Noushafarin

Noushafarin
Bab 43


__ADS_3

Darian menatap Miranti yang masuk ke dalam rumahnya dan tersenyum kecut. Ajakannya untuk menikah ditanggapi sebagai lelucon oleh sahabat adiknya. Miranti bahkan tertawa terpingkal-pingkal.


Pemuda itu menghela napas dan melajukan mobilnya untuk pulang. Ia tidak mengetahui kalau Miranti sedang mengintip dari balik tirai.


"Kak Darian kejam, tega sekali mempermainkan perasaanku." Miranti bergumam sambil memegangi dadanya. "Apa dia nggak takut aku baper?"


Miranti menuju kamarnya dengan langkah gontai. Namun baru beberapa langkah terdengar suara bel. Gadis itu segera berbalik dan membuka pintu.


"Eh, Kak?"


"Baju kamu ketinggalan." Darian menyodorkan paper bag berisi baju.


"Ya ampun, maaf kak. Aku lupa." Miranti meringis.


Darian mengusap kepala Miranti dengan gemas. "Kamu ini."


"Masuk dulu kak."


"Tidak, terima kasih." Darian tersenyum lembut. "Aku pergi."


"Hati-hati di jalan ya kak."


Darian hanya tersenyum dan melambai sebelum masuk ke dalam mobil.


Malam harinya Tatiana menjemput Miranti, mereka akan menghadiri acara ulang tahun seorang kolega keluarga Armani. Ia adalah seorang tokoh masyarakat terkemuka yang memiliki banyak relasi, jadi akan banyak pengusaha sukses yang menghadiri pesta malam ini.


"Pak, tolong stand by di mobil ya. Saya takut pas acara ada panggilan darurat." Tatiana mengingatkan sopir pribadinya.


"Iya Nona."


"Kalau ada keadaan darurat, aku gimana dong kak?"


"Ya pulang aja sama Darian."


"Lagi?!" Miranti membulatkan matanya, sedang Tatiana dengan santainya mengangguk.


"Yuk ah, Darian sudah nunggu tuh." Tatiana menunjuk pemuda tampan yang memakai tuksedo berwarna hitam legam.


Penampilan Darian membuat Miranti tak berkedip memandangnya.


"Jangan lupa bernapas Mi." Tatiana menyenggol lengan Miranti dan terkekeh geli.


"Eh, i-iya Kak."


Keduanya lantas menghampiri Darian yang tengah berbincang dengan Ayahnya, Tuan Bardia.


"Apakah kami lama?"


"Tatiana." Bardia memeluk keponakannya itu. "Terima kasih sudah mau menemani kami."


"Tentu."


"Miranti, kamu cantik sekali nak." Bardia meraih tangan Miranti dan menepuk punggung tangan gadis itu.


"Halo Om."


"Dia luar biasa, bukan?" Bardia menatap Darian yang sedari tadi terdiam melihat kedatangan Miranti.


Tuan Bardia tersenyum penuh arti karena tatapan kedua muda mudi itu telah saling mengunci. Perlahan Bardia menyerahkan tangan Miranti yang ia pegang kepada Darian.


Mungkin karena terbawa suasana, Darian menggenggam tangan itu dengan lembut. Kemudian ia mendekatkan bibirnya dan mengecup punggung tangan Miranti disertai mata yang tak putus membalas tatapan gadis di hadapannya.


"Terima kasih mau menemaniku malam ini."


Sontak wajah Miranti memerah sepenuhnya, gadis itu tersipu malu namun membiarkan tangannya tetap dalam kuasa Darian.


"Sa-sama-sama ka-kak."


Tatiana yang menyaksikan itu tersenyum dan mengacungkan jempol kepada Bardia. Keempatnya lantas memasuki ballroom untuk menyapa Tuan Rumah pesta.

__ADS_1


Di sisi lain, Nakula dan Sadewa yang sudah lebih dulu tiba tampak berbincang dengan kenalan mereka. Hingga akhirnya suara seorang gadis merusak mood Sadewa.


"Sadewa." gumam gadis itu pelan. Sadewa hanya diam menatap. "Hai." lanjut gadis tadi dengan senyum manisnya.


"Hai." Sadewa membalas dengan enggan. Sementara kolega mereka tadi sudah berpamitan ingin bertemu yang lain.


"Aku haus." tiba-tiba Nakula pun pergi tanpa sempat ditahan Sadewa.


"Malam ini kamu semakin tampan saja."


"Terima kasih, Farida."


Ada kerutan samar di dahi Farida, Sadewa tak membalas dengan pujian untuknya. Diam-diam Farida menatap penampilannya.


Apa ada yang kurang? Padahal aku sudah berdandan secantik mungkin.


Ingin rasanya Sadewa pergi sembunyi dari Farida, namun demi menjaga tata krama, hal itu urung ia lakukan.


"Eummm, Sadewa." Farida membuat suaranya terdengar semanja mungkin.


"Ada apa?." jawab Sadewa datar.


"Besok aku akan membawakan bekal makan siang untukmu."


"Tidak perlu."


"Kenapa?"


"Mama sudah menyiapkannya."


"Besok biar Tante istirahat saja."


"Tidak, aku hanya ingin masakan Mama. Jangan merepotkan dirimu."


"Aku tidak merasa direpotkan."


Farida bingung, Sadewa tak ingin mengobrol dengannya. Dan gadis itu sebenarnya sadar, Sadewa bertahan disana karena tata krama saja. Ia tak ingin membuat Farida merasa malu karena lebih dulu menghampiri lawan jenis namun kemudian ditinggalkan.


"Kamu membenciku?" tiba-tiba suara Farida terdengar sedih.


"Tidak." sayangnya Sadewa tidak peduli, nada bicaranya tetap sama.


"Ini yang namanya setia?" Sadewa menoleh dengan cepat ke arah Darian dan Miranti yang sudah berdiri di belakangnya.


"Dia bukan kekasihku." Sadewa mengerti maksud perkataan Darian. "Aku akan membuktikan ucapanku."


Darian tersenyum sinis. "Terserah kau saja." ucapnya sambil membawa Miranti melewati keduanya.


Sedang Farida, bola matanya seperti akan keluar saat melihat wajah tampan Darian.


"Temanmu tampan sekali." Farida bergumam tanpa sadar.


Sadewa memutar bola matanya dengan malas. Tak lama kemudian Nakula menghampirinya.


"Dia masih hidup?" bisik Nakula.


Sadewa menoleh dengan cepat dan menatap kembarannya dengan alis bertaut.


"Memangnya aku apa?"


"Aku pikir kau sudah memutilasinya karena kesal."


"Rencananya."


"Tapi?"


"Ibunya sedang mengawasi, arah jam 2." bisik Sadewa sambil membuang pandangan ke arah lain.


Nakula mengikuti petunjuk Sadewa. "Mana? Tidak ada."

__ADS_1


Sadewa melihat Nakula lagi. "Bukan jam 2 arah itu, ikuti posisiku." geram Sadewa.


Nakula memposidikan tubuh seperti Sadewa dan mengukuti arah jam. Benar saja, disudut sana seorang wanita sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya namun sesekali ia melirik ke arah Sadewa dan Farida.


"Kenapa Papa bisa punya teman seperti itu?"


"Teman Papa itu suaminya, bukan dia."


"Kalian bisik-bisik apa? Sepertinya seru sekali." Farida berpindah tempat dan berdiri diantara dua saudara itu.


"Bukan apa-apa." sahut keduanya cepat.


"Aku ke toilet dulu."


Sadewa dan Nakula mengangguk.


"Tak ingin mengantarku?"


Pertanyaan itu membuat anak kembar tersebut berpandangan.


"Tolong antarkan nona ini ke toilet." ucap Nakula pada seorang pelayan yang baki minumannya telah kosong.


"Baik Tuan. Silahkan Nona, mari ikut saya." ujar pelayan tadi dengan ramah.


Farida menatap Sadewa dengan kesal, namun ia akhirnya pergi juga.


"Dia itu godaan atau cobaan?" Sadewa bergumam.


"Entahlah, biasanya godaan dan cobaan itu satu paket. Namun kali ini cobaan datang sendiri." jawab Nakula sekenanya.


"Selamat malam Nakula, Sadewa."


Keduanya lantas menoleh dan memaksakan seulas senyum. "Selamat malam Nyonya."


"Farida kemana?"


"Ke toilet, Nyonya." jawab Sadewa.


Nyonya Fitri mengangguk-angguk. "Farida cantik kan, Nak Sadewa."


Nakula dan Sadewa berpandangan sejenak. "Iya Tante." jawab Sadewa datar, suaranya tak terdengar ramah seperti semula.


"Bagus, kalau gitu cocok sama Sadewa." Fitri tersenyum senang.


"Cocok?" Nakula mengernyit.


"Iya, cocok jadi kekasih." Nyonya Fitri tertawa kecil sambil membuka kipas untuk menutup wajahnya.


"Maaf Nyonya, saya sudah punya kekasih." Sadewa berkata jujur. Sekali pun saat ini Noushafarin tidak ingin berbicara kepadanya, namun hubungan keduanya tetap belum berakhir.


Nyonya Fitri menutup kipas dengan kesal. "Aku yakin kekasihmu itu tidak secantik putriku."


Nakula dan Sadewa mengangkat salah satu alisnya.


"Aku akan berbicara dengan orang tua kalian untuk mengatur perjodohan Sadewa dan Farida." imbuhnya lagi. "Dan aku akan pastikan orang tua kalian lebih memilih Farida dibanding kekasihmu saat ini."


"Maaf Tante, jangan buang-buang tenaga." kata Sadewa menahan marah mendengar Noushafarin direndahkan secara tidak langsung.


"Kenapa? Takut kalau perkataanku benar?" Fitri tersenyum sinis. "Kalau dia memang gadis yang lebih cantik dan keluarga selevel dengan kalian, mana dia? Kenapa tidak ikut di pesta ini?"


Sadewa menarik napas dalam-dalam. "Tante, tolong jangan jualan anak di tempat ini." ucap Sadewa sebelum melangkah pergi diikuti oleh Nakula.


Nyonya Fitri merasa kesal dengan ucapan Sadewa. Ia sampai memukul-mukul telapak tangannya menggunakan kipas.


Sialan! Siapa gadis yang menajadi kekasih Sadewa? Aku harus mencari tahu dan menghancurkan keluarganya agar Sadewa meninggalkannya.


...****************...


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2