Noushafarin

Noushafarin
Bab 29


__ADS_3

Seusai makan malam, Nakula dan Sadewa duduk di ruang tengah lantai dua. Sadewa memegang sebuah benda kecil semacam flashdisc tapi ukurannya lebih pendek.


"Bisa dilacak siapa peretasnya?"


Nakula menggeleng pelan. "Orang yang aku kenal tak mampu melakukannya. Jadi dia menghubungi kenalannya di Tiongkok. Kita tinggal menunggu informasi dari mereka. Katanya tidak lama lagi, mungkin tiga atau empat hari." ia menunduk dan memijat pelipisnya.


"Secanggih-canggihnya aplikasi, tetap memerlukan perangkat keras juga rupanya." Sadewa tersenyum sinis menatap benda di tangannya.


Saking asyiknya bercerita, mereka tak menyadari kehadiran Anjani. Istri Nakula itu berhenti beberapa saat mengamati benda yang dipegang Sadewa. Matanya memicing dan tampak sedang berpikir.


"Anjani." Nakula menyadari keberadaan istrinya saat mengangkat wajah.


"Hai." jawab wanita itu sambil tersenyum manis. "Aku membawakan teh hangat untuk kalian berdua."


"Terima kasih." Sadewa terlihat tulus.


"Ada apa dengan benda di tanganmu itu?" tanya Anjani saat mengambil posisi duduk di samping Nakula.


"Oo ini, Naku tadi mencabutnya dari komputer."


"Aku yang memasangnya. Apakah salah pasang?"


"Apa?!" Nakula dan Sadewa memekik.


"Kalian ini kenapa?" Anjani memandangi kedua saudara kembar itu bergantian.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" Sadewa bertanya sambil mencondongkan tubuhnya.


"Siska yang memberikannya kepadaku. Waktu itu dia sedang membersihkan ruang kerja. Katanya ia menemukan benda itu tergeletak di dekat komputer. Jadi aku pikir itu adalah semacam pemancar untuk mouse dan keyboard tanpa kabel yang lupa kalian pasang kembali."


"Kapan itu terjadi?"


"Hmmmmm.... Beberapa bulan lalu saat Siska menggantikan tugas Inah."


Sadewa tersenyum tipis. "Terima kasih ya Jani."


"Apakah aku salah memasangnya?" Anjani menatap Nakula dalam-dalam.


"Tidak, kamu tidak salah." jawabnya sambil mengusap rambut Sang Istri.


......................


Noushafarin berbaring dan terus menatap langit-langit kamar. Ia tersenyum mengingat setiap perkataan dan perlakuan Sadewa padanya. Kadang menyebalkan, tapi kadang cukup membuat debaran-debaran tak karuan di dadanya.


"Cieeee.... yang lagi jatuh cinta."


Nou kaget, ia segera mengambil posisi duduk.


"Eh...Mbak belum tidur."


"Belum." Inah terkikik geli melihat wajah gadis itu merona. "Siapakah pemuda yang beruntung itu?" imbuhnya menggoda.


"Apaan sih Mbak? Beruntung apanya?"


"Beruntung karena menguasai hati dan pikiranmu."


"Mbak ngasal aja deh kalau ngomong."


"Kok ngasal. Mbak ini lebih tua dari kamu Rin. Jadi lebih berpengalaman."


Noushafarin terkekeh melihat Mbak Inah bicara sambil menepuk dada.


"Dari gelagat kamu yang melamun dan senyum-senyum sendiri, bisa dipastikan kamu lagi jatuh cinta."


"Ah, Mbak bisa aja."


"Tuh kan, mukanya merah lagi." Inah tertawa sambil menutup mulutnya, ia senang karena tebakannya benar.


Tak kuat menahan malu karena terus digoda, Nou beranjak dari tempat tidurnya dan hendak pergi keluar.


"Eh..Eh.. Mau kemana?" Mbak Inah heran.


"Ke dekat lapangan basket dulu. Sumpek digoda terus."


"Jam berapa ini?"


"Baru jam 9 kok Mbak. Janji deh, nggak lama perginya."


Mbak Inah tersenyum geleng-geleng kepala. "Bener ya, jangan kelamaan."


"Iya Mbak."


Noushafarin sangat menyukai interaksinya dengan pekerja disana, mereka sudah seperti keluarga kedua. Suasana bekerja pun menyenangkan, berbeda jauh dengan di kampus atau tempat praktek. Aura persaingan begitu terasa. Mungkin karena jenis pekerjaannya berbeda.


Tapi sepertinya tidak juga. Mimi pernah mengingatkan, bahwa dalam dunia pekerjaan ART, ada juga persaingan. Persaingan ingin mendapatkan perhatian lebih dari majikan agar bisa mendapat bonus lebih besar dari yang lainnya. Namun sepertinya hal itu tak berlaku di kediaman Tuan Wasesa.


Jadi dimanapun dan apapun jenis pekerjaan, yang namanya persaingan itu tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu kita sendiri yang harus bijak dalam mengambil sikap.


Nou duduk bersandar di bangku taman favoritnya, ia memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam. Keheningan tempat itu membawa ketenangan tersendiri baginya. Cukup lama ia duduk sambil menutup mata, wajahnya yang cantik semakin terlihat karena senyuman manis yang terukir disana.

__ADS_1


Perlahan ia membuka dan terkejut dengan sosok pemuda yang sudah berada di depannya.


"Ya ampun!!!"


"Aku kira kamu tidur sambil duduk." ucap Sadewa dengan santainya dan segera duduk di samping kiri Noushafarin.


"Cepet banget sih buka matanya." Nou mengernyit mendengar protes Sadewa itu.


"Nanti bisa tidur beneran."


"Padahal aku belum puas lihat wajah cantik kamu."


Kedua alis gadis itu terangkat. Ia menyunggingkan senyum meremehkan.


"Aku serius, bukan lagi ngegombalin kamu."


Nou menunduk, debaran di dadanya terasa sangat cepat.


"Arin."


"I-iya Mas." tanpa sadar jemari Nou bertaut, terkadang ia menyelipkan anak tambit di belakang telinga.


"Kamu gugup ya."


"Hah?!" Nou menatap Sadewa yang tengah tersenyum manis padanya. "Eng...."


"Aku juga gugup." potong Sadewa cepat sambil meraih kedua tangan Noushafarin. Gadis itu semakin tak berani menatap wajah pemuda disampingnya.


"Arin." panggilnya lagi sambil menatap mata Noushafarin dalam-dalam. Perlahan Nou mengangkat wajah dan pandangan keduanya bertemu.


"Aku sayang kamu."


Sadewa mengungkapkan perasaannya, suaranya terdengar tegas namun lembut, serta tulus menyentuh hati Noushafarin. Membuat gadis itu tak dapat berkata apa-apa. Ia terkejut dan juga bahagia, pemuda yang menguasai hatinya memiliki perasaan yang sama.


"Maaf aku nggak bisa menahan ini lebih lama lagi. Aku nggak bisa menunggu sampai permasalahan di rumah selesai."


Nou tersenyum manis mendengar penuturan Sadewa.


"Kok senyum aja sih Rin."


"Lalu saya harus bagaimana?"


"Jawab dong."


"Jawab apa? Emang pertanyaannya apa?" Noushafarin memiringkan kepala dengan raut wajah dibuat serius.


"Aku lupa." Sadewa terkekeh pelan. "Arin, maukah kamu jadi pendamping hidupku?"


"Aku nggak mau pacaran Rin, aku mau langsung menikah sama kamu."


"Tapi Mas, kan Mas tidak kenal keluarga saya bahkan tidak kenal pribadi saya."


"Kalau masalah saling mengenal kita bisa ngobrol, atau buat daftar tentang diri kita sendiri. Dan untuk pengenalan lebih jauhnya bisa dilakukan setelah menikah. Terus untuk keluarga kamu, begitu masalah di rumah dan kantor selesai, aku akan segera menemui mereka."


Noushafarin mengamati wajah pemuda yang tengah melamarnya itu. Tak ada candaan yang tersirat disana, Sadewa begitu serius mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Mata pemuda itu terus menatap mata Nou dengan pancaran yang menandakan ketegasan keseriusan.


"Mas, ini terlalu mengejutkan."


"Kamu nggak percaya sama aku, Rin?"


"Percaya, tapi kalau langsung menikah..."


"Ok, kita pacaran dulu."


"Berubah lagi?"


"Iya, biar saja. Yang penting aku bisa mengikat kamu dalam sebuah komitmen."


Nou menahan tawanya, tingkah pemuda itu sekarang seperti anak kecil yang tidak ingin melepas mainan kesayangannya.


"Aku takut kamu diserobot Jono."


"Hahahahaha...." Nou tak dapat lagi menahan tawanya saat nama Jono disebut. "Kenapa bawa-bawa Kang Jono sih Mas."


"Kalian kelihatan dekat sekali." wajah Sadewa terlihat masam.


"Tapi antara kami nggak ada hubungan apa-apa Mas."


"Iya tahu, makanya aku harus cepat memiliki kamu. Sebelum pemuda lain nyerobot."


"Berasa kayak tanah sengketa aja." Nou tersenyum geli.


"Jadi gimana Rin?"


Gadis itu menunduk sambil menggigit bibirnya, kemudian ia mengangguk.


Sadewa tersenyum senang, namun ia merasa kurang puas. "Kok cuma ngangguk."


Noushafarin akhirnya menatap Sadewa malu-malu. "Aku juga sayang sama Mas."

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum lebar, ia menarik Noushafarin masuk dalam pelukannya dan mencium kepala gadis itu berkali-kali.


"Arin, i love you." ucapnya lirih.


Kalimat itu membuat mata Noushafarin membulat sempurna, ia tersadar akan statusnya. Bagaimana kalau Sadewa akan menganggapnya pembohong jika tahu kebenarannya. Nou menjadi gelisah dalam dekapan Sadewa.


"Mas, mengenai keluargaku dan latar belakangku..."


"Aku akan memberi pengertian kepada orang tuaku." Sadewa memotong ucapan Nou. "Aku murni jatuh cinta padamu, bukan karena ada alasan lain. Jadi bagaimanapun kondisi keluargamu, aku akan menerima mereka."


"Tapi Mas kan belum lihat sendiri. Mas yakin nggak akan menyebutku berbohong dan bersandiwara untuk memikat Mas?"


Sadewa melepas pelukannya dan memegang lengan Nou. Ia menatap kekasih barunya itu lekat-lekat. "Apapun itu, aku siap menerima keadaanmu. Dan aku akan memberi kesempatan untuk menjelaskan. Itu pun jika ada yang kau sembunyikan."


"Terima kasih Mas."


Sadewa mendekatkan wajahnya, kemudian ia menempelkan dahi mereka. Satu tangannya membelai rambut Noushafarin dengan penuh kelembutan.


"Begitu masalah Mama selesai, aku akan langsung mrmberitahukan padanya."


"Masalah apa Mas?"


"Tentang penyebab sakitnya. Tapi maaf aku belum bisa memberitahu padamu. Anjani pun tidak diberi tahu Nakula."


"Aku ngerti kok Mas."


Maaf Mas, aku sudah tahu bahkan lebih dulu curiga.


......................


Sadewa sengaja berjalan-jalan pagi di halaman belakang, hari ini ia sudah meminta ijin pada Papa Pandu akan terlambat datang ke kantor. Ada sesuatu yang harus ia selidiki.


"Duh, Siska mana sih?" Inah berjalan mencari Siska tanpa menyadari keberadaan Sadewa. Tangan teman sekamar Noushafarin itu tampak memegang sebuah bungkusan semacam plastik obat berukuran sedang berisi bubuk putih.


"Itu apa, Inah?" kehadiran Sadewa yang tak diduga membuat Inah menjengit seraya memegang dadanya.


"Tu-tuan, ngagetin aja."


"Maaf."


Inah terdiam, ia sedang mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan Sadewa. Ia ingat dulu Siska pernah mengatakan jangan memberi tahu siapapun soal bubuk itu. Karena ia akan malu diledek rekan yang lain.


Namun saat ini Tuan Mudanya yang bertanya, jika ketahuan berbohong bisa runyam masalahnya. Jika biasanya Inah akan mengakui itu adalah miliknya, maka kali ini ia akan berkata jujur.


"Ini punya Siska, Tuan." Inah menjawab pertanyaan Sadewa setelah melihat Tuan Mudanya menatapi bungkusan di tangannya.


"Kenapa bisa sama kamu?"


"Karena Siska selalu mengirim barang atas nama saya, Tuan."


"Sejak kapan?"


"Kalau tidak salah ingat, hampir setahun ini."


"Jadi, apa fungsi serbuk putih itu?"


"Ini bubuk pemutih wajah, Tuan."


"Emmmm, bolehkah saya memintanya sedikit?"


Inah menatap heran pada Sadewa.


"Bukan saya yang mau pakai." pemuda itu mengerti apa yang dipikirkan Inah. "Stok untuk isengin orang."


"Ya ampun, Tuan Muda. Masih saja hobi ngerjain orang." Inah terkekeh geli. "Sebentar ya Tuan, saya ambilkan kertas wadah lain."


Tanpa curiga, Mbak Inah segera mengambil plastik kecil yang masih bersih dan membagi sedikit bubuk pemutih itu. Hanya sedikit saja, supaya Siska tidak curiga.


"Terima kasih ya Inah."


"Iya, Tuan."


Sadewa pergi dari sana dengan hati yang bahagia, namun ia berusaha untuk tetap memasang wajah datar. Bungkusan dari Inah ia masukkan ke dalam kantong celananya. Pemuda itu bergegas kembali ke kamarnya.


Ia mengambil ponsel dan menghubungi temannya. Selama menunggu panggilannya diangkat, Sadewa berjalan kesana kemari di dalam kamar. Pemuda itu gugup dan tak sabar ingin segera berbicara dengan orang diujung sambungan itu.


"....."


"Halo, ini aku, Sadewa."


"....."


"Aku memerlukan bantuanmu untuk memeriksa sesuatu."


"....."


"Aku kesana sekarang."


......................

__ADS_1


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2