Noushafarin

Noushafarin
Bab 37


__ADS_3

Setelah dirawat selama tiga hari, Nenek dan Noushafarin akhirnya kembali ke rumah. Untuk merayakan kepulangan mereka, Bunda memasak banyak sekali makanan yang menjadi favorit keduanya. Dan mengundang orang terdekat untuk datang menikmati makan siang bersama.


Nou merasa bahagia sekaligus bersalah karena kabur dari rumah, namun jika tak melakukan itu maka masa depannya akan berantakan akibat menikah dengan playboy.


"Kau yakin akan segera kembali besok lusa?" Tatiana menghampiri Noushafarin dan Miranti yang berdiri menatap kebun sayur Nenek yang sedang diguyur hujan.


"Iya kak." jawab Nou tanpa menoleh.


"Boleh aku tahu, ada apa sebenarnya?"


Noushafarin menarik napas, ia merasa ada sesak yang menyeruak kembali.


"Aku... Aku jatuh cinta pada Sadewa Wasesa." ucapnya sendu. Miranti membeliakkan matanya.


"Kau jatuh cinta? Tapi kenapa ekspresimu seperti orang patah hati?" Tatiana mengernyit melihat wajah sedih Nou.


"Bisa ceritakan dari awal?" Miranti meminta.


"Awalnya hubungan kami sangat buruk. Entah kenapa ia selalu saja mengerjaiku. Namun lambat laun sikapnya berubah. Suatu hari aku merasa berdebar saat bersama dengan dirinya." Nou tersenyum kecut dengan mata menerawang.


"Kemudian ia menyatakan perasaannya dan memintaku menjadi kekasihnya. Aku menerima dan kami menjalin hubungan. Sampai siang itu saat aku dirawat di RS Bhayangkara, aku mendengar Dokter Tora berbicara dengannya." buliran bening akhirnya luruh dari mata Nou.


"Dokter Tora menyuruh Sadewa menghentikan aktingnya. Dan mengingatkan tujuannya menjadi kekasihku hanya untuk memberi pelajaran kepadaku karena sudah mengabaikannya saat pertama bertemu. Ia akan mencampakkanku saat aku benar-benar mencintainya."


Miranti menarik Noushafarin ke dalam pelukannya, sedang Tatiana mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras, ia dikuasai dengan amarah. Kenapa harus dia? Kenapa harus mereka? Takdir macam apa ini? Tatiana menggeram dalam hatinya, menatap adik sepupunya dengan tatapan sedih dan terluka.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui semua ini?" Miranti mengurai pelukan mereka saat Nou sudah selesai menangis.


"Aku pura-pura tidur saat mereka berdua masuk." jawab Nou sambil sesekali sesenggukan. "Kemudian Sadewa menerima telepon. Keduanya lantas pergi. Saat itulah aku bangun dan menghubungi Kak Darian."


Nou mengusap air matanya dengan kasar. "Mimi, maaf. Kali ini aku tak bisa memegang ucapanku. Maaf membuatmu terlihat sangat tidak profesional."


Miranti menangkup kedua pipi Nou dan menatapnya dengan penuh sayang.


"Tidak perlu minta maaf padaku." Miranti terlihat bersungguh-sungguh. "Jika aku berada di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama. Aku tahu bagaimana rasanya patah hati. Jadi aku tidak akan menyalahkanmu."


"Terima kasih." Nou berujar dengan suara yang lirih.


"Noushafarin si Ratu es ini akhirnya meleleh." Miranti tersenyum geli. "Yahhh...walau kemudian akan mulai membeku lagi. Tapi setidaknya itu yang menjadikan hidupmu semakin berwarna."


"Sok bijak." Tatiana mencibir.


"Karena aku lebih berpengalaman dari kalian berdua dalam urusan asmara." Miranti menepuk dadanya dengan bangga.

__ADS_1


"Sering patah hati aja bangga." Tatiana semakin mencebik.


"Isshhh...Kak Tatiana tidak pernah perhatikan ya. Anak kecil waktu belajar jalan juga kan sering jatuh, baru lancar jalannya. Jadi sekarang aku memang sering patah hati, tapi nanti pasti dapat suami terbaik." sahut Miranti tak mau kalah.


"Iya deh iya. Suka-suka kamu aja, asal jangan merengek ke aku minta obat penenang lagi kalau pas patah hati." Tatiana memilih meninggalkan kedua sahabat itu sambil mencibir.


"Kamu sampai minum obat penenang?" Nou menatap Miranti penuh penasaran.


"Eh!" Miranti cengengesan. "Iya, habis kalau galau suka susah tidurnya."


......................


Sesuai rencana, Noushafarin akhirnya kembali ke kota Munich. Kali ini Bardia dan Farena ikut mengantar karena Faireh bersikeras ikut. Mereka sekeluarga menggunakan jet pribadi bertolak dari Bandar Udara Halim Perdana Kusuma.


Darian dan Tatiana mengantar dan menunggu hingga pesawat lepas landas.


"Ada yang ingin diceritakan?" Darian memecah keheningan di dalam mobil saat mereka berdua kembali ke Rumah Sakit Mitra.


"Maksudmu?" Tatiana menoleh ke dengan alis bertaut.


"Alasan Noushafarin pulang." Darian menatap lurus ke jalanan di depannya.


"Sadewa Wasesa membuatnya patah hati."


"Pfftt!!" Darian segera menutup mulut sebelum tawanya meledak. Tatiana segera memberi tatapan tajam yang membuat Darian tak nyaman. "Maaf."


"Aku tak menyangka akan ada yang membuat Nou tumbang."


"Dia juga manusia, dia perempuan, kau pikir dia boneka?!" Tatiana meradang. "Siapa yang tidak akan sakit hati dan kecewa jika cinta pertamanya hanya menganggap dia seperti sebuah menara tinggi yang harus ditaklukkan kemudian ditinggalkan?!!" ia menatap Darian dengan emosi.


"Ok... Ok... Jangan marah padaku. Maaf jika aku refleks tertawa. Kalian berdua ta...."


"Teruskan dan kau akan kehilangan lidahmu!!" tatapan mematikan terlihat jelas di netra Tatiana.


Hawa dingin menyergap Darian, ia sampai membenarkan cara duduknya demi bisa merasa nyaman dan menyetir dengan aman. Pemuda itu merasakan kemarahan yang besar menguar dari tubuh sepupu yang duduk di sampingnya.


"Namun setidaknya dia bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Bukan hanya sibuk memikirkan cita-citanya." ujar Darian kemudian.


"Ya....kau benar." Tatiana setuju dengan pendapat itu. "Bagaimana denganmu? Tidak berniat mencari pengganti Salsabila?"


"Entahlah." Darian mengangkat kedua bahunya. "Aku rasa dewi asmara tidak berpihak pada kita bertiga." imbuhnya sambil menoleh sekilas pada Tatiana disertai senyuman tipis.


Tatiana tertawa getir, ia secara tidak langsung menyetujui ucapan Darian.

__ADS_1


"Tatiana, coba kau nilai diriku berdasarkan sudut pandang seorang wanita."


"Pfftt. Sebegitu menyedihkannya kan seorang Darian Armani?" Tatiana tertawa geli.


"Sejujurnya, aku jadi takut mendekati seorang wanita lagi. Perselingkuhan Salsabila membuat tingkat percaya diriku terjun bebas." Darian tersenyum kecut.


"Ya ampun." Tatiana memijat pelipisnya. "Aku tak menyangka ternyata separah ini."


"Lakukan saja."


"Baiklah...baiklah." Tatiana mulai mengamati sepupunya. "Kau tampan, postur tubuhmu ideal, cerdas dengan aura kepemimpinan yang kuat."


"Kalau itu sudah jelas. Yang lain."


"Kau tak bisa dikendalikan oleh Salsabila."


"Apa maksudmu?!"


"Salsabila adalah tipikal wanita yang dominan. Ia ingin setiap pria yang menjadi pasangannya, tunduk padanya. Sayangnya, dia tak mampu menundukkanmu."


Mobil Darian telah keluar dari jalan tol, ia segera mencari tempat yang sepi dan menepikan kendaraan tersebut.


"Jelaskan." Darian terlihat serius menatap Tatiana.


"Kau tak tahu alasan wanita itu selingkuh rupanya?"


Darian menggeleng pelan. "Dan selama kami menjalin hubungan, tak pernah sekalipun dia mengaturku. Atas dasar apa kau mengatakan dia wanita dominan. Apa yang tidak aku ketahui?!"


"Aku mendengarnya bicara dengan teman-temannya di sebuah restoran. Ia bilang saat kau resmi menjadi suaminya, ia akan mulai mengatur dirimu sesuai keinginannya terlebih semua keuanganmu."


"Wanita itu akan membuatmu hanya memperhatikan keluarganya saja. Salsabila menahan diri sementara waktu untuk menarik kepercayaanmu. Itu terjadi saat kalian akan bertunangan." Tatiana tersenyum geli melihat ekspresi wajah Darian.


"Namun ternyata kau seorang pemuda yang masih bisa berpikir logis walaupun sedang penuh cinta." Darian mencebik saat melihat wajah Tatiana berkata-kata seperti itu dengan ekspresi mengejek.


"Pantas saja, beberapa kali dia marah karena aku menemani Nenek periksa kesehatan rutin dan tidak menemaninya perawatan di salon." Darian mulai mengingat-ingat. "Aku pikir dia marah hanya karena aku kurang memperhatikannya."


"Dan saat dia ikut pesta keluarga kita pun, dia tidak pernah mau mengobrol lama-lama dengan Tante dan Nenek." Tatiana menambahkan. "Dia hanya menginginkanmu, dia tidak menginginkan kami, keluargamu."


Darian tepekur, ucapan Tatiana membuatnya tersadar. Selama ini ia selalu meratapi nasibnya. Mengapa gadis yang ia cintai tega menduakannya.


"Kenapa baru sekarang kamu cerita? Setahun ini aku sibuk meratapi nasib." Darian terlihat kesal karena sudah seperti orang bodoh. "Kalau tahu kan sudah lama aku mulai mencari pengganti dan tidak meratapi gadis sialan itu."


"Mana aku tahu kamu sampai terpuruk begitu." Tatiana membela diri.

__ADS_1


"Ah sudahlah." Darian kembali menyalakan mesin dan melanjutkan perjalanan mereka.


...****************...


__ADS_2