Noushafarin

Noushafarin
Bab 66


__ADS_3

Tatiana terkejut dengan kedatangan Mamanya di rumah sakit. Darian memberikan ijin Tante dan sepupunya itu untuk menggunakan ruangannya.


"Berapa lama Mama disini?" tanya Tatiana dengan mulut penuh.


"Makan saja dulu." Sang Mama menyeka mulut Tatiana yang sedikit belepotan. "Kamu ini, sudah besar makannya kok seperti ini."


Tatiana tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil terus menyantap makanan kesukaan yang dibuat oleh Sang Mama.


Tak perlu wakti lama bagi gadis itu untuk menghabiskan semua yang dibawa. Hingga ia terlihat begah karena perut yang penuh.


"Kamu nggak makan satu minggu?" Mama menatap tempat bekal yang dia bawa.


"Sudah lama tidak makan masakan Mama." jawab Tatiana jujur. Ia tersenyum sambil mengusap perutnya. "Aku minta ijin dulu ya, biar bisa antar Mama. Kita istirahat di apartemen saja."


"Tidak perlu Nana. Mama bisa naik taksi, lagian Mama mau ke rumah Nenek." Mama Bianca terlihat mengotak atik ponselnya.


"Jadi, malam ini kita tidur disana?" Tatiana bersandar pada pundak Mama.


"Tidak, Mama mau menyapa Nenek dulu. Setelah itu Mama akan pulang ke apartemen kamu. Menginapnya bisa nanti saja."


"Artinya, Mama bakal lama dong di Indonesia." Tatiana menatap penuh harap.


Mama hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya.


"Yes!!!" tangan Dokter Anestesi itu mengepal ke atas sebagai bentuk ekspresi bahagianya.


Mama tertawa kecil sambil membereskan wadah-wadah yang dibawanya.


"Tempatnya tinggalkan saja Ma, biar aku yang membawanya pulang." Tatiana membantu Mamanya membereskan meja.


"Iya sayang. Tapi, kemana Darian pergi?"


"Mungkin makan siang bersama Miranti."


Mama Bianca mengangguk-angguk. "Mama bersyukur, dia sudah bisa membuka hati untuk seorang gadis lagi setelah kejadian itu."


"Aku juga, dan semakin bagus karena kami tidak perlu berkenalan dengan orang baru lagi."


"Nana, lebih baik Mama pergi sekarang ya. Supaya bisa menemani Nenekmu lebih lama. Jika tidak, ia tidak akan mengijinkan kita berdua tinggal di apartemen."


"Kurasa memang sebaiknya seperti itu. Ayo aku antar."


Begitu mereka keluar, tampak Darian datang dengan menggandeng Miranti. Tatiana mengangkat kedua alisnya ketika beberapa pegawai menatap iri pada Miranti. Namun ketika mereka melihat Tatiana sedang menatap mereka dengan penuh intimidasi, seketika itu juga mereka menunduk.


"Tante Bi!" pekik Miranti kegirangan. Ia segera melepas tangan Darian dengan sedikit kasar.

__ADS_1


"Hai cantik." Mama Bianca merentangkan kedua tangannya. Miranti menghambur ke dalam pelukan Mama dari sepupu Darian itu.


"Tante apa kabar? Kapan sampai?"


"Tante baik sayang, tadi siang sampainya. Kamu gimana? Darian tidak jahat kan?" Mama Bianca melirik pada keponakannya yang tersenyum kecut.


"Tidak Tante." jawab Miranti malu-malu. "Kak Darian baik padaku, seperti biasa."


"Bagus kalau begitu. Jika Darian menyakitimu, lapor saja pada Tante Bi ini. Biar Tante kenalkan sama cowok ganteng di Singapura sana." Nyonya Bianca Armani itu memegang pipi Miranti dengan penuh sayang.


"Iya Tante, iya." Miranti tertawa kecil.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya, mau ketemu Nenek." Tatiana berpamitan.


"Pakai saja mobilku." Darian menawarkan. "Lagipula Tatiana tidak memiliki jadwal operasi."


"Kita tidak bisa tahu kapan ada keadaan darurat. Kalau Tatiana ikut, Ibu pasti akan mengajaknya mengobrol juga." Mama menolak tawaran Darian. "Jadi tidak perlu, Mama naik taksi saja. Sudah dipesan juga kok." Mama Bianca menggeleng pelan.


"Kalau begitu hati-hati ya Tante." Miranti memegang tangan Mama Bianca sejenak.


"Sampai ketemu lagi." Tatiana dan Mama melambai.


Begitu keduanya masuk ke dalam lift, Darian segera menarik tangan Miranti dan sedikit menyeret gadis itu masuk ke dalam ruangannya kemudian mengunci pintu.


"Kamu berani kasar sama Kakak ya, hmm?" Darian mengurung Miranti di dinding.


"Kasar gimana?" Miranti terlihat bingung dengan tuduhan yang dilayangkan Darian.


"Tadi, waktu kamu melepas tangan Kakak."


Miranti berpikir sejenak. "Oo itu." Miranti tersenyum. "Maaf, tidak sengaja. Aku terlalu senang melihat Tante Bi."


"Minta maafnya begitu saja?" mata Darian terlihat sayu.


"K-kak, ini di kantor." Miranti yang sudah mengerti berusaha mendorong dada Darian.


"Kan kita nggak pernah berbuat lebih. Hanya gini aja..." Darian merentangkan tangan Miranti dan segera memburu bibir kekasihnya.


Kalau sudah begini, Miranti hanya bisa menghela napas. Touch up bedak sama lipstik lagi, keluhnya dalam hati.


......................


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tatiana berjalan mondar mandir di dalam apartemennya. Ia merasa cemas karena Sang Mama tidak kunjung tiba. Padahal beliau sudah meninggalkan kediaman Armani sejak pukul enam.


Tatiana sempat protes saat mendengar Mama menolak dijemput atau diantar. Namun jika Mama sudah memutuskan sesuatu, akan sulit mengubahnya.

__ADS_1


Ting...Ting...


Bel berbunyi, Tatiana segera berlari dan melihat ke monitor sebelum membuka pintu. Gadis itu tersenyum lega saat terlihat wajah Sang Mama di sana.


"Mama!" seru Tatiana setelah membuka pintu. "Mama dari mana saja? Kenapa lama sekali? Sepertinya jarak apartemen dengan rumah Paman tidak jauh." Tatiana terus saja berbicara dengan mata menelusuri tubuh Sang Mama. "Mama tidak kenapa-kenapa kan? Apakah terjadi sesuatu ya...."


Mama Bianca menutup mulut Tatiana yang sepertinya tidak akan bisa berhenti.


"Nak, masuklah dulu." ujar Mama pada seseorang yang masih berada di luar. "Tadi Mama sempat kecopetan waktu keluar dari swalayan. Untung pemuda ini menolong."


Tubuh Tatiana membeku, hal yang sama pun terjadi pada penolong Mama Bianca. Keduanya saling menatap tidak percaya.


Mama Bianca menatap keduanya bergantian dan tiba- tiba menepuk tangannya sendiri kuat-kuat. Suara tepukan itu refleks menyadarkan muda mudi itu.


"Sudah selesai saling menatapnya?" Mama tersenyum geli dengan aksi menggaruk kepala yang dilakukan keduanya dengan bersamaan.


"Hai, Tatiana. Apa kabar?" ucap pemuda itu. Awkward, rutuknya dalam hati.


"Ak-aku baik." jawab Tatiana. "Terima kasih, Nakula. Kau sudah menolong Mama."


"Jadi, kalian saling mengenal?" Mama menatap tak percaya, kemudian tersenyum senang. "Bagus kalau begitu. Ayo Nakula, kita makan kue bersama. Dan tidak ada penolakan!" Mama Bianca terlihat tegas saat melihat gejala Nakula akan menolak.


"Ma, Nakula dia..."


"Tidak Tatiana, dia harus tinggal lebih dulu." Mama segera menuju dapur meninggalkan mereka berdua.


"Masuklah." Tatiana mempersilahkan, kemudian ia berbalik hendak menyusul Mamanya. Namun langkahnya terhenti saat Nakula menangkap pergelangan tangannya.


"Tia, aku...."


"Jangan bahas apapun, Tuan Nakula Wasesa. Tidak di depan Mamaku."


"Berarti kita bisa membahasnya di tempat lain?" tanya Nakula penuh harap.


"Ya, dalam mimpimu!" Tatiana menghentakkan tangannya hingga pegangan Nakula terlepas.


"Nakula, ayo, kita ngobrol disini saja." teriak Mama Bianca dari dalam.


"Iya Tante." Nakula berjalan melewati Tatiana, ia menyunggingkan senyum misterius. Entah apa yang tengah direncanakannnya.


"Perasaanku tidak enak." ujar Tatiana saat melihat Nakula yang semakin menjauh.


......................


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2