Noushafarin

Noushafarin
Bab 50


__ADS_3

Sadewa termenung, pemuda itu menatap keluar jendela dengan lesu.


"Ada apa?" Darian muncul sambil menyodorkan segelas teh hangat.


"Terima kasih." Sadewa menyambut pemberian Darian. "Aku harus kembali ke Indonesia." katanya dengan ragu.


"Pergilah, kami tahu keluarga kalian sangat sibuk."


"Yahhh, begitulah."


Darian menatap Sadewa dalam-dalam. "Pasti berat meninggalkan adikku dalam kondisi seperti ini kan. Apalagi kalian baru saja baikan."


Sadewa tersenyum tipis. "Kau pasti menganggapku budak cinta."


Darian mengangkat bahu tak peduli. "Selama cinta itu untuk Noushafarin, tak masalah buatku. Aku tak akan mengatakan apapun yang bisa menjatuhkan harga dirimu. Karena saat aku jatuh cinta, entah kegilaan apa yang akan aku lakukan."


"Lebih baik aku menjaga tingkah lakuku juga memastikan Nou bahagia." ucapan Sadewa mengundang kerutan halus pada dahi Darian.


"Kenapa?"


"Karena aku pasti akan kehilangan nyawaku di tanganmu jika aku menyakitinya." jawab Sadewa dengan penuh keyakinan.


Darian tertawa kecil, namun terdengar menyeramkan di telinga Sadewa. "Kau cerdas, aku suka itu." ucap Darian sambil menepuk punggung Sadewa.


Sementara itu, Nenek Faireh, Ayah Bardia dan Bunda Farena tengah menemani Nou yang sudah bisa berinteraksi meski lemah.


"Aku baik-baik saja." kembali Nou mengucapkan kalimat yang sama untuk menenangkan hati keluarganya.


Ketiganya hanya bisa mendesah pelan, gadis itu berusaha terlihat baik-baik saja meski kondisinya tidak seperti demikian.


Nenek Faireh membelai kepala Noushafarin dengan lembut. "Nou, setelah pulih, kita pulang ya sayang."


"Tapi, Nou belum selesai nek. Bukankah Nenek juga senang kalau Nou bisa menggapai cita-cita Nou."


Air mata kembali menggenang pelupuk mata Faireh. "Tidak Nou, Nenek sadar itu bukan cita-citamu. Tapi ambisi Nenek." Faireh menggeleng pelan dengan air mata yang mulai mengalir. "Nenek yang mencekokimu dengan hal ini sejak usiamu masih belia. Maafkan Nenek Nou, maafkan Nenek."


"Nenek...."


"Nenek tidak ingin kehilangan cucu Nenek karena ambisi Nenek. Tolong maafkan Nenek, Noushafarin."


Farena menutup mulutnya sendiri menahan isakan yang keluar, selama ini sebagai seorang menantu ia hanya bisa diam dan menurut. Karena ia menganggap yang dilakukan Faireh Armani, ibu mertuanya adalah yang terbaik untuk anak-anaknya.


"Farena, maafkan ibu sayang. Mari kita bawa Noushafarin pulang." Nyonya Faireh menangis dihadapan menantu dan anaknya, tak ada gengsi yang menutupi.


"Ibu." Bardia Armani bergumam pelan. Hatinya terasa hangat melihat Sang Ibu yang melunak.


"Apapun yang kau capai saat ini, itu sudah cukup Nou." Nenek Faireh memandangi Noushafarin dengan penuh kasih sayang. "Maaf sudah menjadikanmu sebagai alat. Maafkan untuk semua kejahatan yang sudah Nenek perbuat kepadamu."

__ADS_1


Noushafarin menggeleng pelan. "Itu bukanlah sebuah kejahatan Nek."


Faireh menggeleng. "Itu adalah kejahatan, cucuku sayang. Memaksamu melakukan hal yang tidak kau sukai sejak kau masih remaja."


"Mulai saat ini, kau bebas melakukan apa saja. Kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai, yang kau pilih. Kau bisa bekerja dimanapun kau mau. Atau, kau tidak perlu bekerja."


Bardia, Farena bahkan Noushafarin tersenyum mendengar penuturan Nyonya Faireh.


"Nenek, tidak perlu seperti itu. Aku akan pulang setelah sembuh." Nou tersenyum geli melihat tingkah Neneknya.


"Benarkah?" Nyonya Faireh mengerjap.


Noushafarin mengangguk lemah. "Aku sudah memikirkannya Nek. Bahkan jika Nenek tidak meminta, aku yang akan memohon pada Nenek."


"Cucuku." Nyonya Faireh mencium punca kepala Noushafarin bertubi-tubi. Setelah itu ia berdiri dan menghampiri Farena serta memeluk menantunya itu.


"Kau pasti sangat menderita selama bertahun-tahun jauh dari putrimu. Maafkan ibumu ini."


"Ibu, jangan begini." Farena membalas pelukan mertuanya dengan hangat. "Ibu punya niat yang baik untuk kami, untukku. Tidak perlu minta maaf."


"Kau sangat baik Farena, aku.... Bukan, kami beruntung memilikimu di kediaman Armani."


......................


Sadewa terus menatap Nou, membuat gadis itu mulai salah tingkah. Keluarga Armani meninggalkan mereka berdua untuk memberi kesempatan sepasang kekasih itu berbicara.


Noushafarin ingin menghindari tatapan Sadewa, namun apa daya. Tubuhnya tidak dalam kondisi baik.


Sadewa tersenyum tipis. "Maaf membuatmu tidak nyaman."


Pemuda itu duduk di samping brankar Noushafarin kemudian mengambil tangan gadis yang ia cintai dan mengecup punggung tangan itu dengan penuh kelembutan.


"Nou, maaf mas tidak bisa menemanimu lebih lama. Papa membutuhkanku lebih cepat dari perkiraan." Sadewa mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya.


"Aku mengerti Mas." Noushafarin menyembunyikan kesedihannya, ia tak ingin menambah beban pikiran Sadewa.


"Begitu urusan selesai, aku akan datang lagi."


Nou menggeleng. "Tidak Mas, tidak perlu."


"Kau marah hingga melarangku datang kembali?"


"Bukan begitu." Nou tersenyum melihat perubahan wajah kekasihnya. "Tunggu saja aku di Indonesia, aku akan pulang begitu pulih dan seluruh masalah disini selesai."


"Benarkah itu?" Sadewa menjadi bersemangat. "Tapi... Bukankah pendidikanmu belum selesai?" semangatnya kembali meredup.


"Aku rasa pencapaianku saat ini sudah cukup. Tidak semua hal bisa kudapatkan jika terus menyakiti diri sendiri dan orang lain."

__ADS_1


Sadewa terdiam berusaha mencerna setiap perkataan Nou. "Kalau begitu, bisakah aku mulai berpikir jauh ke depan tentang kita?" tanyanya penuh harap.


"Kita?"


"Ya, tentang kelangsungan hubungan kita."


"Tentu." ucap Nou penuh keyakinan.


"Yes!!!" Sadewa mengepalkan tinjunya ke udara. "Akhirnya."


Noushafarin tersenyum lebar melihat aksi itu. Ditambah lagi Sadewa mencium tangannya berulang lagi. Perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.


Dari celah pintu Reinhard hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menyaksikan apa yang terjadi di dalam ruang perawatan Noushafarin. Ia tidak mengerti pembicaraan kedua insan tersebut karena menggunakan bahasa Indonesia. Namun ia sadar, dari reaksi yang ditunjukkan oleh Sadewa, terlihat jika Noushafarin sudah menentukan siapa yang akan menjadi pendampingnya.


Reinhard tersenyum kecut, ia menutup pintu perlahan dan berbalik. Namun saat mulai melangkah dan mengangkat kepala, ia terkejut dengan kehadiran Georgia yang entah sejak kapal sudah berdiri disana sambil bersandar pada dinding.


"Dia sudah menentukan pilihannya." ucap Reinhard tanpa ditanya Georgia. Pemuda itu berjalan dengan gontai menuju ke arah sahabat Noushafarin.


"Dari awal dia tidak pernah tertarik kepadamu."


"Aku tahu." Reinhard tersenyum tipis. "Tapi aku selalu berharap ada keajaiban hingga akulah yang menjadi pilihan hati Nou."


"Bukan jodoh."


"Sebenarnya bisa saja aku memaksa untuk mengubah itu."


"Tapi....."


"Setelah melihat keluarganya, lebih baik aku tak bermain-main dengan nyawaku."


"Aku pikir menjadi kesayangan Kanselir bisa membuatmu berani menghadapi semua hal." Georgia mencibir.


"Justru karena kesayangan Kanselir, aku mempunyai beban menjaga nama baiknya."


"Good boy."


"Jika baik aku pasti bisa mendapatkan hati Nou."


"Apa kau mau mendapatkan hatinya karena ia kasihan padamu?"


"Bukan begitu, hanya saj...."


"Sudahlah." Georgia memotong dengan cepat. "Kebaikan orang memang bisa memenangkan hati orang lain. Namun bukan berarti menjadi pilihan untuk seseorang memberikan seluruh hati dan hidupnya."


"Ya, aku tahu. Kebaikan saja tidak bisa mendatangkan cinta."


Georgia menatap rekan seprofesinya dengan iba. Namun ia tak bisa membantu lebih banyak.

__ADS_1


"Ayo, aku dan Ivan akan pergi minum." Georgia beranjak dari tempatnya. Reinhard tak menjawab, namun kaki pemuda itu melangkah mengikuti ajakan georgia.


......................


__ADS_2