
Sadewa berusaha membuat dirinya senyaman mungkin, namun sayangnya ia tetap tak bisa terlelap. Bayangan Noushafarin ada di semua sudut rumah, membuatnya semakin tersiksa dengan rindu yang mendera.
Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Nakula juga baru akan keluar kamar.
"Tak bisa tidur?"
"Iya. Kamu?" Sadewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sama." Nakula tersenyum kecut.
Hhhhhhh....
Keduanya sama-sama menghela napas berat. Kemudian melangkah menuju sofa dan menghempaskan diri disana.
"Naku."
"Hmmm."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Hancur."
"Tak bisa kubayangkan."
"Yahhh."
"Dia melukai kita semua."
"Diperjelas saja. 'Dia' itu siapa?"
"Nama yang tak boleh disebut."
"Voldemort?"
"Bukan. Putrinya, Nagini."
"Itu ularnya."
"Anandhi."
"Drama india?"
"Kau tahu tentang itu? Hebat."
"Anjani yang menyukainya."
"Akhirnya kau menyebut namanya."
"Sadewa."
"Hmmmm."
"Bosan hidup?"
"Tidak."
Hening, kedua orang itu menatap langit-langit dengan tatapan menerawang.
"Sadewa."
"Ya."
"Kau sangat merindukan Noushafarin?"
"Tentu."
"Bagaimana rasanya?"
"Berat."
"Masih kuat?"
"Tentu, aku lebih hebat dari Dylan."
"Mustahil."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dia lebih berat karena menanggung rindunya dan rindu kekasihnya. Sedangkan dirimu? Belum tentu Nou merindukanmu."
"Naku."
"Hmmmm."
"Masih ingin lihat matahari?"
"Tidak, aku berharap besok hujan lebat."
"Bagus, karena besok kau akan pergi melihat proyek perbaikan jembatan ke pulau reklamasi."
"Aku tarik kembali ucapanku."
"Terlambat, cicak sudah berbunyi."
"Apa hubungannya?"
"Kata orang perkataanmu bisa jadi kenyataan kalau setelah berbicara kemudian cicak berbunyi."
"Benarkah?"
"Hmmmm."
"Sadewa."
"Hmmmm."
"Bisakah berhenti berkata-kata aneh begini?"
"Perintahkan authornya berhenti, dia sedang gila."
"Mungkin dia juga sedang rindu."
"Ternyata rindu sama berbahayanya dengan serangan jantung."
......................
Ia berdiri dan memandangi mereka, kemudian masuk ke kamar keduanya untuk mengambil selimut. Begitu lelapnya mereka berdua, hingga tak terusik sama sekali bahkan saat Pandu membelai rambut keduanya dengan penuh kasih.
Orang tua mana yang tak merasa iba, melihat anak-anaknya patah hati di waktu yang sama.
Pandu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, kemudian ia kembali turun menuju kamarnya.
......................
Suara Sadewa membuat Sekretaris Li terperanjat. Padahal ruangan pemuda itu jauh dari meja kerjanya. Tak lama kemudian seorang pegawai keluar dari sana dengan setengah berlari dan tubuh gemetar ketakutan.
Sekretaris Li hanya bisa geleng-geleng kepala, sudah sekitar 6 bulan terakhir, Tuan Muda itu menjadi sangat pemarah. Tak ada lagi sikap ramah dan senyuman hangat yang bersahabat di wajah tampannya. Ada sedikit saja kesalahan, ia akan naik pitam. Selain itu, Sadewa juga jadi gila kerja.
Sampai Nyonya Kandi terpaksa menjaganya saat makan. Jika tidak, bekal yang dibawakan hanya akan tergeletak di meja tanpa disentuh.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Seorang gadis cantik tengah merenggangkan otot-ototnya. Ia baru saja bangun dari tidur panjangnya yang baru kali ini bisa ia nikmati setelah 6 bulan kembali pada rutinitasnya.
Setelah kembali magang dan kuliah, waktu tidur Noushafarin berkurang sangat jauh. Gadis itu menyibukkan diri dengan berbagai hal diwaktu istirahatnya. Hingga kemarin sore Tatiana datang dan kemudian mencampur obat tidur di minuman Nou.
Hal itu terpaksa dilakukan Tatiana setelah Georgia, teman baik Nou, melapor padanya. Noushafarin hanya tidur sekitar 4 - 5 jam dalam sehari selama berbulan-bulan.
Begitu tahu saat ia tiba adalah hari off Noushafarin, Tatiana segera melaksanakan ide gila yang sudah ia persiapkan sejak masih di Indonesia.
"Hai puteri tidur." Tatiana tersenyum melihat Nou yang keluar kamar dengan penampilannya yang acak-acakan.
Sedang Goergia terpana dengan mulut terbuka. Penampilan berantakan Nou adalah hal paling langka untuk dilihat. Rambut kusut, mata yang masih belum membuka sempurna, dan tak ada lingkaran hitam di bawah mata.
"Apakah matahari terbit dari utara?" ucap Georgia pada akhirnya.
"Jangan berlebihan Georg." Nou duduk di samping gadis itu kemudian meneguk segelas air putih hangat yang disodorkan Tatiana. "Terima kasih."
"Sama-sama."
"Untuk air putih dan obar tidurnya." imbuh Nou.
Tatiana terkikik geli. "Senang kau bisa menerimanya tanpa drama."
__ADS_1
"Aku sudah selesai, terima kasih untuk sarapan yang lezat ini." Georgia beranjak setelah menghabiskan omlet dan membawa piring untuk dicuci.
"Sama-sama." Tatiana menyiapkan sepiring omlet untuk Nou.
"Ada jadwal pagi ini?" Nou menatap Georgia heran.
"Tidak ada, tapi aku akan pergi kencan dengan Ivan sebelum pergi ke Rumah Sakit."
"Kencan? Sepagi ini?"
"Namanya juga rindu." Georgia tersipu malu saat mengatakannya kemudian bergegas menuju kamar untuk bersiap.
"Makanlah." Tatiana menyodorkan sepiring omlet kemudian duduk di depan Nou sambil menikmati kopinya.
Tak ada percakapan diantara keduanya hingga teriakan Georgia yang berpamitan terdengar. Nou tersenyum tipis melihat kepergian gadis blasteran Indonesia Amerika itu.
"Tak ingin seperti dia?"
"Maksud Kakak?"
"Berkencan sebelum bekerja."
Noushafarin tersenyum kecut. "Aku tak bisa."
"Tak bisa atau tak mau?"
Nou mengetuk-ngetukkan garpu ke bibirnya sebelum menjawab. "Mungkin dua-duanya. Entahlah." ia mengangkat kedua bahunya kemudian melanjutkan makannya.
"Bahkan setelah mendengar pesan yang disampaikan melalui Darian, kamu nggak punya perasaan gimana gitu?"
"Perasaan gimana?"
"Ya rasa aneh mungkin. Kalau dia cuma main-main kok sampai segitunya nyari kamu. Bahkan orang tuanya juga ikut nyariin."
"Nou nggak mau mikirin itu dulu deh kak."
"Kalau memang nggak mau mikirin Sadewa, coba buka kesempatan untuk cowok lain."
"Kapan-kapan aja kak."
Tatiana menghela napas, melalui telepon atau pun tatap muka. Jawaban Noushafarin selalu sama, 'kapan-kapan aja."
"Kapan-kapannya itu kapan Nou?!" Tatiana jadi terbawa emosi. Ia beranjak dari sana dan menuju ruang tengah dan mulai memainkan piano yang ada disana.
Noushafarin terdiam, ia merenungkan perkataan keluarganya. Bahkan Ayah dan Bunda sering bertanya, mengapa keluarga Wasesa terus mencarinya. Alasan menjadi ART di kediaman mereka tidak cukup untuk menghentikan rasa penasaran yang ada.
Jika semua baik saat ia bekerja, mengapa keluarga Wasesa berusaha untuk bertemu dengan Nou?
Pertanyaan itu selalu memenuhi pikiran Ayah Bardia dan Bunda Farena.
Pertanyaan yang belum siap Nou jawab. Ia merasa sangat menyedihkan jika mengingat semua itu.
Setelah pulang, Nou memang tak pernah menceritakan perihal hubungan spesialnya dengan Sadewa pada Ayah dan Bunda. Ia baru bercerita pada Miranti dan Tatiana. Dan pastinya Kak Darian pun telah mengetahui permasalahan ini karena Kakaknya itu pernah menyampaikan pesan dari Sadewa untuknya.
Nou menatap omletnya, sebenarnya ia sudah tak ingin lanjut makan. Namun karena tak mau Kak Tatiana mengadu, akhirnya Nou menghabiskan seluruh makanannya.
Setelah mengbersihkan piring dan peralatan makannya, Nou bergabung dengan Tatiana. Namun baru saja akan duduk, ponsel pintarnya berbunyi. Ia mengernyit menatap nomor Rumah Sakit.
"Ya."
"....."
"Ok." ucapnya kemudian meletakkan ponsel di meja.
"Ada apa?" Tatiana memandang Nou dengan wajah penasaran.
"Ada operasi, anak 3 tahun. Maaf tidak bisa menemani Kakak hari ini."
"Pergilah, aku mengerti." sebagai sesama Dokter, Tatiana pun sering dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Tatiana hanya mendesah menatap kepergian adik sepupunya itu. Ia tahu, Nou berusaha menyibukkan diri agar tak terlalu mengingat Sadewa.
...****************...
Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤
__ADS_1