
Keluarga Wasesa tidak menuntut Farida atas kekacauan yang dilakukan gadis itu di ruangan Sadewa. Semua itu dilakukan Pandu demi menjaga hubungan baiknya dengan Bowo. Sebab menurut Pandu dan Srikandi, tindakan Fitri dan Farida dilakukan tanpa sepengetahuan Bowo.
Selain itu, mengingat kesehatan Fitri dan Bowo yang belum pulih benar. Sadewa pun menyetujui tindakan kedua orang tuanya. Namun dengan perjanjian, Farida dilarang mendekati Sadewa Wasesa.
Sedangkan Della, setelah keluar dari rumah sakit, ia segera menggugat cerai Salton. Karena stres yang dialami, menyebabkan Della kehilangan janin dalam kandungannya.
"Nou pasti kecewa." ucap Darian setelah mendengar penuturan Sadewa. "Dia ingin sekali memberi efek jera pada Farida."
Sadewa mengulum senyum, ia cukup mengerti jika kekasihnya berpikiran seperti itu. Gadis mana yang tidak marah jika kekasihnya digoda, dan ia sendiri dipermalukan.
"Aku akan menjelaskan sendiri hal ini pada Nou."
"Sebaiknya memang begitu. Dan lebih bagus lagi kalau orang tuamu ikut menjelaskan kepadanya." Darian menyesap kopi yang ia pesan.
Sadewa mengangguk-angguk, ia menatap sekeliling kafe. "Ngomong-ngomong, kemana mereka berdua? Kenapa lama sekali?" tanya Sadewa saat tak kunjung melihat sosok Noushafarin dan Miranti.
Darian tertawa kecil. "Jangan dicari, jika sudah lelah mereka akan datang sendiri."
"Apakah Nou sering seperti itu?"
"Tidak, Noushafarin akan membeli barang yang ia cari dan langsung pergi. Namun lain halnya dengan Miranti." Darian tersenyum geli.
"Sepertinya kamu sudah hapal betul dengan kebiasaan calon istrimu, Kakak Ipar." goda Sadewa.
"Yahhh, itulah kelebihannya menjalin hubungan dengan orang yang dekat dengan keluarga kita. Baik buruknya dia, sudah aku ketahui. Dan begitu pun sebaliknya."
Sadewa hanya mengangguk dan tertawa kecil.
Di lain tempat, Noushafarin dan Miranti sedang memesan gelato.
"Bagaimana hubunganmu dengan Sadewa?" Miranti menatap dengan penasaran.
"Sejauh ini baik-baik saja. Kami berhasil melalui beberapa masalah dengan baik." Nou tersenyum hangat.
"Aku turut bahagia." Miranti menepuk pelan bahu Nou.
"Terima kasih. Aku belajar banyak hal berkat dirimu."
Miranti mengangkat alisnya. "Kenapa berkat diriku?"
"Karena berkat dirimu, aku merasakan jatuh cinta dan memiliki kekasih. Kemudian aku belajar, tidak selamanya apa yang kita dengar dan lihat adalah sebuah kebenaran." tatapan Nou sedikit menerawang.
"Terlebih lagi jika hanya sebagian saja yang kita dengar dan lihat." imbuh Nou seraya tertawa kecil.
"Wah wah, aku jadi bingung mau merasa bangga atau bersalah." Miranti terkekeh pelan.
Noushafarin tertawa mendengar penuturan sahabat yang tidak lama lagi akan menjadi Kakak Iparnya.
Tak lama kemudian pesanan mereka sudah siap. Nou dan Miranti segera menerimanya dan bergegas pergi menemui kekasih mereka.
"Aku yakin Mas Sadewa sudah jenuh." Nou tersenyum geli membayangkan wajah Sadewa.
"Kalau Kak Darian sudah hafal dengan kebiasaan kita."
__ADS_1
"Aku kira akan mendengarmu memanggil sayang pada Kakakku." Nou menyenggol lengan Miranti untuk menggodanya.
"Akan aku lakukan kalau tidak ada dirimu." cibir Miranti.
"Huuuu, tidak seru."
Keduanya tertawa dan saling menggoda selama berjalan menuju Kafe tempat Sadewa dan Darian menunggu.
Satu Bulan Kemudian...
"Bunda, katanya acara Kak Darian hanya sederhana. Tapi kenapa baju kita sebanyak ini?" Noushafarin menatap empat gaun berbeda model dan warna yang dibawa ke kamarnya.
"Sudah, kamu tinggal pakai saja, nggak usah banyak tanya." ucap Bunda yang sedang memeriksa beberapa perhiasan yang datang bersama gaun-gaun itu.
Noushafarin duduk di ujung kasurnya sambil menatap Bunda. "Tapi kan mubazir Bunda."
Bunda menghentikan aktifitasnya. "Tidak ada yang mubazir Nou. Semua ada tujuannya."
"Jadi akan ada beberapa rangkaian pesta, begitu?"
Bunda mengangguk. "Iya sayang."
Noushafarin hanya menghela napas. "Aku mau lihat dekorasinya." ucap Nou sambil melangkah meninggalkan kamarnya.
Sementara Noushafarin melihat kesibukan di rumahnya, smartphone miliknya berbunyi. Ia tersenyum saat mengangkat panggilan video dari Sadewa.
"Hai Mas." sapa Nou sambil menampilkan senyum terbaiknya.
"Hai sayang. Mas rindu." ucap Sadewa sambil mengubah posisi duduknya.
"Mungkin dalam beberapa hari ini." Jawab Sadewa dengan tatapan sendu.
"Apakah semua pekerjaan disana lancar?" Nou duduk di kursi yang berada di tepi kolam ikan.
"Hmm, lancar." Sadewa terlihat tersenyum tipis. "Bagaimana persiapan untuk acara besok?"
"Semua lancar." Nou bangkit dari duduknya dan mengubah mode kamera menggunakan kamera belakang. Ia berjalan menunjukkan kesibukan yang terjadi di halaman belakang.
"Mereka sedang mendekorasi." Nou memberi keterangan.
"Bagus." Sadewa memberi pendapat.
"Seandainya Mas bisa hadir." ucap Nou saat sudah kembali menggunakan kamera depan.
"Maaf ya sayang."
Nou tersenyum. "Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Baiklah, nanti kita lanjut lagi." Sadewa terlihat bersiap pergi.
"Iya Mas, bye."
"Bye sayang, love you."
__ADS_1
"Love you more."
......................
Rumah Keluarga Armani sudah dipenuhi sanak saudara. Hari ini Darian dan Miranti akan melangsungkan pernikahan mereka yang hanya dihadiri keluarga terdekat seperti permintaan Miranti.
Prosesi berjalan lancar, Darian dan Miranti telah resmi menjadi suami istri secara agama dan negara. Wajah bahagia terlihat jelas di raut wajah kedua mempelai. Dan saat ini mereka sedang berdiri menerima ucapan selamat dari semua yang hadir.
"Kakak ipar!" seru Noushafarin sambil memeluk Miranti. "Aaaaa, aku senang sekali. Akhirnya sudah resmi." imbuhnya lagi.
"Sudah, jangan lama-lama berpelukan. Miranti sesak napas." Darian menarik tangan Noushafarin.
Mendapat perlakuan seperi itu membuat Nou menatap tidak terima.
"Ishhh, baru berapa menit jadi suami, sudah over." cibir Nou. "Akan kuculik Mimi malam ini." ancam Nou dengan mata melotot.
"Hahahhh! Coba saja kalau bisa." seringai Darian.
"Apakah kalian berdua tidak malu menjadi tontonan kami?" seloroh Mama Bianca dari bawah panggung.
Noushafarin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku hanya ingin berfoto." ucapnya sambil menahan malu kemudian mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia mengajak sepasang pengantin berswafoto bersamanya.
"Cepatlah turun, giliranmu akan segera tiba untuk berdiri disana." ujar Mama Bianca lagi.
"Masih lama Mama Bi." sahut Nou yang meninggalkan pelaminan. "Giliranku akan tiba jika Kak Tatiana sudah menikah."
"Jangan memulainya Nou." sahut Tatiana yang sedang menikmati makanannya.
Sedangkan Ayah Bardia dan Nenek Faireh hanya saling pandang sambil mengulum senyum.
"Apa Dokter Haikal belum mengajak Kakak untuk serius?" celetuk Noushafarin membuat Tatiana tersedak.
"Astaga Nou, kamu ingin mencelakai Kakakmu?" Mama Bianca membantu Tatiana minum untuk meredakan batuknya.
"Upss! Maaf." Nou menjadi salah tingkah.
Tatiana bangkit dan menuju ke dalam rumah. Ia berusaha mencari air yang lebih banyak untuk meredakan batuknya.
Tanpa Tatiana ketahui, seseorang sedang menatapnya. Pemuda itu pun mendengar perkataan Noushafarin tentang Dokter Haikal.
"Jangan dipikir, mereka tidak ada hubungan apa-apa. Tatiana sudah menolak Haikal." Tora mengerti arti tatapan Nakula pada Tatiana.
"Aku tak mengerti maksudmu." kilah Nakula.
"Jangan......." ucapan Tora terhenti saat Papa Pandu datang menghampiri.
"Nakula, ayo." ajak Pandu pada putranya. Nakula mengangguk dan meninggalkan Tora.
"Mau kemana?" tanya Tora yang terlihat bingung.
Nakula berbalik dan tersenyum tipis. "Rahasia." jawabnya dan segera menyusul orang tuanya.
__ADS_1
......................