula kemudian pergi dan melaksanakan perintah Papanya.


"Lalu, bagaimana kondisi istri saya, Dokter? Apakah bisa disembuhkan?" Tuan Pandu menatap Dokter Haikal dengan penuh harap.


"Tentu bisa, Tuan. Belum terlambat untuk menyembuhkan Nyonya."


"Kalau begitu, saya menyerahkan semua ke tangan anda, Dokter. Kau juga Tora, tolong selamatkan istriku."


"Iya Om, saya akan membantu Dokter Haikal."

__ADS_1


"Kalau begitu, kami permisi, Dokter." Tuan Pandu menjabat tangan Haikal, wajahnya terlihat terguncang dan lelah.


Sadewa menuntun Papanya keluar dan menuju ruang perawatan VVIP, tempat Nyonya Kandi dirawat. Sementara Tora masih tinggal di dalam ruangan Haikal.


"Kau mencurigai mereka, iya kan Dokter." Tora menatap lurus-lurus ke dalam mata Dokter Haikal.


"Tentu saja, kau pikir bagaimana racun itu bisa konsisten diberikan kalau bukan orang terdekat?"


"Saya jamin, bukan salah satu diantara mereka."


"Lalu?"


"Saya rasa menantu atau salah satu ART mereka."


"Menantu?"


"Ya, Nakula sudah menikah."


"Yang mana?"


"Itu, yang tadi pergi lebih dulu."


"Ooo, yang itu." Dokter Haikal terdiam sesaat. "Baiklah, mari kita bicarakan tentang pengobatan Nyonya Kandi saja."


Sementara itu, di salah satu sudut rumah sakit...


"Jadi dugaanku benar."


"Demi apapun juga, pergilah dari rumah itu sekarang juga. Kalau hanya tiket ke Jerman, aku akan membelikannya untukmu."


"Tidak bisa kak." ucap Nou sambil membakar kertas yang diberikan Tatiana kepadanya.


"Kenapa?"


"Aku penasaran, siapa pelakunya." Nou meringis saat melihat Tatiana membulatkan mata dan kemudian menjentikkan jari di dahinya. "Aiiisssshhh, sakit kak." Nou mengusap dahinya.


"Penasaran bisa membuatmu kehilangan nyawa. Jangan gila Nona Armani!" hardik Tatiana


Tatiana memijat pelipisnya, ia merasakan kepalanya berdenyut melihat setiap tingkah adik sepupunya ini.


"Apakah Kak Darian menanyakanku?"


"Dia belum pulang, ada pekerjaan di Sumatera."


"Ooooo."


"Pulanglah Nou."


Noushafarin menghela napas. "Aku tidak bisa kak, kontrakku...."


"Kita kan bisa membayar kerugian Mimi."


"Aku tahu."


"Lalu?" Tatiana tak mengerti jalan pikiran Noushafarin. "Jangan-jangan kau jatuh cinta dengan salah satu Tuan Muda itu." pandangan Tatiana menyelidik.


"Ti-tidak begitu." Nou menggoyang-goyangkan kesepuluh jarinya di depan dada.


"Ah terserahlah. Aku mau pulang saja." Tatiana baru berjalan beberapa langkah saat ia berbalik lagi. "Gara-gara permintaanmu aku harus makan malam bersama Dokter Haikal minggu depan."


"Hmmphhhh..." Nou menahan mulut dengan kedua tangannya agar tak tertawa. Wajah Tatiana saat ini sangat menakutkan, lebih baik tidak membuat masalah baru.


"Aku akan menagih ganti ruginya!"


"Baik bos." Nou memberi hormat sambil menahan tawa.


......................


Nou duduk di depan ruang perawatan Nyonya Kandi sedang Mang Arin pergi mengambil makanan yang dipesan secara daring.

__ADS_1


"Arin, masuklah ke dalam." Tuan Pandu membuka pintu dan memerintahkan Noushafarin untuk masuk.


"Permisi Tuan." Nou berbungkuk saat melewati Tuan Pandu.


Nyonya Kandi sudah siuman sejak tadi, namun karena kepalanya terasa sangat berat, ia memutuskan tetap memejamkan mata.


"Kau tidak membawa baju ganti?"


Nou mengernyit heran. "Tidak Tuan."


Pandu berpikir sejenak sambil memegangi dagunya. "Hmm, baiklah kalau begitu. Malam ini tolong temani Nyonya. Saya ada sedikit urusan di rumah. Bisa kan?"


"Bisa Tuan."


"Syukurlah." Tuan Pandu tersenyum lega. "Kita tunggu Mang Ari dulu. Setelah makan baru kita pergi." ia berujar sambil menatap Sadewa.


"Iya Pa."


"Nghhh." Nyonya Kandi bergerak sambil memegangi kepalanya


"Mama." Tuan Pandu dan Sadewa segera mendekat.


"Masih sakit?" Pandu membelai kepala istrinya kemudian mengecup berulang kali.


"Sudah lebih baik." senyuman manis Kandi mengembang sempurna. "Mama lapar, Pa."


"Baiklah, Papa akan menyuapi Mama."


Pria paruh baya itu segera mengambil bubur dan menyuapi istrinya. Sesekali ia mengecup tangan wanita yang sudah menemaninya selama 29 tahun itu dengan penuh kasih.


Kemesraan Tuan Pandu dan Nyonya Kandi membuat Noushafarin tersenyum, saat ia memalingkan wajah, matanya bertemu pandang dengan Sadewa. Pemuda itu membuat gerakan tangan agar Nou mendekat.


"Kenapa senyum-senyum?" ia setengah berbisik saat bertanya.


"Ti-tidak apa-apa Tuan."


Sadewa mengangkat salah satu alisnya. "Benarkah? Bukan karena kau juga ingin disuapi seperti itu?"


"Tidak Tuan, saya tidak menginginkan itu."


"Tapi aku ingin menyuapimu."


"Tuan mengharapkan saya sakit? Kejam!"


"Apa?"


"Iya, Nyonya Kandi disuap karena sakit. Anda ingin menyuapi saya, berarti anda mengharapkan saya sakit kan."


"Ya ampun." Sadewa mengusap wajahnya dengan kasar. "Buk...."


"Selamat malam Tuan." Mang Ari masuk sambil membawa makanan yang sudah dia ambil dari kurir.


"Selamat malam Mang. Diatur di meja sini saja ya Mang."


"Baik Tuan."


Noushafarin berinisiatif mendekati Tuan Pandu. "Tuan, makanan sudah datang. Ijinkan saya menyuapi Nyonya agar Tuan bisa makan."


"Kamu saja yang duluan makan Rin."


Nyonya Kandi menyentuh tangan suaminya. "Makanlah, kau perlu tenaga ekstra bukan?"


"Hahhhhh.... Baiklah." Tuan Pandu tersenyum dan menyerahkan tempat makan istrinya pada Noushafarin. "Maaf merepotkanmu, Arin."


"Tidak apa-apa, Tuan. Sudah kewajiban saya."


Sadewa memperhatikan interaksi kedua orang tuanya bersama Noushafarin dan mengulas senyum bahagia. Hatinya terasa hangat melihat hal itu.


...****************...

__ADS_1


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2