Noushafarin

Noushafarin
Bab 72


__ADS_3

"Nana, kenapa Tora lama sekali? Nanti makanan keburu dingin?" tanya Mama Bianca yang sedang menata meja.


"Entahlah Ma. Saat aku meneleponnya tadi dia bilang akan segera datang. Mungkin masih sibuk merapikan barang Ma. Namanya juga baru pindahan."


"Hmmm, benar juga."


Suara bel apartemen membuat mereka serentak menoleh ke pintu.


"Panjang umur, aku yakin pasti itu Tora." Tatiana bergegas melangkah untuk membuka pintu.


"Kenapa lam..." Tatiana terkejut melihat ternyata Tora tak datang sendiri.


"Hai Tatiana, hai Tante." Tora melenggang masuk begitu saja, ia takut Tatiana mengamuk padanya. "Apakah Tante keberatan aku mengajak teman? Kebetulan tadi dia membantuku merapikan barang."


"Tentu saja tidak." sahut Mama.


Tatiana terlihat gugup, saat menatap Nakula, ia tiba-tiba teringat kejadian tadi sore.


"Apa aku boleh masuk?" Nakula menatap Tatiana dalam-dalam.


"Si-silahkan." Tatiana bergeser agar Nakula bisa lewat.


Keduanya lalu beriringan menuju dapur.


"Oo, Tante kira siapa yang diajak Tora, ternyata Nakula." Mama tersenyum penuh arti. "Ayo duduk, kita harus segera makan. Kalau tidak nanti masakannya jadi dingin."


"Apa kabar Tante?" sapa Nakula.


"Tante baik Nak."


"Ternyata sudah kenal." celetuk Tora.


"Iya, Nakula ini yang membantu Tante dari orang jahat."


"Ternyata begitu." Tora mengangguk-anggukkan kepala.


Pemuda itu menatap kedua temannya terutama Tatiana. Ia sedikit terkejut karena gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan marah padanya.


Makan malam kali ini berjalan lancar, tidak ada ekspresi tidak suka dari raut wajah Tatiana. Namun semakin membuat Mama Bianca penasaran karena gadis itu lebih banyak diam, hanya sesekali berbicara.


"Terima kasih untuk makan malamnya, ini enak sekali." puji Nakula.


"Syukurlah kalau kalian bisa menikmatinya." Mama terlihat senang.


"Dari dulu masakan Tante memang tidak pernah gagal." imbuh Tora.

__ADS_1


"Kamu bisa saja. Tidak usah memuji, Tante sudah sisihkan untuk kamu bawa pulang."


Tora tertawa salah tingkah. "Sebenarnya aku tidak ada maksud yang lain. Tapi kalau sudah disiapkan, aku pun tak menolak." seloroh Tora dan disambut tawa dari yang lainnya.


"Besok ada perayaan ulang tahun Armani Grup. Kamu datang ya." ujar Mama Bianca pada Nakula saat wanita paruh baya itu menyajikan hidangan penutup. "Kalau Tora kan tidak perlu diundang lagi."


"Iya Tante. Semua tenaga medis yang tidak ada jadwal piket diundang ke acara perayaan." ujar Tora.


"Bagaimana Nakula?"


"Saya pasti datang, Tante. Terima kasih undangannya."


"Bagus." Mama terlihat senang. "Eh Nana. Mama baru perhatikan, anting-anting kamu kok cuma satu? Sebelahnya kemana?"


"Eh?" Tatiana meraba kedua telinganya, benar yang dikatakan Mama.


"Ekhmm!" Nakula berdehem sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Sebenarnya, anting-anting Tatiana tersangkut di jaket saya." ucapnya sambil menyerahkan sebuah anting-anting pada Tatiana.


"Tersangkut?" Mama Bianca dan Tora kompak bertanya dengan dahi berkerut.


"Iya, tadi ada anak kecil yang berlari di swalayan. Hampir saja mereka bertabrakan karena aku berjalan sambil memeriksa daftar belanja di ponsel." Tatiana memilih untuk menjelaskan sendiri. "Nakula menolongku."


Mama dan Tora saling pandang, namun mereka memilih untuk tidak lanjut bertanya meski sangat ingin tahu bagaimana bisa anting-anting itu tersangkut di jaket yang digunakan Nakula.


"Terima kasih ya Nakula. Kamu sudah menolong Tatiana."


Mama menatap Tatiana sejenak, gadis itu terlihat sedikit merona.


Semoga kejadian tadi bisa membuat Tatiana mulai melunak pada Nakula. Aku juga kan ingin segera punya calon menantu seperti Bardia dan Farena. Mama berharap dalam hatinya.


"Aku sudah selesai." Tatiana segera beranjak.


"Aku juga. Terima kasih ya Tante." Tora tersenyum memamerkan gigi putihnya.


"Iya iya. Ekhm, Tora. Mumpung kamu ada disini. Bantu Tante ke bawah untuk buang sampah ya. Kamu tenang saja, bukan sampah basah kok, jadi tidak beraroma."


"Kenapa tidak sama Nana saja Ma?"


"Kamu bereskan peralatan makan saja."


"Aku juga akan membantu Tante."


"Tidak usah, kamu sama Tatiana saja." penolakan Mama Bianca atas tawaran Nakula seketika membuat Tora mengerti.


"Ayo Tante. Mana saja yang mau diangkat?" tanya Tora dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ada disana." Mama segera pergi, takut kalau Tatiana melayangkan protes lagi.


Sepeninggal Mama Bianca dan Tora, Tatiana membereskan meja dalam diam. Nakula yang ikut membantu pun tak bersuara. Ia memilih diam untuk menjaga perasaan gadis disampingnya itu. Malam ini Nakula hanya ingin melihat Tatiana yang tidak dipenuhi aura kemarahan saat bertemu dengannya.


Tatiana hendak meletakkan piring saja di lemari penyimpanan bagian atas. Namun karena agak tinggi, ia jadi kesulitan. Baru saja hendak mengambil tangga mini, tangan Nakula sudah terulur dari belakang mengambil piring itu dan meletakkannya dengan mudah.


Posisi Nakula yang berada tepat di belakang Tatiana, membuat punggung gadis itu menempel dengan dada Nakula.


Gadis itu menoleh ke samping kanannya untuk melihat wajah orang yang membantunya, disaat yang sama Nakula pun sedang menatap Tatiana.


"Terima kasih." ujar Tatiana pelan. Ia segera mengalihkan pandangannya.


Jantungnya berdetak lebih cepat, terlebih lagi ia merasakan kehangatan di punggungnya yang menempel pada dada Nakula. Aroma parfum yang menyeruak indra penciumannya pun menimbulkan perasaan nyaman. Tatiana menggeleng pelan, kenapa tubuh ini tidak bisa diajak kerja sama? gerutunya dalam hati.


Nakula tersenyum tipis, aroma wangi dan lembut yang berasal dari rambut Tatiana sangat menggoda untuk mendaratkan sebuah kecupan disana. Namun tak mungkin Nakula melakukannya. Ia masih ingin pulang dalam keadaan utuh dan selamat.


Nakula mundur untuk memberikan ruang pada Tatiana. Kalau berdekatan terus, lama-lama ia tak mampu membendung perasaannya yang sudah tumbuh lagi sejak percakapan mereka berdua.


Niat Nakula hanya ingin memberi penjelasan ternyata berbuntut panjang. Hatinya menginginkan lebih, pikirannya selalu dipenuhi bayangan gadis itu.


Sementara itu di basement, Mama Bianca sengaja berlama-lama dengan cara mengajak Tora mengobrol kesana kemari. Saat keduanya kehabisan bahan obrolan, Tora diam-diam menguap.


"Aku harap Tatiana tidak mencincang Nakula di atas sana." gumamnya pelan. Namun ternyata masih bisa didengar oleh Mama Bianca.


"Tidak akan ada tragedi pembunuhan disana." Mama tersenyum geli.


Tora terkekeh pelan. "Tante nekat sekali memberi mereka kesempatan berdua. Apakah akan berhasil?"


"Entahlah, Tante sih berharap Nakula bisa memanfaatkan kesempatan untuk kembali mengambil hati Tatiana."


"Tante, Nakula itu duda. Memangnya Tante tidak takut dia malah akan macam-macam?"


"Bukannya tadi yang kamu takutkan adalah Tatiana?"


"Iya juga sih Tante."


"Kalau urusan itu, Tante percaya Nakula tidak akan aneh-aneh. Dan sepertinya karena kejadian di swalayan, Tatiana jadi lebih jinak. Hhhhh, buat penasaran saja." desah Mama pelan.


"Saya juga penasaran Tante. Bagaimana bisa anting-anting nyangkut di jaket. Berarti kan..." mata Tora membesar, ia membekap mulutnya sendiri.


Kemudian pemuda itu menatap Mama Bianca. "Wahhhh!!!" seru keduanya bersamaan, bahkan keduanya kompak terkikik sambil menutup mulut.


Itulah yang membuat sejak kuliah Tora sudah dekat dengan Mama Bianca. Jiwa bergosipnya sangat tinggi dan bisa mengimbangi seorang wanita.


......................

__ADS_1


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2