
Sadewa hanyut dalam pekerjaannya. Ada beberapa laporan yang harus ia periksa sebelum mengikuti rapat yang akan diadakan selepas istirahat makan siang. Itu artinya, waktu yang dimiliki Sadewa sudah tidak banyak lagi. Matanya tak lepas dari layar PC, jari jemarinya seakan menari di atas keyboard.
"Masuk!" titah Sadewa saat mendengar pintu diketuk.
Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup diikuti suara langkah sepatu memasuki ruangan. Namun Sadewa masih enggan mengangkat kepalanya.
"Selamat siang Mas." terdengar suara wanita menyapanya.
Sadewa mengangkat wajahnya dengan mengernyit. Ia bahkan segera berdiri dan meninggalkan mejanya, tak ingin wanita itu masuk lebih jauh ke dalam ruangannya.
"Apa yang kamu lakukan disini Farida?!"
Farisa tersenyum manis, ia tak peduli dengan tatapan dingin Sadewa kepadanya.
"Aku datang bersama Papa dan saat ini ia sedang berbicara dengan Tuan Pandu." Farida menyisipkan anak rambut ke telinganya dengan gerakan semanis mungkin.
"Dan ya, aku menemui Mas untuk membawa berkas ini." Farida menunjukkan sebuah map yang ada di tangannya.
Sadewa melirik map berwarna krem itu sejenak, ia membuang napas sambil meraup wajahnya dengan kasar.
"Duduklah." ia menunjuk sofa yang berada di tengah ruangannya dan mempersilahkan Farida untuk duduk.
Gadis itu mengikuti perkataan Sadewa dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Setelah beberapa saat, tak ada tanda-tanda Farida akan berbicara. Ia hanya menatap Sadewa dengan terus tersenyum.
"Apa kamu tidak ingin menyerahkan berkas itu?" ujar Sadewa yang sudah risih berlama-lama dengan Farida.
"Ah iya, maaf Mas." Farida tersipu malu dan menyerahkan map yang ia bawa.
Sadewa memutar matanya dengan malas dan menerima map dari Farida. Tak ingin berlama-lama, ia segera membuka dan membaca berkas yang diserahkan Farida.
Namun tanpa Sadewa tahu, Farida sudah membuka sepatunya dan berjalan dengan berjingkat-jingkat. Perlahan-lahan ia mendekati Sadewa.
Karena terlalu fokus membaca, Sadewa tidak mengetahui kalau Farida sudah berada di sampingnya.
Farida menatap Sadewa dengan penuh kekaguman, tanpa bisa ia tahan, dengan cepat tangannya terulur dan memegang pundak Sadewa. Bahkan kepalanya pun sudah menunduk hendak mengecup pipi pemuda itu.
Sadewa yang merasakan pergerakan di sampingnya terkejut. Ia menjengit dan refleks menjauhkan tubuh dari Farida.
"Apa yang kau lakukan?!" Sadewa tersulut emosi.
Farisa kembali menegakkan tubuh dengan raut wajah kecewa.
"Apa lebihnya gadis Armani itu dibanding diriku?" Farida membuka blazer yang ia kenakan dan ternyata ia hanya menggunakan bra di balik baju formalnya.
__ADS_1
Sadewa segera membuang muka ke arah lain. "Kau sangat keterlaluan!"
Sadewa berbalik dengan cepat menuju pintu. Saat tangannya sudah menyentuh handle, ternyata Farida berlari dan dengan sengaja menabrakkan tubuhnya pada Sadewa.
Secara otomatis tubuh Sadewa terdorong ke depan dan terhimpit ke pintu.
"Jangan menolakku Mas." suara Farida terdengar manja merayu. Kedua tangannya memegang pundak Sadewa dari belakang.
Sadewa menekan pintu dengan kedua tangannya dan memantulkan tubuhnya hingga Farida terdorong ke belakang. Bahkan pemuda itu menggerakkan pundaknya dengan cara memutar bahu agar tangan Farida lepas.
"Jangan melewati batas! Aku tak menyukaimu!" hardik Sadewa. "Jadi perempuan jangan terlalu murah, kau seperti barang cuci gudang yang diobral."
Farida tersenyum sinis, dengan cepat ia menarik dasi Sadewa membuat pemuda itu menjauh dari pintu. Kemudian ia menarik kemeja bagian belakang yang dipakai Sadewa.
Melihat pemuda itu sedikit berantakan, Farida berlari dan ia berdiri menghadang di pintu.
"Aku yang murah atau kau yang buta tak bisa melihat kualitas? Aku lebih cantik dan molek dari Noushafarin itu." Farida tersenyum sinis, samar-samar ia mendengar langkah kaki di luar ruangan.
"Ya, dan lebih gampangan." balas Sadewa tak kalah sengit.
Mendengar itu Farida menjadi semakin emosi. Ia menarik blazernya dengan kasar agar lepas dan menarik rok hingga robek.
Kemudian ia mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya.
Sadewa mengernyit, belum sempat ia menerka apa rencana Farida, gadis itu berlari cepat ke arah Sadewa dan menerjangnya.
"Uhhh!" Farida merasakan beberapa bagian tubuhnya nyeri. Namun ia memilih mengabaikan rasa sakit itu.
Sadewa berusaha bangkit, instingnya mengatakan ia harus segera menjauhi wanita gila itu.
Bruukkk!!!
Suara benda jatuh membuat pandangan Sadewa dan Farida mengarah ke pintu.
Tampak wajah pias Noushafarin serta tubuhnya yang bergetar. Suara sebelumnya berasal dari jatuhnya wadah makanan yang ia bawa, membuat nasi juga lauk pauknya berhamburan di lantai.
"M-mas!" suara Noushafarin tercekat.
"Nou, Mas....." Sadewa segera bangkit.
"Ada apa?" Papa Pandu muncul di belakang Nou.
Awalnya ia sedang berbicara dengan Tuan Bowo di depan ruangannya. Namun ia segera berlari menyusul gadis itu setelah melihat Nou menjatuhkan wadah makanan yang ia bawa.
"Sadewa!"
__ADS_1
"Farida!"
Kedua pria paruh baya itu memekikkan nama anaknya masing-masing.
"Apa yang kau lakukan pada putriku?!" Bowo menerobos dan mendekap Farida yang tampak menangis di lantai.
Sadewa segera menjauh, tatapannya hanya terarah pada Noushafarin yang membeku di tempatnya.
"Jangan dekati dia." Papa Pandu menghadang.
Sadewa mengerjap. "Aku tak melecehkannya Pa." ucap Sadewa datar dan bersungguh-sungguh.
Pandu menatap putranya sesaat, kemudian menatap Farida yang sedang menangis di pelukan Bowo.
Ia menarik napas pelan dan memberi jalan pada Sadewa.
"Nou." Sadewa memanggil Noushafarin dengan lembut. "Sayang." panggilnya sekali lagi.
Nou mengerjap, ia mengalihkan matanya dari Farida kemudian menatap mata Sadewa.
"Percayalah sama Mas." pinta Sadewa. "Aku tak melakukan apapun kepadanya."
Mendengar ucapan Sadewa, Bowo tersulut emosinya. Setelah menutup tubuh Farida, pria paruh baya itu segera berdiri.
"Pemuda bre****k!!! Kau masih mau membela diri setelah kami melihat hal keji ini?!" ucapnya sambil membantu Farida berdiri dan memeluknya.
Nakula muncul, rupanya Sekretaris Li sudah memberitahukan padanya ada peristiwa genting di ruangan Sadewa.
"Kau pemuda jahat!!!" ia meninggalkan Farida dan mendekati Sadewa.
Teriakan Bowo kembali terdengar. Nakula menoleh ke belakang dan menatap Sekretaris Li.
Tanpa diucapkan pun Sekretaris Li sudah tahu perintah apa yang ia terima. Segera saja pria itu mengumpulkan pegawai yang bertugas disana dan menggiring mereka semua menuju lift untuk mengosongkan lantai tersebut.
Nakula menarik napas dalam-dalam dan berdiri di belakang Noushafarin.
"Sepertinya Farida benar-benar hilang akal." celetuk Nakula begitu melihat penampilan Farida.
"Apa kau bilang?!" sial bagi Nakula, Tuan Bowo mendengar perkataannya.
Bowo mengalihkan pandangannya dari Nakula dan kembali menatap Sadewa dengan nyalang. Sejurus kemudian ia mencengkram kemeja pemuda itu.
"Katakan!!! Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?!!"
Tuan Pandu ingin membantu Sadewa, namun Nakula menghalangi. Pandu mengernyit saat melihat Nakula tersenyum padanya. Sedangkan Farida semakin menangis histeris.
__ADS_1
......................