
Binar bahagia tercetak jelas di wajah sejoli yang sedang dipenuhi cinta. Makan malam yang romantis, dibumbui canda tawa dan saling menggoda. Bahkan pembicaraan tidak jelas yang diselingi perdebatan kecil.
"Begitu Papa dan Mama datang, aku akan menjemputmu dan membawamu ke rumah. Kau setuju kan?"
"Tentu saja." Nou tersenyum. "Walau sebenarnya aku sedikit takut."
"Takut kenapa?"
"Waktu itu aku pergi tanpa berpamitan. Dan aku takut akan menjadi canggung karena aku pernah menjadi pembantu kalian."
Sadewa terkekeh geli. "Sudah seharusnya kamu takut." mata Sadewa bergerak-gerak jenaka. "Karena kamu pembantu tak tahu malu yang berani menggoda anak majikanmu."
"Aku tak menggodamu."
"Yahhh, aku yang tergoda dengan sendirinya." Sadewa menarik hidung Nou dengan gemas.
"Mas ihh."
"Ngomongnya biasa aja dong sayang." tangan Sadewa beralih membelai pipi Nou. "Tapi aku serius, kamu nggak perlu takut ketemu Papa sama Mama. Mereka juga sangat ingin bertemu denganmu lagi. Kali ini aku akan memperkenalkanmu secara resmi kepada mereka."
"Iya Mas, aku akan mengumpulkan keberanianku untuk bertemu calon mertua." Nou terkekeh di akhir kalimat yang diucapkannya sendiri.
"Nah, gitu dong."
"Jalan-jalan yuk Mas."
"Ok. Tapi aku ke toilet dulu ya."
"Iya Mas."
Sadewa memanggil pelayan untuk membayar makanan sebelum ia pergi ke toilet. Sepeninggal Sadewa, Noushafarin sibuk membalas email dan chat dari rekan-rekannya.
"Berani sekali kau mendekati Sadewa. Dasar wanita murahan!"
Noushafarin yang sedang berkutat dengan ponsel pintarnya refleks mendongak. Ia menatap heran pada wanita paruh baya yang sedang berdiri berkacak pinggang di hadapannya. Artinya, kata-kata kasar tadi ditujukan kepadanya.
Nou melihat ke sekeliling, beberapa tamu restauran mulai menatapnya dengan pandangan meremehkan. Bahkan mulai berbisik-bisik satu sama lain.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, apakah anda berbicara kepada saya?" Nou berusaha menahan diri.
"Tentu saja kepadamu!" ketus wanita itu. "Memangnya siapa lagi ****** yang berada di ruangan ini."
"Atas dasar apa anda menyebut saya ******?!" Nou menekan suaranya.
"Karena kau memang wanita ****** yang menggoda calon suami anakku!" ucap wanita tersebut dengan lantang. Ia sengaja mengeraskan suaranya untuk menarik perhatian pengunjung lain dan mempermalukan Noushafarin.
"Saya tidak mengerti maksud anda. Sepertinya anda salah orang, Nyonya....." Noushafarin menanggapi wanita dihadapannya dengan santai. Ia bahkan tidak terlihat malu ataupun ketakutan dengan intimidasi lawannya. Gadis itu berbicara sambil membalas tatapan wanita asing dihadapannya.
"Fitri, nama saya Fitria Bowo. Istri pemilik perusahaan konstruksi terbesar keempat di Indonesia. Yang pertama tentunya keluarga Wasesa, calon besan saya."
"Baiklah Nyonya Fitri, sepertinya anda salah. Saya tidak menggoda siapapun disini. Saya hanya sedang makan malam dengan kekasih saya."
"Aku tidak salah orang, dasar ****** tidak tahu diri!" wajah wanita itu memerah karena emosi yang semakin meningkat. "Sadewa Wasesa adalah calon suami putriku, Farida. Dan berani-beraninya kau bilang makan malam dengan kekasih? Artinya kau menganggap Sadewa sebagai kekasihmu!"
Noushafarin mengangkat sebelah alisnya dan berdiri. "Calon suami Farida?"
"Ya, benar. Sadewa sudah memiliki calon istri. Apakah kau tidak bisa menjajakan tubuhmu kepada pria hidung belang di luar sana?" Nyonya Fitri terus saja melontarkan penghinaan demi penghinaan pada Noushafarin.
"Hei, kemari kalian!" ia memanggil beberapa petugas keamanan yang sedang berjalan ke arah mereka. "Kalian datang tepat waktu. Cepat seret ****** ini keluar dan telanjangi dia. Biar dia tahu diri!" titahnya lagi.
"Aku jadi penasaran, seperti apa Farida."
Nyonya Fitri tiba-tiba merasakan hawa dingin di sekitarnya. Tatapan dan nada bicara gadis yang ia hina menciptakan suasana yang mencekam.
"Katakan kepada putrimu itu, aku, Noushafarin Armani, menunggu saat kita bisa bertemu." ucap Nou sambil berjalan pelan maju mendekati Nyonya Fitri yang mulai berjalan mundur. "Apakah lidahnya setajam lidah anda juga?"
"Aduh!!!" Nyonya Fitri terkejut karena menabrak seseorang di belakangnya. Ia membalikkan badan dan terlihat semakin ketakutan. "Sa-Sadewa."
Ternyata di belakangnya telah berdiri Sadewa Wasesa yang sedang menatapnya dengan ekspresi menakutkan.
"Calon mertuamu mencari." begitu melihat Sadewa, Noushafarin langsung menunjukkan ketidaksukaannya atas penghinaan yang dilontarkan Nyonya Fitri.
"Dia bukan calon mertuaku!" Sadewa mengatakan hal itu sekuat tenaga. Ia ingin semua pengunjung yang menyaksikan peristiwa itu mendengarnya. "Kekasih dan calon istriku adalah Noushafarin Armani, bukan wanita lain apalagi putrimu, Farida."
Nyonya Fitri menunduk dengan wajah pias. Jemarinya saling bertautan.
__ADS_1
"Anda sudah melewati batas dengan menghina dan merendahkan kekasih saya. Bahkan menyebar berita bohong di tempat ini."
"Sa-sadewa, tan-te......." tiba-tiba tubuh Fitri limbung karena seseorang memaksanya menghadap ke belakang. "Aakkhhhh!!!!" sebuah tamparan mendarat di pipinya hingga ia terjatuh.
"Aku malu mempunyai istri sepertimu!" hardik seorang pria yang tak lain adalah Bowo, suaminya. "Aku akan segera mengurus perceraian kita."
"Ti-tidak. Jangan begitu M-mas."
Tuan Bowo tidak mempedulikan istrinya yang masih terduduk di lantai, ia menyusul Sadewa dan Noushafarin yang akan meninggalkan tempat itu.
"Nak, maaf, maafkan kelalaian saya tidak bisa mengatur istri saya dengan baik." ucap Bowo yang menghadang langkah Sadewa dan Noushafarin.
"Saya minta maaf atas setiap kalimat penghinaan yang sudah diucapkan istri saya."
Noushafarin menunduk, ia memejamkan matanya kuat-kuat untuk mengendalikan emosi yang meluap. Sesaat kemudian gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap langsung mata Tuan Bowo.
"Dia sudah mempermalukan saya. Istri anda melukai saya, Tuan. Saya bisa saja memenjarakannya."
"Saya tahu. Maka lakukan saja apa yang Nona Armani pandang baik."
"Saya menginginkan permohonan maaf secara terbuka dan disiarkan secara luas. Seperti semua orang saat ini melihat Nyonya Fitri menghina saya. Demikian juga saya ingin semua orang tahu saat dia meminta maaf."
"Saya akan pastikan dia melakukannya Nona. Dan Sadewa, Om minta maaf ya Nak."
"Iya Om. Tapi saya tidak terima kekasih saya dihina seperti tadi Om. Jadi saya menunggu 1 × 24 jam, itikad baik tante Fitri. Jika tidak, saya yang akan melaporkannya ke polisi."
"Saya pastikan Fitri akan melakukannya."
"Kalau begitu, kami permisi."
"Ya, silahkan!" Bowo menghela napas dengan kasar menatap kepergian sepasang kekasih itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan berjalan mendekati istrinya kemudian menyeret wanita itu pergi dari sana.
"Aku tidak akan meminta maaf pada mereka." ucap Fitri saat ia dan Bowo, Suaminya, berada di tempat parkir. "Aku melakukan ini demi masa depan putri kita. Ini semua demi Farida."
"Kau pikir aku tak tahu kau melakukan itu semua demi gaya hedon yang kau jalani. Menikahkan putrimu dengan konglomerat agar status sosialmu semakin tinggi." hardik Bowo. "Sama saja kau menjual putrimu!"
"Tapi...."
__ADS_1
"Lakukan yang aku perintahkan dan jangan membantah. Atau aku sendiri yang akan menyerahkanmu kepada polisi." ancam Bowo dengan berapi-api.
......................