Noushafarin

Noushafarin
Bab 52


__ADS_3

"Ya ampun Noushafarin!!! Kenapa berantakan begini?" Bunda membeliakkan mata tak percaya melihat keadaan ruang ganti putrinya.


"Itu Bun, dari tadi ganti karena belum dapat baju yang cocok." jawab Noushafarin sambil terus memilih baju. "Nanti Nou atur lagi kok Bun."


Bunda hanya bisa geleng-geleng kepala. "Walk in closet sebesar ini penuh dengan baju, masa nggak ada yang cocok juga sih Noushafarin Armani?"


"Iya nih Bun."


"Kata Sadewa, kalian mau kemana?"


"Makan malam saja sih Bun, terus jalan-jalan sebentar."


"Oo begitu." Bunda manggut-manggut. "Jadi, kamu mau pakai celana atau rok?"


"Nou belum tahu Bun. Pengen yang simpel tapi tetap cant eh bagus." Noushafarin menggigit bibir yang hampir keceplosan.


"Simpel tapi tetap cantik ya." Bunda Farena bergumam pelan. Noushafarin sedikit terkejut, namun gadis itu memilih melanjutkan pencariannya.


Bunda ikut mencari dan sesaat kemudian mengambil sebuah dress tanpa lengan berwarna pink. Tak lupa sepasang flat shoes berwarna senada dan jaket denim.


"Belum tahu mau pakai warna apa juga?"


"Belum Bun, tidak ada yang cocok sih. Jadi belum menentukan warna."


"Bukan tidak ada yang cocok. Tapi perasaan ingin tampil sempurna yang membuat semua terlihat jelek." ujar Bunda sambil meletakkan pilihannya di sofa yang berada di sudut ruangan.


"Hmmmm." Nou hanya bergumam tanpa memperhatikan Bunda.


"Duhhhh, anak ini." Bunda jadi gemas dengan tingkah putrinya. Beliau menarik pundak Noushafarin kemudian menunjuk ke sofa dengan dagunya. "Lihat pilihan Bunda."


Noushafarin tersenyum malu-malu kemudian mengikuti perintah Sang Bunda.


"Pink?"


"Iya, kan lagi jatuh cinta." jawab Bunda sekenanya.


"Emang bagus dipakai Nou?"


"Anak gadis Bunda itu pakai baju apa saja pasti kelihatan cantik." Bunda menarik pipi Noushafarin dengan gemas. "Dicoba saja dulu."


Noushafarin mengambil baju yang sudah disipkan dan mencobanya. Sedangkan Bunda sibuk merapikan kekacauan yang ditimbulkan gadis itu. Kencan pertama Sadewa dan Noushafarin sukses membuat ruangan tersebut seperti diterpa tornado.


"Bagaimana Bun?" Nou yang sudah selesai berganti baju meminta pendapat Bunda akan penampilannya.


"Ya jelas cantik dong. Anak Bunda." jawab Bunda dengan disertai kerlingan mata. "Apalagi dengan wajah khas orang lagi jatuh cinta. Jadi semakin cantik."


"Bunda bisa saja." gadis itu berusaha mengusir rasa malunya dengan sibuk menata rambut panjangnya yang indah tergerai. Sebuah jepit rambut menjadi satu-satunya pemanis tampilan Nou saat ini.


"Pertama kali kencan sama Ayah, Bunda pakai baju apa?"

__ADS_1


Farena mengernyit, ia berusaha keras mengingat peristiwa puluhan tahun silam. "Kalau tidak salah Bunda pakai dress juga. Tentunya dengan model yang sedang populer di masa itu."


"Apa Bunda tidak bingung saat memilih baju sepertiku sekarang ini?" tanya Noushafarin lagi sambil merapikan kekacauan yang ia buat.


Tak disangka Bunda tertawa terbahak-bahak. "Bunda lebih parah dari dirimu. Siang itu banyak sekali baju yang Bunda beli. Mungkin sekitar delapan atau sepuluh dress dengan berbagai macam model dan warna."


"Benarkah?"


"Iya, Bunda sampai kena omel Kakekmu." Farena tersenyum geli mengingat tingkahnya di masa lalu. "Baru resmi berpacaran dan akan pergi kencan, tentu Bunda ingin memberikan kesan yang baik."


"Apa semua gadis yang sedang jatuh cinta akan seperti ini Bun?"


"Mungkin ada gadis yang tidak mengalaminya. Mereka tetap tenang dan bisa memilih outfit tanpa membuat kegaduhan. Namun sebagian besar pasti akan seperti itu, merasa tidak ada yang cocok."


Noushafarin tertawa kecil mendengar penuturan Bunda Farena. "Ternyata aku tidak sendiri."


"Tentu saja tidak begitu. Bahkan ada yang lebih memalukan."


"Benarkah? Siapa dia dan apa yang terjadi Bun?"


"Bunda."


"Bunda kenapa?"


"Bunda lupa lepas label dari baju baru yang langsung Bunda pakai." Farena tergelak.


"Bunda?" Noushafarin ikut tertawa membayangkan yang terjadi saat itu.


"Ya ampun, Bunda." Noushafarin tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Bunda. "Terus gimana Bun?"


"Terus ayah tuh cuma bilang: Ooo. Udah gitu aja. Tapi tangannya langsung narik label yang ada di leher bagian belakang sambil ngomong gini : kayaknya pembantu kamu lupa lepas ini waktu nyuci." tawa Noushafarin semakin tidak terbendung, Bunda Farena sampai menutup wajahnya mengenang peristiwa memalukan itu.


"Disitu Bunda langsung lemes, hancur deh image Bunda. Bunda cuma bisa tertawa nggak jelas buat nahan malu."


"Ya ampuuunnn, lucunya Bunda." Noushafarin sampai memeluk Bunda Farena dengan gemas.


"Tapi kamu tenang saja." ujar Bunda sambil mengurai pelukan mereka. "Bunda sudah periksa label baju ini." ujar Bunda sambil terkikik geli.


"Iissss Bunda."


Disela-sela canda ria mereka, terdengar suara pintu diketuk. Bunda Farena berinisiatif untuk pergi membukakan pintu.


"Ya?"


"Nyonya, ada Tuan Sadewa di ruang tamu dan ingin bertemu Nona Besar."


"Kalau begitu, tolong katakan padanya, Nona Noushafarin sedang bersiap."


"Baik Nyonya. Permisi."

__ADS_1


"Iya, terima kasih ya."


"Sama-sama Nyonya."


Bunda segera kembali ke ruangan dimana putrinya sedang bersiap. "Nou, Sadewa sudah datang sayang."


"Iya Bunda. Ini sudah selesai."


Noushafarin keluar sambil memeriksa tas kecilnya. "Nou nggak akan pulang larut malam kok Bun."


"Bunda tahu sayang." Farena mengusap lengan Nou dengan penuh sayang kemudian membawa putrinya menemui Sadewa yang sudah menunggu.


Ternyata Nenek Faireh sedang berbincang dengan pemuda itu. Keduanya tampak akrab berbicara diselingi tawa.


"Cucuku sudah siap rupanya." sapa Nenek Faireh yang lebih dalu melihat kedatangan menantu dan cucunya.


"Iya Nek."


"Cantik sekali." puji Faireh.


Sedangkan Sadewa hanya diam, pemuda itu mengagumi penampilan sederhana Noushafarin dan terus menatapnya.


"Apakah kau hanya akan terus menatapnya?" bisik Nenek tepat di telinga Sadewa.


Pertanyaan Nenek Faireh membuat pemuda itu mengerjap. "Emm, maaf." ucapnya kikuk. "Sudah siapa Nou?"


Noushafarin hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Sadewa.


"Kalau begitu, Nenek, Tante, saya minta ijin. Saya ingin makan malam bersama Noushafarin kemudian membawanya jalan-jalan sebentar. Saya janji tidak akan membawa Nou pulang larut malam."


Bunda Farena hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Pergilah dan nikmati waktu kalian." Nenek memberi ijin.


Sadewa segera menggenggam tangan Nou dan menggandeng gadis itu keluar dari rumah.


"Kalau nyetir yang fokus Mas." Noushafarin mengingatkan. Pasalnya, sejak meninggalkan kediaman Armani, Sadewa tak hentinya mengambil kesempatan untuk menatap Nou.


"Kamu menawan sekali Nou."


"Bisa saja kamu Mas." ucap Noushafarin dengan tersipu.


Sadewa mengulurkan tangan kirinya dan membelai pipi Nou. "Kalau pipi merona begini jadi pengen gigit."


"Aku tidak tahu kalau Mas sudah selapar ini. Sampai pipi pun ingin dimakan."


Sadewa terkekeh. "Walau lapar, Mas masih bisa tahan untuk tidak memakanmu."


Kalimat ambigu yang dilontarkan Sadewa membuat Nou mengernyit. "Makan aku?"

__ADS_1


Tak ada jawaban, Sadewa hanya tertawa gemas melihat ekspresi Noushafarin.


......................


__ADS_2