Noushafarin

Noushafarin
Bab 71


__ADS_3

"Mas, apa benar yang dikatakan Della?" Noushafarin bergelayut manja pada lengan Sadewa yang tengah menyetir.


Pemuda itu menghela napas pelan sebelum menjawab. "Iya sayang. Kamu kecewa?"


Nou menggeleng. "Tidak. Hanya merasa aneh."


"Aneh bagaimana?"


"Karena aku sama sekali tidak merasa Mas orang yang cuek dan tidak perhatian."


Sadewa tersenyum. "Jujur saja Nou, aku pun merasa heran dengan perubahan sikapku ini."


"O ya?" Nou mengangkat kepalanya dari lengan Sadewa agar lebih mudah menatap wajah kekasihnya.


"Begitulah." Sadewa menatap Nou sekilas. "Entah kenapa aku tak bisa tenang jika tidak mendapat kabar darimu."


"Aku merasa tersanjung." Noushafarin menegakkan tubuhnya dengan senyuman bahagia yang terlihat jelas


"Dari awal aku selalu bisa menyisihkan waktu untukmu. Namun tidak dengan Della." Sadewa menghentikan mobil saat lampu merah menyala. "Jangan tanya kenapa bisa. Karena aku pun tak tahu." Sadewa menatap Noushafarin dalam-dalam.


"Karena aku berbeda, dan Mas sangat menyayangiku." ujar Noushafarin dengan mimik wajah lucu.


Sadewa tergelak kemudian membelai kepala Nou. "Tapi ada benarnya ucapanmu barusan. Kamu berbeda, kamu istimewa dan aku mencintaimu." Sadewa meraih tangan Nou dan mengecupnya.


Noushafarin berdebar hingga ia merasa sulit bernapas, apalagi tatapan penuh cinta yang ditujukan Sadewa kepadanya. Membuat gadis itu terhipnotis, merasa waktu berhenti dan disekitarnya memudar. Di matanya hanya ada Sadewa.


"Kamu buat aku meleleh Mas." ujar Nou saat sudah bisa menguasai diri. Ia bahkan menutup mata Sadewa dengan tangannya. "Jangan dilihatin terus Mas, aku bisa gagal jantung secara tiba-tiba."


Sadewa meletakkan telapak tangannya di pipi Nou. "Kamu buat Mas gemas."


Tanpa diketahui Nou, Sadewa pun mati-matian menahan perasaan yang meluap-luap di dalam hatinya. Percakapan mereka bukan hanya berdampak pada Nou, tapi juga pada Sadewa.


Sementara itu di halaman gedung kantor utama PT. Nindya Karya, seorang pria berjaket khas seragam kurir menghampiri kantor bagian keamanan yang terletak di pintu masuk basement.


"Selamat siang pak."


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" seorang petugas keamanan menghampiri Sang Kurir.


"Saya mengantar paket atas nama Pak Arya. Tapi pesan dari pengirim, harus diterima langsung oleh beliau. Pak Arya ada Pak?"


"Kalau sekarang tidak ada, hari ini dia giliran jaga malam. Tapi saya cek dulu jadwalnya untuk memastikan."


Petugas itu segera masuk ke dalam untuk melihat jadwal piket mereka dan beberapa saat ia sudah keluar lagi.


"Sepertinya anda harus kembali minggu depan. Pak Arya sedang ada tugas pengawalan ke Kalimantan. Minggu depan baru mereka pulang."


Sang kurir terlihat kecewa. "Baiklah kalau begitu. Kira-kira hari apa saya bisa kembali?"


"Sebaiknya hari Senin dua minggu lagi. Karena hari Sabtu minggu depan baru mereka tiba, dan diberi waktu sehari untuk istirahat."

__ADS_1


"Terima kasih banyak Pak, saya permisi. Selamat siang." Sang kurir berpamitan.


"Ya, sama-sama. Selamat siang."


Petugas tersebut menatap kepergian kurir hingga motornya memasuki jalan raya, barulah ia kembali ke dalam ruangannya.


Kurir tersebut membelokkan motor ke restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari kantor Nindya Karya. Ia membuka jaket dan menyimpannya. Kemudian masuk ke dalam restoran dan duduk di hadapan seorang gadis yang tengah menunggunya.


"Arya sedang tidak ada. Dia lagi ada tugas pengawalan ke kalimantan." lapor pria itu.


"Bagus, sampai kapan?"


"Hari Sabtu minggu depan baru kembali." jawabnya sambil membuka botol air mineral miliknya.


"Sepertinya aku sedang beruntung."


"Kamu aneh Farida, kenapa tidak langsung bayar orang habisi mereka berdua sih?" gerutu si Pria lagi.


"Mau habisi bagaimana? Mereka itu kemana-mana dikawal. Yang aku hadapi ini keluarga Armani, bukan kaleng-kaleng." sungut Farida.


"Sudah tahu itu keluarga Armani dan Wasesa, kamu masih cari perkara. Kayak nggak ada cowok lain saja.


"Berisik banget sih kamu Ndra." Farida mencibir.


"Mending hentikan sekarang, kamu itu terobsesi bukan cinta."


"Cinta mati kok masih tidur sama si mmmmpppp." Hendra tak dapat meneruskan kalimatnya sebab Farida segera menjejalkan sepotong ayam pada mulut temannya itu.


"Mending kamu makan dulu." Farida tak peduli dengan tatapan Hendra.


Pemuda itu menggigit ayam dan mengunyahnya dengan wajah kesal.


"Kamu itu diingatkan sama teman malah dijejali ayam." sungutnya kemudian setelah menelan makanannya.


......................


Tatiana memeriksa daftar belanjaannya, ia takut ada yang lupa dibeli. Terutama yang menjadi pesanan Sang Mama untuk makanan malam ini.


"Hmmm, tinggal fillet salmon yang belum diambil." gumamnya sambil meninggalkan troli belanja di area makanan segar.


Tanpa disadari, ia terus berjalan dengan fokus pada ponselnya dan tak melihat jalan.


"Cia awas!!!" terdengar suara teriakan seorang wanita dari arah samping.


Tatiana tak sempat melihat ke samping, ia hanya merasa tubuhnya ditarik mundur ke belakang dengan cepat dan menubruk seseorang.


Gadis itu masuk dalam pelukan orang yang menariknya.


Aroma parfum dan dekapan yang ia rasa sangat hangat membuat Tatiana enggan membuka mata. Terlebih lagi ia harus menetralkan detak jantungnya yang bertalu akibat terkejut.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja kan?"


Tatiana mengerjap, saat matanya terbuka ia melihat Nakula sedang menatapnya dengan raut wajah cemas.


"Ak-aku ba-baik." ujarnya sambil berusaha berdiri.


"Aduh, maaf. Maafkan anak saya." seorang wanita yang sedang memegang anak kecil datang mendekati keduanya.


"Tidak apa-apa, tidak ada yang terluka. Apa dia baik-baik saja?" tanya Nakula lagi.


"Iya, saya sempat menangkapnya juga."


"Harusnya saya yang minta maaf, saya juga tidak lihat jalan karena sibuk melihat ponsel. Maafkan saya." Tatiana tersenyum canggung.


"Untung Mas ini cepat menarik Mbaknya." wanita itu tersenyum penuh arti. Apalagi posisi tubuh Nakula dan Tatiana masih menempel.


"Eekhmm." Nakula berdehem.


"O, i-iya." Tatiana gugup, seketika menjauhkan diri dari Nakula.


"Saya permisi." pamit wanita tersebut sambil menggandeng anaknya.


Tatiana melihat keduanya untuk sejenak. Ia menghela napas dan membalikkan badan. Dan saat ini di depannya Nakula sedang menatap dengan pandangan yang tak dapat diartikan.


"Ini tempat umum, kenapa jalan sambil melihat ponsel. Bagaimana kalau tadi kalian benar-benar bertabrakan? Bagaimana kalau sampai barang-barang ini jatuh dan rusak? Kenapa tidak fokus?!"


Tatiana terhenyak, ia tak menyangka Nakula akan marah. Namun di matanya, Nakula tampak sangat tampan dengan ekspresi kesalnya, sepertinya ia terpesona.


"Kamu ini kan sudah dewasa Tia, masa iya harus dijaga seperti anak kecil tadi." imbuh Nakula.


Entah kenapa Tatiana hanya bisa pasrah mendengar omelan itu. Ia pun menyadari ia sudah lalai.


"Apa terasa sakit? Sepertinya aku terlalu keras menarikmu." Nakula menyentuh lengan Tatiana. "Kamu baik-baik saja?"


Kemana perginya suara gadis itu? Tatiana hanya menggeleng dan mengangguk saat menjawab pertanyaan Nakula. Bahkan matanya tak mampu beralih dari wajah mantan kekasihnya itu.


Nakula mengulum senyum melihat tingkah aneh gadis di depannya. Tatiana bahkan tidak protes saat Nakula memanggilnya Tia, tidak seperti biasanya. Mungkin rasa terkejut bisa membuat kesadaran hilang sementara, pikir Nakula.


Saudara kembar Sadewa itu mensejajarkan wajah mereka. "Tia, jika kamu terus memandangiku seperti itu, jangan salahkan aku jika nanti kembali mengejar cintamu. Mengerti?" Nakula menyentil ujung hidung gadis itu.


Tatiana kembali mengangguk. "Eh??? Apa??!!" sepertinya kesadaran gadis itu sudah pulih. Ia mundur satu langkah, matanya mengerjap-ngerjap.


"Te-terima kasih." ia menunduk malu dan pergi menjauhi Nakula.


"Astaga, apa yang terjadi pada diriku?" Tatiana merutuki dirinya sendiri sambil memukul dahinya dengan pelan.


Nakula yang masih mengamati gadis itu sampai tertawa kecil melihat Tatiana yang salah tingkah.


......................

__ADS_1


__ADS_2