Noushafarin

Noushafarin
Bab 15


__ADS_3

"Wa, tumben pulang?" Mama Kandi terkejut melihat putranya sedang berdiri mematung.


"Eh, iya Ma. Lagi ada urusan sama Tora dan temannya."


"Mau ikut makan siang dulu?"


"Nanti saja Ma." pemuda itu melirik Arin sekali lagi kemudian berbalik. Namun baru beberapa langkah ia berbalik lagi. "Tolong jangan ganggu kami ya Ma. Siapa pun itu."


"Kalian nggak mau minum atau apa gitu?"


"Sudah beli tadi Ma." Sadewa tersenyum kemudian pergi mengacuhkan Miranti yang dari tadi mengawasinya. Pemuda itu sadar Miranti memergokinya memandangi Noushafarin.


Mama Kandi dan Miranti menikmati makan siang sambil sesekali mengobrol. Noushafarin sedikitpun tidak membuat sebuah gerakan untuk menarik perhatian Miranti. Gadis itu malah tak lagi nampak batang hidungnya begitu selesai menyajikan makanan.


Sekitar pukul 2 siang Miranti berpamitan. Ingin sekali ia meminta ijin untuk menemui Noushafarin sekali lagi. Namun ia takut Nou marah dan membuat Nyonya Kandi curiga. Dengan berat hati gadis itu meninggalkan kediaman keluarga Wasesa.


Sementara itu, di dalam ruang kerja. Seorang teknisi sedang memasang kamera pengintai di sebuah jam yang posisinya sangat strategis untuk memantau seluruh ruangan. Teknisi itu adalah orang kepercayaan keluarga Tora, itu sebabnya Dokter muda ikut mengawasi pekerjaan pria tersebut.


"Gimana urusan cari anak gadis yang kabur itu? Sudah ketemu?"


"Pencariannya dibatalkan."


"Kenapa?" Sadewa mengernyitkan dahinya. "Belum ketemu kok sudah berhenti."


"Entahlah." Tora mengangkat kedua bahunya. "Temanku cuma bilang begitu. Aku pun lupa bertanya apa alasannya." ia terkekeh menertawakan dirinya sendiri sambil menggaruk tengkuk.


Sadewa melempar Tora dengan kaleng bir yang telah kosong.


"Kenapa nggak dari dulu aja sih pasang kamera di ornamen begini?" tanya pemuda itu sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Baru dapat ilham." jawab Sadewa seenaknya.


Tora berdecih mendengar jawaban tak jelas sahabatnya itu.


"Wa, aku minta air mineral yang dingin dong."


"Minum saja yang ada."


"Isshhh, aku ingin air mineral."


"Tadi kenapa nggak beli sekalian sih Pak Dokter? Yang kamu ambil cuma bir sama minuman bersoda saja." Sadewa kesal karena Tora terus merengek seperti anak kecil minta mainan kepada orang tuanya.


"Lupa." jawab Tora sambil nyengir.


"Kenapa nggak lupa pakai celana sekalian?!" Sadewa mendengkus kemudian keluar ruangan. Kebetulan ia melihat Arin sedang berjalan menuju dapur.


"Arin!"


"Iya Tuan." gadis itu segera mendekat.


"Tolong ambilkan 3 botol air mineral. Yang dingin ya."

__ADS_1


"Baik Tuan." Arin segera berbalik.


"Eh, Arin." panggil Sadewa sekali lagi membuat gadis itu seketika berhenti dan menoleh padanya.


"Kamu sudah makan?"


Arin mengernyit, sesaat gadis itu terdiam. "Su-sudah Tuan."


"Baguslah." ujar Sadewa dengan wajah tanpa ekspresi.


Gadis itu segera berbalik meneruskan langkahnya. Ekspresinya sih sama, datar terus. Tapi ucapan sama pertanyaan-pertanyaannya itu lho.


Perlakuan Sadewa yang berubah sedikit ramah padanya membuat Arin terheran-heran. Pasti ada udang di balik batu.


Tak berlama-lama ia sudah kembali dengan membawa pesanan Sadewa. Saat akan mengetuk, Arin dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.


"Masuklah." ternyata Sadewa yang membukakannya pintu.


Arin masuk dan meletakkan minuman di sebuah meja yang tak jauh dari pintu. Ia tak berani masuk lebih dalam karena takut mengganggu pekerjaan majikannya.


"Arin." saat akan berbalik tiba-tiba Tora memanggilnya.


"Iya Tuan." jawab gadis itu setelah membalikkan badannya menghadap Tora.


"Ini untuk kamu." Tora menyerahkan sebungkus SoySenang.


Mata gadis itu membulat sempurna, refleks wajahnya berseri-seri. Ia tak menutupi ekspresi kebahagiaan karena diberi cemilan favoritnya.


"Sa-sama-sa-ma." dada Tora berdebar, Dokter itu bahkan terbata, senyuman Arin seolah mendobrak hatinya, Dokter Muda itu terpesona. Begitu pun dengan Sadewa, ia terperangah melihat betapa cantiknya Arin saat tersenyum bahagia dan tertawa kecil.


Cantiknya, cantik sekali, batin Sadewa memuji. Ia bahkan tak mampu memalingkan wajahnya walau sesaat.


"Tuan Tora." Teknisi itu memanggil, suaranya menarik paksa pikiran Tora dan Sadewa kembali ke alam nyata.


"Iy-iya." Tora masuk kembali, sesekali ia menoleh melihat Arin. Namun ia terlihat kecewa karena Arin segera berbalik dan keluar ruangan.


"Kamu dikasih makanan murahan begitu saja sudah senang sekali?" Sadewa ternyata ikut keluar.


Noushafarin berbalik, ia bingung dengan sikap Sadewa yang terlihat marah.


"Karena cemilan ini cemilan kesukaan saya, Tuan." jawabnya sambil menunduk.


"Kenapa tidak tersenyum padaku?"


"Hah? Maaf?" Noushafarin bingung dengan pertanyaan Sadewa.


"Sudahlah. Lupakan!" Sadewa berbalik kembali masuk ke ruang kerja.


Aneh, sebentar baik sebentar marah-marah. Kesambet apaan sih.


Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya, sesekali ia bersenandung. Siang ini hatinya terasa ringan, pernikahan dibatalkan, dapat sebungkus SoySenang.

__ADS_1


Benar-benar senang, tanpa sadar ia terkekeh.


"Kayaknya lagi senang banget Rin." ucap Siska yang tiba-tiba muncul.


"Eh, Teh Siska. Biasa aja kok Teh." kilah Noushafarin. "Ada apa Teh?" gadis itu heran dengan temannya yang tiba-tiba menghampiri saat kerja, tidak biasanya.


"Begini, si Debi lagi hari pertama kedatangan tamu. Jadi perutnya sakit sekali, nggak bisa kerja. Kamu bisa bantu Teteh beresin lantai 2? Cuma bantu bersihin ruang tengahnya." pinta Siska.


"Iya Teh, bisa." Noushafarin menyanggupi.


"Makasih ya Rin. Kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu baru habis itu nyusul ke lantai 2."


Gadis itu hanya mengangguk dan meneruskan pekerjaannya. Tak lama kemudian ia menyusul Siska ke lantai 2 dan merapikan ruang tengah. Siska membersihkan lantai sedangkan Noushafarin membersihkan perabotan dan ornamen penghias ruangan.


"Rin, kamu lanjutin dulu bersih-bersihnya. Teteh ke toilet bentar." tanpa menunggu jawaban Noushafarin, Siska melesat menuruni tangga dan menuju Toilet pekerja.


"Teteh ada-ada saja, kenapa nggak pakai toilet yang disini aja?" ucap Nou sambil geleng-geleng kepala.


Beberapa menit kemudian ia sengaja berhenti sejenak dan berdiri tegak, mencoba mengurangi rasa sakit pada punggungnya. Saat sedang memijat leher dan menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, ia terkejut sebuah tangan muncul menyodorkan sebotol air mineral dari arah belakang.


Dengan cepat gadis itu berputar dan mundur menjauhi si pemilik tangan.


"Tu-tuan." Noushafarin menunduk begitu matanya beradu pandang dengan mata Sadewa.


"Minumlah." tangan Pemuda itu masih terulur ke depan memegang sebotol air.


"Te-terima kasih." saat ia sudah menyentuh botol, Sadewa masih menahannya hingga Noushafarin tak dapat mengambil botol itu.


"Kenapa tidak tersenyum kepadaku?"


"Hmm? Maaf Tuan?" kedua alis Nou bertaut, ia tak mengerti maksud Sadewa.


"Lupakan." Sadewa melepas pegangannya dan menuruni tangga.


Senyum gimana sih maksudnya? Nou terdiam memikirkan ucapan Sadewa. Ah, sudahlah. Buat pusing saja, ngapain dipikirkan. Seperti kata Sadewa tadi, lupakan.


"Rin, Tuan Muda Sadewa dari sini?" tanya Siska yang baru kembali.


"Iya Teh."


"Ngapain?" pandangan Siska seperti seorang penyidik.


Noushafarin juga bingung, pasalnya Sadewa hanya memberi air lalu kembali turun ke lantai 1. Tapi aktifitas Sadewa sebelum menemuinya tidak Nou ketahui sama sekali.


"Nggak tahu juga sih Teh, naiknya kapan aja aku nggak dengar." jawab Nou seadanya, ia memilih tidak menceritakan soal memberi air mineral itu.


"Eummm, kirain ngerjain kamu lagi."


Noushafarin tersenyum tipis dan melanjutkan tugasnya yang hampir selesai. Kalau diceritain semuanya bisa timbul gosip yang enggak-enggak. Yahhh, aku hanya ingin menyelesaikan kontrak 45 hari ini dengan baik tanpa masalah.


***

__ADS_1


__ADS_2