
Berita kematian putri dari mendiang istri pertama seorang petinggi di Bundesrat (dewan utusan negara bagian) menjadi trending topic di berbagai media masa. Baik itu cetak maupun elektronik.
Tak pelak, Noushafarin yang menjadi saksi kunci pun turut terekspos. Hal ini membuat Darian turun tangan untuk memperketat penjagaan adik kesayangannya.
"Darian, tinggal beberapa bulan lagi Nou selesai. Pastikan adikmu aman ya Nak." Bunda Farena kembali mengingatkan Darian dengan air mata yang sesekali jatuh ke pipinya.
"Iya Bunda." sekalipun Darian kesal karena mendengar kalimat yang sama sejak semalam, namun ia paham benar akan kekhawatiran Bundanya itu.
"Bunda tidak sanggup kalau sesuatu ter..."
"Ssttt, Bunda." Darian merengkuh tubuh Bundanya. "Nou akan baik-baik saja."
"Farena, pergilah." Nenek Faireh akhirnya angkat bicara setelah terdiam beberapa saat. "Tinggallah bersama Nou disana. Bukankah dia pasti akan semakin tak mengingat kondisinya sendiri jika sudah sibuk di Rumah Sakit dan kantor polisi."
"Tapi bagaimana dengan ibu?" Farena mengurai pelukannya dengan Darian.
"Aku akan tinggal disini." Tatiana pun angkat bicara.
"Kalau perlu, Mimi juga, Tante." Miranti memberanikan diri untuk menawarkan bantuan. Namun ia seketika menunduk saat Darian menatapnya dalam-dalam.
"Kau lihatkan Farena." Nenek Faireh tersenyum lembut. "Banyak yang menjagaku. Aku akan lebih tenang jika salah satu diantara kita ada disana."
Farena menatap suaminya, pria itu pun mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengemasi barang-barangku." Bunda Farena segera bergegas ke kamarnya untuk berkemas. Tatiana dan Miranti menyusul untuk menolong.
"Darian, Nenek tidak mau kejadian penculikan Nou terulang kembali. Gunakan semua sumber daya yang ada agar tidak ada yang mengetahui nama serta wajah Nou." titah Nyonya Besar Armani kepada cucunya setelah Sang Menantu pergi.
Tak ada yang pernah menyebut peristiwa itu secara gamblang di depan Farena. Sebab penculikan yang dialami Noushafarin saat berumur 7 tahun membuat Farena depresi dan menggila. Putri tersayangnya diculik selama lebih dari sebulan.
Nyonya Farena sampai harus selalu dipantau kondisi kejiwaannya. Hari-hari saat Nou diculik terasa sangat berat.
Beruntung penculik itu tidak melukai Noushafarin, karena ia hanya menginginkn uang. Sejak saat itulah, keluarga Armani seakan menyembunyikan Noushafarin dari dunia luar. Bahkan Tatiana pun terkena imbasnya. Setelah ia dewasa dan mulai bekerja, barulah orang mengetahui bahwa Tatiana adalah cucu tertua keluarga Armani.
Keluarga Armani mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menyewa jasa keamanan pribadi. Membangun banyak koneksi dengan orang-orang berpengaruh. Semua dilakukan bukan hanya untuk keuntungan pribadi, melainkan juga kenyamanan anggota keluarga.
Miranti menuruni tangga dengan wajah sendu. Membuat Bardia merasa harus bertanya.
__ADS_1
"Miranti. Kemarilah." Ayah Bardia menepuk sofa disampingnya. "Ada apa?" tanyanya begitu Miranti duduk.
"Tante menangis terus Om. Kak Tatiana sampai memberi obat penenang." Miranti menjawab dengan wajah tertunduk. "Sepertinya kalian harus pergi sekarang juga deh Kak." kali ini ia menatap Darian yang sedang menatapnya.
"Bantulah Darian bersiap." kata Nenek Faireh.
"Baik Nek." jawab Miranti patuh. "Ayo Kak, aku bantu. Biar cepat selesai dan tidak ada yang tertinggal. Kasihan Tante kalau terlalu lama menunggu."
Darian tidak menjawab, ia berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Miranti. Kemudian masuk dan tetap membiarkan pintunya terbuka. Kedua orang itu terus menuju walk in closet untuk mengatur perlengkapan Darian.
Miranti mengingatkan beberapa hal penting yang tidak boleh tertinggal. Sisanya ia hanya membantu memilih beberapa baju kemeja Darian.
"Jangan lupa vitamin juga Kak. Disana banyak yang akan Kak Darian urus." Miranti berujar sambil memeriksa kelengkapan dokumen perjalanan milik Darian.
"Sampai disana, usahakan istirahat sebentar. Biar cuma satu atau dua jam. Sudah sangat membantu agar tubuh tidak kelelahan." gadis itu masih terus saja memberi nasihat. Tanpa ia ketahui pemuda yang ia bantu sedang berdiri sambil melipat tangan di dada dan menatapnya lekat-lekat.
Miranti mengusap lehernya, tiba-tiba ia merasa tidak nyaman. Darian tersenyum merasa ketahuan sedang memperhatikan Miranti. Akhirnya ia membuang muka melihat ke arah lain sesaat sebelum Miranti berbalik menatapnya.
Aneh, perasaan tadi kayak ada yang ngeliatin. Tapi Kak Darian lagi lihat tempat lain. Jadi siapa yang dari tadi ngawasi aku?
Akhirnya gadis itu mengangkat bahu dan melanjutkan kegiatannya.
Georgia terkejut saat melangkah keluar dari apartemennya. Di sepanjang lorong telah berdiri banyak pria berpakaian serba hitam. Jarak satu sama lain sekitar satu meter. Dan mereka berdiri di sisi kiri dan kanan lorong.
Bukan hanya Georgia, penghuni lain di lantai itu pun terkejut. Namun mereka memilih bungkam dan tak ingin bertanya.
Di lantai gedung apartemen itu hanya terdapat empat unit apartemen. Jadi akan lebih mudah mengendalikan berita yang keluar dari lingkungan tempat tinggal Nou karena sedikit orang yang akan Darian awasi.
Georgia kembali masuk ke dalam apartemen. Membuat Nou yang baru keluar dari kamar terkejut melihat sahabatnya itu kembali.
"Ada apa?"
"Sepertinya kali ini Darian melipat gandakan penjagaan."
"Apakah banyak penjaga di luar?"
Georgia hanya mengangguk dan menatap iba pada Nou. "Kau terlibat masalah dengan kalangan politisi di saat yang tidak tepat."
__ADS_1
"Aku tahu." Nou menghela napas berat. "Sementara waktu, carilah tempat tinggal baru. Aku tak ingin melibatkanmu. Kau tahu sendiri kan keluarga Frau Schröder adalah politisi kotor yang sering menggunakan berbagai cara keji untuk menyelesaikan masalah."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Kak Darian dan Bunda sudah dalam perjalanan." Nou tersenyum untuk menenangkan hati Georgia. "Tentu saja aku akan pindah ke penjara dengan penjagaan maksimum."
Georgia terkekeh. "Kak Darian tidak akan menyia-nyiakan semua aset untuk melindungimu."
"Kamu benar."
"Kau tahu, kau bisa meminta pertolongan Dokter Reinhard. Dia kan keponakan kesayangan kanselir."
"Tidak." Nou menggeleng pelan. "Aku tidak ingin berhutang budi kepadanya."
"Reinhard bukan pria seperti itu. Dia tidak akan memperhitungkan. Yahh, mungkin imbalannya cuma makan malam." Georgia meringis.
"Kamu tahu kan Georg, aku sudah puluhan kali menolaknya."
"Hmmm... Kamu juga sih." cibir Georgia.
"Aku sudah punya kekasih Georg." Noushafarin berargumen. "Dan situasi ini juga kesalahanku karena tidak memberi Mas Sadewa kesempatan untuk menjelaskan. Jadi aku tidak akan membuka celah untuk pria lain sampai semuanya jelas."
Georgia menatap Noushafarin lekat-lekat. "Kau luluh juga akhirnya."
"Yahhh, istirahat yang cukup membuatku bisa berpikir jernih."
"Berterima kasihlah kepada Kak Tatiana yang memberimu obat tidur."
"Hmmm, kau benar." Nou terkekeh.
"Baiklah, aku pergi dulu. Pasti Ivan sudah menungguku. Aku akan pulang sangat malam karena akan mencari apartemen baru."
Nou ikut berdiri dan memeluk Georgia. "Maafkan aku ya Georg. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu."
"Aku mengerti, jangan khawatir." Georgia menepuk punggung Nou. "Tetaplah hidup, tinggal beberapa bulan lagi pendidikanmu selesai."
"Iya, aku tahu itu."
__ADS_1
...****************...
Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤