
Zoya telah dipindahkan ke ruang perawatan khusus anak yang mengalami sakit pada bagian organ dalam tubuhnya. Melati dan Arya menatap putrinya terbaring dari balik kaca yang menjadi sekat ruangan itu. Keduanya telah diperiksa dan hasilnya kondisi mereka dalam keadaan baik.
"Dia tidur dengan tenang, sudah tidak terlihat kesakitan lagi." gumam Melati dengan air mata yang kembali menetes sedikit demi sedikit.
Arya tak menanggapi, lelaki bertubuh kekar dengan beberapa tato di tangannya hanya mengusap bahu istrinya untuk menenangkan wanita itu.
Terdengar pintu di ketuk, keduanya menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Permisi." Noushafarin dan Darian muncul.
"Mari Nona, Tuan." Melati tersenyum melihat penolong anak mereka muncul. "Mas, ini orang-orang yang sudah menolong kami. Perkenalkan, ini Arya suami saya." Melati menggandeng suaminya yang terdiam membisu melihat Noushafarin dan Darian.
"Saya Darian, dan ini adik saya Noushafarin." ucap Darian memperkenalkan dirinya dan Nou.
"Aduh maaf, saya sampai lupa bertanya nama Nona dan Tuan Muda." ujar Melati malu-malu.
"Tidak masalah." Nou mengibaskan tangannya. "Bagaimana kondisi Zoya?"
"Dia sudah lebih baik setelah diberi obat." jawab Melati sambil menoleh melihat anaknya.
"Syukurlah kalau begitu." Noushafarin terlihat lega.
Sekali lagi pintu diketuk, seorang pemuda berpakaian cleaning service memasuki ruangan.
"Permisi Tuan, ruangannya sudah siap." ucapnya melapor pada Darian.
"Terima kasih, tunggu sebentar ya." Darian mendekati sepasang suami istri yang sedang bersama Nou melihat kondisi anak mereka.
"Pak Arya dan Ibu Melati, mari ikut pegawai ini. Dia akan mengantar kalian ke unit tempat peristirahatan selama Zoya menjalani pengobatan sampai tuntas. Dia akan menjelaskan semuanya dalam perjalanan."
"Bagaimana dengan Zoya?" Arya menatap Darian kemudian beralih pada putrinya dengan tatapan cemas.
"Tenang saja, ruangan ini diawasi 24 jam oleh perawat. Sebaiknya Bapak dan Ibu membersihkan diri, makan dan istirahat sejenak. Kalau kalian sakit, kasihan Zoya." Nou memberi pengertian. "Aku akan ikut kalian. Mari."
Walau ragu, Arya dan istrinya tetap mengikuti Noushafarin dan cleaning service menuju tempat mereka istirahat.
Setelah berjalan beberapa menit dan naik ke lantai atas menggunakan lift, sampailah mereka di sebuah unit apartemen.
"Ini adalah apartemen yang sengaja dibangun untuk keluarga dari pasien yang harus menjalani perawatan jangka panjang." Noushafarin menjelaskan saat mereka tiba dan masuk ke dalam apartemen itu.
Arya dan Melati tercengang melihat hidangan yang tersedia dan fasilitas yang berada di dalamnya. Unit tersebut sudah siap huni.
"Ta-tapi..." Melati tercekat.
"Sudah kubilang, jangan pikirkan yang lain. Cukup berdoa untuk kesembuhan Zoya."
Melati tak dapat lagi menahan air matanya. Ia memeluk Noushafarin dan menangis sesegukan. Arya menutup wajah dengan kedua tangannya, bahunya terlihat berguncang. Noushafarin mengusap punggung Ibu Melati untuk menenangkan wanita itu.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih Nona." ucap Melati disela-sela tangisnya. Kemudian Melati mengurai pelukannya dengan Noushafarin dan menuju suaminya. Sepasang suami istri itu berpelukan sambil menangis.
"Terima kasih banyak Nona, terima kasih banyak."
__ADS_1
"Sama-sama Pak. Saya pamit, dia akan menjelaskan semua kepada bapak." Noushafarin menunjuk Sang Cleaning Service yang berdiri di dekat pintu dengan mata memerah.
"Nona, terima kasih ya."
"Iya ibu. Permisi."
Arya menatap kepergian Noushafarin dengan wajah bimbang.
"Ada apa Mas?"
Arya menggeleng pelan. "Bukan apa-apa."
"Bapak, ibu, perkenalkan saya Ben. Saya akan melayani bapak dan ibu selama disini."
"Kita ini sama-sama orang kecil, jangan bicara formal begitu." ujar Melati.
"Tapi bapak dan ibu adalah tamu Tuan Darian Armani, jadi sudah sepantasnya saya berbicara formal."
"Armani?" Arya bertanya kembali memastikan.
"Iya Pak, benar."
"Jadi mereka anak pemiliki rumah sakit ini?"
"Iya Pak."
"Mas, maksud Mas apa?" Melati kebingungan.
Melati menutup mulut dengan kedua tangannya. "Ya ampun Mas. Mas tahu darimana?"
"Dari teman."
"Baju ganti dan peralatan lain sudah disipkan di lemari samping tempat tidur. Dan ini adalah kunci pas unit ini. Jika ingin berbicara dengan saya silahkan telepon customer service dan minta berbicara dengan cleaning service Ben." Ben menjelaskan.
"Iya Ben, terima kasih banyak ya." Arya mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi." Ben berpamitan.
......................
Arya menatap keluar jendela, ia telah makan dan beristirahat. Ditatapnya Melati yang pulas tertidur. Mata istrinya terlihat bengkak karena sering menangis.
Pria itu mengeluarkan handphone dan menelepon seseorang.
"Ayo bertemu di tempat biasa." ucapnya setelah seseorang mengangkat teleponnya.
Setelah menyimpan handphone di dalam saku celana, Arya meraih jaket dan tas kecilnya.
"Mau kemana Mas? Ini sudah larut malam." tanya Melati yang terjaga.
"Aku keluar sebentar saja Dik."
__ADS_1
"Jangan mencelakai orang lagi Mas." pinta Melati, tanpa ia sadar air matanya kembali mengalir.
Arya duduk di pinggir ranjang dan menatap dalam-dalam mata istrinya. Tangannya terulur menyentuh pipi Melati.
"Mas tidak akan menyakiti siapa pun lagi. Mas janji. Mas sadar, bisa saja Zoya sakit parah karena kesalahan Mas juga."
Melati memeluk suaminya dan menangis. "Benar ya Mas."
"Iya Dik." Arya mengusap kepala dan mengecup dahi istrinya. "Mas pergi sebentar saja."
Sesudah berpamitan, Arya segera pergi menuju tempat yang sudah menjadi kesepakatannya dengan orang yang akan menggunakan jasanya.
Di sebuah tempat makan yang berada di rest area jalan tol, tampak Farida sedang menyesap kopinya. Penampilannya terlihat jauh berbeda dari biasanya, seperti orang yang tak ingin dikenali.
Tiba-tiba sebuah amplop coklat jatuh di meja tempat Farida menunggu. Disusul suara pria yang melempar amplop itu.
"Aku keluar. Ambil kembali uangmu." ucap pria itu sambil duduk di hadapan Farida.
"Tidak bisa, aku tidak terima. Kau harus melanjutkan rencana kita Arya!" Farida meradang.
"Aku tidak mau. Cari saja orang lain."
"Bukankah kau perlu uang untuk pengobatan putrimu. Akan kugandakan asal kau laksanakan secepatnya." tawar Farida.
"Tidak! Aku berhenti dari pekerjaan ini."
"Huhh!!! Mau bertobat rupanya." Farida menyunggingkan senyum sinis. "Memangnya siapa yang sudah menawarkan pekerjaan halal dengan gaji besar?"
"Tidak ada."
"Lalu? Dari mana kau akan mendapatkan uang untuk Zoya?"
"Malaikat tanpa sayap yang membayar semua biaya pengobatan putriku. Baiklah, aku pergi dan kita selesai." Arya beranjak.
"Tunggu, kalau begitu carikan rekanmu untuk menggantikan dirimu."
"Permintaanmu itu sulit. Namun sekali pun ada orang yang aku kenal mampu melakukannya, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu."
"Apa?!" Farida mengepalkan tangannya. "Oh..aku tahu. Kau ketakutan dan tak punya nyali menghadapi keluarga Armani. Kau hanya pecundang yang bersembunyi di balik kata tobat." Farida mulai memojokkan Arya.
"Terserah apa katamu." Arya tersenyum sinis.
"Hanya membereskan seorang Noushafarin Armani saja kau tak mampu? Kau memang pecundang!! Aku akan mencari orang lain untuk membunuh gadis itu kemudian membunuhmu!!" Farida tak bisa membendung amarahnya, ia tak peduli jika ada orang lain yang mendengar ucapannya.
"Lakukan yang kau inginkan, dan bersiaplah untuk menghadapiku." Arya menatap tajam Farida yang beringsut mundur.
"Pantas saja Tuan Muda Sadewa Wasesa lebih memilih Nona besar Noushafarin Armani. Matanya sangat tajam, melihat dengan jelas perbedaan berlian dengan sampah." Arya menekankan setiap kata kemudian berbalik dan pergi begitu saja.
"Arrrgghhhhh!!!!!!!Noushafarin si***n!!!!Arya si***n!!!!" umpat Farida sambil memukul-mukul meja.
......................
__ADS_1