
Nakula masih memeluk Tatiana, pria itu sepertinya enggan melepaskan kekasihnya. Dan pada kenyataannya, bukan saja Nakula, Tatiana pun masih nyaman berada dalam dekapan pria itu. Namun sesaat kemudian, sesuatu membuatnya tersadar. Tatiana membuka matanya dan mengerjap.
"Naku." lirihnya.
"Hmmmm. Ada apa sayang?" jawab Nakula tanpa merenggangkan pelukannya walau sedikit saja.
Kata sayang yang digunakan Nakula membuat Tatiana melayang. Sekali lagi ia merasakan sensasi perasaan hangat yang menjalar dalam tubuhnya.
"Ehmm, kita sudah terlalu lama meninggalkan pesta. Nanti mereka mencari kita."
"Biarkan saja." jawab Nakula dengan entengnya.
Tatiana menggeliat minta dilepaskan. "Jangan begitu Naku."
"Jadi harus bagaimana?" Nakula menjauhkan sedikit tubuh bagian atas agar bisa menatap Tatiana.
"Apa harus begini?" seusai bertanya Nakula kembali mengecup bibir Tatiana dengan ringan dan berulang kali sambil tertawa.
"Naku hentikan!" Tatiana berusaha menjauhkan wajahnya. Namun tangan Nakula berhasil menahan hingga gadis itu tak bisa menghindar lagi.
Tatiana tertawa karena ulah Nakula yang mengecupi seluruh wajahnya. Hingga keduanya tak sadar ada sepasang mata yang membeliak tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sebenarnya ia tak ingin mengganggu, namun karena tak mau dianggap tak sopan pergi tanpa pamit, akhirnya Tora mengumpulkan keberaniannya untuk menginterupsi kemesraan kedua sahabatnya.
"Ekhmm Ekhmm!!!" dehem Tora dengan suara keras.
Sontak Tatiana dan Nakula menoleh kepadanya. Dengan raut wajah memerah, Tatiana menyembunyikan wajahnya di dada Nakula.
"Sepertinya cinta lama hidup kembali." celetuk Tora sambil berjalan mendekati keduanya.
"Yang benar bersemi." ujar Nakula.
Tora menggelengkan kepala. "Yang benar hidup kembali, setelah beberapa tahun mati suri. Iya kan, Tatiana?"
"Jangan menggodaku." jawab Tatiana sambil menampakkan setengah dari wajahnya.
"Astaga Tatiana! Apa yang terjadi pada bibirmu? Kenapa bengkak begitu? Disengat lebah?" Tora berlagak tak mengetahui penyebabnya.
"Iya, aku yang jadi lebahnya." jawab Nakula dan dengan cepat ia menunduk kembali ******* bibir Tatiana.
Tora melengos sambil mencibir. "Nggak gitu juga kali." sungutnya. "Kalian tidak kasihan padaku yang masih jomblo ini."
Tatiana memukul dada Nakula, ia sangat malu dengan tindakan pria itu yang menciumnya di hadapan Tora.
Nakula melepas ciumannya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Maaf Tia, aku tak tahan untuk mengerjai Tora."
"Ada apa mencari kami?" tanya Tatiana menatap Tora sambil menyembunyikan rasa malunya.
"Ah itu. Aku ingin berpamitan karena beberapa jam lagi adalah tugas jagaku." jawab Tora seraya melihat jam tangan yang ia kenakan.
Nakula mengangguk-anggukkan kepala. "Sudah berpamitan pada yang lain?"
"Belum juga sih." Tora menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Temani aku berpamitan. Dan ya, aku ingin berswa foto bersama kalian."
"Baiklah kalau begitu." Nakula setuju. "Ayo sayang." imbuhnya sambil menarik tangan Tatiana.
Sekalipun sadar ia akan digoda oleh keluarganya, namun Tatiana tak protes atau meminta Nakula melepas genggamannya.
Benar saja, saat berpapasan dengan beberapa saudara di dalam rumah, dapat dilihat perhatian mereka segera tertuju pada Nakula yang menggandeng Tatiana.
"Ekhmm! Pasangan baru nih." ucap seseorang.
"Cie ciee, yang udah jadian." timpal yang lain.
Tatiana meletakkan telunjuk di depan bibirnya, meminta mereka berhenti. Namun karena wajahnya pun memerah, mereka malah semakin tertawa dan menggodanya.
Setibanya di taman belakang yang menjadi lokasi pesta, Tora berjalan cepat meninggalkan kedua sahabatnya dan menyambar mic yang ada di panggung.
Sontak seluruh orang yang ada disana menoleh ke arah yang ditunjuk Tora. Tatiana menunduk malu, sedangkan Nakula berdehem untuk tetap terlihat cool walau sebenarnya ia pun malu.
Tanpa diduga, Mama Bianca berjalan cepat ke arah keduanya dan segera memeluk Tatiana. Ia terlihat sangat bahagia.
"Akhirnya, anak gadis Mama sold out!" serunya dan disambut gelak tawa semua orang.
Sadewa, Noushafarin, Darian dan Miranti bergegas mendekat dan ikut memberi selamat.
"Sepertinya kita akan membuat pesta berturut-turut." gumam Kang Jono pada Mbok Yem. "Siapin tenaga Mbok, keluarkan semua jurus memasakmu." imbuhnya lagi.
"Ya ampun, pesta besar begitu pasti Tuan dan Nyonya pakai jasa katering atau sewa Chef internasional. Bukan chef kampung kayak saya." Mbok Yem menanggapi.
"Chef kampung tapi masakannya nggak kalah sama yang internasional kok." tanpa diketahui Mbok Yem dan Jono, majikan mereka ternyata berdiri di samping.
"Eh Tuan, Nyonya." Jono dan Mbok Yem menunduk malu.
Sedangkan Tuan Pandu hanya tertawa kecil dan menepuk Jono.
"Benar kata Jono, siapin tenaga ya Mbok." Nyonya Srikandi mengusap lengan wanita itu.
"I-iya Nya." jawab Mbok Yem dengan terbata.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Tuan Pandu dan Nyonya Srikandi menghampiri putra mereka dan ikut berswa foto bersama Tora.
......................
Setibanya di rumah sakit, Tora segera masuk ke ruangannya untuk berganti baju dan menuju ruang perawat untuk melihat daftar pasien di bagiannya.
"Dokter Tora." sebuah suara yang memanggil namanya membuat Tora menghentikan langkahnya.
Tora menoleh dan melihat Dokter Haikal berjalan menyusulnya, membuat Tora berhenti untuk menunggu rekan sejawatnya itu.
"Ada apa Dokter?" tanya Tora setelah Haikal berhenti di hadapannya.
Dokter Haikal menunjukkan ponsel yang layarnya menampilkan foto yang diupload Tora pada media sosial miliknya.
"Benarkah mereka berdua sudah menjadi sepasang kekasih?"
Tora menatap foto yang ia upload tadi. Disana menampilkan fotonya bersama Nakula dan Tatiana yang Tora beri caption 'bersama pasangan baru'.
"Oh itu, iya benar."
Haikal terlihat sendu. "Jadi dia menolakku karena sudah jatuh cinta pada Nakula Wasesa."
Tora menggeleng. "Bukan sudah jatuh cinta, lebih tepatnya masih cinta." ucap Tora dengan raut wajah bahagia.
"Maksudnya bagaimana?" raut wajah Haikal terlihat penasaran.
"Nakula dan Tatiana pernah menjalin hubungan saat masih SMA. Dan Tatiana masih memendam rasa cintanya sampai saat ini."
"Tapi aku pernah tanpa sengaja melihat Tatiana memasang wajah kesal saat menghindari Nakula."
Tora tersenyum. "Itu karena mereka belum menyelesaikan salah paham yang terjadi di masa lalu."
Dokter Haikal tersenyum kecut. "Aku sempat berpikir Tatiana memilih yang lebih kaya."
Tora mengangkat kedua alisnya. "Untuk apa? Tatiana sendiri sudah terlahir kaya. Dia bukan gadis yang seperti itu. Memangnya dia bisa menentukan dengan siapa harus jatuh cinta?"
"Ya ya, aku salah." ucap Dokter Haikal. "Baiklah kalau begitu, selamat bertugas."
"Ya, terima kasih." jawab Tora kemudian melangkah meninggalkan Haikal yang terlihat sedih.
Tora menghela napas lega, ia merasa sedikit iba pada rekan kerjanya itu. Ia yakin Dokter Haikal belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan Tatiana menolak cintanya. Dan sekarang ia harus kembali menerima kabar yang tidak mengenakkan.
Namun apa mau dikata, kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang. Mungkin bukan jodoh, mungkin bukan takdir, mungkin dia bukan yang terbaik bagi kita.
......❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️......
__ADS_1