Noushafarin

Noushafarin
Bab 48


__ADS_3

Setelah sesi curhat bersama bunda, disinilah Nou, duduk di depan laptop tercinta dengan tampilan layar yang belum berubah sejak 2 jam yang lalu. Ia sudah mengetik beberapa kalimat, kemudian kembali menghapusnya.


"Kenapa membuat surat permintaan maaf lebih susah dari menyusun disertasi?" gumam Nou yang kembali menghapus kalimat yang sudah ia ketik.


Sejak pembicaraan dengan bundanya, Nou memutuskan untuk mengirim surel kepada Sadewa. Namun tak satu pun kalimat yang berhasil ia rangkai.


Nou mengerang, ia beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke kasur. Ditatapnya langit-langit kamar, mencoba mendapat inspirasi dari sana. Hanya kata "mas" yang sudah ia ketik, dan ia tak tahu akan dilanjutkan dengan kalimat apa lagi.


Ia menyesal, sudah lama ia memiliki alamat e-mail Sadewa. Namun karena keangkuhannya, ia membiarkan begitu saja peluang untuk memperbaiki hubungan mereka.


Angkuh???


Ya, merasa diri benar dan tak ingin memaafkan adalah sebuah keangkuhan yang kadang tidak disadari oleh seseorang.


Akhirnya Noushafarin terlelap tanpa berhasil mengirim pesan kepada Sadewa.


Kemana kepandaianku pergi disaat seperti ini? keluhnya sesaat sebelum ia mulai memasuki dunia mimpi.


...****************...


"Selamat pagi, Bunda, Kakak."


"Selamat pagi sayang." Farena yang sedang meletakkan sepiring omlet di hadapan Darian tersenyum melihat wajah putrinya yang terlihat lebih segar.


"Selamat pagi putri tidur." ujar Darian sesuka hatinya.


Noushafarin menipiskan bibir dan langsung duduk di hadapan Kakaknya.


"Mau kemana sepagi ini? Kok sudah rapi?" tanya Bunda melihat penampilan Nou.


"Nggak kemana-mana Bun. Sengaja langsung mandi, biar kalau mau manja-manja sama Bunda nggak bau asam." Nou mengerling pada bundanya.


"Kau tidak akan menikah setidaknya 20 tahun lagi jika seperti ini." Darian menggeleng kepala pelan melihat tingkah adiknya.


"Bilang aja pengen manja-manja juga." Nou menjulurkan lidahnya ke arah Darian.


"Sudah, ayo makan saja. Keburu dingin." Farena menengahi.


"Bunda nggak makan juga?" Noushafarin seperti baru sadar melihat bundanya masih sibuk di pantry.


"Sebentar lagi." Farena tersenyum penuh arti.


Tak lama kemudian suara bel membuat semua menoleh ke arah ruang depan.


"Bunda saja yang buka." Farena bergegas pergi tanpa melepaskan apron yang ia kenakan.


"Apakah Georgia datang?" gumam Nou pelan.


"Telan makananmu jika tak ingin tersedak." jawab Darian.

__ADS_1


Nou menipiskan bibir mendengar perkataan Sang Kakak. Terdengar langkah kaki mendekati ruang makan.


"Kau datang tepat waktu Geo...." raut wajah Nou berubah, tanpa sadar garpu terlepas dari tangannya. Sesaat kemudian ia terbatuk-batuk karena makanan yang belum sempat ia telan sebelumnya masuk begitu saja saat ia tercekat akibat terkejut.


Uhukkk...Uhukkk...Uhukkk


"Ya ampun Nou." Farena berlari menghampiri Nou dan menepuk punggung putrinya, sedang Darian tertawa terpingkal-pingkal melihat penderitaan Nou.


Tamu yang datang pun segera membuang bawaannya begitu saja. Ia mengulurkan air putih ke hadapan Nou. Bunda Farena mengambil dan membantu Nou untuk minum.


Setelah beberapa kali meneguk air putih tadi, Nou mulai tenang, batuknya berkurang. Matanya memerah, demikian juga dengan wajahnya. Ia tak mengucapkan apapun setelah benar-benar tenang. Gadis itu masuk ke kamarnya meninggalkan semua orang yang terlihat bingung di ruang makan.


"Ayo, duduk." Bunda tersenyum manis pada tamu mereka.


"Tapi, Ar eh Nou. Dia..."


"Nanti juga keluar lagi." potong Bunda cepat sambil membereskan kekacauan kecil yang terjadi di dapur.


Benar kata Bunda, tak lama kemudian Nou sudah keluar. Ternyata ia merapikan diri setelah tampak kacau akibat tersedak tadi. Ia mendekati meja dengan ragu-ragu. Beberapa kali ia menarik napas, mencoba menetralisir debaran yang tak reda sejak tersedak.


"Selamat pagi, Noushafarin." sapa Sang Tamu yang berdiri menyambut kedatangan gadis itu.


"Se-selamat pagi, M-mas Sadewa." rona merah segera menyeruak dari pipi hingga telinga Nou. Ia menggigit bibirnya saat menempati tempat duduknya.


Bunda tersenyum melihat wajah Nou, putriku sudah dewasa.


"Terima kasih, Tante."


Acara makan pagi berjalan dengan canggung bagi Nou. Darian sudah berpindah posisi, artinya ia duduk berhadapan dengan Sadewa. Sesekali pemuda itu menatap Noushafarin, membuat Nou menghabiskan lebih banyak jus dan air putih hanya untuk seporsi omlet keju. Ya, Sadewa tidak sembunyi-sembunyi melakukannya, ia terang-terangan menatap wajah ayu pujaan hatinya.


Perbincangan Darian, Bunda dan Sadewa mengalir begitu saja, bahkan terdengar sangat akrab. Noushafarin sesekali tersenyum menanggapi gurauan mereka. Ia tak menyangka, Sadewa Wasesa bisa seakrab ini dengan keluarganya.


"Sadewa tidak ada acara lain kan." Bunda bertanya setelah mereka menghabiskan makanan.


"Tidak tante."


"Temani Noushafarin di rumah ya. Dia lagi cuti dan tidak boleh kemana-mana."


"Tentu, dengan senang hati." Sadewa tersenyum manis menatap Noushafarin. Membuat gadis itu menunduk tak berani mengangkat wajah.


" Yah, batal donk rencana anak kucing mau manja-manja ke Bunda." celetuk Darian yang disambut tatapan maut Nou.


"Manjanya sama Mas saja. Iya kan Nou." sambung Sadewa membuat Noushafarin menatapnya dengan horor.


"Nggak usah pasang muka begitu, nggak cocok." Bunda yang hendak berdiri ikut menggoda Nou.


"Bunda..." rengek Nou.


"Kamu yakin mau menikahi cewek kayak gini? Yang ada kamu bakal jadi babysitter." ujar Darian dengan santainya pada Sadewa, tidak ada formalitas atau hawa perang yang menguar seperti pertemuan mereka beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Sadewa tersenyum, "Semakin manja semakin menggemaskan."


"Astaga, kalian konyol." Dengan wajah jengah Nou beranjak membantu Bunda membereskan meja.


"Terima kasih banyak sudah memberiku kesempatan lebih cepat dari pembicaraan semula." ucap Sadewa dengan pelan.


"Aku menyukai keberanianmu, dan Nou juga sudah menyadari kekeliruannya. Jadi untuk apa menunda hal baik." jawab Darian yang ternyata mengajak Sadewa dalam perjalanan mengunjungi Noushafarin kali ini.


...****************...


Noushafarin dan Sadewa duduk di sebuah kebun kecil yang berada di atap apartemen. Tentunya setelah tempat itu dianggap aman oleh Darian dan anak buahnya.


"Mas nggak nyangka akan mendapat surel dari kamu." ucap Sadewa memecah keheningan.


"Surel?" Noushafarin terlihat bingung. "Tapi aku nggak ngirim surel apapun."


Sadewa mengernyit, ia meraih ponsel pintar di saku kemejanya dan membuka aplikasi surat elektronik. Setelah menemukan yang ia cari, Sadewa menyerahkan pada Noushafarin.


Mata gadis itu membeliak saat membaca pesan yang memang berasal dari alamat e-mail miliknya.


Mas, maaf...


Hanya dua kata itu. Noushafarin menepuk dahinya. Hanya pakai kata begitu juga bisa ya ternyata, gumamnya merutuki kebodohannya saat merangkai kalimat.


"Kalau bukan kamu yang kirim, lalu siapa?" Sadewa heran.


Noushafarin diam, ia mengepalkan jarinya kemudian berdiri di hadapan Sadewa. Gadis itu mengambil napas sesaat sebelum berbicara, membuat Sadewa terperanjat dan ikut berdiri.


"Mas Sadewa, aku minta maaf sudah pergi begitu saja dari kamu. Aku minta maaf tidak memberi kesempatan kamu untuk bicara. Aku min...." ucapan Noushafarin terhenti saat jemari Sadewa menutup bibirnya.


"Mas juga salah. Dan yang kamu dengar itu tidak benar. Mas benar-benar mencintai kamu, Noushafarin." ucap Sadewa dengan tatapan penuh cinta. "Mas maafin kamu, dan mas harap kamu juga bisa memaafkan mas."


"Iya Mas." Noushafarin mengangguk dan tersenyum manis.


Senyuman yang menular hingga Sadewa pun tak bisa untuk tidak ikut tersenyum. Ia memeluk Noushafarin dengan hangat, mencurahkan segenap kerinduan yang membuncah di hatinya. Kemudian ia mengecup dahi gadisnya dengan penuh kelembutan.


"Nou, i love you." ucap Sadewa dengan sedikit menjauhkan wajah agar bisa menatap Nou.


"I love you too, Mas." jawab Nou dengan penuh keyakinan.


Sadewa mendekatkan wajahnya, perlahan ia mengecup bibir Nou dengan penuh kelembutan. Nou memejamkan matanya, menikmati momen pertamanya. Sadewa kembali mengecup bibir Nou saat ia merasa Nou membalas mengecup bibirnya.


Pemuda itu tersenyum sebelum akhirnya mencumbu kekasihnya dengan penuh cinta membuat Noushafarin kelimpungan. Gadis itu hanya membiarkan Sadewa mengecap dan ******* bibirnya. Sadewa baru melepaskan Nou setelah ia merasa kekasihnya mulai tersengal-sengal.


"Manis, seperti yang kubayangkan." ucap Sadewa sambil mengusap bibir Nou dengan jarinya.


"Mas..." Nou memukul dada Sadewa dengan pelan, wajahnya merah merona membuat Sadewa gemas dan kembali mencium kedua pipi dan juga bibir Nou.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2