Noushafarin

Noushafarin
Bab 77


__ADS_3

Noushafarin berusaha membujuk Della agar mau berdiri. Dengan tubuh gontai Della pun bangkit. Namun baru beberapa saat berdiri, wanita itu jatuh tak sadarkan diri.


"Aduh, to-tolong." Noushafarin kesulitan menopang tubuh Della yang terkulai.


Pandu, Nakula dan Sadewa yang melihat itu bergegas membantu, mereka membaringkan Della di sofa.


Nou memeriksa denyut nadi wanita itu dengan menempelkan jari telunjuk dan tengah pada pergelangan tangan Della.


Dan matanya memicing saat melihat keanehan pada tubuh Della. Ia segera merapikan baju Della kemudian sedikit menariknya agar baju yang Della kenakan menempel ketat di bagian perutnya. Noushafarin menarik napas terkejut.


"Ada apa?" tanya Papa Pandu cemas.


"Sepertinya dia sedang hamil." ucap Nou dengan mata membola.


"Ap-apa?" ketiga pria itu tak kalah terkejutnya dengan Nou.


"Ini hanya dugaanku." ucap Nou sambil berdiri hendak memeriksa Bowo.


"Apa yang kau lakukan?! Jangan sentuh Papaku!" hardik Farida yang melihat Noushafarin datang mendekat.


"Aku hanya ingin memeriksa keadaannya." jawab Nou dengan tenang.


"Jangan berlagak baik disini." sahut Farida ketus.


Noushafarin hanya menghela napas pelan dan menjauh. Ia tak ingin menimbulkan masalah baru. Ia mengedarkan pandangan menelusuri ruangan Sadewa.


Makanan yang tumpah berserakan di lantai, dua orang dalam keadaan tak sadarkan diri, Farida dan Nakula yang berpakaian compang camping.


Mimpi apa aku semalam? gumam Nou dalam hati.


Tak lama kemudian beberapa petugas keamanan bersama Sekretaris Li dan juga Darian datang. Mereka terkejut dengan keadaan di dalam ruangan Sadewa.


Darian bergegas mendekati Noushafarin dan memeluk adiknya.


"Apa kau terluka?" Darian terlihat khawatir.


Dalam pelukan Darian, Nou menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja Kak." jawabnya.


"Kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi?" Darian menatap Sadewa menuntut penjelasan.


Tuan Pandu berdiri menghampiri Darian dan Noushafarin.


"Akan Om jelaskan nanti. Sekarang, bisakah kalian berdua pulang dulu? Kami harus mengantarkan mereka ke rumah sakit dan membereskan kekacauan ini." Pandu meminta pengertian Darian dan Nou.


"Baiklah, kami mengerti." Darian mengangguk. "Kami pulang dulu."


Noushafarin melepas pelukan Darian dan masuk dalam dekapan Pandu yang menatapnya dengan penuh kasih.


"Terima kasih karena sudah mempercayai putra Papa." Pandu menepuk pundak Nou beberapa kali.


Noushafarin tak sanggup berkata-kata, ia hanya menangis pelan sambil mengangguk. Sadewa yang melihat itu segera menghampiri keduanya dan Pandu menyerahkan Noushafarin kepadanya.


"Maafkan Mas karena sudah mengecewakanmu." lirih Sadewa saat memeluk Nou.

__ADS_1


"Tidak Mas, sama sekali tidak." Noushafarin tersenyum tipis yang sudah pasti tak dapat dilihat Sadewa.


Nou mengurai pelukan mereka dan menatap Sadewa dengan lembut.


"Cepat selesaikan masalah ini, aku menunggumu membayar kerugian atas masakanku." seloroh Nou sambil mengusap air matanya.


"Tentu." Sadewa tersenyum dan menarik Nou masuk dalam dekapannya. Ia mengecup kepala gadis itu berkali-kali sebelum melepas pelukannya.


Hati Sadewa dipenuhi rasa bahagia. Noushafarin percaya bahkan membelanya di depan Bowo.


"Kami permisi." pamit Nou kemudian bergandengan tangan dengan Darian meninggalkan ruangan itu.


Sepanjang perjalanan pulang, hanya ada keheningan di dalam mobil. Nou memilih menatap keluar jendela, Darian pun enggan bertanya. Ia tak ingin mengusik Nou terlebih dulu.


Saat mereka berhenti di lampu merah, Darian melirik adiknya dan melihat bahu Nou bergetar.


Hhhhhhhh


Darian mendesah, ia sadar Nou sedang menangis.


Begitu lampu berubah hijau, ia segera melajukan mobil dan menuju ke hutan kota.


Setibanya disana, ia segera melepas seat belt miliknya juga milik Nou. Kemudian ia merengkuh tubuh adiknya dan memeluk Nou.


Tangis gadis itu pun pecah. Nou tak dapat lagi menahan perasaannya. Ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan sesak yang ia rasa.


Darian tak bersuara sedikit pun. Ia hanya terdiam dan mengusap rambut Nou. Hatinya teriris mendengar tangisan adik semata wayangnya itu.


Menit demi menit berlalu. Tangisan Nou mulai mereda. Ia merenggangkan pelukan mereka. Setelah dirasa sudah lebih baik, Nou melepas Darian.


"Hhhhhhhh." Noushafarin menarik napas lega. "Terima kasih Kak."


"Sama-sama." ucap Darian sambil merapikan rambut Nou.


"Aku...." Nou mencoba bercerita pada Darian, ia tahu Kakaknya tak akan bertanya. "Aku menahan rasa kecewa dan marah. Dan itu membuatku sesak."


Sekali lagi ia menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Aku sempat kecewa dan marah saat melihat posisi Mas Sadewa dan Farida sangat intim di lantai." tutur Nou pelan. "Aku merasa sangat sesak. Hatiku terasa sakit, kepercayaanku dikhianati."


"Namun kemudian aku teringat akan ucapan Mas Sadewa padaku. Aku mulai mengendalikan emosiku dan berusaha percaya padanya."


Darian mengernyit, ia tak mengerti apa yang dibicarakan Noushafarin.


"Kakak tidak tahu cerita lengkapnya. Namun dari penuturanmu, artinya kau kembali percaya pada Sadewa. Lalu kenapa tadi menangis seperti itu?"


"Aku tak bisa melampiaskan kekesalanku.


pada Farida. Dan itu menyakitkan, jadi aku menangis."


"Jadi kau menangis karena tak bisa memukul gadis itu?" Darian menatap tak percaya.


"Jangan melihatku seperti itu. Kakak tidak tahu sih bagaimana rasanya kalau marah sudah diubun-ubun tapi tidak tersalurkan." Noushafarin mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Dan lebih sakitnya, orang lain yang masuk dan bisa memukul Farida dengan membabi buta. Sedangkan aku, hanya bisa menonton. Padahal dari tadi aku yang ingin memukulinya seperti itu Kak." imbuh Nou.


Mulut Darian menganga, ia menatap Nou sambil mengerjap-ngerjap.


"Ja-jadi, kau menangis karena diserobot orang?"


Nou mengangguk cepat. "Iya Kak. Jengkel kan?"


"Ya ampun!" Darian memukul dahinya. "Noushafariiiiinnnnnnnnn." Darian terlihat gemas hingga mengepalkan kedua tangannya di depan wajah Nou.


"Kenapa sih Kak?"


"Kakak rasa otakmu sudah bergeser karena terlalu banyak belajar." sungut Darian sembari memakai seat belt dan menyalakan mesin.


"Tidak juga." celetuk Nou membuat Darian kembali mematikan mesin.


"Aku marah dia merusak makan siangku bersama Mas Sadewa. Aku marah ternyata dia menjebak Mas Sadewa. Ternyata yang dialami Mamanya tak membuat Farida berhenti malah semakin gila."


"Jika kasus itu diserahkan kepadaku untuk menangani, aku tak akan menarik laporan dari kantor polisi. Sayangnya semua akan ditangani keluarga Wasesa." Nou menghembuskan napas dengan kasar. "Lebih gilanya lagi, ternyata dia adalah selingkuhan Kak Salton."


Darian terdiam, ia menelaah perkataan Noushafarin.


"Tapi menurut Kakak, Om Pandu pun tidak akan melepaskannya." Darian memberi pendapatnya. "Benarkah itu yang membuatmu menangis?"


Noushafarin tersenyum kecut. "Setahuku, aku tak pernah menyakiti orang lain dengan sengaja. Tapi kenapa orang melakukan hal yang jahat kepadaku."


"Mamanya mempermalukanku, dan hari ini dia membuat Mas Sadewa seperti seorang pemerkosa." imbuh Nou lagi.


Darian memegang tangan adiknya. "Nou. Kamu memang tidak pernah memperlakukan orang seperti kamu diperlakukan saat ini." Darian menatap adiknya dengan lembut.


"Namun jika kamu sampai mengalami hal seperti ini, berarti kamu diijinkan untuk merasakan sakitnya. Hingga kedepannya, kamu tidak akan memperlakukan orang lain seperti itu karena sudah tahu rasa sakitnya."


"Kamu tidak akan mempermalukan orang lain karena tahu rasa sakit dan malunya. Kamu tidak akan memfitnah orang lain karena tahu bagaimana sesaknya. Dan juga, kamu akan setia karena tahu dikhianati itu menyakitkan."


Darian membelai kepala Nou dengan penuh kasih.


"Jadilah wanita yang bukan hanya cerdas, tapi memiliki kepribadian yang baik, tulus, lemah lembut dan bijaksana. Tak lupa, tetap rendah hati." ucapnya sambil menarik hidung Nou.


Nou refleks memeluk Darian. "Kakak mirip Nenek, Ayah dan Bunda kalau lagi menasehati." ia terkekeh saat melepas pelukannya. "Terima kasih untuk petuahnya Kakakku yang tampan dan terbaik." Nou mengacungkan kedua jempolnya.


"Aku memang selalu yang terbaik dan lebih tampan dibanding kekasihmu." ucap Darian bangga.


"Oh tidak bisa." Nou menggerak-gerakkan jari telunjuknya. "Dia juga yang terbaik dan lebih tampan."


"Sepertinya matamu mengalami kelainan." Darian melajukan mobil menuju rumah mereka.


"Apa?! Aku masih normal! Mataku masih normal!" seru Nou tak terima.


"Hhhhhh. Lebih baik kau tetap sedih seperti tadi, telingaku jadi bahagia dan tak tersiksa seperti sekarang ini."


"Huhhhh!!! Aku mencabut kata-kataku mengenai pujian tadi." Nou melipat tangan di dada dan membuang arah pandang ke luar jendela.


"Tidak bisa, sudah diucapkan." Darian terkekeh pelan.

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum kecil melihat adiknya yang kembali sewot. Moodnya sudah membaik, ucapnya dalam hati.


......................


__ADS_2