
"Wa, kamu yakin nggak mau pasang di ruangan lain juga?" Tora sedang membantu Teknisi merapikan peralatan.
"Tidak perlu, Papa merasa belum waktunya."
"Nunggu ada yang celaka dulu?"
Sadewa menatap Tora dengan kesal. "Kau berharap ada yang akan celaka di rumah ini?"
Tora terkekeh. "Tentu saja tidak, aku kan hanya mengingatkan."
"Sudahlah, aku mau pulang." imbuhnya setelah semua peralatan sudah selesai dibenahi.
Sadewa mengantar tamunya ke pintu utama setelah memberi imbalan pada Sang Teknisi.
"Eh, ada Arin." Tora sumringah melihat Arin yang sedang membersihkan teras. Saat matahari masih menjalankan tugasnya, pekerjaan gadis itu seakan tidak pernah selesai, karena lantai 1 rumah itu harus selalu terlihat bersih.
"Tuan." Arin menghentikan pekerjaannya dan menunduk.
"Kamu tipe cewek idaman banget sih Rin. Udah cantik, rajin kerja lagi."
Sadewa memutar bola matanya mendengar pujian yang Tora lontarkan. Namun kemudian ia melirik Arin. penasaran dengan reaksi gadis itu. Betapa leganya ia melihat Arin bersikap datar, bahkan tak tampak guratan bahagia sedikit pun atas pujian Tora.
"Saya hanya melakukan tugas saya, Tuan." sahut Arin datar. Ia diam di tempat, karena tidak sopan melanjutkan pekerjaan saat ada tamu majikan yang berdiri disitu.
Tora kecewa, ia berharap bisa membuat Arin tersipu malu. Pemuda itu semakin kaget karena Sadewa sudah menarik lengannya untuk menyusul Teknisi yang sudah lebih dulu menuju mobil mereka.
"Apaan sih?!" Tora sebal menatap tangan Sadewa kemudian beralih memandang wajah kembaran Nakula itu.
"Katanya tadi mau pulang." Sadewa terus menyeret temannya.
"Bye Arin cantik." sempat-sempatnya pemuda itu berpamitan dan mengerling pada Arin.
"Hei, aku bisa jalan sendiri." Tora menepis tangan Sadewa dengan kasar. "Kau ini kenapa sih?"
"Katanya mau pulang, aku hanya mempercepat waktumu saja." sahut Sadewa acuh.
"Bilang saja kau tak suka aku menggoda Arin."
"Memang."
Tora berbalik sebelum membuka pintu mobil. "Kau benar-benar serius dengan ucapanmu tempo hari?"
Sadewa diam saja tak bereaksi sedikit pun, dan itu dianggap Tora dengan jawaban iya atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Dasar narsis." desisnya geram. "Kau akan menyesali perbuatanmu dan berharap bisa memutar waktu." Sadewa hanya tersenyum kecut mendengarkan peringatan keras yang dilontarkan Sang Dokter Muda.
Sepeninggal Tora, Sadewa mengamati Arin dari jauh. Sepertinya Arin memang bukan gadis yang mudah tertarik pada lawan jenis. Sekalipun Tora sudah memberikan makanan favoritnya, hal itu tak lantas membuat Arin tersipu atas pujian Tora.
Noushafarin bukan tak menyadari Sadewa sedang memperhatikannya, namun ia merasa tak perlu menanggapi atau terganggu dengan kehadiran Tuan Mudanya itu. Yang ada dalam pikirannya hanya kerja yang benar, kumpulin uang, lalu balik Jerman. Yahh sesederhana itu.
Pekerjaan Arin di teras sudah selesai. Ia membereskan peralatan dan kembali ke belakang dengan cara memutar lewat halaman. Sekalipun ia bertugas di dalam rumah utama, tak lantas membuatnya sering mondar-mandir di dalam meskipun untuk sekedar lewat.
Gadis itu tahu benar posisinya, dan sepertinya Mimi tak salah saat mengatakan Nou sangat mendalami perannya.
"Biar aku membawanya." Noushafarin terkejut Sadewa sudah memegangi peralatannya, rupanya pemuda itu menyusul.
"Jangan Tuan, ini tugas saya." gadis itu menolak dan mempertahankan peralatannya.
"Aku tak suka dibantah!" desis Sadewa.
"Tuan Muda, tolong jangan menempatkan saya di posisi untuk menerima hukuman." wajah gadis itu memelas, ia bahkan menatap Sadewa. "Ini adalah pekerjaan saya, saya dibayar untuk melakukannya."
"Memangnya kenapa kalau aku ingin membantumu?"
"Tuan, saya disini untuk membantu keluarga Tuan menyelesaikan pekerjaan, bukan untuk menerima bantuan."
"Kau ini keras kepala ya rupanya."
"Maaf Tuan."
Tanpa ia duga, Sadewa mengulurkan tangan dan hendak menyeka keringat di dahinya. Sontak Nou menjauhkan kepalanya dari jangkauan Sadewa.
"Kenapa?!"
"Ti-tidak Tuan." Nou cepat-cepat mengangkat peralatannya dan pergi. Ia terkejut Sadewa hendak menyentuh wajahnya.
"Bahkan kau tidak mengijinkanku menyeka peluhmu?!"
Ya ampun, Tuan Muda ini kesambet apaan sih. Ingin rasanya ia bertanya seperti itu. "Saya bisa melakukannya sendiri, Tuan Muda. Permisi."
Sadewa diam, kali ini ia tidak menyusul ART itu. Dari reaksi Arin, nampaknya dia lebih risih didekati seperti ini dari pada dimarah. Kasar, salah, lembut juga salah. Semakin menantang.
Akhirnya Sadewa berbalik arah kembali ke depan. Saat itulah ia melihat mobil kantor berhenti dan Nakula keluar dengan wajah murung. Sadewa gegas menghampiri kembarannya.
"Ada apa?"
"Aku tak fokus bekerja." sahut Nakula lesu.
__ADS_1
"Ikut aku." Sadewa menarik tangan Nakula kembali masuk ke mobil tadi. Pak sopir yang hendak turun sontak mengurungkan niatnya. Sadewa memerintahkan sopir untuk membawa mereka ke sebuah restoran makanan laut di kawasan PIK.
Nakula diam saja, ia tak niat bertanya mengapa Sadewa mengajaknya keluar. Ia tahu, saudara kembarnya itu pasti mengkhawatirkan kondisinya. Sepanjang perjalanan mereka berdua diam, Nakula enggan berbicara dan Sadewa enggan memaksanya.
Setibanya di tempat tujuan, Sadewa memerintahkan sopir untuk pulang. Karena tujuan mereka bukan lagi kepentingan kantor. Mereka memasuki area restoran dan mengambil tempat yang cukup sepi, jauh dari perhatian banyak orang.
Sadewa menyebutkan pesanannya tanpa bertanya pada Nakula. Karea ia sudah hafal kegemaran saudaranya itu setiap meteka makan di tempat ini.
Suasana diantara mereka masih sama, hening. Tak ada percakapan meski sekedar basa basi. Hingga pelayan datang membawakan minuman dingin untuk mereka berdua.
"Hhhhh.." Nakula menghela napas berat kemudian menyesap minumannya. "Aku mencurigai Anjani."
Tanpa bertanya akhirnya Sadewa tahu sumber kerisauan saudara kembarnya. Ia tahu benar, segigih apapun bertanya, namun jika Nakula belum ada keinginan untuk bercerita, pria itu akan tetap bungkam seribu bahasa. Jadi biarkan dia dengan pikirannya, dan tetap awasi. Karena perlahan ia sendiri yang akan membuka penyumbat mulutnya.
"Apa yang membuatmu mencurigai istrimu sendiri?" Sadewa memicingkan mata. Tak mungkin papa atau mama menceritakan pembicaraan kami waktu itu.
"Berkas penawaran itu sudah aku salin di sebuah flashdisc. Aku berencana mencetaknya di kantor. Namun hari itu aku lupa membawanya, jadi aku memintanya menitipkan pada Mama." Nakula kembali menyesap minumannya, ia merasa tenggorokannya menjadi sangat kering.
"Namun saat Mama datang ke kantor, Mama tidak membawa flash yang aku pesan. Alasan Anjani dia lupa menitipkannya. Kemudian ia meminta Arin untuk mengantarkan ke kantor."
"Aku sudah bertanya pada Arin. Gadis itu berkata Anjani memberikan flash saat ia sudah duduk di mobil. Dan alasan Anjani tak bisa mengantarnya sendiri karena ada keperluan mendadak."
Nakula terdiam, ia kemudian menunduk dan mulai memijit pelipisnya. Memikirkan istrinya tega mengkhianatinya benar-benar menyesakkan dada dan membuat kepala terasa berat.
"Tapi itu tak membuktikan Anjani mengkhianati kita." Sadewa mencoba meringankan beban Nakula dengan menghalau pemikiran negatif. "Tidak ada bukti dia menyebarkan berkas penawaran ke pesaing kita."
"Memang, tapi bisa saja kan."
"Kalau begitu, bisa juga Arin atau Inah yang melakukannya."
"Maksudnya?"
"Arin sempat memegang flashdisc itu, Inah sering membersihkan ruang kerja." Sadewa memberi opsi lain yang masuk akal, jika ingin mencurigai orang kenapa hanya Anjani.
"Itu mustahil." Nakula tersenyum kecut.
"Mustahil juga Anjani yang melakukannya. Dia adalah keluarga kita. Sekalipun dia berkhianat, kita tidak bisa sembarang menuduh tanpa ada bukti yang jelas."
Nakula terdiam, ia merenungkan ucapan Sadewa. Seorang pelayan datang kembali dengan membawa pesanan mereka.
"Terima kasih." ucap Sadewa pada pelayan itu. "Ayo makan dulu."
Nakula mengangkat wajahnya, di meja telah dihidangkan makanan laut favoritnya. Semuanya sangat menggoda dan menggugah selera.
__ADS_1
"Terima kasih sudah memesannya untukku." ujarnya tulus pada Sadewa. Pemuda itu hanya tersenyum tipis dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
...****************...